Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 24. Kagum kepadamu



Bab 24. Kagum kepadamu


^^^" Selalu ada alasan di balik perubahan sikap seseorang!"^^^


...☘️☘️☘️...


.


.


.


Usai kenyang dengan cimol, Dita kini rewel dan berdalih telah mengantuk. Dokter muda itu melupakan soal birokrasi kesehatan yang kadangkala amat menyiksa. Sejenak ia berkamuflase menjadi rakyat biasa, dengan segala kearifannya.


Ia menjadi dirinya versi lain malam itu. Bersama Yayuk tentunya. Pembantu yang dirasa bisa di jadikan sebagai teman.


Ia melihat Dita yang tidur memeluk guling dengan mulut yang sedikit terbuka. " CK, enak banget si Dita bisa pules gitu kalau tidur!" gumamnya searah mendecak.


Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, Fina masih tak bisa memejamkan matanya. Selain karena pesan dari Riko yang membuat hatinya gamang, ucapan Pandu juga sukses membuat dirinya makin bingung.


Apa Pandu itu seperti Riko?


Bukankah dia sudah memiliki kekasih?


Lantas, maksud ucapannya tadi apa?


Karena matanya tak kunjung mu terpejam, ia lantas keluar rumah malam itu. Hatinya sepi. Ia memantik sebatang rokok, dan menghisapnya. Malam begini tak akan ada yang melihatnya merokok pikirnya.


" Belum selesai juga?" ia bergumam saat melihat cahaya lampu di lapangan itu masih terang benderang.


Fina mematikan rokok yang baru saja ia sulut, ia agaknya masih memerhatikan integritas neneknya di desa itu sebagai orang baik.


Dan entah karena dorongan apa, Fina berjalan ke lapangan itu. Lapangan yang sudah lebih dari delapan puluh persen pengerjaan itu, terlihat menarik perhatian Fina.


Cahaya lampu yang masih menyala membuat Fina melangkahkan kakinya ke lapangan itu, namun ia terkejut demi melihat lapangan yang kosong melompong, tak separuh manusia pun yang nongol disana.


" Pemborosan sekali, kenapa lampunya tidak di matikan?"


" Atau mereka lupa?" Fina berjalan seraya terus bergumam.


Anak Guntoro itu terlihat duduk di bale bambu yang ada di sana. Sepertinya memang di sediakan untuk para pendukung maupun warga yang akan menonton turnamen nanti.


Fina lupa gak mengenakan jaket malam itu, ia memeluk dirinya sendiri karena angin yang terasa menusuk kulit, tapi entah mengapa Fina malah menikmati kesunyian itu dengan tenang.


Tak pernah membayangkan bila ia akan ada di desa itu. Hatinya hancur, pria yang ia cintai berkhianat. Hubungan antara ia dan kedua orangtuanya meredup.


Fina menitikan air mata. Meresapi Titian takdir yang kadang membuatnya menyalahkan Tuhan.


Dengan seorang diri, dengan tak terhibur Fina menangis di lapangan itu. Apa yang ia miliki nyatanya tak bisa membantunya untuk bahagia.


" Kamu, kenapa disini?" suara berat pria mengejutkan Fina.


" Kamu...!"


.


.


Pandu


Ia sebenarnya sengaja membiarkan lampu lapangan itu menyala karena ia memang belum memungkasi pekerjaannya. Ia tadi pulang sebentar karena mengantarkan salak untuk Ayu. Karena takut akan keburu tertidur.


Karena ia masih memiliki tanggungjawab untuk membereskan sisa perlengkapan di lapangan, pria itu memutuskan untuk kembali ke lapangan namun tanpa menggunakan motor.


Ia menyadarinya suara bising motornya, akan sangat menganggu. Apalagi, saat itu sudah terlampau malam. Pria itu berjalan kaki sejauh beberapa puluh meter. Pandu berjalan sambil menghisap sebatang rokok.


Tak di nyana, ia melihat seorang wanita yang terutnduk. Siapa pikirnya malam-malam begini yang ada di lapangan.


" Kamu kenapa disini?" ucap Pandu yang mengetahui bila itu adalah Fina. Pandu bisa melihat pakaian yang sama yang di kenakan Fina saat datang ke lapangan saat masih banyak orang tadi.


" Kamu?" Wanita itu malah terlihat terperanjat dengan kehadirannya.


.


.


Pandu menghisap rokoknya seraya duduk di samping Fina. Ya, tanpa sengaja malam itu menjadi kali pertamanya mereka berdua mengobrol secara wajar dan normal.


" Kenapa cuma kamu sendiri yang balik kesini?" tanya Fina menatap wajah Pandu. Benar-benar tampan.


" Aku tadi ijin pulang dulu, bawa balik salak buat Ayu!"


" Udah bagi tugas tadi sama anak-anak!"


Seketika hati Fina mencelos " Pasti yang di maksud wanita itu. Jadi namanya Ayu?" gumamanya dalam hati.


" Aku tinggal beresin sisanya!" imbuh Pandu kemudian.


" Pacar kamu suka salak ya?" Fina langsung mengatakan hal itu demi kelegaan hatinya.


Pandu langsung menatap wanita di sampingnya itu, dengan sahut berkerut. " Pacar?" tentu saja Pandu terkaget-kaget.


" Ehhmmm, tadi kamu bilang salak buat kesayangan kan?" Ini gila, dengan tidak tahu malunya Fina malah kepo.


Pandu tergelak " Aku gak ada pacar!"


Kini ganti Fina yang tergelak. Membuat Pandu menatap Fina lekat. Wanita itu cantik kalau tersenyum. Sangat berbeda jika menyuguhkan raut wajah ketus.


Fina langsung terdiam dan meneguk ludahnya seketika. Jadi, wanita cantik kemaren itu adalah adiknya. Kenapa pemikirannya sedangkal itu?


Bukti nyata bila Fina selama ini kerap menyimpulkan sesuatu terlalu cepat, dan malah membuatnya rugi.


" Jadi..." Fina merasa lega namun juga malu.


" Memangnya kenapa?" kini Pandu yang penasaran.


" Enggak ada, ya soalnya pria macam kamu pasti..."


" Pria macam aku gimana?"


" Ah sudah lah, jadi adik kamu kenapa? kemarin aku lihat kamu bantu dia jalan, lagi sakit? kalau sakit kok kamu kasih salak?" Fina makin terbawa obrolan yang terasa menyenangkan.


" Adikku gak bisa ngelihat!" ucap Pandu tersenyum kecut.


Deg


Dalam kurun waktu bersamaan, Fina merasa bersalah sekaligus tak enak hati. Apa dia tidak salah dengar.


" Maaf, aku tidak tahu!" Fina mendadak sungkan.


" Tidak apa, kemaren untuk pertama kalinya adikku mau keluar!"


Pandu lantas menceritakan semua yang di alami ayu, mulai dari kronologi awal, hingga ayu yang mendadak mau berubah, entah mengapa pria itu mau membagi sepenggal kisah pelik dalam hidup adiknya itu kepada Fina.


Ya, Pandu hanya ingin mengurangi sesak di dadanya. Tentang transplantasi Kornea, dan juga kemustahilan menemukan orang yang mau mendonorkan matanya.


Fina tertegun, ada banyak hal yang baginya sepele namun berarti untuk orang. Ia yang selama ini kerap mengeluh dalam keadaan lebihnya, seolah tertampar dengan cerita Pandu.


" Sory, aku udah banyak bicara?!" Pandu mendadak insecure, takut bila Fina il'feel kepadanya.


Tapi agaknya, Fina malah senang dan tekun mendengar cerita Pandu.


" Aku turut prihatin ya, tapi aku juga seneng denger adik kamu udah gak mengurung diri lagi!" Fina tulus mengucapkan hal itu.


Kini tanpa terasa, sepenggal cerita dari pandu membuat dirinya bersyukur lantaran memiliki organ yang lengkap dan sehat.


Pandu melepaskan jaketnya dan memberikannya kepada Fina yang memeluk dirinya sendiri sedari tadi.


"Lain kali pakai jaket, udara di desa tak sama dengan di kota!" Pandu menutupi tubuh Fina dengan jaketnya.


Fina terperanjat dengan tindakan Pandu yang membuat degub jantungnya tak normal. Jaket itu mengeluarkan aroma khas dari tubuh Pandu. Membuat gelenyar aneh dalam jiwanya bangkit.


Fina grogi.


" Kamu jadi kedinginan dong?" Fina menatap Pandu yang hanya mengenakan kaos hitam yang fit dengan ukuran tubuh kekar Pandu. Otot lengannya terlihat besar dan liat.


Malam-malam begitu di suguhi pemandangan menggiurkan, sungguh membuat otak Fina berkelana nakal.


" Aku udah biasa. Kamu kok bisa ke desa kenapa?" Pandu memberanikan diri untuk bertanya karena ia merasa Fina sudah tak semenakutkan saat awal berjumpa.


Fina tertegun, Mustahil dia menceritakan sebab musababnya di asingkan ke desa. Apalagi soal Riko, no way!


" Emmm, Oma sendiri, dan aku ingin menemani Oma disini beberapa waktu!" ucap Fina meringis. Dia berbohong.


Pandu mengangguk "Orang tua sering merasa kesepian di usia senja mereka. Karena anak pasti memiliki pilihannya sendiri!" Pandu berkata dengan tatapan menerawang.


Itulah salah satu alasan dirinya tak mau meninggalkan Ambarwati untuk merantau.


" Banyak waktu kita terbuang karena ambisi. Waktu yang bisa kita gunakan dengan bijak kadang malah hilang begitu saja, tak jarang antara anak dan orang tua baru bisa bertemu saat salah satu dari keduanya sudah menjadi jasad!"


Pandu berkata seperti itu demi mengingat pekerjaan ayah sambunnya yang kerap memakan waktu untuk tak bertemu, dan harus di bayar dengan perpisahan yang seperti itu. Perpisahan yang benar-benar terasa merugikan.


Fina tertegun seraya meneguk ludahnya. Apa yang di ucapkan Pandu itu benar. Ia ingat akan temannya yang selama ini pergi ke luar negri dan menghabiskan waktu untuk bekerja di sana, dan terpaksa pulang saat ibunya dinyatakan meninggal karena sakit.


Benar-benar sebuah kesia-siaan.


Hati Fina lagi-lagi tertampar dengan ucapan Pandu, apalagi ia saat ini masih merajuk dengan kedua orang tuanya.


Tanpa senagaja air mata Fina lolos begitu saja, membuat Pandu panik.


" Fin, kamu kenapa?" Pandu tentu saja cemas. Apa ada kata yang menyakiti Fina.


" Aku minta maaf kalau ada ucapanku yang salah, aku..."


" Ucapan kamu benar. Kadang waktu kita terbuang sia-sia karena ambisi!" Fina menatap Pandu dengan deraian air mata di wajahnya.


Pandu menatap nanar Fina yang sepertinya menyembunyikan sesuatu. Pandu menatap Fina lekat, dan tak sengaja pandangan mereka bertemu.


Senyap beberapa detik


Kagum dalam kesunyian yang menyeruak.


Dan malam itu, menjadi titik balik Fina dalam menjadi orang yang lebih mensyukuri apa yang ia miliki.


Termasuk orang tua.


.


.


.