
Bab 129. Perjuangan Aji
^^^" Bagai kucing dibawakan lidi!"^^^
^^^( Seseorang yang sangat ketakutan karena sesuatu hal!"^^^
.
.
.
...πππ...
Ajisaka
Usai menceritakan tentang semua hal yang ia rasakan kepada dua sahabatnya, pria itu menuruti saran Yudha yang terbilang masuk akal.
" Kalau begitu ceritanya, mungkin dia sedang dalam masa malu Ji. Besok deh kita cari tau!"
" Orang desa yang punya persoalan rumah tangga itu riskan jadi bahan pergunjingan satu kampung!"
" Tapi yang jelas, dari wajahnya yang tadi aku lihat, dia kelihatan ketakutan loh!"
" Kamu jangan temui dulu deh mendingan. Lagian kalau denger dari ceritamu, dia kayaknya terpaksa datang kerumhamu. Udah datang, malah kamu kamu perlakukan begitu!"
" Jangan buat wanita mau sama kita karena takut sama kita, tapi karena segan dan memang butuh sama kita sebagai pria pengayom Ji!"
Aji benar-benar harus mengakui jika Yudha yang lebih sering bersama wanita itu memang unggul daripadanya. Yudha memang yang paling kerap berganti pacar diantara mereka berempat, meski pria itu memiliki sikap paling cuek.
Dan benar saja. Selang beberapa hari, Sakti mendapatkan informasi jika perempuan itu tengah mengalami persoalan rumah tangga dengan suaminya yang membuat dirinya kembali ke desa. Dan untuk detail persoalannya , mereka tidak tahu.
Aji seketika merasa menjadi pria kurang ajar, karena bukannya prihatin, ia justru senang kala mendengar wanita itu tengah dirundung hal yang mengindikasikan persolan dalam rumah tangganya. Kesempatan untuknya jelas terbuka lebar.
" Kata tetanggaku, dia baru ngajuin berkas gugatan perceraian!"
Entah dari mana Sakti bisa mendapatkan informasi seperti itu. Pria pecicilan itu banyak sekali memiliki relasi dengan sifat dan sikap yang aneh-aneh. Tapi harus Aji akui, ini menguntungkan untuknya.
Dan seperti yang ia duga, Wida pasti akan mengantar Damar ke pabrik miliknya pagi ini. Benar-benar definisi dari pucuk dicita ulam pun tiba.
Ajisaka sempat mencuri pandang kepada Wida saat Dino tengah tekun menerangkan dan menyapa bocah-bocah kecil itu.
" Manis banget kamu kalau rambutmu di gerai begitu!"
Namun, tatapan mendengus yang di tunjukkan oleh Wida, jelas menerangkan jika wanita itu masih marah kepadanya. Harus ia akui, ia memang bersalah.
" Bu, Dino akan mengantar anda berkeliling kebun dan melihat proses pembuatan chips dan oleh-oleh di belakang. Nanti ada anak buah saya yang bantu dan monitor anak-anak!" Ia berucap kepada Bu Heni.
" Terimakasih banyak Pak, kami sangat senang karena diijinkan masuk!"
Sempat menyapukan pandangannya ke gerumbulan ibu-ibu yang tersenyum kepadanya saat ia masih berdiri di depan bersama Dino. Namun, ia tak menjumpai wajah Wida di antara kaum hawa itu.
" Dimana dia?" Membuatnya seketika resah.
" Emmm, Din kamu ajak anak-anak masuk dulu. Saya mau ngecek sesuatu kedepan!" Ucapnya kepada Dino.
" Baik Bos, ayo anak-anak kita kemon!"
Riuh rendah suara anak-anak yang ceria membuta Ajisaka tersenyum. Ia melihat Damar ada di barisan depan bersama seroang anak yang sedari tadi menemaninya.
" Cup! Gerbang depan udah kamu kunci?" Ia bertanya kepada Ucup, pria yang bertugas sebagai keamanan disana.
" Sudah dari tadi bos, kenapa memangnya?" Pria itu menatap Aji dengan wajah tak mengerti.
" Barusan enggak ada yang keluar?"
" Enggak ada bos!"
Penjelasan dari Ucup barusan agaknya sudah lebih dari cukup untuk menerangkan jika Wida pasti masih berada di sekitar sini. Ia lantas berjalan menuju luar melalui pintu samping.
Dan benar dugaannya, ia melihat wanita itu duduk di kursi panjang seorang diri.
" CK, kenapa malah disini?" Bergumam dalam hati demi melihat wanita itu seorang diri. Aji membuka pintu yang nyaris tanpa suara. Ia berdiri beberapa detik seraya mengulum senyum menatap punggung Wida.
"Kenapa malah disini? Kenapa tidak ikut masuk?" Ucapnya langsung saat Wida masih menatap ke arah depan.
Wanita itu menoleh. Cuping hidung wanita itu seketika membesar, menandakan jika wanita itu benar-benar terlihat tak suka akan kehadirannya.
" Ibunya Damar kenapa gak ikut masuk?" Ucapnya kembali sambil mendaratkan tubuhnya tepat di samping Wida ,yang makin terlihat risih. Wajahnya berengut, alisnya bertaut. Menyuguhkan ketidaksukaan.
Aji tersenyum penuh arti, wanita itu kalau ngambek kenapa dua kali menggemaskan sih?
" Kamu masih marah sama saya?" Wida makin terlihat tak nyaman karena banyak pekerja yang berlalu-lalang menatapnya penuh selidik.
" Jangan seperti ini, saya gak enak dilihatin pegawai anda!" Wida menggeser tubuhnya lebih menjauh lagi.
" Yo, Man! Pindah ke belakang. Beresin yang di belakang itu!" Ucap Aji yang membuat Wida mendelik.
" Siap bos!"
" Mereka sudah pergi, jadi....!" Aji mendekatkan dirinya kembali satu geseran. Membuat Wanita itu kini berdecak.
" Tolong jangan seperti ini!"
Membuat Ajisaka seketika merubah wajahnya menjadi lebih serius. Seminggu tak berjumpa benar-benar membuat Ajisaka rindu. Ah dia benar-benar sudah gila.
" Saya minta maaf, tapi percayalah! Dua teman saya tidak akan berbicara macam - macam soal kamu. Udah saya jelasin kok ke mereka!"
Wida masih diam. Terpekur menatap paving yang tersusun rapih sebagai jalan disana. Menyesal karena malam itu ia nekat kesana. Wida takut jika akan menjadi bahan pergunjingan orang, itu saja.
" Wid!" Ucap Aji yang membuat Widaninggar menelan ludahnya.
" Saya tertarik sama kamu Wid!"
Deg
Wida seketika langsung menoleh, menatap wajah Aji yang terlihat serius.
" Apa yang pria itu katakan?"
" Ngomong apa anda?" Wanita itu benar-benar terlihat syok. Lebih tepatnya tidak senang.
" Saya tertarik..saya suka sama kamu...saya...!"
" Enggak!" Sergah Wida seketika. Membuat jatung Aji kini berdebar. Wida kini terlihat tak nyaman.
" Saya serius Wid, saya menyukai kamu sejak saya..!"
" Anda jangan ngelawak disini! Anda siapa? Dan saya siapa?"
Ia malah kini tertegun kala melihat dua netra wanita itu kini tergenang cairan bening. Wida menangis.
O O, apakah dia salah berucap?
.
.
Widaninggar
Jantungnya sebenarnya seolah mau copot saja kala pria itu duduk dan menggeser tubuhnya yang membuat mereka menjadi kian tak berjarak.
Lebih terkejut lagi saat Aji mengucapkan hal yang menurutnya sangat konyol.
''Saya tertarik..saya suka sama kamu...saya..."
Ia sama sekali tidak percaya dengan kata-kata manis pria. Sebab belajar dari pengalaman sebelumnya, Pram tak kurang manis saat memperlakukan dia di awal.
"Anda jangan ngelawak disini! Anda siapa? Dan saya siapa?"
Entah mengapa, ia merasa tak memiliki harga diri saat itu. Apakah sempat tak sengaja saling tumpang tindih membuat pria di sampingnya itu hendak merayunya?
" Ngelawak kamu bilang?" Suara mas Aji kini terdengar berbeda. Agak tak terima.
" Sudah saya bilang, jangan mau tahu soal hidup saya. Saya enggak tertarik sama anda!" Ia terpaksa mengucapkan kata-kata seperti itu agar Aji berhenti mengganggunya.
Ia sadar, statusnya yang masih belum jelas saat ini membuatnya sulit. Lagipula, hatinya sudah mati kepada pria. Baginya saat ini adalah Damar.
Wida mengusap wajahnya yang basah karena linangan air mata dengan punggung tangannya. Ia lelah jika harus membicarakan soal perasaan dan cinta.
Apalagi, pria kaya seperti Aji jelas tak akan serius dengan ucapannya. Ia yakin, Aji berkata seperti itu tak lain hanya bertujuan untuk merayunya agar mau diajak berhubungan layaknya suami istri saja.
Agak suudzon, tapi contoh yang ada selama ini juga begitu. Memandang sebelah mata wanita yang tengah mengalami persoalan rumah tangga dan menuju menjadi janda.
" Astaga, kenapa kamu bisa mikir gitu ke saya?" Ia bisa melihat jika itu menjambak rambutnya frustasi.
" Saat serius Wid, coba deh kamu kalau bicara ngadep ke saya. Lihat saya!" Pria itu kini terlihat stres karena tak menyangka jika semua ini tak semudah bayangannya.
" Anda kaya dan terhormat, tidak pantas bersanding dengan wanita tidak jelas macam saya!"
" Tolong jangan ganggu saya lagi Pak. Banyak wanita yang lebih pantas untuk anda!"
" Permisi!" Ia melesat pergi hendak menyusul Damar. Tak mau berlama-lama disana sebelum menjadi fitnah.
Wida hanya takut, apa yang dialami orang lain juga menimpa dirinya.
Dilecehkan pria karena statusnya.
.
.
.
.