Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 80. Talk less, do more



Bab 80. Talk less, do more


^^^" Seperti orang buta kehilangan tongkat. Seseorang yang kebingungan karena kehilangan cara menolong diri sendiri!"^^^


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Riko


Dengan perasaan campur aduk, Riko berniat menemui Fina sebagai pria normal. Ia pikir ancamannya terhadap Tuan Guntoro telah berhasil mengintimidasi keluarga Fina.


Dengan harapan, Fina mau kembali ke pelukannya. Lagipula, ia merasa wanita secantik dan sepintar Fina hanya cocok bersanding dengan dirinya yang kaya, tampan dan juga sarat akan kekuasaan.


Yeah, that's me! Begitu pikirnya.


Namun siapa sangka, ia justru dibuat terkejut oleh sosok yang selama ini menjadi pemantik kegeramannya.


Ngapain pria itu disitu? Dan lihatlah, bagiamana bisa pria itu kini berdandan ala mafia begitu?


Ia berjalan dengan langkah santai " Wah- wah, lihatlah siapa yang ada disini!" Riko menatap sengit ke arah Pandu yang masih berdiri dengan sikap tenangnya.


" Pria miskin ini sudah bergabung menjadi kacung keamanan ternyata!" Riko tersenyum ironi menatap Pandu. Pria itu mencibir Pandu dengan tak tanggung-tanggung.


Membuat Melati dan para anak buah Fina yang lain menjadi panik. Takut jika sesuatu terjadi lantaran mereka sudah tahu bila antara Fina dan Riko tengah memiliki persolan. Gosip selalu lebih cepat ketimbang laju perjalanan sebuah paket ekspedisi.


Riko memindai tampilan Pandu yang terlihat berbeda. Sempat terselip rasa itu kala menatap pria yang menjadi saingannya itu. Pandu terlihat berkharisma.


" Mau apa lagi elo kesini?" Fina dengan alis bertaut menatap Riko jengah. Ia terlalu muak dengan pria itu.


Oh andai saja ada cara yang tepat dan cepat untuk membumihanguskan pria brengsek itu. Damned!


Riko kini mengalihkan pandangannya kepada Fina dengan tersenyum penuh arti" Sayang, aku rasa kamu sudah tahu kan?"


"Kuharap papamu sudah memberitahu jika sebaiknya kita kembali menjalani hubungan sedari awal!" Riko menatap Fina dengan senyumannya.


Fina tersenyum muak " Lebih baik gue bangkrut dari pada harus kembali dengan pria seperti elo!''


Rahang Riko mengeras. Apa semua cara kasar yang ia lakukan tak berpengaruh apapun pada wanita di depannya itu?


Pandu masih terdiam, tak berniat menyahuti apalagi menginterupsi. Ia hanya membaca gerakan Riko dengan kedua netranya. Tugasnya sepertinya benar-benar akan ia implementasikan dengan baik.


Riko berjalan maju dengan menatap tajam Fina " Baiklah kalau dengan cara lembut kamu tidak juga mau menurut, jangan salahkan aku jika aku akan menggunakan cara lain!" Riko mencengkeram rahang lembut Fina. Membuat kesemua karyawan disana menatap ngeri.


Astaga!


" Singkirkan tangan kotormu!" Ucap Pandu yang merasa riko kini telah keterlaluan. Jiwa kejantanan Pandu akan Fina tergugah. Tentu saja, Fina adalah wanita yang telah merasuk kedalam hatinya. Tak akan ia biarkan tangan kotor Riko menyakiti Fina walau seujung kuku pun.


Riko menatap Pandu yang kini telah menatap tajam Riko. Tatapan dua pejantan yang menyiratkan permusuhan.


" Elu gila ya..!" Fina melepaskan cengkraman Riko dan melempar tangannya dengan kasar, saat ia merasa mendapatkan kesempatan untuk menghindar.


Riko menatap tajam Fina yang kini beringsut mundur ke belakang tubuh Pandu. Membuat aura ketegangan makin menyeruak.


" Oh.. jadi dia sekarang jadi kacungmu?" Riko tersenyum mengejek.


" Kacung with benefit!" Ucap Riko tepat di muka Pandu. Tergelak mengejek.


" Udah elo kelonin berapa kali dia?" Tunjuk Riko kepada Fina yang kini terlihat menahan geram.


BUG


Rahang Riko seketika terlempar ke arah kiri usai mendapat tinju keras dari kepalan jari-jari Pandu. Pandu tak terima kala mendengar Fina dilecehkan seperti itu.


Apalagi, kini ia ingat bila Riko lah yang telah merenggut keperawanan Fina. Anjing!


" Brengsek!" Riko tak terima. Ia mengumpat usai merasakan rahangnya kini berdenyut dan nyeri. Dengan hati bergemuruh, Riko membalas Pandu.


BOUGHT


Riko menendang perut Pandu sehingga membuat pria itu terdorong kebelakang dan menabrak rak-rak putih berisikan aneka macam makanan.


BRAK


BRUAKKKK


Suara-suara gaduh, ribut lantaran semua makanan disana runtuh dan berhamburan ke lantai. Membuat tempat itu kini kacau balau.


" Mas Pandu!" Melati malah spontan berteriak kala melihat Pria ganteng yang kini terlihat menahan nyeri di perutnya.


Fina terlihat pias saat itu juga. Ia seketika menjadi ketakutan. Matanya tak lekang menatap wajah Pandu yang meringis kesakitan.


" Segitu doang tenaga elu rupanya!" Cibir Riko merasa diatas angin kala melihat Pandu menahan sakit. Nyeri betul.


Pandu kini terlihat menatap Riko tajam. Dengan gerakan yang tak dibaca Riko, ia melayangkan tendangan dari kaki kanannya dan tepat mengenai kepala Riko. Membuatnya seketika mudur beberapa langkah.


" Argggggghhh!" Rintih Riko yang kini bergantian menabrak susunan makanan di rak-rak yang membujur panjang. Membuat tempat Fina kini porak poranda.


Kacau balau.


" Bangun lu brengsek!" Ucap Pandu yang kini benar-benar emosi.


Tak berhenti disitu, Pandu kini dengan membabi-buta menghujani wajah Riko tengah tinjuan. Buku-buku tangan Pandu bahkan terlihat memerah.


Riko kini berada di bawah tubuh Pandu yang tekun menghajar wajahnya dengan tanpa jeda. Benar-benar definisi dari melampiaskan buncahan amarah yang luar biasa.


" Argggggghhh!" Riko mengerang saat hidung mancungnya terlihat mengeluarkan cairan kental nan asin. Sial!


Ia ceroboh lantaran datang kesana seorang diri. Ia tak menyangka jika Fina kini berada di bawah pengawalan Pandu.


" Pandu stop!" Fina menarik jas yang di kenakan Pandu dari arah belakang. Ia takut jika Riko akan mati disana, dan berakibat fatal bagi Pandu.


Fina bahkan bisa merasakan punggung Pandu yang tegang dan mengetat lantaran tekun menghajar Riko. Benar-benar laki.


" Pandu stop Pandu!!" Fina panik, apalagi ia melihat Riko yang kini sudah tanpa perlawanan.


Pandu tak memperdulikan, ia yang tersulut emosi benar-benar kehilangan kendali.


Mati lo Anjing!


" Pandu cukup! Kalau sampai dia mati disini, kita yang susah nanti!!'' Sergah Fina dengan sedikit menaikkan intonasi suaranya, saat melihat Riko yang sudah tak berdaya.


Dengan Napas terengah-engah dan memburu Pandu melepaskan cengkeraman tangannya di kerah baju Riko dengan kasar.


" Argghhhh!" Pandu menunjukkan tembok putih yang ada di depannya. Melampiaskan sisa kemarahannya agar tuntas.


Ucapan Fina seolah menyadarkannya dari amarah yang makin menggila. Menguasai dan membuatkan mata hati Pandu.


Nyaris saja Pandu dengan sukarela mengirim dirinya sendiri ke penjara. Sial!


" Brengsek!" Riko masih sempat mengumpat ke arah Pandu. Meski dengan suara parau yang nyaris tak terdengar. Ia meringkuk menahan tubuhnya yang terasa tercerai-berai.


" Pergi lo dari sini. Dan jangan pernah ganggu gue lagi!" Fina kini menatap Riko penuh kebencian.


Melati, Jenita dan yang lainnya kini merasa tubuh mereka bergetar. Mereka semua ketakutan lantaran melihat Pandu yang dengan badasnya menghajar Riko dengan tanpa ampun.


Pria jantan yang garang.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Rengganis


" Astaga Riko!!!!" Ia nampak terkejut seraya berteriak histeris kala melihat wajah bonyok anaknya yang berjalan serampangan menuju ruang keluarga rumah besar mereka.


Membuat atensi Hartadi yang tengah berjibaku dengan beberapa file teralihkan. Kini, dengan gerakan cepat pria itu melepaskan kacamata yang bertengger di atas hidungnya.


" Kamu dari mana Riko? Dan kenapa bisa seperti ini?" Dua orang tua Riko kini berjalan dengan penuh ketergesaan menyongsong kedatangan anaknya.


Riko terlihat memejamkan matanya kala berhasil mendaratkan tubuhnya ke atas sofa krem yang berada di rumahnya itu. Wajahnya babak belur tak berbentuk, darah kering kini menghiasi bawah hidungnya. Lebam kebiruan juga terlihat menghiasi pelipis Riko.


" Bunuh pria bernama Pandu Pah!"


" Riko mau papa bunuh pria itu. Riko mau Fina kembali sama Riko Pah!" Lirih Riko dengan menahan sakit di sekujur tubuh dan wajahnya.


" Kalau enggak, biar Riko mati sekarang juga!" Riko histeris dan memukuli kepalanya sendiri. Membuat Rengganis dan suaminya kini panik dan mencegah tangan anaknya yang dengan tak terkendalinya terus memukuli diri sendiri.


" Riko! Apa yang kamu lakukan nak! Jangan seperti ini!"


" Riko!!"


Tentu saja ia sangat tersiksa kala melihat putranya yang kacau seperti itu. Kebahagiaan Riko selalu yang utama meski ia dan suaminya selalu menegaskan untuk menjaga sikap di depan khalayak.


Riko menangis dengan keadaan memprihatinkan. " Kalau papa sama mama mau Riko bahagia, buat Fina mau menerima Riko lagi ma!" Ia benar-benar tak memiliki ide lain.


" Jadi pria bernama Pandu yang membuat kamu seperti ini?" Tanya Rengganis dengan wajah geram.


Riko mengangguk bak bocah yang mengadu kepada orang tuanya sehabis berebut mainan. Benar-benar payah.


" Papa gak boleh tinggal diam pa.... Pria itu harus merasakan apa yang anak kita rasakan Pah!"


Melihat putranya yang dalam keadaan mengerikan seperti itu, membuat Rengganis kehilangan akal sehatnya. Dalil-dalilnya tentang integritas agaknya telah luntur.


Ia tak terima melihat Riko yang pulang dengan keadaan babak belur.


" Siapa Pandu?"


.


.