Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 140. Sifat manusiawi



Bab 140. Sifat manusiawi


^^^" Orang kantuk, di sodori bantal!"^^^


^^^( Mendapatkan sesuatu yang memang di harapkan)^^^


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Widaninggar


Ia merasa bagai berada di antara batas sadar dan tidak sadar, kala sebuah tangan kokoh menyelinap di dalam jaket yang tersampir di pundaknya.


Tangan itu mengelus punggungnya, seakan membuatnya tenang dan larut dalam kedamaian malam itu.


Matanya berat dan seolah tak bisa terbuka. Namun, tatapan mesra dan lembut dari sosok pria pemaksa itu seolah nyata ia rasakan.


Ia juga merasa Aji menyentuh bibirnya dengan lembut dan penuh gairah. Sesapan yang menuntut itu jelas membuat Wida hanyut. Malam yang dingin, seakan menjadi pemandu sorak kegiatan mereka.


Namun, saat matanya mengerjap ia mendapati dirinya yang tidur dengan posisi miring ke kanan dan sebuah jaket yang menutupi tubuhnya. Seorang diri.


Ia seperti mengingat-ingat apa yang baru saja terjadi. Ia mendelik seraya meraba bibirnya demi mengingat dirinya yang sepertinya telah berciuman dengan Aji.


Nyata tau mimpi? Begitu pikirnya.


" Dimana mas Aji?" Ia langsung tersentak kala melihat dirinya seorang diri. Sejurus kemudian ia bangkit lalu berjalan menuju arah belakang, berusaha mencari sosok yang bersamanya sejak kemarin itu.


Dan entah mengapa, ia terus berjalan ke belakang. Seperti ada hal yang menuntun dirinya. Dan betapa terkejutnya ia saat mendengar suara aliran sungai yang tak jauh dari tempatnya berdiri.


Apa Mas Aji berada di sungai itu pikirnya?


Wida menyibak daun krenyong yang tumbuh liar dan subur disana. Ia membulatkan matanya kala melihat Aji yang mandi bebas di sungai itu. Pria itu u terlihat menyugar rambutnya ke belakang, dengan otot punggung yang terlihat perkasa. Lengannya juga kekar dan terlihat liat sekali.


Wida meneguk ludahnya.


Matanya juga tak sengaja menatap tumpukan pakaian Aji di atas batu itu. Astaga, jadi pria itu saat ini tak mengenakan apapun?


Oh no!!


.


.


Ajisaka


Ia mendekap erat tubuh Wida yang sebenarnya terlihat sangat mengantuk itu. Ciuman yang tak terlalu lama namun juga tidak terlalu sebentar itu, harus segera ia pungkasi karena Wida yang terlihat lelah.


CUP


Aji mencium kening Wida lama. Dalam dan penuh kasih sayang. Hatinya menghangat kala menatap wajah Wida. Tak mengira akhirnya ia bisa menyentuh wanita itu. Walau ia merasa sedikit kurang ajar lantaran memanfaatkan kekurangsadaran Wida, saat ia menciumnya.


" Tidurlah!" Aji memeluk tubuh yang kedinginan itu. Erat dan seolah tak ingin melepaskan.


" Makasih Wid, aku enggak tau kenapa... rasanya bahagia banget kalau sama begini!"


Dalam hati, Aji merasa bahagia. Jangan di tanya mengapa, karena cinta kadang tak bisa di jelaskan dengan logika.


Selama sepersekian detik saja, ia sudah bisa mendengar napas teratur dari tubuh Wida. Wanita itu kini terlelap dalam dekapannya. Mata Aji nanar menatap Api yang semakin mengecil, ia juga lelah. Dengan berpelukan dan dengan rasa hati yang tentram, Aji kini turut memejamkan matanya sembari memeluk Wida.


Wish you forever by my side!


Gigitan nyamuk sukses membuat Aji terbangun pagi itu, ia agak terkejut demi melihat Wida yang masih lelap dalam pelukannya.


" Astaga! Aku memeluknya semalaman?"


Ihirrr!


Ia mencium kening wanita itu lagi. Tersenyum mengelus pipi Wida. " Kau harus jadi milikku, apapun yang terjadi!"


Dengan gerakan perlahan, Aji meletakkan kepala Wida untuk bersandar ke pohon besar yang mereka jadikan sandaran semalam. Takut jika wanita itu terbangun. Ia kasihan dengan Wida.


Sisa kepulan asap masih terlihat. Aji memeriksa lukanya dan ajaibnya, luka itu sudah agak mengering. Sepertinya ia harus menanam binahong dirumahnya setelah ini.


" Wanita luar biasa, makasih ya Wid!" Gumamnya lirih sambil tersenyum menatap wajah teduh Wida.


" Ahhhh!" Ia meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Sejurus kemudian ia berjalan ke belakang. Setahu dia, aliran sungai dari gunung Gaung itu jelas mengarah ke selatan.


" Pasti ada kali di sekitar sini!"


Dan benar saja, mata Aji berbinar kala melihat sungai yang berjarak sekitar beberapa puluh meter dari tempatnya tidur semalam. Ia ingin menyegarkan badannya sebelum Wida bangun. Air yang dingin dan begitu menyejukkan.



Sangat pas untuk memberangus pikiran kotornya, karena semalaman bersama Wida. Ia pria normal bukan? Tentu saja waktu pagi adalah waktu alami bagi mahluk keras tak bertulang itu untuk bangkit.


Jelas akan sangat mengerikan jika ia terus berada di sisi Wida dalam kondisi seperti itu.


No way! Never ever!


Oh andai saja ia tersesatnya di hotel atau di tempat yang lebih bagus, ia tak menjamin jika dirinya tak kebablasan. Oh astaga!


.


.


Widaninggar


Ia malu, namun sebagai manusia yang tak suci dan naluri betina yang melihat pejantan, entah mengapa ia justru ingin melihat tubuh yang terlihat perkasa itu. Haishh!!!


Wida dengan cepat membalikkan badannya sebelum pria itu menyadari jika ia mengintip. Lebih tepatnya mencari tahu.


Dengan langkah penuh kegelisahan lantaran baru saja melihat tubuh Aji yang diluar dugaannya itu, ia kembali ke tempat semula. Gubuk derita.


Apalagi ia tahu jika pria yang merendam tubuhnya di sungai itu, tengah tak mengenakan apapun. Tidak!!!!!


Tentu ia tak mau gak itu menjadi boomerang untuk dirinya sendiri. Setan ada dimana-mana, dan tentu saja ia tak mau menjadi korban bisikan setan.


Beberapa saat kemudian,


" Uda bangun?" Ucap Mas Aji secara tiba-tiba saat ia tengah mulai memantik apik kembali. Pagi ini terpaksa makan talas lagi.


Mas Aji terlihat lebih segar karena rambutnya yang basah. Jujur, ini pertama kalinya Wida melihat Mas Aji tanpa minyak rambut wet look . Tapi, pria itu mungkin sudah ganteng dari orok. Sehingga, walau beginipun terlihat ganteng.


Wida kikuk tak karuan, " Udah barusan!"


" Yang semalam itu dia nyium aku beneran atau aku cuma mimpi?" Batin Wida seraya menatap Mas Aji penuh tanya.


" Kenapa ngelihatin aku begitu?" Mas Aji menyipitkan matanya menatap Wida. Penuh arti.


"Enggak ada!" Ia buru-buru menundukkan kepalanya. Sialan, kenapa aku jadi begini sih?


" Kamu mimpi aku cium ya?" Goda Aji seraya menyurai rambutnya ke belakang.


Wida langsung membelalakkan matanya. Pria itu! Kenapa tebakannya benar?


" Jadi bener?" Wida mendelik tak percaya.


" Apanya?" Jawab Mas Aji enteng.


" CK!!" Wida berengut.


" Aku cuma nebak!" Sahut Aji mendudukkan dirinya di tikar dari daun pisang itu.


" Kok tahu kalau ada sungai?"


Aji tersenyum penuh arti " Kamu lihat aku mandi tadi?"


Wida mendelik " Bu- bukan! Maksudku mas kan baru mandi, kok bisa tahu kalau..."


Aji terkekeh demi melihat Wida yang gelagapan, " Bias aja itu bibir, tadi saya sengaja jalan terus dengar suara sungai, ya udah deh... Kamu mau cuci muka? Biar saya antar..atau mau mandi?" Aji mengerlingkan matanya dan membuat Wida mendengus.


Aji tergelak demi melihat raut wajah Wida yang besengut. Wajah Wida sudah sangat merah.


.


.


Yudha


Ia, Sakti dan beberapa orang sebenarnya sudah masuk ke hutan hingga sore hari. Namun selama itu pula pencarian mereka tak membuahkan hasil.


Ponselnya malah turut kehilangan jaringan saat memasuki hutan. Benar-benar antispasi yang buruk.


" Ini sudah mau gelap mas, sebaiknya kita kembali dulu . Jangan sampai kita turut tersesat nanti!" Tutur salah seorang pria yang merupakan rekan dari Rukun.


Sakti terlihat tidak setuju, " Kalau kita berhenti, terus mereka di dalam kenapa-kenapa gimana?" Pria itu menolak usulan yang dirasa kurang pas itu.


" Ya terserah masnya saja, bulan juga sedang sabit. Kita minim penerangan, medan di dalam juga rungkut ( lebat) sekali. Jangan sampai kita malah merepotkan yang lainnya nanti!"


Sakti tertegun.


Yudha terlihat berpikir, benar juga. Hutan ini luas. Ia bahkan sampai berpikir untuk mencari orang pintar untuk membantu pencarian mereka. Siapa tahu bisa.


Pria berpenampilan paling modern, namun berpemikiran paling primitif. Dasar Yudha!


Keesokan harinya, Sakti pagi-pagi benar sudah nongol di rumahnya. Kali ini kedatangannya bersama Pak Atmo nyaris berbarengan.


" Yud, tadi aku ketemu Pak Atmo dijalan, dia mau ikut nyari!"


Yudha yang baru saja mengenakan kaos itu, kini menyongsong kedatangan Pak Atmo dirumahnya.


" Anak saya gimana mas? Saya mau ikut nyari, saya enggak tahu kalau Wida di bawa ke hutan sama Pram"


" Tolong ya mas!"


Rumah Yudha kini telah di penuhi oleh banyak orang, mamaknya bahkan kini turut kebingungan karena baru tahu sebab musabab putranya bolos kerja.


" Bapak tenang dulu nggeh, hari ini saya sama para pemuda mau nyisir hutan itu lagi Pak. Kalau Bapak mau ikut, monggo. Emmm Anaknya Bu Wida gimana?" Pria itu juga mencemaskan Damar.


" Damar nangis terus mas, dia enggak sekolah kemaren. Hari ini juga. Kami enggak ada ngomong ke dia kalau ibunya sedang...!" Mata Pak Atmo berkaca-kaca, ia tak tahu nasib Wida bagiamana di dalam hutan.


Membuat mata kesemua yang disana ikut berkaca- kaca. Suasana mengharu biru.


Saat beberapa orang itu masih sibuk berunding, terdengar suara motor yang familiar. Knalpot Kawasaki KLX yang sudah lama tak terdengar, kini kembali menggerung keras di pelataran kediaman Yudha.


" Pandu!" Sakti langsung berdiri kala melihat sahabatnya telah kembali, Yudha juga menarik senyumannya kala melihat satu bala nya, telah datang.


Beberapa pasang mata juga terlihat menoleh saat pria tinggi dengan mengenakan kemeja kotak-kotak, turun dari atas motornya.


" Ada apa ini?" Wajah Pandu bingung, ada banyak sekali orang di rumah Yudha di jam sepagi itu. Lebih membuatnya terheran lagi, di hadapan Yudha telah duduk seorang pria tua yang tengah menitikan air mata.


" Ada masalah apa ini?" Ucap Pandu dalam hati, dengan langkah yang kini ragu.


.


.


.