
Bab 197. Tamu tak terduga
.
.
.
...πππ...
Yudhasoka
Ia bagai terkena slow motion angin semriwing saat Rara menoleh kehadapannya dengan wajah bingung , usai Ibu kantin itu mengatakan jika ia adalah pacarnya.
Kayak b'rasa gimana gitu, hihi!
Terkikik dalam hati.
" Bukan Buk! Dia...temen saya!" Sergah Rara cepat sembari melirik Yudha dengan menarik salah satu sudut bibirnya. Menatap Yudha dengan memutar bola matanya malas.
Merasa rikuh.
" Sayang banget mbak...mbak.. ganteng- ganteng, cuma temenan. Hehe...oke pesanan segera meluncur!" Ucap wanita itu sembari berlalu. Membuat Rara menggelengkan kepalanya.
Bar-bar sekali ibu itu, oh ya ampun!.
Hati pria itu menghangat. Bukankah Rara barusan mengatakan jika dia temannya? Ahay! Dia sudah tidak marah lagi dong berarti?
" Kamu...tadi... bilang apa? Aku temenmu?" Tanya Yudha basa-basi sambil memburu waktu tunggu. Dengan senyum yang merekah tentunya.
Rara menatap Yudha dengan wajah mengernyit, " Emangnya aku harus bilang apa? Musuh?... Atau penuduh orang gitu?"
Yudha menyebikkan bibirnya, baru juga bicara manis. Eh sekarang sudah balik lagi. Tapi...entah mengapa ia kini malah senang kala menatap wajah manis Rara yang kerap berbicara ketus itu.
"Manis juga kalau dia lagi mode diem begini!"
Usai mengisi perut, mereka kini terlihat berada di loket pembayaran untuk mengetahui berapa kisaran biaya yang sudah tertotal.
"Untuk pelunasannya sewaktu pasien sudah di izinkan pulang ya mbak!"
Rara menatap Yudha dengan wajah terlihat berpikir. Itu artinya ia tak perlu menerima uang dari Yudha sekarang dong.
" Kenapa?... Nih!" Yudha memberikan sebuah kartu dan kini terlihat menulis sesuatu di secarik kertas yang ia robek secara asimetris, dari buku note kecilnya.
Rara menatap heran. Untuk apa dia melakukan itu?
" Bisa pakai ini kan mbak?" Tanya Yudha menunjukkan kartu saktinya kepada petugas di depannya.
" Bisa mas!" Jawab petugas itu sopan.
" Nah, ini elu bawa. Ini PINnya!" Yudha meraih tangan Rara yang menganggur dan menyerahkan benda itu kepada Rara dengan sedikit memaksa.
" Apa ini? Enggak!!! Enggak!!" Tolak Rara cepat.
Menurut Rara, Yudha terlalu berlebihan.
" CK, bawa aja! lagipula aku enggak tahu kapan Bapakmu akan di bawa pulang, ia kalau aku ada disini terus...kalau enggak?" Yudha mencoba mencari akal agar wanita itu mau menerima bantuannya.
" Atau...kamu pinginnya aku disini terus?" Yudha menaikturunkan kedua alisnya dengan wajah longor. Membuat Rara mendengus sebal.
" CK, gak usah ngawur lu jadi orang!"
" Ya makanya...aku mau balik ke kantor ini. Udah bawa aja. Lagian kalau elu nipu, gue tau alamat rumah lu kali...kalau berani sih?" Yudha tersenyum menggoda.
Rara sebenarnya tidak mau kalau begini. Menurutnya ini berlebihan. " Gue mau..."
" Udah ya aku buru-buru nih!.....elu bawa ini, gue udah di tunggu sama rekan gue di kantor. Gue musti balik sekarang, dia kalau marah suka gak lucu. Udah ya! Aku pergi dulu.. bye!!!"
Rara menatap nanar punggung lebar Yudha, yang perlahan lenyap dari pandangannya.
Seorang pria asing yang sempat terlibat aksi tak menyenangkan dengannya itu, kini bermetamorfosa menjadi dewa penolong untuknya.
" Thanks... teman!" Ucap Rara menatap lurus ke depan dengan tatapan masygul.
.
.
Sakti
Ia tak menyangka jika sikapnya tempo hari membuat semua sahabatnya menjadi bertanya-tanya. Benarkah jika ia terlalu kekanak-kanakan? Tapi sungguh, ia hanya merasa Yudha tidak sportif. Bisa bersaing secara sehat kan?
" Mas Yudha yang paling kelihatan sedih mas. Saya cuma denger dikit-dikit sih. Maklum, Nyambi bantu istri buat teh di belakang. Saran saya, kalau nesu jangan lama-lama ya mas. Saya jadi ikut mikir. Kalian semua ini kan selalu kompak. Masa gara-gara suatu hal yang belum tentu, kok jadi begini!"
Sakti berada di persimpangan keresahan. Mungkin dia akan berbicara empat mata dengan Yudha nanti. Bagaimanapun juga, antara dirinya dan Yudha sudah sangat dekat bagai saudara. Bahkan melebihi ke Pandu dan Ajisaka. Mengingat usianya yang memang sepadan dengan Yudha.
.
.
...πππ...
Pandu
πΆHari berganti hari, seolah waktu akan berlari...
Kecap sesal di hati...
Seandainya ku bisa mawas diri....
( Ost. Tersanjung)
Sebuah lagu terdengar mengalun menemani giat pekerja bengkel, saat Pandu tengah berjibaku dengan laporannya pertama itu.
Laba yang membuatnya tersenyum puas. Ia senang, selain bengkelnya ramai, mendapat suplyer sparepart dari orang pertama yang terpercaya, jelas membuat pundi-pundi rupiah yang di dapat semakin memuaskan.
[" Ibuk nanti malam mau silaturahmi ke rumah Papanya Fina!"]
Pesan dari ibu membuat dia senyam-senyum sendiri. Kok deg-degan ya? Padahal hanya di pamiti saja. Ia kini menatap sebuah lukisan bergambar wajahnya, lukisan hadiah dari sang kekasih saat ia terkahir kali berada di kota tempo hari.
Pria itu membayangkan akan bahagia dan memiliki banyak anak dari Fina. Entahlah, sejumput rasa bahagia membuat dirinya bagai terbang ke angkasa.
TOK TOK TOK
" Masuk!" Sahutnya dari dalam. Kembali beralih menekuni beberapa lembar print out yang hendak ia masukan ke ordner.
Seorang pemuda beranjak gede mengangguk hormat. Pemuda yang di rekrut Pandu sebab memiliki kelihaian yang mumpuni ,meski keadaan ekonomi tidak memadai itu, kini ia dapuk sebagai tukang riwa-riwi.
" Ada apa Ror?" Tanya Pandu kepada Rori.
" Nganu mas ..ada yang nyari!"
" Siapa?" Tanya Pandu biasa, sembari sibuk merapikan beberapa lembar kertas yang baru saja ia acak-acak.
" Apa kabar... kakak?" Sebuah suara yang cukup familiar itu, kini membuatnya menoleh dengan perasaan tak biasa.
.
.
.
.