
Apa yang tertuang di dalam cerita, hanyalah sebatas wujud imajinasi dari penulis semata. Tidak pernah bermaksud untuk menyingung ataupun mendiskreditkan pihak manapun.
~Mommy eng
.
.
.
...πππ...
Kebahagiaan, sebuah kata singkat yang mampu mewakili berjuta perasaan dengan segala warnanya. Ada makna kesenangan, juga ucapan syukur yang terkandung di dalamnya.
Sakti tak mengira jika dirinya akan ada di titik ini. Di titik yang awalnya tidak mungkin bisa ia capai, bahkan memimpikannya pun, ia tak beranai.
Keberuntungan. Agaknya hal itulah yang kini ia dapatkan. Oleh karena itu, mari kita mengubah doa kita, dari semoga lancar, menjadi semoga di beri keberuntungan.
Menjadi pemilik The Soebardjo Vineyards. Sebuah perkebunan anggur sekaligus produsen wine terbaik di kota itu, jelas menegaskan jika Sakti merupakan orang yang beruntung.
Sempat gagal icip-icip di malam pengantin yang terbilang syahdu beberapa waktu lalu itu, membuat Sakti tahu arti rasa pusing sebab menahan hasrat.
" Asli, lebih tersiksa dari rasa perut yang sedang lapar!" Ucapnya di group para suami muda yang kini menjadi alat komunikasi terdepan mereka.
Pandu, Ajisaka, Yudhasoka serta dirinya sudah bahagia di kehidupan mereka masing-masing. Yudha dan Aji lah yang terbilang beruntung. Mengapa di katakan beruntung, sebab mereka masih bisa bertemu kapanpun mereka mau. Sementara Pandu, tentu saja ia tinggal di kota X.
Group papa muda keren π¬
Yudha :[" Jangan main sabun aja elu Sak! π"]
Sakti : [" Aman! Bersolo karir lebih mantep. Aman dan enggak meninggalkan jejak!" ]
Pandu : [" Gue kasihan sama tembok kamar mandi elu. Pasti dia tercemar calon zigot yang kagak jadi! π" ]
Ajisaka : [" Gue kasih tau Anjana ah! π" ]
Sakti : [" Anjritt! Awas aja elu berani yaπ€π !"]
Begitulah kehidupan empat sekawan saat ini. Setiap orang akan punya masanya. Namun satu hal, persahabatan yang karib itu, mereka harapkan akan terus ada hingga ke generasi mendatang.
Malam yang dingin ini, ingin rasanya Sakti mengajak Anjana untuk berkeliling ke suatu tempat. Seminggu pasca menikah, ia di sibukkan untuk belajar memoles kelihaian mengemudinya yang masih jauh di bawah ketiga sahabatnya.
Namun sial, cuaca malam itu sepertinya mirip dengan isi kantongnya jaman dulu. Tidak pasti dan tidak menentu. Seperti malam ini misalnya. Kawasan itu mendadak di guyur oleh hujan. Membuat keduanya terpaksa menunggu hujan di dalam mobil, dengan bibir manyun.
" Sebenarnya mau kemana sih?" Tanya Anjana yang kesal sebab sedari tadi Sakti mengendarai mobil itu tanpa memberitahu tujuan mereka.
" Aku sebenarnya pingin ngajak kamu lihat bintang di pantai itu!"
" Kan hujan, mana ada bintang bisa dilihat?" Anjana mulai kesal dengan Sakti yang kadang suka ngada- ngada.
Sakti tersenyum penuh arti. " Ada kok, nih bintangnya di depan aku!"
CUP
Begitulah Sakti. Pria dengan sisi jenaka yang makin berimprovisasi setiap harinya. Membuat Anjana yang notabene wanita konsonan itu, merasa belingsatan kala di puja.
CUP
Sakti mengecup kembali bibir Anjana dengan cepat. Wanita seketika merasa tersipu malu walau sebenarnya ia kesal. Suaminya senang sekali menggombal. Dan anehnya, ia sangat suka.
" Kenapa? Kurang?" Sakti senyam-senyum kak melihat Anjana berengut.
" Hihhh!" Anjana mendorong bibir Sakti yang sudah mengerucut 360 derajat. Membuat Sakti tersentak.
" Jahara ( jahat) banget sih kamu. Aku kan mau sun!" Ucap Sakti yang kini mengusap bibirnya yang terasa linu akibat di dorong.
Membuat Anjana tergelak. Wanita itu merasa beruntung memiliki suami yang bisa menghibur dirinya. Suatu paket yang kini saling melengkapi.
Sakti memarkirkan mobilnya tepat di bahu jalan, di bawah pohon asam beser yang sudah sangat dekat dengan bibir pantai. Ia kini menatap mesra Anjana yang wajahnya memerah.
" Dah tujuh hari nih!" Ucap Sakti meraih tangan Anjana.
" Apaan yang tujuh hari?" Anjana mendadak bingung saat suaminya menatap dirinya dengan tatapan penuh arti.
" Itunya!" Sakti senyam-senyum sebab diam-diam, ia telah mengulik info dari portal media sosial, terkait masa periode palang merah wanita yang biasanya akan selesai dalam tujuh hari.
Hohoho!
Membuat Anjana tersentak. " Hah?"
Pelan tapi pasti, Sakti kini menguasai permainan. Yeah!
Lenguhaan kini tak sengaja terucap dari bibir Anjana. Sama sekali tak mengira jika suasana dingin akibat hujan, benar-benar menjadi sebaik-baiknya pendukung suasana syahdu.
Sakti kini meremas bokong Anjana saat lidah mereka saling berbelit menggelora. Sakti makin menikmati sesapan demi sesapan dahsyat itu, saat ia berhasil memajukan letak tubuhnya, dan mengabaikan perseneling mobil yang ada diantara mereka.
Ciuman keduanya terlepas saat keduanya kini terengah-engah.
" Aku mau saat ini Ja...!" Lirih Sakti yang menatap sendu mata Anjana kala ciuman mereka terlepas. Membuat jantung Anjana kian berdegup kencang.
Oh God!
Anjana bahkan kini membulatkan matanya, kala melihat Sakti yang tiba-tiba membuka kaosnya, dan menampilkan tubuh putih menantang yang menggodanya untuk disentuh.
Sakti bahkan menyempatkan diri untuk mengatur letak kursi mobil yang ia rasa pasti mampu menahan bobot mereka itu agar mempermudah kegiatan mereka. Benar-benar tak mau rugi.
Dan saat Sakti kini kembali merengkuh tubuh Anjana, wanita itu pun terbuai dengan sentuhan lembut suaminya. Sakti menjelma menjadi pria yang berbeda, kala melakukan serangan menuju kama sutra.
Dibawah derasnya guyuran hujan, di dalam pekatnya malam yang sunyi, dua anak manusia terlihat saling bergulat dalam Bakaran gairaah yang membara.
Dan entak sejak kapan, keduanya kini telah loncos, tak mengenakan apapun. Sakti bahkan begitu menikmati tubuh yang selama ini membuatnya resah, bahkan menjadi fantasi kala ia bersolo karir.
"Akhhhh!" Pria itu bahkan terkejut kala tak bisa menahan suaranya sendiri. Sialan!
Sakti melakukan foreeplaay yang luar biasa keren. Wanita itu dalam beberapa saat sudah menunjukkan indikasi, jika dia telah siap untuk di masuki.
Anjana yang kini berada di atas tubuh Sakti juga merasakan gelenyar yang sama . Perasaan semakin menuntut itu, menepikan rasa malunya yang kini telah berada di atas tubuh kekar suaminya.
Anjana memejamkan matanya lantaran dirinya benar-benar merasa kesakitan, manakala benda yang besar itu menusuknya dari bawah. Membuatnya seketika menjerit dengan suara tertahan. Benda besar itu nyatanya benar-benar menyakitkan.
Oh God!
Sakti melahap bibir Anjana guna mengurangi rasa yang kini membuat Anjana menitikkan air mata itu. Mereka berdiam diri beberapa saat, dan merasakan penyatuan yang seolah kian membakar cinta mereka.
" Makasih sayang, kau sudah menjaganya untukku!" Sakti mengecup bibir Anjana dari bawah. Posisi yang benar-benar unik. Justru membuat Anjana kini merasa bagai melayang.
Dalam ruang gerak yang sempit, otot lengan Sakti mengetat kala menarik tuas guna meluruskan jok mobilnya. Setengah menyesal sebab sepertinya mereka membutuhkan ruang yang cukup untuk aksi enak-enak mereka.
" Awas pelan!" Sakti membalikkan tubuh menggiurkan istrinya, dengan posisi masih menyatu. Kini, Anjana telah berhasil ia kungkung diatas jok mobil yang sudah mereka jadikan alas itu.
Ya, Sakti tak tahan dan tentu dialah yang musti menjadi joki permainannya kali ini.
Sedikit ribet sebab banyak perintilan mobil yang membuat gerakan mereka terbatas. Namun, jangan di sebut sableng jika Sakti tidak dapat membuat istrinya menjerit malam itu.
Untung mobil mereka merupakan mobil besar, dengan kabin yang lega. Meski tanpa perencanaan, namun hal itu bisa Sakti upayakan demi kepuasan satu sama lain.
" Ah!"
Anjana memekik kala Sakti kini mulai menghentak dalam tempo yang kian cepat. Bagaimana bisa, malam pertama, seorang pemilik perkebunan besar itu, kini membuat mobil mewahnya bergoyang dibawah guyuran hujan.
Anjana merintih kala Sakti menyambar kuncupnya yang telah mengeras itu, sembari terus menghentak, mengalirkan bulir-bulir kenikmatan yang kini mereka teguk bersama, dalam indahnya penyatuan.
Membuat rasa nyeri, nikmat dan merasa dicintai timbul secara bersamaan dalam sanubari Anjana.
Yes, cause you are my man!
Suara rintik hujan yang deras, membuat suasana makin menguntungkan saja. Mobil itu bergoyang selaras dengan hentakan cepat yang kini dilakukan oleh Sakti. Membuat rasa yang begitu sakit itu, perlahan berganti dengan kenikmatan yang baru Anjana kecap.
" Ah!"
Peluh lengket yang menyelimuti dua manusia itu, seakan tak menjadi halangan bagi keduanya dalam melakukan penyatuan yang lama itu. Terus dan terus menghentak. Seolah tak cukup, dan seolah tak ingin berakhir.
Hingga, Sakti yang merasa sesuatu akan meledak dari dalam benda pentingnya, membuat pria itu seketika memeluk erat tubuh Anjana, yang rupanya juga menegang sebab rupanya mereka telah mereguk puncak itu secara bersamaan.
" Sayang!!!" Rintih Anjana kala ia bagai terbang ke awang-awang.
" Aku mencintaimu Anjana!" Ucap Sakti dengan suara ngos-ngosan yang saat ini memeluk erat Anjana yang sama lemasnya dengan lututnya yang juga lemas.
.
.
...Jika aku diberikan kesempatan hidup seratus ribu tahun lagi, maka aku ingin terus mencintaimu hingga waktu itu berakhir....
...~Pria sableng...