
Bab 175. Kesempitan dalam kesempatan sial
.
.
.
...πππ...
Rarasati
Malam ini ia off dan tak bekerja ke cafe La Amor. Ia memang hanya akan datang saat satnight atau malam Minggu saja.
Seperti biasa, saat hendak menjalankan misinya, ia selalu mengunci pintu rumahnya dari luar. Memastikan jika Bapaknya akan baik-baik saja dan tak tahu jika dia pergi.
" Maafin Rara Pak, tapi kalau Rara enggak begini, orang itu enggak akan mau membayar uang kita!"
Sudah dua bulan ini ia tekun berusaha meneror orang yang menipu Bapaknya. Caranya pun beragam. Mulai dari memalak, mencopet uang milik orang itu, hingga melempari rumah pria itu dengan batu.
Ia sengaja mengambil apapun yang menjadi haknya itu, demi pengobatan bapak. Meski anggapan orang kepadanya, tak berbanding lurus dengan apa yang ia lakukan.
Ia masa bodoh akan hal itu. Yang di lakukan hanya fight untuk kelangsungan hidupnya. Dan untuk urusan pandangan orang lain, sungguh...ia tidak mau ambil pusing.
Yang jelas, dalam menjalankan aksinya, Rara terbilang bermain rapi. Ia tak melibatkan siapapun kecuali targetnya.
Persetan dengan dunia yang memandangnya sebagai apa. Yang jelas, selama ini ia sudah berusaha meminta uang Bapaknya dengan cara baik-baik, namun dari segala ikhtiar yang ia lakukan itu, rupanya sama sekali tak menemui titik terang.
Seperti biasa. Ia mulai bergerak saat malam tiba. Saat ini ia hendak mengambil sesuatu yang bisa di ambil. Menurut Rara, hanya ini cara yang bisa ia lakukan agar ia bisa mendapatkan hak yang seharusnya memang menjadi miliknya.
Namun, saat ia hendak berjalan ke arah barat, matanya di kejutkan dengan beberapa pria yang berlari ke arahnya.
Apa-apaan ini? Mengapa mereka seolah mengejarnya juga? Sialan!
Ia memaki dalam hati demi melihat dirinya yang bahkan kini juga sudah membalikkan badannya. Tersugesti mendadak.
Namun, saat ia sudah hendak melakukan ancang-ancang, sebuah tangan kokoh dan berjari besar terlebih dahulu menariknya. Astaga!
"Eh siapa Lo!!!" Ucapnya di sela-sela kebingungan yang melanda. Dari tempatnya bebalik langkah, ia bisa melihat seroang pria dengan Hoodie hitam bertuliskan Billabong di bagian depannya itu berlari lurus, sementara dirinya yang di tarik oleh pria itu berjalan ke arah selatan.
Astaga bagaimana ini? Mengapa mereka berpencar?
" Woyyyy!!! Berhenti kalian!" Ucap salah seorang pria yang mengejar mereka.
Ia sempat menoleh sesekali demi melihat dua pria bertubuh besar yang kini mengejarnya tiada jemu.
" Percepatan langkahmu, ayo cepat!" Ia terperanjat seraya mencoba memasang telinganya betul-betul, saat telinganya menangkap gelombang suara yang tak asing itu.
" Dia??"
.
.
Yudha yang tanpa perencanaan apapun itu, secara spontan menarik lengan Rara karena sejujurnya ia juga terkejut. Ia berlari tunggang langgang demi menghindari kejaran pria yang masih belum ia ketahui siapa itu.
" Dasar Rafi sialan!" Ia sempat mengumpat demi mengingat jika semua ini terjadi akibat kecerobohan temannya itu.
Brengsek!
Beruntung Rara berlari juga sangat cepat. Membuatnya tak kesulitan untuk kabur. Harus ia akui, wanita itu benar-benar luar biasa.
Definisi dari serigala betina.
Tangan mereka berdua masih saling bertaut sepanjang mereka berlari. Kini, Yudha melihat sebuah gang sempit yang gelap dan sepertinya cocok di jadikan tempat persembunyian.
" Sebelah sini!" Yudha dengan tekun, masih menggenggam lengan Rara secara tidak sadar. Ia bahkan juga gak tahu, mengapa secara spontan ia malah menarik Rara dan kini membuat wanita itu turut terjebak bersamanya.
Yudha kini melepas maskernya yang membuatnya ngap. Mata Rara mendelik saat itu juga demi melihat jika prediksinya sangatlah benar.
Pria itu lagi?
Tapi...untuk apa malam-malam begini ia kejar-kejaran dengan seseorang.
" Kamu!" Ucap Rara sembari mengatur nafasnya yang kembang-kempis.
" Ngapain kamu kejar-kejaran begini sih?" ucap Rara yang benar-benar belum bisa memecahkan rantai kebingungan yang membelenggunya.
" Psssst!" Yudha langsung membekap mulut Rara dengan tangannya, saat wanita itu berbicara dengan suara yang agak kentara.
Membuat wajah wanita itu kini hanya terlihat dua bola matanya saja.
" Diam! Mereka lagi nyari kita!"
" Jangan bicara dulu!" Ucapnya sambil mengintip ke arah luar dengan napas yang masih ia atur dengan susahnya.
Gang sempit itu membuat mereka benar-benar tak berjarak. Dua benda kenyal milik Rara kini bahkan berbenturan manja dengan dada bidang milik Yudha.
Ah pasti terasa sedap sekali!
Rara yang merasa dadanya bersentuhan dengan tubuh Yudha seketika merasakan sensasi aneh.
" Ini!" ucap Rara kesal dengan mulut tak bersyarat, seraya menunjuk ke arah payu*daranya yang kini tergencet dada bidang Yudha.
" Pssstttt, udah diam dulu!" Ucap Yudha dengan suara yang nyaris tak terdengar, hanya bibirnya saja yang terlihat komat- kamit.
Membuat Rara mendengus. Benar-benar kesempitan dalam kesempatan yang sialan!
Mereka berdua berdiam dengan waktu yang lumayan lama. Dua pria tadi masih mondar-mandir seraya mencoba membuka satu persatu rongsokan yang ada disana.
Membuat dua manusia beda gender itu , kini dilanda ketegangan. Rara menatap Yudha berusaha mencari jawaban, harus bagaimana sekarang?
Tanpa mereka sadari, mereka kini saling menatap. Yudha yang juga tak sengaja mengarahkan pandangannya sedikit menunduk, malah kini stuck dan seolah terhipnotis dengan dua bola mata indah milik Rara.
Oh sial!
" Sialan, kemana mereka. Si bos bisa marah kalau sampai mereka kabur!" Ucap dua orang pria yang mengejar mereka itu.
Dalam pengapnya gang lembab dengan bau lumut itu, Rara kini benar-benar bisa menghirup aroma maskulin Yudha yang mengusik hidungnya.
Sesekali Yudha masih tekun mengingatkan Rara agar diam dengan meletakkan jari telunjuknya di depan bibir lembabnya. Berharap Rara tak lupa, jika dia manusia itu masih riwa-riwi di sekitar sana.
Rara mengangguk dan menepikan segala ego yang ada. Meski saat ini ia tak tahu alasan apa yang membuat pria itu di kejar- kejar oleh seseorang, bahkan turut menyeret dirinya itu.
Dasar!
Dari temaram cahaya yang menembus celah sempit rombong rusak itu, Yudha bisa melihat wajah manis Rara yang kini lekas di tumbuhi buliran keringanan.
Entah mengapa, Rara terlihat sangat manis dengan wajah tegang seperti itu. Membuat Yudha lupa, jika ia sedang memiliki persoalan rumit soal jabang bayi dalam rahim Hesti.
" AAAAAAA!" Rara berteriak dan langsung memeluk Yudha seraya berjingkat ketakutan, demi melihat seekor ulat bulu yang merambat di lengan jaketnya.
Yudha bahkan masih sempat merasakan dua benda kenyal itu menggesek- gesek dadanya yang menimbulkan percikan api gelora. Sialan!
Membuat Yudha mendelik . Jika Rara berteriak begini, jelas mereka akan ketangkap.
Damned!!
.
.
.