
Bab 59. Pria tambun itu
^^^" Yang mengecewakan hanya satu orang, lantas mengapa dirimu menutup hati kepada semua orang? Bersikaplah adil terhadap semesta!"^^^
.
.
.
...πππ...
Serafina
Ia tengah sibuk dengan sulutan emosi yang mulai membuncah. Menguasai logika Nyang ada. Sudah tidak suka dengan Rizal, e pria itu malah berbuat ngelunjak. Jelas ogah lah.
Dan pertanyaannya, emang dia siapa main tarik-tarik tangannya?
Sialan!.
Namun, belum selesai dia mengatur emosi. Ia dikagetkan dengan kemunculan Shila yang tiba-tiba. Makin membuat moodnya hancur. Berkeping-keping.
Tatapan Shila begitu sinis. Mendakwa bengis dirinya yang tengah bersama seorang pria. Lebih tepatnya Shila menyuguhkan raut iri.
Rizal manis. Keren. Tampilannya juga terkesan oke. Jelas Shila melirik pria itu.
"Siapa lagi dia Fin?" Dengan tidak tahu malunya, mantan sahabatnya itu kini bertanya seraya bersidekap menatapnya sirik.
Fina kini turut menatap wajah Shila sinis. Benar-benar tak ada lagi yang tersisa dari pertemanan mereka. Hati Fina masih diliputi kebencian kepada manusia satu itu.
Pengkhianatan kelas kakap!
Ya, meski ia sudah tak berharap pada Riko. Lebih tepatnya sudah tidak mau tahu lagi, dengan dua sampah yang pernah hadir di hidupnya itu.
" Aku rasa aku gak punya kewajiban buat menjawabnya!" Kini Fina menatap bengis wajah Shila yang terlihat geram.
" Kau...!"
" Urus saja hidupmu yang makin gak jelas itu Shil!" Ucapnya kemudian berlalu dengan menabrak pundak Shila dengan keras. membuat tubuh wanita itu terhuyung.
Rizal hanya bisa menatap bingung dua wanita yang tengah bersitegang di hadapannya itu. Apa yang terjadi sebenarnya. Ia tak tahu.
" Oh ya tunggu dulu ..., Dan kalau elu minat sama yang ini juga!" Tunjuk Fina kepada Rizal yang kini membulatkan matanya karena mengapa Fina membawa-bawa dirinya.
" Ambil aja. Gak usah susah- susah nikung. Itu lebih halal buat elo! Dan satu lagi, gue gak bakalan jambak rambut elu kok kalau elu mau sama dia. Ya meski elu berhak mendapatkannya sih!"
" Jadi gimana, sudah naik ke jenjang selanjutnya belum sama si Riko? Atau elu yang kini ganti di campakkan?" Fina menatap wajah Shila yang menahan geram, dengan sebuah senyuman licik penuh kepuasan
Fina puas telah melontarkan kata-kata itu.
Shila telak tak bisa menjawab. Hubungannya dengan Riko memang semakin merenggang saat ini.
" Tha...tha mantan sahabat!" Fina menggerakkan tangannya dengan gerakan dada kecil, sembari menyuguhkan raut mengejek.
Yes, I won!
Sejurus kemudian.
Brak!!!
Fina membanting pintu mobil milik Rizal dengan keras. Membuat Rizal tersadar dan langsung berjalan setengah berlari menyusul Fina.
" Fina, Fin!"
" Brengsek!" Makin Shila yang dibuat kesal oleh Fina. Kenapa Fina selaku beruntung karena di kelilingi pria- pria tampan dan berkantong tebal pikirnya.
...πππ...
Pandu
Silau sinar horizon yang menembus kaca kamarnya berhasil membuat pria itu mengerjap. Diatas kasur bersih itu ia membuka matanya. Mengumpulkan kepingan kesadaran yang bak Susunan puzzle yang berhamburan.
Kini, ia nyalang menatap langit- langit kamar itu. Lagi-lagi ia terbayang dengan wajah Fina. Tapi, urusannya belum beres. Ia berbuat akan menemui dan mencari rumah gadis itu usai urusannya beres dulu.
Ia membuka ponsel yang berada di nakas samping ranjang. Baterainya sudah full. Kini ia menggulir ponselnya, memesan sebuah taksi online.
Rencananya pagi ini, ia akan melihat dulu kondisi kantor itu seperti apa. Jika bisa menggunakan cara halus, ia tak akan menggunakan cara kasar.
Namun, telinganya ternoda saat mendengar de sahan yang terdengar cukup jelas dari kamar sebelahnya. " CK, apa seharian mereka akan terus begitu. Brengsek!" Pandu bahkan mengumpat saking kesalnya.
Ia bukanlah pria suci yang tak mengerti arti begituan. Tapi mbok ya suaranya itu Lo. Hih, sangat menjijikan.
Ia lantas mandi dengan waktu normal dan mengganti bajunya. Mengenakan kaca mata hitam, topi dan juga jaket. Sepatu safety yang ia kenakan kian membuat tampilannya begitu extaordinary.
Sangat kemayu.
Pandu terkikik geli demi melihat manusia unik yang menggunakan baju warna merah motif bunga-bunga, dan celana warna ungu yang mencolok. Manusia setengah jadi itu terlihat seperti susuan bunga sintetik. Warna yang begitu kontras dengan kulitnya yang legam.
" Hay, emmm...!" Pandu menunjukkan raut bingung hendak menyebutnya apa.
" Aku minceu, panggil aku min-ceu!" Dengan centilnya dia tersenyum kepada Pandu. Entah dulu ibunya ngidam apa sewaktu mengandungnya.
" Oke Minceu, saya hari ini mau keluar dulu. Kuncinya?"
Minceu tersenyum nakal. " Bawa saja mas. Khusus buat orang ganteng kayak mas Pandu aku kasih bawa. Emmmm.....!' Minceu mencubit gemas pipi Pandu. Membuatnya meringis geli.
Astaga kenapa ada golongan manusia unik seperti itu sih di muka bumi ini?
.
.
Usai membayar ongkos taksi online yang mengantarkannya ke kawasan jalan cendrawasih. Ia kini melepas kacamata hitamnya. Melihat dengan jelas tulisan di papan besar yang menunjukkan jika ia telah berada di tempat yang benar.
Ia pikir tempat itu berada tepat di samping mall besar, seperti yang di utarakan penjual nasgor semalam. Namun, tempat itu rupanya berada di kawasan yang agak sepi. Sementara mall berada di jarak kurang lebih seratus meter lebih ke selatan.
" Ada urusan apa?" Seorang pria berseragam safari dua kantong warna hitam menghadangnya. Pria yang ia lihat semalam dengan arogannya membeli nasgor.
Menatap Pandu dengan tatapan tak jelas. Namun lagi-lagi Dewi Fortuna melingkupi diri Pandu.
" Loh, mas anda disini?" Pandu menoleh ke sumber suara. Suara yang agaknya pernah ia dengar sebelumnya.
" Pria itu kan?" Pandu menyipitkan matanya demi melihat pria tambun dengan aroma nyong-nyong yang kemarin satu bangku dengannya.
" Heh, dia temanku. Biarkan dia masuk. Ayo, bos sudah menunggu!" ucap pria itu. Membuat Pandu mendelik.
Namun, tak di sangka ini jelas akan membuatnya lebih dekat kepada tujuannya. Membuat satpam itu akhirnya membiarkan Pandu untuk masuk meski diiringi tatapan sinis.
.
.
Mansur
Bukan tanpa alasan, ia yang melihat Pandu dari kejauhan merasa senang. Meski ia sendiri belum tahu apa tujuan Pandu.
Tapi, menemukan orang yang berasal dari tempat yang sama di perantauan itu bak menemukan seorang saudara.
Teramat menggembirakan.
" Mansur!" ucap pria tambun itu mengatungkan tangannya.
Pandu tertegun menatap sejenak tangan degan ukuran jari-jari gembul itu. Ya meski kini pria itu tak bau minyang nyong-nyong.
" Pandu!" Ucapnya kini meraih dan menjabat tangan yang seperti tangan ayam potong itu.
Tak di sangka, orang yang pernah ia ragukan itu kini berada di sampingnya. Bahkan menjadi penolongnya.
" Terimakasih tadi...!"
" Emmmmm!" Mansur mengangguk.
" Mas Pandu dari desa yang sama dengan aku. Aku jadi ngerasa punya teman disini!" Pria bertubuh tambun itu rupanya sangat ramah kepada Pandu.
Pandu mengangguk setuju.
" Jadi, mas Pandu mau ketemu siapa. Sumpah aku hampir pangling tadi kalau mas gak lepas kacamata!"
Mansur merupakan cleaning servis senior disana. Singkatnya dia supervisor yang membawahi puluhan housekeeping disana. Baru aja mudik lantaran usai menengok keluarganya yang baru saja sunat.
Pandu terlihat menimbang- nimbang apakah dia perlu menceritakan kepada Mansur atau tidak. Mengingat mereka baru bertemu.
" Apa kau mengenal orang dengan nama ini?" Pandu menyerahkan sebuah kalung dengan nama Raditya.
Alis Mansur saling bertaut demi melihat nama yang terpahat di bandul pipih kalung itu. " Bagiamana mas Pandu bisa mendapatkan ini?"
" Inikan...!"
.
.
.