Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 130. Pria punya selera



Bab 130. Pria punya selera


^^^" Tak seorangpun dapat menghindar dari kemumetan kala berurusan dengan wanita!"^^^


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Ajisaka


Ia menghela napas detik itu juga kala Wida beranjak dari duduknya. Kenapa tidak semudah yang di bayangkan ?


"CK, Astaga!" Ia membasuh wajahnya kasar menggunakan kedua telapak tangannya. Ia memang pria fakir kata dalam berucap, tapi tentu sebagai ciptaan Tuhan, ia juga memiliki naluri sendiri dalam menunjukkan ketertarikannya pada lawan jenis. Termasuk kepada Wida.


Keresahan kini menguasai dirinya. Apalagi, dia belum pernah se serius ini sebelumnya terhadap betina.


" Mas Aji!" Dari depan terdengar suara wanita yang memanggilnya.


" Desinta?" Belum juga keresahan hatinya sirna, kini tambah lagi satu hal yang makin membuatnya mumet. Wanita itu!


Ia menatap wanita yang kerap tebar pesona kepada Pandu itu dengan rasa jengah " Ngapain dia kemari?"


Desinta terlihat masuk dengan wajah ceria dan berpenampilan sexy. Tentu saja, wanita itu sebenarnya memang cantik. Terlahir dari keluarga berada jelas tak akan membuatnya kesulitan dalam menjaga perawatan wajahnya. Namun entah mengapa Aji sama sekali tidak tertarik.


Definisi dari pria punya selera.


" Ada apa Des?" Tanyanya malas kala Desinta hampir tiba di depannya. Benar-benar pengganggu.


" Aku mau tanya sesuatu mas!"


" Aku baru tahu kabar. Mas Pandu beneran lagi di kota?" Wanita itu tanpa permisi langsung melingkarkan tangannya ke lengan Aji. Membuat pria itu langsung berwajah masam.


" Iya!" Sahutnya risih karena tiba-tiba wanita itu menempel di lengannya.


" Jangan begini Des, aku tid...!" Aji hendak memarahi Desinta, namun ucapannya menguap kala Dino bersama rombongan tiba-tiba melintas di depannya.


Oh sial!


Dan lebih sial lagi, Wida yang berada di dekat Damar turut melihat pemandangan di depannya itu. Pemandangan yang wow!


Ya, lengan Aji tergamit manja oleh seorang tangan wanita wanita sexy. Desinta.


Aji mendelik. Sialan betul, jelas kini ia lebih khawatir jika Wida akan salah mengartikan yang tengah terjadi itu.


Dan entah mengapa, ia takut jika Wida akan salah paham. "Haishh, kenapa belatung nangka ini ada disini sih?" Menggerutu dalam hati.


Saat itu juga, ia menatap wajah Wida yang terlihat acuh. Wanita itu terlihat membuang pandangannya ke sembarang arah. Ia tidak tahu, apakah Wida sempat melihatnya atau tidak.


" Auww bos! Kami..akan pindah ke tempat Packaging. Setelah ini kam...!" Dino cukup terkejut dan keranjingan saat itu sebenernya. Dino nyengir demi melihat apa yang tersaji.


Kasak-kusuk dan bisik-bisik ibu-ibu wali murid kini terdengar. Jelas membicarakan Aji dan perempuan itu.


Aji melepaskan tangan Desinta dengan gerakan cepat dan agak kasar. Tak mau menjadi tontonan lebih lama lagi. Membuat Desinta kesal.


" Baiklah, setelah ini aku nyusul!" Ucapnya bersikap biasa saja usai melempar tangan Desinta. Membuat Desinta berengut kesal.


Bahkan saat mengucapkan hal itu, Aji masih sibuk melihat raut wajah Wida. Ia benar-benar cemas.


.


.


Desinta


Ia tahu jika Pandu terlibat aksi penyergapan bersama anggota guard yang menyeret nama orang yang cukup terkenal. Bahkan, bapaknya yang bernama Widiantoro nyaris terseret kasus itu sebab disinyalir terlibat aksi pengerusakan lapak milik Ambarwati.


Dan yang lebih membuatnya terkejut adalah, wanita yang di selamatkan dari kasus penculikan itu rupanya adalah Fina. Cucu dari wanita terkemuka di desa itu.


Praktis, ia tak akan memiliki kesempatan untuk bersama Pandu. Pria yang sukai sejak dulu. Meski tak ber uang, tapi Pandu merupakan orang ganteng yang mumpuni dalam segala hal.


Yakin jika ia tak akan pernah mendapatkan kesempatan untuk bersama Pandu, kini ia mencoba untuk menggoda Aji. Meski ia sendiri tahu jika itu akan sulit, karena Aji pria yang kaku dan pemarah. Tadi empat sekawan itu benar-benar sayang untuk ia lewatkan.


.


.


" Wid? Nyusul juga kamu?" Ucap Bu Nur, satu-satunya wanita yang bersikap ramah kepadanya saat melihat Wida yang kini menerobos gerumbulan Ibu-ibu.


" Diluar sendiri gak enak Bu. Jadi saya nyusul!" Wida meringis menatap Bu Nur. Untung saja tidak ada yang tahu jika pria tadi mendatanginya.


Saat menyusul Damar ke dalam bangunan, ia melihat para murid itu tekun memandangi mesin-mesin besar yang memotong buah naga itu dengan tertata rapi. Semua proses pengerjaan menggunakan mesin rupanya.


" Wah!!! Keren, mesinnya besar Bu!" Damar yang tahu ibunya kini menyusulnya sangat senang.


" Pabrik ini punya Om yang kemaren Buk?" Tanya Damar di antara riuh rendah para bocah yang sama berdecak kagum.


" Iya!" Wida mengangguk.


" Kakung pernah kerja disini kan Buk?"


" Ayo anak-anak, kita pindah ke sebelah ya. Kita lihat, gimana sih keripik buah ini di bungkus. Kita lihat ya?"


Damar seketika melupakan pertanyaan yang baru saja ia ajukan kala Dino memberikan pengumuman. Ia kini turut melesat bersama murid-murid yang lain.


Ia berada di posisi paling depan karena Bu Nur menggeret lengannya agar berjalan bersama. Bu Nur tahu, jika ibu-ibu yang lain tak suka kepada Wida. Entah apa alasannya.


" Disini saja Wid, jangan jauh-jauh dari saya!" Tukas Bu Nur sambil berjalan beriringan. Membuat Ibu-ibu yang lain menatap kesal wanita gemuk itu.


" Auww bos, kami..akan pindah ke tempat Packaging. Setelah ini kam...!"


Wida menoleh kala Dino menyebut nama bosnya dengan suara setengah terkejut. Pria muda yang menjadi pemandu kegiatan anak-anak itu terlihat cukup kaget. Membuatnya turut menaruh atensi kepada Ajisaka.


Wida mendecak dalam hatinya. Benar kan dugaannya? Baru saja pria itu mengucapkan kata-kata mendayu kepadanya, tapi lihatlah sekarang! Tangan pria itu bahkan saling menempel degan wanita muda.


Dimana-mana pria memang kerap memandang wanita yang berstatus tidak jelas seperti Wida dengan sebelah mata.


" Eh Wid, itu kayaknya anak Pak Widiantoro deh!" Bu Nur berucap seraya menepuk lengannya pelan. Namun ia enggan untuk menyahut.


" Yang satu ganteng, kaya. Yang satu cantik. Cuman sayang, anaknya Pak Widiantoro itu ketua orangnya!" Bu Nur terlihat menjadi komentator tetap.


Hatinya mencelos. Iya membenarkan ucapan Bu Nur. Benar pria kaya memang harus dengan wanita berada juga.


Sungguh, ia tak mau ambil pusing.


.


.


" Mas Aji...kita makan siang yuk, kebetulan ada cafe yang baru buka!" Ia berucap setelah rombongan TK itu berlalu. Desinta ogah tahu untuk apa mereka ada disana.


" Aku sibuk Des! Kalau enggak ada yang kamu tanyakan lagi, mending kamu pulang!" Aji benar-benar ogah basa-basi. Pria itu bahkan menjawab Desinta dengan tatapan yang masih fokus ke arah rombongan TK yang semakin berlalu.


" Mas Aji! Jangan gitu dong, aku kan cuma nawarin aja!" Desinta mengerucutkan bibirnya kesal karena merasa di abaikan.


"Mas Aji lagi nyari lokasi baru buat pelebaran usaha mas Aji kan?"


Ajisaka menatap Desinta, dari mana perempuan itu tahu.


"Aku ada kenalan yang mau jual lahannya. Di dekat lokasi mas aji yang sebelah barat!" Ucapnya yang merasa Aji sedikit tertarik.


Ajisaka tertegun, ia memang tengah menunggu pemilik sawah yang berlokasi di sebelah barat kebunnya itumau menjual tanah itu kepadanya. Minimal di sewa.


" Orangnya enggak kau jual!" Sahut Aji ketus.


" Bukan yang punya pak tua itu. Yang sebelah timurnya. Kemaren aku dengar beliau bicara sama papa!" Desinta merasa senang karena Aji terlihat tertarik.


" Ya sudah gampang nanti, aku masih sibuk. Sekarang pulanglah!" Ucap Aji sambil berlalu.


Desinta tersenyum licik. Tak mendapat Pandu tak masalah. Masih ada Aji yang tidak kalah tampan. Ia harus bisa mendapatkan Aji. Selain itu, Aji lebih kaya dari Pandu. Begitu pikirnya.


.


.


.


.


.