
Bab 26. Bertemu Ayu
^^^" Menjadi diri sendiri, adalah kesempurnaan yang bisa di benahi!"^^^
...☘️☘️☘️...
.
.
.
Seperti sudah menjadi hukum alam. Hal yang paling kita nanti , selalu saja berjalan lebih lama dari biasanya.
" Duh Lik, masih kurang berapa sih?" Fina menggerutu karena ia harus menunggu para kuli panggul itu selesai, dan membayar upah mereka detik itu juga.
Dibawah gempuran matahari yang kian menyengat kulit, membuat Fina memercingkan matanya karena silau.
Para kuli dibayar berdasarkan berapa banyak karung gabah yang mereka panggul, dari banyaknya petak sawah yang luas itu. Berjalan melewati pematang sawah, sampai akhirnya sampai ke truk.
" Masih agak banyak mbak, mbak Fina mau pergi?" Ajiz bertanya karena menatap Fina yang terlihat gelisah.
" Aku ada urusan bentar sih, ini duitnya gimana? Fina memanyunkan bibirnya.
Ajiz sebenarnya tak berani kalau urusan uang. Biasanya Yayuk yang di berikan kepercayaan untuk membawa uang guna membayar para kuli.
" Saya gak berani mbak, nanti ada selip. Saya yang kena!" Ajiz jujur, ia tentu takut dengan urusan duit.
Biasanya ia diminta membayar kalau jumlahnya sudah jelas. Berbeda kasus dengan pembayaran siang ini
Fina terlihat menatap Ajiz dan menimbang keputusan, Gadis itu berkacak pinggang seraya mencari ide.
" Gini aja deh, Lik Ajiz bawa uangnya. Kalau aku udah selesai nanti aku cepet balik. Kalau kulinya udah selesai sebelum aku datang, ini Lik Ajiz bayarin, kalau aku belum datang, entar aku yang bayar, gimana?" ucap Fina menaik-turunkan alisnya.
" Tapi mbak!" sergah Ajiz ragu. Ia takut kena damprat karena membiarkan Fina keluyuran.
" Udah aman, entar aku kasih uang rokok. Udah ya aku pergi dulu, ini catatan terkahir si Ijat yang terakhir ngangkut!"
Ajiz hanya menggelengkan kepalanya pasrah. Cucu dari juragannya itu, memang benar-benar lain dari yang lain.
.
.
Jelang siang Fina celingak-celinguk di depan rumah Ambarwati. " Permisi!" Fina mengetuk pintu itu dengan pelan.
" Buk, Buk Ambar!" ia terlihat menunggu sahutan.
Fina melihat motor Pandu ada di depan, tapi kenapa rumah itu sepi sekali bagai tak berpenghuni.
Grumpyang
Fina terperanjat lantaran mendengar suara gaduh seperti perabot yang jatuh, membuatnya berlari tanpa menunggu lagi.
Saat masuk ,ia melihat seorang gadis tengah berdiri seraya meraba- raba tembok dan rupanya ia tak senagaja menyenggol vas bunga dan figura yang ada di bufet rendah, sebelah kamar gadis itu.
" Emmmm, kamu Ayu?" Fin akhirnya angkat bicara, membuat Ayu terperanjat karena suara orang.
Ayudya mendadak memalingkan wajahnya mencari sumber suara, suara yang belum pernah ia dengar maupun ia kenali.
" Kamu siapa?" Ayu seketika menjadi panik.
" Emmm jangan takut, aku Fina. Tadi aku udah janjian sama ibu kau buat potong rambut kamu!" Fina benar-benar kasihan melihat ayu yang kondisinya memprihatinkan.
" Fina?" Ayudya mengulang ucapannya.
.
.
" Maaf ya mbak Fina, tadi saya tinggal sebentar ke toko. Mungkin Ayu pingin ke depan, tapi dia belum terbiasa!" Ambarwati yang datang lima menit kemudian merasa tak enak hati kepada Fina.
Tak mengira bila Fina benar-benar mau datang ke kediamannya.
" Enggak apa-apa buk, tadi maaf saya nyelonong masuk karena terkejut!" Fina juga sungkan. Ia nyelonong main masuk kerumah orang tanpa ijin.
" Gak papa mbak, maaf rumah kami berantakan begini!" Ambarwati sungkan karena rumahnya masih banyak perabot yang bergeletakan, sisa dari membuat sambal kacang tadi.
Fina sejenak merasakan nyeri di hatinya saat melihat Ayu. Adik Pandu itu sebenarnya memiliki wajah sesuai dengan namanya yang berarti cantik. Namun, keadaannya benar-benar miris.
" Yuk, nanti kamu di potong sama mbak Fina ya rambutnya!" Ucap Ambarwati kepada putrinya.
Ayu mengangguk senang " Di kamarku aja yang mbak motongnya, nanti sisa rambutnya biar di sapukan ibuk!" pinta Ayu dengan wajah tersenyum.
Melihat Ayu senang, Fina turut menyunggingkan senyum " Boleh, kamu mau potong gimana sih. Kebetulan aku udah bawa alat lengkap!"
" Aku mau potong pendek aja mbak, biar gak repot nyisir. Kadang gak sempat nyisirin rambut jadi rontok. Lagipula, aku juga gak bisa ngelihat rambutku kayak gimana sekarang!" ucap Ayu dengan tatapan lurus.
Hati Fina nyeri mendengar hal itu.
.
.
" Baik Buk!" Fina mengangguk ramah.
Entah mengapa, bersama dengan orang yang berada di bawahnya terasa begitu menenangkan. Fina memindai tampilan kamar Ayu yang sederhana.
Kamar itu lebih sempit dari kamarnya yang ada di rumah Oma-nya. Berlantai keramik putih polos, dengan jendela yang berkelambu kuning.
Kasur dengan ukuran sedang, satu buah lemari dan satu buah meja rias yang sederhana menjadi perabot yang paling kentara disana. Nyaris tak ada barang mewah.
Di tembok ia juga melihat foto Ayu yang dipeluk oleh Pandu. Fina langsung menyunggingkan senyuman saat melihat foot itu. Jika di tilik, Ayu kelihatannya masih bisa melihat saat berada di foto itu.
" Kamar saya berantakan tapi mbak, maaf ya. Saya udah gak pernah beres-beres semen.."
" Gapapa!" dengan suara rendah ayu segera memungkasi ucapan Ayu, yang pasti menjurus ke masalah pengelihatannya itu.
Fina benar-benar meras iba kepada Ayudya.
Cucu Bu Asmah itu terlihat meletakkan sebuah tas hitam miliknya ,yang berisikan alat pangkas rambut. Ia mengambil apron untuk di gunakan ke tubuh Ayu agar tak terkena jatuhan rambut yang terpangkas.
" Pakai ini ya, biar gak gatel?" Ayu mengangguk, meski tak melihat tapi ia bisa merasakan bila Fina adalah orang yang baik.
" Kak Fina ini siapa ya.. maksudnya kok aku baru tahu nama kak Fina disini" Ayu mencoba memburu kecanggungan dengan mengobrol.
" Aku cucunya Bu Asmah, dulu waktu kecil aku sering kesini. Tapi kamu mungkin belum lahir!" Fina terkekeh, seraya mengambil penjepit rambut beserta gunting.
" Kakak dari kota dong?" Ayu terlihat antusias bertanya. Ia bisa merasakan sisir yang menyugar rambutnya. Jelas menandakan bila Fina sudah memulai aksinya.
Fina mengangguk," Iya!" ucapnya kembali setelah sadar Ayu tak akan pernah mengetahui anggukannya.
Fina terlihat serius memotong rambut Ayu " Siap? Aku potong ya?" Ucap Fina yang akan lekas menggunting rambut terbawah milik Ayu.
" Iya mbak!" Ayu nampak sudah siap. Padahal, rambut ayu itu panjangnya sudah sebatas bahu bawah. Sangat panjang.
" Di kota itu enak ya kak, dulu waktu aku masih SMA sering browsing tempat-tempat di kota gitu, bagus banget!"
Fina tidak menyangka bila Ayu rupanya adalah anak yang cukup komunikatif. " Oh ya, memangnya tempat mana aja?" Fina terlihat lihai dalam mengerjakan tugasnya itu.
Ia menggunting, menyisir, menjepit kembali rambut hitam lurus milik ayu. Fina memotong rambut Ayu dengan model pendek yang lagi trend saat ini. Rambut pendek tanpa poni yang cocok dengan wajah tirus Ayu.
Ayu berbicara banyak dan menceritakan semua yang ingin ia capai sebelum petaka menimpanya. " Tapi sekarang..." Ayu kembali terlihat murung. Membuat Fina menghela napas.
Suasana hening.
" Ayu harus sabar, dan yakin bila semua yang terjadi pasti ada hikmahnya!" Fina mendadak tertampar oleh keadaan Ayu. Ia yang berkeadaan lebih baik malah justru kerap hanyut dalam gemerlapnya dunia.
" Menurut Mbak, hidup di desa itu benar-benar menentramkan. Jauh dari hiruk pikuk kota yang memusingkan, dan..." Fina melepas apron yang digunakan Ayu saat ia sudah selesai dengan kegiatannya.
" Dan apa Mbak?" Ayu terlihat sabar menunggu ucapan Fina.
" Dan hidup dengan orang-orang terkasih yang sayang sama kita itu juga merupakan suatu anugrah Yuk. Embak malah jarang bisa kumpul keluarga kayak kamu!" ucap Fina seraya menerawang. Ingatannya kembali kepada papanya yang sibuk, juga mamanya yang kerap bersosialita bersama teman-temannya.
Kakaknya juga tinggal terpisah degan mereka.
Sejak Ayu merasa nyaman karena untuk pertama kalinya, ia memiliki teman ngobrol. Meski belum melihat Fina, tapi ia bisa menyimpulkan jika Fina pasti gadis kota yang cantik.
" Mbak Fina disini lama?" ucap Ayu sambil terdiam karena Fina tengah menyapu lehernya dengan kuas khusus, menghilangkan sisa guguran rambut yang terpotong.
" Maunya gitu!" jawab Fina tersenyum.
" Dah selesai, kamu tahu Yuk. Kamu cantik banget potongan begini, lebih fresh. Aku jadi pingin melukis kamu deh!" Ucapnya riang seraya memegang kedua bahu Ayu, dan menatap pantulan bayangan adik Pandu itu dari cermin meja riasnya. Tersenyum puas akan maha karyanya.
" Benarkah?" Ayu senang dan meraba rambutnya yang kini sudah pendek. Terasa ringan di kepala.
" Kamu benar-benar cantik Yuk!" Puji Fina dengan jujur. Karena sejatinya Ayu memang cantik.
" Mbak Fina juga bisa melukis?" Ayu terlihat senang akan hal itu.
" Bisa, mau enggak?" mereka berdua nampaknya cocok dalam waktu sekejap saja.
Ayu mengangguk. " Apa gak ganggu mbak Fina?"
" Kita cari waktu yang pas, disini view-nya bagus Yuk. Entar kita cari background yang oke ya..."
Tanpa mereka sadari sepasang mata memperhatikan interaksi mereka. Hati Pandu menghangat demi melihat adiknya yang bisa tersenyum lepas bersama orang asing seperti Fina.
" Terimakasih banyak Fin!" Ucap Pandu dalam hati seraya tersenyum menatap Fina yang terus saja berbicara dengan adiknya itu.
.
.
.
.