Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 229. Are you jeleous?



Bab 229. Are you jeleous?


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Sakti


Ia mempercepat proses memakai bajunya usai kejadian mengerikan barusan. Sempat mendecak dalam hati sebab niat hati ingin mengerjai wanita itu, kini justru ia yang merasa terkejai sendiri. Asu asu!


Sakti terlihat menutup lemari pakaian yang sudah ada di kamar itu. James bilang, semua pegawai juga mendapat fasilitas yang sama jika bekerja di Vineyards itu. Membuat Sakti tak ambil pusing. Lagipula, pakaiannya bagus-bagus. Sangat pas untuk dia yang memang tak membawa pakaian banyak.


Sebuah jeans panjang membungkus kaki jenjangnya, ia mengenakan kemeja hijau Army berkancing besar, yang membuat dirinya terlihat menawan. Sakti memiliki kulit yang bersih, sehingga membuat pria itu cocok mengenakan pakaian apapun.


Meski ia sempat menyangsikan dirinya, kenapa bisa memiliki kulit yang putih, sementara ibu bapaknya memiliki kulit coklat khas daerah beriklim tropis.


Tapi entahlah, mungkin itu gen dari nenek moyangnya dulu. Sakti ogah ambil pusing akan gak itu.


Ia melirik kamar mandi yang masih mendengungkan suara gemericik air. Anjana masih mandi di dalam sana. Biarlah, toh ia kini juga masih sangat malu dengan kejadian tadi.


Ia memilih pergi untuk menuju meja sarapan. Sebab ia tahu, hari ini ia akan mendapatkan pelatihan baru.


Pria itu emakin hari semakin heran saja. Semenjak kepergian James beberapa waktu lalu, dengan dalih mengurus satu usaha tuan Liem di lain tempat, semua pelayan, petani bahkan supir logistik disana berlaku sangat ramah kepadanya. Padahal, ia juga buruh. Betul kan?


Keheranannya makin menjadi.


" Feng apa semua sudah berkumpul?" Tanyanya kepada pria kurus pemenang predikat bujang lapuk of the year itu.


" Ehh sudah Tu... emmm mas!" Feng menapuk bibirnya karena kebiasaannya yang latah.


Membuat Sakti menyipitkan matanya.


" Sakti, kau sudah selesai? Mana Anjana?" Piter yang datang dari arah lain membuat Feng selamat. " Untung mas Pieter datang, kalau enggak?"


" Kau kapan datang? Katanya..."


Pria berkacamata itu memiliki posisi yang sama dengan Anjana. Sama-sama di pungut dari dinginnya lantai panti dan menjadi punggawa badas di perkebunan itu.


" Semalam aku datang, kita sarapan dulu yuk!"


Sakti merasa beruntung karena mendapat pekerjaan yang luar biasa nyaman ini. Sama sekali tak terpikir bila mendapatkan pekerjaan yang isinya malah mirip seperti keluarga. Makanan, tempat tinggal, fasilitas lain yang begitu mumpuni. Ah andai ketiga sahabatnya ada disini.


" Kalian sudah datang!" Tuan Liem menyambut mereka dengan senyum merekah, di ruangan itu hanya ada mereka dan dua orang pria lain yang juga memiliki posisi krusial di dalam Vineyards itu.


Sakti tersenyum begitu juga dengan Pieter, mereka berdua duduk bersebelahan berhadapan dengan Beni dan Malik. Dua pria pekerja yang lebih dulu mengabdikan diri kepada Tuan Liem.


" Mana Anjana, kenapa kau turun sendiri?" Tanya Malik, pria yang lebih tua darinya itu memiliki sikap yang ramah dan supel.


Membuat Sakti menelan ludahnya keki, karena bingung harus menjawab apa.


" An.."


" Selamat pagi semua..." Ucap Anjana yang rupanya telah selesai dengan ritualnya. Wanita itu telah menguncir rambutnya dengan pakaian sangar seperti biasanya. Menatap Sakti tajam yang membuat pria itu kini keranjingan sebab malu.


Alasan tuan Liem memilih Anjana yang berbeda gender untuk sekamar bersama Sakti adalah, karena wanita itu merupakan satu-satunya orang yang menguasai persenjataan dengan sangat baik. Pun dengan teknik beladiri yang sangat bisa di andalkan.


Tuan Liem mau cucunya aman dan belajar dengan nyaman tanpa rasa curiga, bila di temani dengan orang yang sebaya.


" Kita makan dulu, setelah ini kita briefing!" Tukas Tuan Liem yang berada di kursi paling ujung. Mempersilahkan kesemuanya untuk ambil bahagian dalam jamuan sarapan.


Semua makan dalam diam, pun dengan Sakti yang merasa ia telah kehilangan keperjakaannya sebab benda pentingnya telah dilihat oleh wanita kaku itu.


Oh ya ampun!


.


.


Anjana


Isi dadanya seakan mau meledak saat ia melihat benda mengerikan yang ukurannya membuatnya bergidik. Ia sebenarnya juga tak polos-polos amat soal hal begituan. Pernah sekali waktu ia memergoki James yang menonton blue film namun ia biasa saja.


Atau...ia yang tak sengaja berselancar di dunia maya , pernah melihat hal-hal absurd seperti itu. Tapi melihat secara langsung dan melihat dalam ponsel jelas memberikan pengalaman yang berbeda.


Ia awalnya berpikir jika Sakti pasti tak akan berani dengan dirinya. Mengingat siapapun pria yang dekat dengannya selalu mengatakan jika dia adalah wanita aneh dan tak normal. Namun, ia tak mengira jika Sakti benar-benar diluar dugaannya.


Pria itu benar-benar los- losan.


" Kau kenapa diam saja, tumben!" Ucap Pieter yang hendak meraih segelas susu di depannya. " Apa kau sakit?" Tanya Pieter memperhatikan lekat wajah Anjana. Membuat Sakti sedikit menunduk.


" Aku tidak apa-apa, memangnya kenapa?" Jawab Anjana biasa saja. Seperti tidak terjadi apapun.


Sakti tercenung, sepertinya Pieter perhatian kepada wanita itu.


.


.


Dan dugaan Sakti benar adanya, ia yang hendak menuju ruang briefing setelah kembali dari mengambil ponsel yang tertinggal di kamarnya itu, melihat Pieter menarik lengan Anjana di luar.


Membuat Sakti mengehentikan langkahnya lalu mengintip di balik pilar besar bercat golden itu.


" Ja...elu sekamar sama pria itu?" Tanya Pieter yang baru mengetahui jika Anjana ditugaskan sekamar dengan Sakti.


" Memangnya kenapa? Aku bekerja sesuai perintah bos!" Jawab Anjana ketus.


" Ja...elu kan bisa bilang kalau elu .."


" Pieter!!! Tuan Liem itu segala-galanya buat gue, tanpa dia ..mungkin gue enggak akan ada di muka bumi ini lagi. Jadi tolong...jangan mendebat gue lagi ..!" Anjana pergi karena kesal dengan Pieter yang selalu mengejarnya.


" Gue suka sama elu Ja!"


DEG


Sakti melebarkan matanya manakala Anjana menghentikan langkahnya. Wanita itu memutar tubuhnya dan menatap Pieter dengan tatapan sumbang. " Sory, tapi gue udah enggak ada rasa apapun sama pria!"


Senyum Anjana terlihat ironis. Entah apa yang di alami oleh wanita itu. Namun Sakti bisa menangkap, aura kekecewaan yang terpancar dari raut tegas wanita itu. Sama seperti dirinya yang pernah merasakan cinta bertepuk sebelah tangan.


Anjana pergi, ia tahu selama ini Pieter mengejarnya. Tapi entahlah, ia tak menyukai pria itu. Menurutnya, ia tak suka di kekang ataupun di perintah. Baginya, satu-satunya orang yang pantas memerinthnya adalah Tuan Liem.


Sakti tertegun, entah mengapa ia menjadi tak rela saat mendengar Pieter mengucapkan hal itu kepada Anjana. Semacam rasa kesal namun juga tak senang.


Are you jealous?


.


.


.