
Bab 176. Serigala betina
.
.
.
...πππ...
Rarasati
Ia bukannya tak tahu kalau pria menyebalkan di depannya itu terus saja menatapnya tak lekang. Tapi dia bisa apa?
Meskipun sebenarnya ia ingin menghajar pria itu habis-habisan, karena tanpa persetujuannya, Yudha malah menyeretnya ke tempat busuk ini.
Namun, berada di tempat sempit bersama lawan jenis dengan pergerakan yang terbatas seperti itu, jelas membuat dirinya bereaksi lain.
Ia juga manusia normal. Rara merasa grogi.
Apalagi, saat ia mendongak dan pandangan mereka tak sengaja bertemu, ia bisa melihat wajah dengan mata sipit itu benar-benar gagah. Ganteng juga dia!
Yudha wangi.
Ia dengan cepat membuang pandangannya sebisanya saat tak sengaja melihat sorot mata pria itu. Ia harus pergi dari Yudha setelah dua orang pria itu pergi nanti. Namun, seperti hukum alam, lagi-lagi kesialan justru sering datang pada orang yang sudah kenapa apes sebelumnya.
Definisi dari sudah jatuh tertimpa tangga pula.
Ia yang memang geli, jijik dan takut dengan hewan yang merupakan metamorfosis sempurna dari kupu-kupu itu, seketika menjerit saat dengan gemulainya, hewan berwarna coklat dengan bulu bak sabut blush on itu merayap di lengan jaketnya.
" AAAAAAA!"
Ia bahkan sudah tak memperdulikan sugesti dari Yudha soal upaya tutup mulutnya. Sial! Jelas mereka saat ini dalam bahaya.
" CK, ada apa sih?" Ia bisa menangkap kilatan kebingungan bercampur kekesalan dari mata Yudha saat mengajukan pertanyaan itu.
Ia tak menjawab namun menaikkan lengannya dan menunjukkannya kepada Yudha dengan tubuh yang sudah bergoyang kesana-sini karena jijik dengan hewan avertebrata itu.
" CK!" Ia hanya mendengar Yudha yang mendecak seraya menyelentik hewan seukuran jari kelingking itu dengan keras. Membuat hewan itu terlempar jauh.
" Elu nih ya, jadi wanita galak amat, tapi sama ulet bulu aja takut!" Yudha terus saja menggerutu.
" Yo, mereka di sana ayo cepat!" Ucap dua pria itu dengan suara samar-samar yang bisa dengan jelas di dengan orang Yudha maupun Rara.
Kini , mereka jelas dalam masalah. Oh sial!
Yudha mau tak mau harus keluar dari gang buntu itu, dan berlari lagi. Ia tak mau tertangkap tentunya.
" Siapkan kakimu! Ini gara-gara kamu .. pakai acara teriak lagi...ayo sini!" Ucap Yudha kesal namun kembali menarik tangan Rara dan menyatukan telapak tangan mereka.
Rara secepat kilat menolak genggam pria itu, dalam sepersekian detik yang ada mereka kini malah bertengkar.
" Enggak, pergi aja sana. Aku enggak ada urusan!" Rara kesal dengan Yudha yang memarahinya.
" Lagian, ngapain aku harus ikut kamu!" Rara merajuk usai di marahi Yudha tadi. Harusnya ia yang marah bukan?
" CK, malah ngajak ribut disini, udah buruan kamu udah terlanjur ikut lari, aku enggak mau kamu kena masalah nanti, udah cepat!" Ucap Yudha yang langsung menarik lengan Rara, tanpa kompromi.
Dalam waktu yang terbatas itu, Rara dibuat berpikir soal ucapan Yudha.
"Aku enggak mau kamu kena masalah nanti, udah cepat!"
.
.
Yudhasoka
" Hey!!" Ucap salah satu pria tepat saat Yudha berada di bibir gang. Kini, langkahnya terhadang dengan kemunculan dua pria yang tak ia kenali itu.
Membuat ia mau tak mau harus menghadapi dua orang pria itu.
Ia menatap Rara dengan tatapan bingung. Namun, diluar dugaannya, Rara lebih dulu menendang wajah pria itu dengan sepatu boots-nya dengan keras.
BUUAGH!!
Membuat muka salah satu pria itu, kini terlempar ke arah kiri dengan rasa pedih yang kuat biasa.
" Kurang ajar, cari mati lu ya? Teriak pria itu berang.
Yudha mendelik detik itu juga. Ia sudah salah besar rupanya, karena lupa akan siapa wanita di sebelahnya itu. Kini, ia akhirnya memilih untuk juga menghadapi satu pria di depannya itu.
Yes, mereka kini melakukan batle combo.
Yudha sempat melirik dan memastikan Rara mampu menangkis serangan pria-pria itu.
BUG
Ia sempat tertendang lantaran tak fokus dan lebih mencemaskan Rara. Sementara yang di cemaskan kini terlihat memutar tubuhnya seraya melebarkan kakinya panjang-panjang, lalu menendang kepala rivalnya, dengan gerakan pasti.
SREK
BAG!
Yudha mendelik seraya meneguk ludahnya saat ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, betapa liarnya wanita itu saat fight dengan kacung itu.
" Arghh!" Rintih Yudha saat merasakan sebilah pisau menggores lengannya. Lagi-lagi, akibat tak fokus, ia kini sudah rugi dua kali.
Rara masih melihat lawannya yang tengah tergeletak di jalanan saat Yudha berteriak. Wanita itu langsung mendatangi Yudha dengan wajah cemas.
" Ada apa?" Tanya Rara panik.
Yudha meringis seraya memegang lengan kanannya.
" Hah, lengan lu berdarah, ini...tembus!" Rara melihat luka sayatan yang cukup dalam. Luka itu bahkan menembus jaket yang di kenakan Yudha.
" Awas!" Yudha seketika menarik Rara kedalam dekapannya, saat pria pembawa pisau itu hendak menyerangnya kembali. Membuat Rara benar-benar terkejut.
Yudha baru saja menyelamatkannya.
BUG
Dengan kemarahan yang makin menyeruak, ia menendang dada pria itu menggunakan kakinya dengan sangat keras. Membuat pria itu kini terjerembab ke tanah dan membuat pisaunya terlempar jauh.
" Ayo!"
Merasa memiliki kesempatan, Yudha kembali menarik tangan Rara untuk kabur. Ia cidera, dan mengandalkan wanita untuk bertarung seorang diri jelas akan menyentil harga dirinya.
" Woy! Jangan kabur lo!"
Ia tak mempedulikan teriakan dua tadi. Yang bisa ia lakukan kini hanya berlari. Kawasan yang biasanya ramai itu entah mengapa menjadi sepi sekali.
Mungkin karena gerimis yang turun sejak sore tadi, membuat beberapa pedagang enggan untuk membuka lapak mereka yang berada di ruangan terbuka.
Yudha menemukan sebuah pickup yang bak nya tertutup oleh terpal. Ia harus bersembunyi dulu. Dua pria tadi jelas masih mengejarnya. Ia bahkan tak sempat memikirkan Rafi dan nasibnya. Astaga.
" Naik!" Ucap Yudha kepada Rara.
" Udah buruan!" Perintah Yudha.
" Ngapain sih, aku bisa kok ngadepin mereka. Aku...!"
" Udah buruan!" Ucap Yudha yang mendorong tubuh Rara untuk segera menyelinap ke dalam pick up tersebut saat gerimis kini semakin turun dengan intensitas yang lebih tinggi.
Dengan mendecak kesal, Rara menuruti perintah konyol Yudha yang anehnya tak bisa ia lawan.
Diktator!
Dengan gerakan cepat, Yudha kini turut naik lalu melingkupinya tubuh mereka dengan terpal biru yang menutup bak terbuka pick up tersebut meski lengannya kian merasa ngilu.
Bau pengap dan terasa panas kini mereka rasakan. Sialan, Yudha lagi-lagi terkesima dengan wajah Rara yang selalu saja manis saat tegang begini.
Rara sempat melirik Yudha yang tekun memasang telinga demi mendengar suara dua pria tadi, dengan wajah serius.
" Gimana?" Tanya Rara dengan bibir yang tak bersuara.
Yudha menggeleng, " Belum pergi kayaknya!" Bisiknya yang nyaris tak terdengar.
Mobil itu rupanya berisikan bertandan- tandan pisang dengan berbagai varietas. Pantas saja di tutup terpal. Membuat mereka kini harus mau berbagi tempat dengan buah itu.
" Kemana mereka, sialan! Awas aja kalau ketemu!" Dari balik terpal itu, mereka terdiam sambil tekun mendengar obrolan dua manusia laknat itu. Jangan sampai ketahuan.
Namun tak ia sangka, saat mereka masih bersembunyi dari dua pria asing itu, mesin mobil tersebut kini terdengar dinyalakan dan kini mulai bergerak.
" Hah, mobilnya?" Ucap Rara terkejut dengan suara pelan.
" Pssstttt diam, udah biarin aja. Yang penting kita bisa kabur dari mereka!" Ucap Yudha yang tak bisa mencari solusi lain sebab konsentrasinya kini terpecah lantaran nyeri di lengannya.
Rara mendelik. Apa itu berarti ia juga akan turut ikut ke gudang pisang? Bersama Yudha?
Oh no!!!
.
.
Mobil itu telah berhenti setelah sekian lama berjalan. Rara dan Yudha bahkan sudah hampir ketiduran di dalam.
Mendengar suara mesin yang sudah dimatikan, membuat dua manusia nyasar itu segera turun, sebelum pemilik mobil menyadari keberadaan mereka.
" Ayo cepat kita keluar!" Titah Yudha sembari membuka terpal. Beruntung keberadaan mereka masih tak di sadari oleh pemilik mobil pengangkut itu.
Dengan muka di tekuk, Rara kini melompat dari bak pick up itu. Kesal karena kini ia tak tahu tengah berada di mana.
" Eh mau kemana?" Ucap Rara kesal kepada Yudha yang kini malah meninggalkannya.
Pria itu tak memperdulikan Rara karena jelas wanita itu pasti mengikuti langkahnya. Lagipula, ini tempat asing.
" Heh, setelah seenaknya melibatkan aku pada masalahmu, sekarang kau seenaknya meninggalkan ak...." Ucapan Rara terjeda demi melihat Yudha yang kini duduk di sebuah emperan toko di sebuah pasar yang gelap dengan wajah kesakitan.
Rara tekun melihat Yudha yang melepaskan jaketnya dengan wajah meringis. Mau apa pria itu?
Namun emosinya seketika melandai demi melihat lengan Yudha yang kini berdarah akibat tersayat pisau tadi.
" Astaga, lukanya....!" Rara menjadi tak tega demi melihat luka yang kini menggores lengan Yudha yang bermasa otot liat itu, terus mengeluarkan cairan kental warna merah itu.
Wanita itu kini mendudukkan tubuhnya persis di samping Yudha. Pria itu kini hanya mengenakan kaos polos abu-abu. Dan dari posisi yang lagi-lagi tak berjarak itu, Yudha tertegun saat melihat wajah Rara yang cemas kala melihat lukanya.
" CK, mesti di tutup ini!" Ucap Rara saat menyentuh lengan besar Yudha.
Wajah wanita itu selalu saja menarik saat dirundung ketegangan pikirnya. Dan entah mengapa, ia senang saat Rara mencemaskan dirinya.
" Ehhh mau apa?" Tanya Yudha yang terkejut saat Rara membuka jaket hitamnya.
Wanita itu diam membisu dan sama sekali tak berminat menjawab pertanyaan Yudha. Rara kini juga terlihat hanya mengenakan kaos yang menutup tubuh sintalnya. Dari kesempatan yang sempit itu, Yudha melirik dua benda yang ukurannya terlihat mantap itu.
Benda yang tadi sempat menggesek tubuhnya saat berada di gang. Ah sial, kenapa otaknya justru ngawur begini!
Mata Yudha membulat demi menyadari jika saat ini ia dan Rara mengenakan kaos dengan warna yang sama. Kaos polos warna abu.
Oh my God! Bisa kebetulan begini ya?
Rara terlihat celingak-celinguk mencari sesuatu, membuat Yudha kian mengerutkan dahinya. Mau apa sih dia?
Kreeekkkk
Mata Yudha kembali purnama saat melihat Rara kini menyobek ujung bajunya, saat sebuah paku yang tertancap di kayu bekas di depan mereka baru saja Rara cobloskan ke ujung bajunya.
Sejurus kemudian, wanita itu menarik dan membuat bajunya kini terpotong memanjang beberapa senti. Yudha masih tak mengerti akan dibuat apa beda itu.
" Ini memang tidak membuatmu sembuh, tapi setidaknya bisa menghentikan pendarahan!"
Yudha tak percaya akan apa yang ia lihat. Rara dengan sigap dan cekatan membebat lengannya yang terluka menggunakan potongan kain bajunya yang asimetris itu. Oh ya ampun!
Dalam jarak yang begitu dekat, Yudha benar-benar bisa melihat bulu mata Rara yang lentik dan alis yang rapih bahkan tanpa pensil alis itu.
Rara cantik.
" Awhh!" Ucap Yudha yang tersentak sakti lantaran Rara yang terlalu kencang saat menarik simpul bebatan itu.
" Astaga maaf, apa sakit?"
DEG
DEG
DEG
Dalam gempuran gerimis dan menahan luka yang nyeri, jantung hati Yudha seakan menjadi tak normal kala melihat wajah khawatir yang di suguhkan Rara.
Tanpa sengaja, kini mereka berdua saling menatap. Rara yang cemas dengan luka itu, dan Yudha yang terkesima dengan suara lembut Rara yang baru kali ini ia dengar.
Tunggu dulu, apa serigala betina itu mengkhawatirkan Yudha?
.
.
.
.
.
.
Keterangan :
Invertebrata atau avertebrata adalah hewan yang tidak memiliki tulang punggung antar ruas-ruas tulang belakang.
Sumber : Wikipedia