
Bab 16. Pria Ganteng
^^^" Cinta kerap seenaknya sendiri, mudah datang dan mudah pergi. Dan acapkali, tanpa permisi."^^^
...πππ...
.
.
.
Serafina
Lagu yang diputar ini memang sukses memecah keheningan, namun justru membuat Fina baper.
Pandu ganteng.
Tapi, entahlah. Mendadak ia merasa insecure. Rasa cintanya kepada Riko juga berawal dari perasaan yang terpantik terlebih dahulu, dan malah berakhir seperti saat ini.
Ia membuang pandangannya ke arah luar, menampilkan jalan yang seolah bergerak seperti kereta api. Gerak semu yang justru ia tatap dengan pandangan masygul.
Ia merasa sedikit jahat, apa benar ia tertarik atau hanya karena hatinya memaksa untuk diisi seseorang guna melupakan Riko?
Semacam menjadikan pelampiasan? jelas itu bukan dirinya.
" Dia dimana?" ucap Pandu tiba-tiba yang mematikan radio itu. Membuat kesunyian kembali menyeruak.
" Hah?" tanyanya bingung sambil menatap wajah pria di sampingnya.
" Teman kamu nunggu dimana?"
" Oh, sebentar!" sahutnya cepat.
" Cih, benar-benar kalau tidak penting tidak bertanya. Orang ini banyak bicara pas lagi ndamprat aku aja, waktu bola sialan itu nyasar ke mobilku. Huh! untung ganteng, kalau enggak..."
Fina menggerutu, dan itu memang apa adanya.
.
.
Pandu
Dalam waktu empat hari saja, Pandu bisa menyimpulkan bila Fina adalah gadis kota yang mungkin tidak suka dengan pria semacam dirinya.
Kesan pertama sewaktu di lapangan Voli, jelas menerangkan Fina yang pemarah. Kedua, saat ia datang menemani Sakti. Ketiga, ia yang hendak memasang AC, justru di kejutkan dengan Fina yang selain terlampau bangun siang, wanita cantik itu membantah saat Bu Asmah menegurnya.
Dan yang terakhir, wanita yang rupanya perokok itu sangat keras kepala bila di beri tahu. Membuatnya untuk tahu diri, akan siapa dirinya.
Dan kesemua hal yang terjadi itu, membuat Pandu untuk hati-hati agar tak membuat kesalahan. Fina anak orang berada dan cucu dari orang kaya di desa itu. Tak mau membuat masalah yang akan membuatnya sulit nanti.
Ia lebih baik diam, karena diam bisa membuat kita mengurangi resiko bersalah, ia tahu Fina mungkin tak suka kepadanya. Wanita di sampingnya itu adalah tipe yang tidak suka di atur.
Begitu pikirnya.
"Teman kamu nunggu dimana?" ia bertanya lantaran kurang beberapa meter saja mereka akan sampai di stasiun.
" Oh, sebentar!" jawab wanita di sampingnya itu, seraya mengaduk isi tasnya dan mengambil ponselnya yang terlihat mahal.
.
.
Di depan stasiun Karanganyar
" Halo dit, elu dimana?"
" Gue makan di Gogo Chicken, nungguin elu gue bisa kena tipes karena telat makan!" terdengar ketus.
Tapi Fina diam saja, that her bad!
" Ya udah tunggu situ aja!" jawab Fina kemudian.
Fina berengut seraya mematikan sambungan teleponnya. Selain merasa bersalah, sebenarnya ia juga lapar. Siang ini bahkan ia memang belum makan.
" Di Gogo Chicken, aku gak tau dimana tempatnya!" menjadi obrolan wajar yang tercipta, karena ia harus menyampaikan hal itu kepada Pandu.
" Aku tahu!" jawabnya cepat, lalu kembali melajukan mobil itu.
" Tentu saja kamu tahu, kamu kan orang sini!" batinnya.
Lampu sen mobil hitam itu berkedip, Pandu membelokkan mobil yang ia kendarai ke sebuah restoran cepat saji milik pengusaha lokal.
Fina sejenak melihat papan nama sebuah tempat makan , yang sesuai dengan yang di ucapkan Dita tadi. Tempat itu hanya berjarak lima puluh meter dari stasiun.
Fina melepas seatbeltnya, begitu juga Pandu usai menarik tuas handbreak. Fina sempat melirik lengan berotot Pandu yang mengetat, saat menarik benda itu. Lagi-lagi, Fina dibuat menelan ludahnya.
Seperkasa apa pemilik tubuh liat dan lengan kekar itu. Pikirannya kembali berkelana.
Tempat makan itu lumayan ramai siang ini, banyak di serbu para penderita rasa lapar. Membuat Fina kesulitan menemukan Dita.
" Gak Papa?" tanya Fina seraya agak sungkan, merasa tak enak hati. Karena takut Pandu akan sibuk setalah ini. Ia cukup tahu diri karena sudah merepotkan orang lain untuk urusannya.
" Maksudnya?" pria itu mengernyitkan dahinya, dan justru terlihat makin ganteng.
" Maksudnya, kalau makan dulu kita tambah lama. Kamu gak.."
" Enggak, kalau gitu aku pesankan. Kamu cari teman kamu dulu!" pria itu langsung masuk, Fina dibuat terkejut dengan tindakan pria itu.
Ia menatap tubuh jangkung yang kini lekas berjalan menuju meja kasir, yang terlihat agak banyak antriannya.
" Fin!"
" Fina!"
Lamunannya bercampur fantasi kotor pecah seketika menjadi butiran debu yang amat kecil, luluh lantak tak bersisa saat suara sahabatnya memanggil dirinya.
Fina tersenyum, ia melambaikan tangannya kepada Dita. Setengah berlari wanita itu bergerak menuju meja yang sudah di duduki Dita. Meja paling ujung, yang berada di barisan paling kanan.
" Fina aku kangen!" meskipun sempat merajuk di ponsel, namun Dita begitu merindukan Fina. Begitupun sebaliknya.
" Sama Dit, kamu makin gendut aja!" Fina memeluk seraya membuli.
" Hah, enak aja. Aku udah timbang kali!" Dita langsung melepaskan pelukannya dengan wajah berengut. Ia menepuk paha Fina dengan bibir manyun.
Fina terkekeh, ia hanya bercanda. Dita dulu memang gemuk, wanita itu berhasil menurunkan berat badannya dengan susah payah.
" Sendirian?" tanya Dita
" Enggak, diantar!" jawab Fina sembari menitil ayam krispi garing yang renyah dan gurih di piring putih Dita. Ia sudah sangat lapar.
" Tuh!" Fina menunjuk Pandu yang tengah mengantri di kasir, terlihat masih berbicara dengan pegawai disana.
" Hah, siapa itu? kamu belum lama di desa udah dapat pengganti Riko?" Dita terus memandangi Pria tinggi yang wajahnya benar-benar rupawan.
" Mana ganteng banget lagi, itu siapa?" Dita sebagai kepowers ulung, tentu tak bisa untuk tak memberondong Fina dengan pertanyaan yang penuh selidik.
" CK, panjang ceritanya. Entah aku ceritain. Intinya dia tetangganya Oma-ku!" ucap Fina kini meneguk air mineral yang di pesan Dita.
Ya, dokter muda ini lebih memilih air putih ketimbang minuman berkarbonasi yang sudah menjadi teman setia paket nasi itu.
Pandu berhasil menemukan Fina dan sahabatnya dengan cepat. Pria itu menyapukan pandangannya dengan teliti, dan berhasil menemukan Fina yang asyik mengobrol dengan seorang wanita.
"Emm maaf lama, ini kamu makan dulu!" Pandu datang dengan membawa nampan berikan dua paket ayam dan dua gelas besar minuman berkarbonasi yang dingin, dan terlihat menggiurkan di cuaca panas seperti saat itu.
Mata Fina berbinar, ia sudah sangat lapar. Pandu terlihat menarik kursi di sebelah Fina lalu mendudukkan tubuhnya dengan perlahan.
Sebelum makan, Fina agaknya perlu memperkenalkan dua orang di depannya itu.
" Emmm ini Dita. Dan dit, ini Pandu!" ia memperkenalkan orang, namun ia sendiri tak pernah berkenalan dengan pria itu. Sungguh aneh bukan.
" Halo saya Dita!" ucap Dita ramah dan tersenyum kepada pria ganteng di depannya.
" Pandu!" jawab pria itu singkat dengan senyum standar.
Mereka berdua berjabat tangan dan saling berbalas senyum. Membuat hati Fina mencelos demi mengingat dirinya yang bahkan tak melakukan hal itu, saat pertama bertemu dengan Pandu.
Damned!
" Ya udah ayo kita makan dulu!" ucap Dita kemudian. Ia juga sudah lapar.
Jam itu memang jam makan siang, Pandu juga lapar rupanya. Pria itu makan dengan khusyu, cepat dan rapi. Benar-benar terlihat laki banget, bahkan cara makannya membuat dua wanita itu saling menatap.
Pandu benar-benar terlihat menikmati makanan itu dengan cepat namun tak terlihat buru-buru. Dalam beberapa menit saja, makan itu licin tandas tak bersisa.
" Kalian selesaikan dulu, aku mau ke toilet !" pria itu pamit usai meneguk minumannya. Kandung kemihnya minta dikurangi isinya rupanya.
" Fin, ganteng banget. Elu kehilangan Riko malah dapat yang lebih ganteng!" ucap Dita saat Pandu telah menghilang dari pandangan mereka.
" CK, apaan sih. Aku juga belum kenal betul sama dia!" jawab Fina apa adanya.
" Hah, elu gila apa, belum kenal betul tapi udah di antar kesini terus di pesenin makanan?"
" Mujur banget hidup elu!" dengus Dita yang tak percaya dengan yang di katakan sahabatnya itu.
Fina tertegun mendengar ucapan sahabatnya itu. Pandu orang yang baik ternyata. Meski pria itu pernah ia perlakuan kurang baik di awal, namun agaknya pria itu justru kerap menolongnya.
Apa benar bila cinta itu masih buta? entahlah, mendadak ada getaran aneh di dada Fina, yang seorangpun tak dapat melihatnya. Hanya ia sendiri yang bisa merasakan.
Getaran yang mungkin awal dari, CINTA.
.
.
.
.