Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 206. Detik-detik hari bahagia Fina Pandu



Bab 206. Detik-detik hari bahagia Fina Pandu


.


.


.


...🍂🍂🍂...


Rarasati


Sore itu ia terlihat sudah pulang bekerja. Tapi yang membuatnya beda ialah, Ratna mengiriminya pesan jika Mas Surya memintanya untuk datang ke la Amor sore itu juga.


" Gue sendiri?" Tanya Rara yang baru saja melepas helmnya, saat menjumpai Ratna di parkiran La Amor.


Ratna mengangguk, " Uda di tunggu di dalem tuh dari tadi. Roman-romannya, berita bagus coy!" Ratna turut tersenyum penuh antusias.


" Ada apa sih? Kok jadi deg-degan gini gue!" Rara menyisir rambutnya menggunakan jari. Tak biasanya bosnya itu memanggilnya secara pribadi.


Ratna mengendikkan bahunya. Ia tak tahu sebab musabab kakaknya memanggil Rara. Namun yang jelas, raut cerah kakaknya mengindikasikan bila pemanggilan Rara kali ini, adalah seputar hal menguntungkan.


Ia lantas masuk melewati ruangan yang menyajikan deretan bangku yang masih sepi pengunjung sore itu. Cafe itu akan mulai ramai jika malam telah menyapa.


" Saya ada job buat kamu, honornya gede. Tapi musti keluar kota!" Ucap Mas Surya yang kini melipat kedua tangannya ke atas meja. Menatapnya serius.


" Keluar kota?" Pikiran Rara seketika tertuju kepada Bapaknya. Bagiamana ini?


Mas Surya mengangguk, " Pernikahan orang berada. Ini bagus Ra, gak salah Ratna kapan hari minta kamu buat gantiin singer yang lain!"


" Banyak yang komentar positif sama perform kamu!"


Rara tertegun, ia memang perlu uang banyak untuk membayar hutang ke Yudha, tapi... bagaimana dengan Bapaknya.


" Saya pikir dulu ya mas? Soalnya...!"


" Oke, saya kasih kamu waktu sampai besok. Sebaiknya kamu terima saja, jarang-jarang ada yang mau kasih honor gede begini. Kamu juga berkesempatan tampil di hadapan banyak pengusaha disana!"


Sepanjang perjalanan Rara memikirkan hal yang membuatnya ambigu itu, terbesit niatan untuk menitipkan Bapak kepada Bu Sri, satu-satunya tetangganya yang baik hati . Tapi apa enak kalau begitu caranya?


Ia menjadi tertegun setiap waktu dan membuat Bapak mengalihkan perhatiannya kepada Rara.


" Kenapa?" Tanya Bapak dengan suara lemah saat Rara baru saja memijat kaki pria itu dengan lembut. Ia tahu jika putrinya pasti tengah memikirkan sesuatu.


Rara tersenyum. " Enggak ada Pak!" Jawabnya tak ingin membuat Bapak turut cemas.


" Jangan bohong. Kamu pasti lagi memikirkan sesuatu kan?"


Bagaimanapun juga, Bapak merupakan orangtuanya. Mustahil ia bisa menyembunyikan hal itu dari beliau.


Rara akhirnya menceritakan hal yang menjadi sumber keresahan di hatinya. Ia ingin, tapi tak mungkin juga ia meninggalkan Bapak seorang diri dalam keadaan seperti itu.


" Pergilah!" Ucap Bapak dengan mantapnya penuh kemantapan. Membuatnya membulatkan mata.


" Tapi...!"


" Lihat!" Bapak perlahan bisa berjalan meski sangat pelan. Sebulan ini tuanya Bapak lebih menuruti sarannya untuk meminum obat rutin dan semangat melawan penyakit yang ia derita.


" Pak!" Rara benar-benar takjub akan perubahan keadaan Bapaknya. Rara senang bukan main.


" Bapak janji akan menjaga diri. Yang penting kamu siapkan air di sini saja. Nanti bapak bisa sendiri!"


Mata Rara mengembung. Ia bahagia, tak sia-sia dia sampai memiliki hutang kepada Yudha guna pengobatan manusia yang ia sayangi itu. Kini Bapaknya sudah menunjukkan kondisi yang lebih baik.


.


.


Ribuan detik berlalu, hari berganti hari, minggu berganti minggu. Dan minggu berganti bulan.


Seperti kata orang apa yang kita tunggu pasti makin berada lama. Sebuah hotel berbintang telah Bayu booking lengkap dengan segala fasilitas yang tersedia. Bersiap menampung ratusan orang yang akan menjadi tamu undangan mereka.


Hari ini, merupakan hari yang begitu penting bagi dua keluarga. Keluarga Bayu Arsyanendra dan keluarga Guntoro.


Basuki adik dari Tuan Guntoro beserta anak dan istri juga sudah terlihat hadir disana. Acara akad sekaligus resepsi digelar di hari yang sama. Mengingat kebanyakan tamu berasal dari luar kota.


" Fina gimana? Udah siap belum?" Tanya Rama kepada sahabat dari adiknya itu.


" Belum mas, masih belum selesai makeup waktu aku cek barusan!" Sahut Dita yang menjadi koordinator semua tamu dari Kalianyar yang turut menginap di hotel besar itu.


" Tamu yang lain dari Kalianyar gimana?" Tanya Rama memastikan. Sebab ia ingat pesan papa untuk mengakomodir seluruh tamu dari Kalianyar.


" Aman, mereka pasti udah pada siap-siap juga. Masih sejam lagi, santai!" Terang Dita yang benar-benar menjadi seksi sibuk.


Yudha selama sebulan terakhir memang sengaja tidak terlalu menemui Rara meski batinnya semakin tersiksa. Entahlah, agaknya ia lebih memikirkan persolaan dengan Sakti. Ia hanya sering berkirim pesan dan saling bertukar kabar, meski hal itu sebenarnya makin membuat Yudha jatuh cinta kepada Rara yang apa adanya.


" Sakti beneran enggak bisa elu hubungi?" Tanya Ajisaka yang sekamar dengan dirinya. Menatap dirinya yang kini ganteng abis dengan setelan jas lengkap dengan tuxedo berwana biru gelap, hasil jahitan Wida tempo hari.


Aji merasa pede sekali dengan baju yang ia kenakan. Tak sabar ingin melihat secantik apa Wida nanti. Ahay!


" Gak tau lagi deh Ji. Makin kesini, aku ngerasa dia makin jauh sama kita, padahal aku udah pernah ngejelasin kalau aku sama Rara....!"


" Isi kepalamu sama dengan yang ada di kepalaku. Akhir- akhir ini dia sering menghindar dari kita. Tapi masa iya... nikahannya Pandu dia enggak datang?"


Dia pria itu menggunjingkan Sakti yang dua bulan ini bagai menghindar. Entahlah, harus bagiamana lagi mereka musti bersikap jika sudah begitu.


Berbeda dengan para wanita yang berada di kamar lain. Widaninggar yang saat ini bersama Damar juga tengah bersiap. " Ibu cantik banget pakai baju itu!" Ucap Damar memuji Wida yang mengenakan dress panjang dengan warna senada seperti yang dikenakan oleh Aji.


" Anak Ibuk juga ganteng, lihat!" Wida mematutkan Damar ke arah kaca besar, yang menampilkan pantulan diri Damar yang keren saat mengenakan tuxedo mini lengkap dengan dasi kupu-kupu, juga sepatu boots mini yang membuat tampilan Damar kian menggemaskan.


"Aku udah mirip Om Aji belum Bu?" Tanya Damar yang mengidolakan penampilan pria yang gemar mengenakan boots itu.


" Iya!" Wida senang saat melihat Damar menyugar rambutnya berkali-kali. Dasar anak kecil.


Keluarga Yudha juga turut di undang, namun mereka ada di kamar lain bersama Arju yang beberapa hari ini sudah berhenti menjadi generasi menunduk karena ponselnya jatuh dan remuk. Definisi dari kapokmu kapan?


Berbeda lagi dengan Sakti, pria itu rupanya menyewa hotel lain yang lebih terjangkau, agar kedua orangtuanya bisa turut serta.


Ia kini terlihat lebih berdiam diri lantaran merasa strata mereka sudah berbeda. Semakin kesini, kepercayaan diri Sakti memulai memudar, seiring dengan perubahan taraf hidup masing-masing sahabatnya yang ia rasa kini lebih hidup mujur dan mapan.


" Kamu kenapa enggak gabung sama yang lain Sak?" Tanya Ibu Sakti yang kini terlihat mencepol rambutnya, dan bersiap untuk menuju hotel.


.


.


.


.


Wes endang siap-siap wong. Kate mangan enak ngombe legi loh. Mommy tunggu di pengkolan yak, jangan lupa bawa karung buat masukin jajan🤣🤣🤣✌️✌️✌️


Mommy udah bawa tas kresek ini🤣🤣🤣