
Bab 177.Wanita ini!
.
.
.
...πππ...
Rarasati
Bagaimanapun juga, ia tak bisa menyembunyikan sisi peduli dari diri tiap wanita , yang nyatanya juga ada pada dirinya.
Meski ia pernah kesal dan sakit hati akan ucapan Yudha tempo hari, namun melihat pria itu terluka jelas membuat nuraninya tergugah.
" Sudah selesai, tekan ini. Jangan biarkan tanganmu menggantung!" Ucap Rara saat simpul tali penutup luka Yudha, telah ia rampungkan.
" Terimakasih!" Ucap Yudha canggung. Sama sekali tak menyangka jika wanita yang jago berkelahi itu juga memiliki sisi feminim kala merawatnya.
Dan sialnya, Yudha benar-benar terkesan akan hal itu. Sama sekali tak mengira jika wanita pencopet itu, kini menjadi Dewi penolongnya.
" Hmmmm!" Sahut Rara sembari mengangguk. Mengarahkan pandangannya kepada Yudha yang kini menselanjarkan kakinya di emperan toko dengan bedhak warna biru pudar itu.
Gerimis yang turun kian kerap saja, angin yang berhembus juga memperparah keadaan. Membuat wanita itu kini terlihat kedinginan.
" Pakai jaketmu, kau bisa masuk angin nanti!" Ucap Yudha yang melihat Rara memeluk tubuhnya sendiri dengan baju di bagian bawahnya yang sudah ia sobek tadi.
" Jaket ku basah kena getah pisang!" Sahut Rara yang juga mendudukkan bokongnya ke lantai keramik toko itu.
Yudha terdiam. Ah sial, itu pasti karena mereka tadi duduk di bak pickup bermuatan pisang tadi.
Sejurus kemudian, Yudha terlihat meraih jaketnya yang teronggok di sampingnya. Berniat memberikan jaket itu kepada Rara.
" Pakai ini!" Yudha mengangsurkan jaketnya kepada Rara. Membuat wanita menatap sebuah jaket parasut hitam yang di angsurkan oleh Yudha.
" Sobek sedikit gak masalah, yang penting bisa nutupin bagian depan kamu!" Ucap Yudha demi melihat wajah Rara yang tak yakin.
" Pria itu baik juga rupanya"
" Aman! Aku bukan pria jahat. Cepat pakai!" Yudha menyerahkan jaket itu ke pangkuan Rara. Cenderung memaksa.
Ia yang kedinginan akhirnya tanpa berpikir panjang mengambil jaket yang koyak di bagian lengan kanannya itu. Tak apa sudah, setidaknya tidak basah.
Rara kini terlihat mengenakan jaket yang terlihat kebesaran di tubuhnya. Aroma jaket pria itu benar-benar khas. Perpaduan antara aroma tubuh Yudha, dan wangi parfum maskulin membuat desiran aneh mendadak timbul dari dalam kalbunya.
"Ah sial, kenapa aku jadi grogi begini?" Batin Rara yang mendadak merasa aneh.
Dua manusia itu kini saling diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing dan tak ada yang berminat untuk angkat bicara. Hanya terdengar rintik hujan yang menimpa atap seng toko itu. Semakin lama semakin deras. Terdengar semakin berisik.
Sayup-sayup ia juga mendengar suara orang ribut akibat tergopoh-gopoh menutup dagangan diatas mobil dengan bak terbuka itu.
" Di pasar induk!" Sahut Yudha seraya mencoba membuka ponselnya. Terlihat canggung.
" Jadi...kamu tahu kita ada dimana?" Rara kini menatap wajah Yudha dengan alis bertaut.
" Tahu lah, makanya aku santai!" Sahut Yudha jumawa.
" CK!" Rara mendecak.
" Apaan? Elu mau nyopet disini? Sana....gue enggak akan menghalangi, tangan gue masih sakit jadi enggak bisa nahan elu!" Yudha berucap seraya mengeraskan rahangnya.
Entah mengapa, ia tak suka jika Rara akan melakukan hal itu lagi.
" Apa lu bilang?" Rara mendelik detik itu juga. Padahal baru saja hatinya memuji kebaikan Yudha. Namun mulut culas kita itu, telah melukainya kembali.
Yudha kini memiringkan tubuhnya dan menatap Rara lekat- lekat, " Elu malam-malam begini sendiri di jalan tadi mau ngapain coba?"
Hangat nakas segar Yudha bahkan tanpa sengaja terhirup boleh cuping hidung Rara yang sudah mekar sedari tadi.
" Pakaian elu juga sama saat kita ketemu di cafe dekat mafia Gedang kemarin, pasti elu mau..."
" Nyopet?" Potong Rara cepat.
" Nah itu elu tahu maksud gue, berarti elu emang ma..."
" Kenapa sih semua orang selalu judge book based on cover?" Mata Rara memanas dan suara wanita itu kini sudah bergetar.
Membuat Yudha kini menekan ludahnya karena menangkap aura kemarahan di wajah Rara.
" Lalu apa?" Tanya Yudha.
" Elu tuh cewek, yang elu lakuin itu enggak bener Ra!" Entah mengapa sisi kelelakian Yudha yang tak ingin dilawan seketika muncul.
Rara tersentak. Tunggu dulu, apa pria itu barusaja memanggil namanya? Tapi ..tahu dari mana?
" Bukan urusanmu!" Ketus Rara seketika membuang wajahnya.
" Oh astaga anak ini!" Yudha menjambak rambutnya gusar demi mendengar jawaban Rara yang membuatnya makin kesal. Gadis ini keras kepala sekali.
Tunggu dulu, apa mereka baru saja bertengkar kembali?
Hati Rara seketika sesak. Memangnya kalau dia menceritakan kerumitan hidupnya, apa orang lain mau tau?
.
.
.
.