Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 101. Takdir macam apa ini?



Bab 101. Takdir macam apa ini?


^^^" Seburuk apapun keadaan, kenyataan tetap harus di kabarkan. Karena negatif thinking dapat menyebabkan penyesalan seumur hidup!"^^^


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Ambarwati


Suara tembakan yang saling bersahutan terang membuat dirinya panik bukan kepalang. Tak bisa lagi untuk berdiam diri dan menunggu. Apalagi ,sebenarnya ia tahu rumah besar itu merupakan rumah milik serpihan masa lalunya dulu.


Masa lalu yang sebenarnya ingin ia kubur dalam- dalam. Sama sekali tak berniat apalagi berminat untuk mengorek. Meski ia tahu, jelas ia bersalah karena menyembunyikan hal sebesar ini kepada Pandu.


Ia tetap sama, hanyalah seorang ibu yang ingin melindungi putranya. Tak peduli sebesar apapun usia Pandu, baginya ia merupakan anak yang selalu ingin ia lindungi. Kasih tulus seorang Ibu, yang memiliki nasib busuk karena dibutakan cinta dari seorang pria yang dulu membuatnya merasa sangat dicintai.


Hartadi Wijaya.


" Saya harus masuk Pak, tolong ijinkan saya masuk!" Berkali-kali ia mengiba sembari mengguncang lengan berotot milik Bayu.


Bayu menatap muram wajah Ambarwati. Bagaimana ini? Keadaan di dalam jelas genting. Astaga!


" Halo Ren, dimana kamu?" Bayu akhirnya menghubungi Rendy yang ia tugaskan untuk menuju ke kantor Wira. Polisi yang masih terhitung saudara jauh dengan Bayu.


" Saya meluncur kesana Pak bersama mas Wira dan personel. Saya juga sudah membawa reporter di belakang!"


" Baiklah kalau begitu!" Bayu harus memastikan dulu, jika perjuangan mereka tidak sia-sia. Jujur, ia saat ini bernapas lega. Penegak hukum harus tahu perkara besar ini.


Bayu terlihat menatap Ambarwati yang kini masih tekun menyeka air matanya dengan ujung pakaiannya. Benar-benar menyayat hati.


" Jangan jauh-jauh dari saya, disana bahaya sekali!" Tutur Bayu dengan suara pelan.


Ambarwati mengangguk setuju, berharap di dalam anaknya tidak kenapa-kenapa dan ingin membawanya pulang saja. Terlalu riskan jika ia nanti bertemu Hartadi, begitu pikirnya.


Mereka lantas masuk. Ambarwati benar-benar dibuat terkejut dengan aksi saling serang dari para lelaki yang sama sekali tidak ia kenali itu. Ia bisa melihat Ajisaka yang juga terlibat adu jotos dengan seorang pria berpakaian gelap.


Yudha yang tengah menendang kepala pria yang mengacungkan pisau, sementara Sakti terlihat menggelitiki kaki seorang pria bersama pemuda berkulit gelap yang sibuk memegangi tangannya. Kok bisa itu loh. CK CK CK!


Pria itu terlihat tersiksa sekali akibat gelitikan tangan Sakti. Luar biasa konyol. Ketegangan tengah berlangsung, tapi mereka malah menumbangkan orang dengan cara gak lazim. Haish!!!


DOR


DOR


Ia terperanjat dengan suara yang memekakkan telinganya itu. Jantungnya seakan melompat dari tempatnya saking terkejutnya.


Bayu rupanya menarik dirinya kedalam dekapannya saat seroang pria nyaris saja menyerang dan berniat menarik rambut Ambarwati. Kini, pria itu mengerang kesakitan usai di tembaki oleh Bayu pada bagian kakinya.


" Argghhhh!"


Ambarwati terlihat berwajah pias seketika. Astaga seumur hidup ia tak pernah melihat hal semenegangkan seperti saat ini.


" Sudah aku katakan disini terlalu berbahaya!" Entah mengapa, hasrat ingin melindungi mendadak tumbuh dari hati pria matang itu. Bayu terus menyapukan pandangannya guna membaca situasi.


Ia benar-benar canggung usai di dekap oleh pria itu. Sungguh, ia malu.


" Dimana anakku?" ia menepikan perasaan sungkannya kepada pria di depannya itu, dengan mengutarakan sebuah pertanyaan yang sedari tadi bersarang di otaknya.


.


.


Kadek


Ia tak mengenal beberapa orang yang datang bersama Theodor, Ucok juga Markus dalam urusan membantu mereka. Tapi yang jelas, mereka cukup bisa membantu dan di andalkan meski tidak semua bisa menggunakan senjata.


Ia yang terluka melipir seraya sesekali melawan musuh yang seolah tiada jera. Ingin menepi sebentar lantaran luka yang ia rasakan kian menusuk dagingnya. Nyeri tak terperi.


Dari jarak beberapa meter, ia melihat direktur KJ. Kebetulan sekali.


" Pak!" Dengan meringis sembari memegangi bahunya yang terluka, Kadek mendatangi Bayu yang berdiri bersama dirinya.


" Kadek, kau terluka?" Bayu membulatkan matanya dengan suara penuh kecemasan.


" Tidak apa- apa pak, saya masih bisa bertahan!" Jawabnya menahan nyeri.


Wajah Bayu terlihat berpikir " Tunggulah, Rendy sedang menuju kemari!" Bayu menepuk lengannya.


Dari tempat yang sama , Kadek juga melihat seorang wanita asing yang kini berdiri di dekat Bayu, dengan menyuguhkan raut wajah cemas sembari mencari-cari sesuatu.


" Dimana anak saya?" Ambarwati benar-benar panik detik itu. Membuat Kadek mengerutkan keningnya.


" Dimana Pandu?" Kini, Bayu memperjelas semuanya.


"Jadi wanita ini ibunya Pandu!" Batin Kadek.


" Pandu keatas mengejar Riko dan Tuan Hartadi yang menahan Fina!"


Seketika ia melihat keterkejutan di raut wajah wanita ayu yang berdiri di samping bos-nya itu. Ada apa sebenarnya?


.


.


Bayu


Wanita di sampingnya itu nyaris saja limbung sesaat setelah mendengar ucapan Kadek. Ada apa pikirnya, bukankah itu hal biasa.


" Antar saya menemui Pandu!" Pinta Ambarwati.


" Kamu disini saja, aku akan kesana mencari Pandu. Kadek, bisa kamu tema...!"


" Antar saya!" Ambarwati menekan ucapannya dengan nada tinggi seraya menahan laju air mata yang sudah tergenang di pelupuk matanya. Membuat Bayu meneguk salivanya.


Baiklah!


" Saya mohon!" Sebulir cairan bening itu lolos membasahi wajah teduh Ambarwati. Bayu benar-benar tak kuasa jika sudah begini.


Ia bahkan sempat menatap ke arah Kadek yang berwajah penasaran. Ada apa?


.


.


Ambarwati


Bayu memegangi bahunya lantaran ia benar-benar seperti ketakutan. Dari gestur tubuh yang tersaji, wanita itu seperti tengah menerima tekanan.


Dengan langkah bergetar, ia menapaki tangga rumah besar itu. Hati Ambar bak di hujam sembilu saat itu. Kilasan masa lalunya akan Hartadi kini seolah nampak jelas. Bahwa takdir selalu memiliki caranya sendiri.


Relung-relung hati yang sudah tertutup rapat itu, entah mengapa seolah tersuluh cahaya kekecewaan kembali. Alih-alih ingin menghilangkan jejak tentang siapa sebenarnya bapak Pandu. Kini, ia justru harus menjelaskan hal yang sudah pasti akan sulit di terima oleh Pandu.


Jelas ini salahnya. Namun, apakah semua ini salahnya? Tentu tidak.


" Tak akan ku biarkan kau hidup setelah membuat anakku seperti itu!" Sayup-sayup ia mendengar suara kemarahan dari pria yang jelas ia kenal. Oh tidak, itu suara Hartadi.


" Pun dengan saya. Anda kan yang memerintahkan pria brengsek itu untuk menusuk adik saya kan, hah?"


" Keluarga biadab macam kalian memang pantas untuk mati!"


Suara berikutnya membuat degup jantungnya kian cepat. Oh tidak, jelas anak dan bapak itu saling serang.


" Pandu tahan dirimu nak!"


" Kurang ajar!" Ia bisa jelas mendengar serta melihat Hartadi yang mengacungkan senjatanya tepat ke hadapan Pandu sesaat setelah ia sampai di lantai dua itu.


Tubuhnya seketika menegang, lututnya terasa lemas. Ia bahkan tak menyadari, jika sedari tadi Bayu membantunya untuk berjalan. Kiamat benar-benar seolah-olah menghampiri dirinya.


" Jangan kau bunuh anakmu!" Entah mengapa kalimat itu lolos begitu saja saat melihat Pandu yang akan di tembak oleh Hartadi. Ia tak bisa mencari kosakata lain yang bisa menghentikan Hartadi saat itu. Ambarwati berada di ujung lelahnya.


Ia juga bisa melihat raut penuh keterkejutan dari beberapa orang yang ada di sana. Terutama Pandu.


Kali ini dua netra sendunya telah mengeluarkan cairan bening usai mengutarakan hal itu. Suara serta tubuhnya kini sama bergetarnya.


Ia menatap Pandu yang menyuguhkan raut bingung, tak mengerti. Maafkan ibuk nak!


.


.


Pandu


Lelucon macam apa ini? Ibu berada di sini? Dan... Hartadi? Bapakku?


Ibu pasti sedang ngaco.


Ia menatap wajah Hartadi Wijaya yang kini seperti kehilangan kendali atas dirinya. Pria itu mematung dan senjatanya terperucut ke lantai. Meski bingung, namun Pandu merasa tak terpengaruh dengan ucapan Ibu.


Melihat senjata itu kini terjatuh, membuat Pandu berinisiatif mengambil benda itu dan mengacungkannya ke wajah Hartadi. Sekarang atau tidak sama sekali.


" Tidak!!!" Rengganis yang melihat hal itu sontak berteriak. Membuatnya mengeraskan rahangnya.


" Pandu jangan!" Pun dengan Ibu. Dua perempuan itu sama-sama memekikkan pernyataan pelarangan.


Apa-apaan ini?


" Pandu! Stop Ndu!" Kini bahkan Fina turut mengutarakan hal yang sama. Damned!


Dari jarak yang masih sama, ia melihat ibu yang malah berjalan mendekat dengan tatapan muram dan sendu. Sorot matanya tak memiliki pengharapan.


" Ibu jangan maju Bu, pria ini yang telah membunuh Ayudya. Mereka harus merasakan apa yang kita rasakan Bu! Dengan suara menggebu ia memperingati ibunya. Tapi,mengapa wajah ibu masih datar saja.


" Biar mereka tahu rasanya kesedihan dan mengerti arti kehilangan!" Ia berteriak meluapkan emosi sembari mengatur napasnya.


PLAK!


Ia membulatkan matanya kala melihat ibu yang menampar wajah seorang Hartadi Wijaya.


Jadi.... benarkah jika dia...?


.


.


Hartadi Wijaya


Apa yang sebenarnya terjadi? Wanita yang selama ini ia cari dengan susah payah, justru menampakkan dirinya di rumahnya dengan sukarela. Namun yang membuatnya berbeda, adalah cara bertemu mereka.


PLAK!


Sebuah tamparan kini mendarat di wajahnya. Membuat semua yang ada disana terlonjak kaget.


" Apa yang kau lakukan wanita murahan!" Umpat Rengganis.


" Diam kau!" Kini dengan emosi yang memuncak, Ambarwati memaki ke arah Rengganis yang masih memangku kepala Riko yang tak sadarkan diri. Membuat wanita itu kini hanya bisa menegaskan rahangnya.


Ia masih tertunduk seraya menitikan air matanya. Apa semuanya ini benar? Apa dia sudah membuat kesalahan besar?


" Berpuluh-puluh tahun dia hidup menderita!"


" Susah payah aku menghidupi, merawat dan menjaganya seorang diri!"


" Dia dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Dan saat sudah besar, kau malah mau membunuhnya?"


" Hah?"


Ia tak bisa menjawab barang sejenak pun. Kata-kata Wati telak memukul hatinya. Membuat sudut- sudut di dalam sanubarinya nyeri sekali.


" Dari dulu kau memang hanya pria jahat!" Ambarwati berteriak tepat di wajahnya. Ia bahkan mengira semua ini hanya mimpi.


Kesemua orang disana masih menatap bingung pertengkaran dua manusia dewasa, yang jelas mendebatkan hal yang tiada ringan.


" Kau yang meninggalkanku!" Kini Hartadi berteriak karena kecamuk di harinya yang semakin tak terkendali.


" Oh ya? Apa kau sudah pernah mencari tahu kebenarannya?" Wati lagi-lagi berbicara kerasa di hadapan wajahnya.


" Kalau aku tidak meninggalkanmu mungkin anakku sudah mati sedari dulu karena wanita itu!" Wati menunjukkan muka Rengganis. Membuatnya kini terlonjak kaget.


.


.


Pandu


Ia merasa kepalanya seperti di hantam oleh palu godam yang besar. Selain ia sedari kemaren belum beristirahat secara normal, kenyataan tak masuk akal ini benar-benar membuatnya mumet.


Sial!


" Hahahaha!" Pandu tergelak, membuat ibu dan Hartadi yang tengah bersitegang itu mengerutkan keningnya. Pun dengan yang lainnya.


" Aku gak mungkin berasal dari pria macam itu!" Ia menggeleng tak percaya sembari terus mengacungkan senjatanya.


" Ibu jangan ngaco Bu. Orang tua Pandu ya cuma ibuk sama Ayah Sulaksono!" Pandu tersenyum sumbang, membuat Ambarwati merasakan sesak di hatinya. Sungguh, ia tak bermaksud untuk menutupi semuanya. Namun saat itu, keselamatan Pandu yang utama.


" Pria seperti ini harus ma..."


" Pandu!" Bayu berteriak sembari berjalan saat ia melihat Pandu yang akan menarik pelatuk Pistol itu.


" Jangan Pandu!" Ucap Fina.


" Mas!!" Teriak Rengganis yang ketakutan karena hendak di tembak.


Sementara ibu hanya menatapnya tajam. Diam seribu bahasa dengan wajah lelah.


DOR


DOR


DOR


Membuatnya memberondong senjata itu ke atas demi melupakan emosi yang bersarang di hatinya saat itu. Brengsek!!!


" Argggggghhh!" Pandu mengacak rambutnya frustasi seraya berteriak. Ia menghancurkan deretan benda mahal yang berada di nakas samping tembok itu dengan brutal.


Pandu kecewa dengan semaunya. Dengan dirinya sendiri, juga dengan Ibu.


" AAAAAAA!" Rengganis berteriak sembari menutup mata dan telinganya. Keadaan disana benar-benar tak terkendali.


" Brengsek!'' Ia mengumpat dengan teriakan lalu enyah dari tempat itu dengan perasaan campur aduk. Ia menabrak pundak Hartadi yang masih mematung. Membuat tubuh pria itu terhuyung.


Terlalu banyak pertanyaan yang kini memenuhi otak Pandu. Sama sekali tak mampu untuk berada di sana. Kenyataan macam apa ini. Brengsek!


Hartadi bahkan bisa menghirup aroma kemarahan dari diri Pandu. Kini, ia juga bingung dengan dirinya sendiri. Jika benar apa yang di katakan oleh Ambarwati, adakah maaf dari Pandu untuknya?


" Pandu! Pandu!" Pandu masih bisa mendengar suara Fina yang sepertinya turut mengejar dirinya. Tapi ia ingin sendiri saat itu.


Hartadi menoleh ke arah dimana Pandu berjalan dengan kobaran api kemarahan. Ia membulatkan matanya kala melihat tatto aksara Jawa yang memiliki arti nama Ambarwati di bahu kanan Pandu. Jelas Pandu memang anak Ambarwati.


" Pandu!" Teriak Ibu memangil namanya.


"Pandu dengar ibu nak!"


Bayu terlihat menahan langkah Ibu yang berniat mengejarnya. Bayu menggelengkan kepalanya seolah mewakili ucapan untuk membiarkan Pandu berdamai dengan keadaan dan dirinya sendiri terlebih dahulu.


" Biarkan dia!" Ucap Bayu yang membuat Ibu lemas seketika.


.


.


.


.