Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 108. Lintas cerita



Bab 108. Lintas cerita


^^^" Dalam kesederhanaan seringkali kita menemukan ketulusan!"^^^


^^^.^^^


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Bayu


Ia hanya ingin berkelakar dengan mbok Rasto saat itu. Ya walau pada akhirnya entah mengapa ia senang usai melontarkan kalimat beresensi candaan itu.


Sebenarnya ia adalah pria yang memang senang bercanda jika berada di rumahnya, dan bisa berkamuflase lain jika berada di KJ. Definisi dari profesionalisme.


Ia berniat akan meletakkan sebuah salinan dokumen penting di brankas rumahnya. Selain itu , ia juga ingin mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih santai. Jeans dan sebuah kaos fit di tubuhnya mungkin menjadi pilihan yang tepat.


Jangan salah, rajinnya Bayu dalam mengolah raganya membuat tubuh pria itu nampak senantiasa bugar. Itu sih sudah pasti.


"Pak kenapa saya baru lihat Ibuk yang tadi?"


" Njenengan ( anda ) serius pak?"


Mbok Rasto rupanya mengikuti dirinya dan menunggu di depan kamarnya, meninggalkan Ibu dari Pandu yang duduk di sofa ruang tamunya.


" Kata orang ucapan adalah doa mbok, jadi...?" Ia menyeringai dan sengaja menggantungkan kalimatnya. Membuat mbok Rasto turut mengangguk dan tersenyum bahagia.


Awalnya Bayu berpikir jika pertemuannya dengan Ambar hanyalah euforia sesaat, perasaan semua yang tak mungkin bertahan lama.


Namun, rasa yang tak terdefinisikan itu makin lama makin membuatnya resah. Tak mau terburu-buru juga sebenarnya. Tapi, setelah sekian lama menutup hati bagi wanita manapun, entah mengapa sosok tegar dalam balutan kesederhanaan itu benar-benar mampu mengusik jiwa lelaki Bayu.


Bayu terkesima dengan wajah Ambarwati sejak pertama berjumpa.


Ia tahu, bagi pria dewasa sekelas Bayu yang mungkin lekas merasa kesepian , tak menutup kemungkinan jika ia akan merasakan hal ini suatu saat. Menyukai lawan jenis.


Oh ayolah, ia manusia normal yang jelas sudah di bekali rasa itu oleh yang kuasa sejak ia menapaki diri di bumi pertiwi ini kan?


Bukan perkara teman di ranjang atau urusan kronis lainnya, tapi lebih ke seseorang yang bisa di ajak berbagi kasih juga bercerita di hari senjanya nanti.


" Mugi- Mugi kinabulan nggeh Pak ( semoga saja terkabul ya pak!)" Mbok Rasto tersenyum penuh harap.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Serafina


Ia duduk di depan sebuah lukisan yang sudah mangkir beberapa waktu tak ia garap. Lukisan sebuah wajah yang pertama kali mengusik dirinya. Pandu.


Ia tahu mungkin Pandu malam ini tak akan menemui dirinya. Ia paham dan mengerti, jelas Pandu memerlukan waktu untuk berdamai dengan semua yang terjadi. Belum lagi, ia belum memiliki ponsel baru. Mana mungkin bisa saling menghubungi.


TOK TOK TOK


" Ini mama Fin!" Suara rendah dari luar membuat Fina mengehentikan kegiatannya beberapa detik.


" Masuk aja mah!" Ucapnya kemudian melanjutkan kegiatannya, terus berjibaku dengan tinta dan kuas yang ia sapukan pasti keatas kanvas tersebut.


Mama masuk dengan wajah cerah, entah apa yang membuat mama seperti itu.


" Fin..kamu...?" Mama sempat terperanjat saat melihat wajah Pandu yang kini tengah ia lukis. Wajah rupawan yang hampir jadi itu membuat mama tersenyum.


" Sejak di rumah Oma mah, baru bisa kelar sekarang. Untung mau aku simpan sendiri gak di pajang di galery!" Fina terkekeh demi menyadari jika satu lukisan saja bahkan harus membutuhkan waktu berhari-hari.


Ia tahu jika mamanya masih mengagumi lukisan buah karyanya itu dengan tatapan takjub.


" Pandu enggak kesini?" Tanya mama sembari mendudukkan tubuhnya ke atas tempat tidurnya.


Ia lantas mengerutkan keningnya detik itu juga. Tumben banget mama nanyain Pandu. Apa gak salah?


" Enggak ma, Pandu lagi beresin masalahnya!" Ucapnya sembari memberikan sentuhan terakhir pada lukisan itu. Sempurna.


" Masalah? Masalah apa?" Mama kepo juga ternyata.


Ia kini meletakkan kuas ke atas meja di sampingnya, sejurus kemudian ia melepas apron yang ia kenakan sedari tadi. Membuat mama mengikuti semua gerakannya dengan sapuan matanya.


Fina lantas berpindah mendudukkan dirinya di samping mama, tepat diatas bibir kasurnya.


" Mah, Pandu itu ternyata anaknya Om Hartadi!" Ucap Fina dengan wajah sendu.


" Apa? Yang bener kamu Fin!" Biji mata mama bahkan terlihat purnama. Membulat sempurna.


Ia mengangguk yakin " Aku denger sewaktu..." Fina menceritakan semua kejadian yang ia alami, semua yang ia dengar dan semua yang ia saksikan.


" Aku belum tahu cerita dari Bu Ambar ma, maksudnya... aku kan belum ketemu Pandu, jadi belum tahu kenapa Pandu bisa pisah dan gak tahu siapa bapaknya selama ini!" Tukas Fina datar.


" Jadi...adiknya yang meninggal itu?"


Fina mengangguk " Itu anak dari papa sambung Pandu mah, saudara seibu!"


Dua wanita itu kini tertegun, tak mengira pria dalam balutan kesederhanaan itu rupanya merupakan anak dari orang yang berpengaruh dan saat ini tengah tersandung kasus hukum.


.


.


Pandu


" Nak!" Ia kaget saat mendengar suara familiar dari jarak beberapa meter, saat ia dan para sahabatnya hendak masuk kedalam mobil. Ya, Pandu dkk kini telah berada di parkiran cafe tersebut.


" Ibuk?" Ia terperanjat saat melihat Ibu yang kini berjalan mengarah kepada dirinya. Yudha, Aji, juga si sableng Sakti bahkan tak jadi masuk dan menutup kembali pintu mobil Ajisaka itu.


" Kamu tadi pergi lama sekali, ibu jadi khawatir...!" Raut ibu muram, sejurus kemudian ia melihat pria yang tak asing turun dari sebuah mobil yang tadi di naiki ini. Bayu?


" Ibuk tadi ikut Pak Bayu buat nyari kamu!"


" Mujur banget si Pandu Yud, aku kalau keluyuran nyari kecot gak pernah di cariin ibuku sampai begitu!" Sakti memeluk pinggang Yudha, membuat pria itu menggeliat karena geli. Bocah sableng tenan!


Pandu tersenyum, ia paham. Mungkin ibunya masih terkena semacam sindrom kekhawatiran berlebih pasca ia mengalami hal menegangkan beberapa waktu yang lalu.


" Ibuk udah makan?" Ia merengkuh bahu ibunya.


" Ibumu tidak mau makan karena menunggu kalian?" Sahut Bayu yang berjalan ke depan.


" Yudh?" Tukas Sakti mulai berbisik.


" HM?" Sahut Sakti hanya berdehem.


" Roman- romannya Pak itu demen sama Bu Ambar deh!"


PLETAK


Ajisaka menjitak ubun-ubun pria sableng itu demi mendengar ucapannya yang lekas ngawur.


" Duh Ji, sialan banget sih lu. Engko lek mbun- mbunanku jebol pie ( nanti kalau ubun-ubun ku bolong gimana?" Sakti mendengus seraya mengusap kepalanya yang ngilu. Membuat Yudha terkekeh puas.


" Jebol ya tinggal di kasih paku, biar jadi kunti kamu!" Dengus Ajisaka sebal.


" Matamu, lak dadi memedi aku!"


" Mangkane cangkemu sing genah lek omong! ( makanya mulutmu yang bener kalau bicara!)" Dengus Ajisaka.


" Ini udah bener tau. Makanya sekali-kali pacaran kamu, biar bisa tahu ciri-ciri orang poling in lop ( Falling in Love/ jatuh cinta) itu kayak gimana!" Sakti mendengus kesal pada Ajisaka.


" Ngganteng- ngganteng gak doyan wong wedok ( ganteng-ganteng gak doyan sama wanita?)" Ucap Sakti nyaris tak terdengar.


Mendengar Sakti mengomel, membuat Aji teringat dengan wajah seorang wanita. Membuatnya menarik senyuman detik itu juga.


" Wong edan, di jak omong malah ngguyu- ngguyu dewe su ..asu! ( Orang gila, di ajak bicara malah senyam-senyum sendiri njing..anjing!)"


Perut Yudha sudah sakit karena ulah Sakti. Ia tertawa puas kala melihat Sakti yang kini berwajah muram durja karena jitakan Ajisaka yang pasti sakit sekaleee.


" Emmm Yud, kamu sama Aji sama Sakti balik ke kantor dulu aja ya...kalian istirahat dulu. Ibuk belum makan, jadi biar kau temani ibuk makan dulu. Nanti aku pulangnya sama Bayu..!"


" Ndu...!" Bu Ambar protes demi mendengar Pandu yang tak memberikan embel-embel tanda hormat kepada yang lebih tua itu.


" Emm iya, nanti aku pulang sama Pak Bayu!" Pandu meringis seraya menggaruk kepalanya. Jelas ia akan kena omel ibu negara jika tidak segera meralat ucapnya.


" Oke Ndu, ya udah kita duluan ya?" Yudha menjawab dengan menepuk lengan Pandu sesaat setelah Pandu berucap.


" Cieee yang mau punya bap...!"


" Udah ayok!" Yudha buru-buru membekap mulut Sakti sebelum pria itu akan berbicara ngawur soal Bayu kepada Pandu.


Dasar sableng!


.


.


.


Review lama sedari kemaren guys.