
Bab 109. From Zero to Hero
^^^" Jangan sungkan, ikuti saja sebagaimana mestinya!"^^^
.
.
.
...πππ...
Jika dilihat, Bayu, Ambarwati dan Pandu saat itu bagai sebuah keluarga bahagia yang tengah menikmati santap malam bersama di sebuah cafe. Benar-benar terasa hangat dan membuat iri beberapa pasang mata yang menatap.
Pandu yang jelas nampak muda, tengah duduk di depan dua manusia yang bagai kedua orangtuanya itu. Ah hidup memang penuh dengan kejutan.
Tapi sayang seribu sayang, mereka tak lain dan tak bukan hanyalah sekumpulan manusia yang di pertemukan lewat jalan unik. Tak sengaja terseret problematika yang mau tak mau menghubungkan satu sama lain.
" Kamu gak ikut makan?" Tanya Ambarwati menatap putranya yang sedari tadi terlihat senang. Wajahnya sumringah.
" Udah tadi sama anak-anak, ibu aja sama...Pak Bayu yang makan!" Tak mau sampai ibunya menatapnya karena ia menyebutkan nama Bayu tanpa embel-embel. Wadiaaaww! Bisa berabe urusan.
Bayu sempat melirik Pandu sembari tersenyum simpul. Agaknya pria itu menurut sekali dengan ibunya. Ya baguslah. Lagipula, ia suka jika pria badas itu kini mengakui jika dirinya lebih tua darinya.
Wong tuek kudu di ajeni (orang tua harus di hormati)
" Pak Bayu...mau makan apa?" Ambar sungkan saat hendak menyebut pria itu dengan sebutan 'mas'. Apalagi di depan Pandu. No way!
Bayu paham, ia bersikap biasa saja dan terlihat tenang " Emmm samain kayak punyamu saja!"
" Aku mau ke toilet dulu!" Pria itu merupakan jenis pria yang tidak mau ribet. Lagipula, Bayu sebenarnya tidak terlalu lapar. Ia hanya ingin menemani wanita itu agar tak sungkan untuk makan.
Definisi dari perhatian yang sebenarnya. Ihuuyyy!
Kini hanya menyisakan Pandu yang duduk berdua dengan Ibunya. Untuk pertama kalinya, mereka makan diluar seperti ini.
" Kita jadi pulang kapan nak?" Ambarwati melipat kedua tangannya ke atas meja, dan kini menatap wajah putranya.
Pandu meletakkan ponselnya. Kini ia lekat menatap wajah ibunya. " Pandu sepertinya masih akan disini dulu Buk, besok Pandu sama Pak Bayu pasti akan masih riwa-riwi ke kantor polisi"
" Lagipula, Pandu masih harus menunggu agar Raditya mengaku dan membuat keluarga Hartadi membayar perbuatan mereka!"
Membuat Ambarwati kini berwajah muram. " Jadi..."
" Kita cari kontrakan atau semacamnya dulu Bu disini. Nanti kalau udah beres, kita pulang. Ibuk disini saja sama Pandu. Biar Aji dan anak-anak pulang dulu!" Pandu menggenggam tangan ibunya erat. Meyakinkan wanita itu untuk mengikuti sarannya.
" Ibuk tenang aja, Pandu sama sekali gak mau tahu soal Hartadi!" Pandu mengeraskan rahangnya kala mengucap hal itu. Membuat hati Ambarwati nyeri.
" Pandu cuman punya ibuk. Ibuk adalah ayah sekaligus seorang Ibu buat Pandu!" Pandu meletakkan tangan ibunya keatas kepalanya. Membaut hati wanita itu terharu.
Tanpa mereka sadari, Bayu yang mendengar ucapan mereka dari jarak yang agak jauh itu merasa iba. Pria itu rupanya telah selesai dari toilet.
Entah mengapa, ia tak rela mendengar jika Pandu akan pulang bersama ibunya suatu saat nanti. Apa yang terjadi? Hatinya mendadak tak rela.
" Belum datang makanannya?" Ucap Bayu sesaat setelah ia tiba di depan meja Ambarwati. Bayu mencoba bersikap biasa saja dan seolah tak mendengar ucapan mereka.
" Belum, mungkin sebentar lagi" Jawab Ambar dengan wajah teduhnya yang membuat Bayu makin mabuk kepayang. Ya ampun.
Mereka memburu waktu dengan berbasa-basi. Bercengkrama dengan membahas hal receh nan mengocok perut. Terutama soal Sakti dan Markus yang bisa dengan mudahnya klop. Bagai panci bertemu dengan tutupnya. Oh ya ampun.
Beberapa menit kemudian,
" Ini Pak silahkan. Tadi istri Bapak bilang kalau menunya sama!"
" Nasi goreng Jawa spesial untuk keluarga harmonis!" Seorang pramusaji pria yang agak kemayu itu nampak senang saat meladeni Bayu dan Ambarwati.
Rupanya keakraban mereka telah salah di artikan oleh beberapa pegawai disana. Astaga.
Pandu mendelik, sementara Ambarwati terbatuk-batuk demi mendengar ucapan pramusaji tersebut. Sedangkan Bayu, jangan di tanya lagi. Ia jelas merasa senang dan sama sekali tak keberatan akan hal itu. Cihaaaa!
" Minum dulu Buk!" Pandu dengan sigap mengangsurkan segelas air kepada Ibunya yang mendadak terbatuk-batuk itu. Pria itu, ada-ada aja.
" Saya permisi dulu!" Pria kemayu itu kini melesat pergi usai membuat onar. Haish, dasar.
Dua porsi nasi goreng Jawa dengan taburan bawang goreng harum, ayam suwir yang juicy dan telur yang menggugah selera. Emm lezat!
Pandu kini kembali sibuk dengan ponselnya, menggulir benda pipih itu kesana kemari. Ia sudah kenyang tadi. Membiarkan dua insan di depannya menikmati menu lezat itu.
" Astaga!" Ucapnya membuat dua orang tua itu terkaget. What happened?
" Ada apa?" Tanya Ambar dengan wajah cemas. Begitu juga dengan Bayu.
" Aku lupa kalau Fina ponselnya enggak ada!" Raut wajah Pandu berubah suram. Sama sekali tak terfikirkan jika Fina belum memiliki ponsel lagi.
"Astaga, dikira apa sampai heboh begitu!" Ambarwati menghela napas lega.
" Kalau kamu udah gak tahan, bawa mobilku saja. Nanti aku antar ibumu ke kantor pakai taksi online!" Bayu tersenyum penuh arti.
Sambil menyelam minum air. Sambil menolong anaknya, ia juga menolong ibunya. Jelas dia akan menang banyak. Asek!
Pandu terlihat mempertimbangkan saran Bayu yang lumayan rasional itu.
" Tapi..." Ambar merasa cemas jika Pandu akan berangkat seorang diri. Baru saja ia bertemu, masa iya pergi lagi.
" Kita pernah muda kan, biar dia pergi menemui pujaan hatinya!" Bayu tersenyum simpul penuh arti.
" Ah Pak Bayu, tau aja!" Ucap Pandu dalam hati sembari menatap pria itu dengan tatapan pro. Kita laki man!
Tunggu dulu, kita? Elo aja kali.
Ambarwati sempat menelan ludahnya kala Bayu mengucapkan kata 'kita'. Pria itu benar-benar!
" Aku...!" Pandu kikuk, kenapa Bayu mengerti isi hatinya. Ia melirik ibunya yang masih belum terlihat setuju.
" Pergilah, keburu malam!" Ucap Bayu meyakinkan Pandu. Tak menggubris wanita di sebelahnya yang agaknya kurang setuju. Bukan karena tak suka dengan Fina. Tapi karena kenapa baru bertemu terus hilang lagi.
" Ibu sama Pak Bayu ya...aku sebentar aja kok!" Bayu mengusap lembut punggung tangan ibunya. Meyakinkan sebisanya.
Ambarwati menghela nafasnya. Bisa apa lagi dia sekarang. Putranya sudah lama hidup dalam belenggu kesusahan, jika saat ini Fina membuatnya bahagia dan mau menerima putranya itu apa adanya, ia sebagai orang tua hanya bisa merestui, sembari mengiringi langkah mereka dengan doa yang baik.
" Ya sudah, jangan malam-malam. Fina juga perlu istirahat!"
" Aman!" Sahutnya cepat dengan senyum yang kian kentara. Ya, meski definisi aman dari Pandu itu jelas lain. Hihi
" Ini kuncinya, tahu jalannya kan?" Bayu sengaja menggoda Pandu. Ia pria yang tahu betul kemana arah pikiran pria muda dan berbahaya itu.
Membuat pria dengan tato nama ibunya itu kini menggaruk kepalanya keranjingan. Jangankan alamat rumahnya. Seluruh bentuk tubuh Fina ia juga sudah hapal kali Pak direktur. Ahay!!
...πππ...
Ajisaka
Ia kini berada di atas balkon gedung KJ. Menatap hamparan perkotaan yang menyuguhkan kelap-kelip sejauh mata memandang. Sungguh pemandangan yang indah.
Semilir angin malam membuat hatinya tenang. Ia tak mengira jika saat ini pijakan kakinya berada di kota yang malah membawanya pada pertemuan dengan seseorang yang kini mengusik pikirannya.
Urusan Pandu sudah beres, ia turut lega. Namun, entah mengapa sekelebat bayangan wajah seseorang kerap menggangu hatinya. Seperti malam ini.
" Kenapa wanita itu penuh dengan lebam?"
" Dan kenapa dia ketakutan sekali malam itu?"
Pertanyaan-pertanyaan dalam hati kian membuatnya resah. Tak seperti biasanya ia seperti ini. Sejurus kemudian ia membuka dompetnya. Mengambil sebuah giwang yang disinyalir merupakan milik wanita yang tak sengaja terjatuh karenanya tempo hari.
Ajisaka tersenyum senang.
" Cantik!" Gumamnya menatap giwang yang tinggal sebelah itu. Itu emas, dan jelas ini berharga. Tapi ..dimana ia bisa menemukan wanita itu dan mengembalikan benda ini?
" Ji kita jadi bal...!" Ucapan Sakti menguap ke udara kala melihat Ajisaka yang senyam-senyum sendiri. Apakah pria itu benar-benar edan?
Aji buru-buru memasukkan benda itu kedalam dompetnya lagi sebelum kepergok oleh si sableng. No way!
" Apaan tuh?" Sakti selalu menjadi kepowers number one. Pria itu curiga karena gelagat Aji yang tak beres.
" Gak ada, ngecek duit cukup apa enggak buat ongkos besok!" Tukas Ajisaka asal nyeblak, mencoba berlalibi.
Sakti menyipitkan matanya tak percaya. Iyo yah? (iya kah?)
" Apa? Udah jangan mikir aneh-aneh Sak. Mending kamu tidur deh sekarang, besok pagi buta kita berangkat!"
Ucapnya menatap wajah Sakti yang masih menyipitkan matanya kemudian berlalu meninggalkan Sakti yang belum puas akan jawaban pria mudah marah itu.
Ah entahlah.
" Pagi buta? ..Udah kayak petani aja pagi-pagi benar!" Sakti menyebikkan bibirnya seraya mencibir Aji.
Hah wong edan!
.
.
Kediaman Guntoro
" Pandu?" Lidia terkejut saat melihat sosok di depan pintu yang ia duga orang yang baru saja menekan bel rumahnya itu.
Ya ,pria yang beberapa waktu yang lalu ia jadikan topik pembicaraan bersama putrinya itu, kini berada di ambang pintu rumahnya. Tiada mengira.
" Emmm selamat malam Buk..eh Tante!" Pandu sampai bingung memilih kata-kata untuk memanggil orang tua Fina. Ia grogi.
" Fina nya...?"
" Ada...ada mari masuk!" Lidia senang dengan kedatangan Hero bagi anaknya itu.
Kini, walaupun ia tahu jika Pandu adalah anak Hartadi, tapi ia senang bukan karena hal itu. Tapi ia merasa Pandu bisa melindungi putrinya. From Zero to Hero.
" Silahkan masuk!" Lidia bahkan tak hentinya mengulum senyum saat mempersilahkan Pandu untuk masuk.
" Roh..Waroh!" Ia memanggil ART-nya dengan cepat.
" Saya Bu!" Pembantunya itu terlihat datang dengan tergopoh-gopoh.
" Panggil Fina cepat, bilang ada yang cari..!"
Mbak Waroh sempat tersenyum kala melihat sosok yang kini tengah mendaratkan tubuhnya ke atas sofa milik majikannya itu.
.
.
Serafina
Ia baru saja mandi malam itu. Sepanjang sore ia habiskan untuk melukis. Hatinya sedang berbunga- bunga meski belum bisa menghubungi Pandu. Berniat akan membeli ponsel pribadi esok hari.
Tak apalah, mungkin Pandu juga perlu waktu bersama ibunya.
TOK TOK TOK
" Mbak, mbak Fina!" Gedoran dari luar terpaksa membuat suara Hairdryer itu ia senyapkan sejenak.
CEKLEK
" Kenapa mbak?" Fina yang masih mengenakan hot pant juga singlet itu mengeryit penasaran.
" Itu mbak, ada yang nyari..pria yang kemaren jadi bodyguard nya mbak Fina!" Mbak Waroh berucap dengan wajah sumringah seperti baru saja dapat togel. Terlihat senang.
Fina langsung membulatkan matanya senang. Ah jadi Pandu datang menemuinya? Ihiiir!!
.
.
.
.
.
.