Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 119. Kenyataannya memang begitu



Bab 119. Kenyataannya memang begitu


^^^" Sikap merelakan terkadang lebih bisa mengurangi beban di hati !"^^^


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Kota X


***


Pandu


Jakunnya sampai naik turun demi menahan sesuatu hal yang cukup membuatnya menahan emosi kala Riko mengatakan hal itu. Tapi nurani masih bisa memberinya kebijaksanaan untuk bersabar.


" Aku ingin bertemu ibu sambungku, dimana dia!" Riko ngeloyor masuk dan menabrak pundak Pandu. Suaranya terdengar sok-sokan.


Mau cari gara-gara dia!


" Berhenti!" Ucap Pandu dengan tatapan masih tertegun ke arah luar. Kini, baru saja ia mensugesti diri untuk bersabar namun mendadak kesabaran itu terkikis oleh tingkah Riko.


" Ibu...atau..aku panggil Bibi?" Suara Riko terdengar makin pelan, jelas menandakan jika pria itu sudah masuk ke kamarnya. Oh sial!


" Riko berhenti!!!" Pandu berteriak penuh kegeraman. Dan suaranya itu sukses membuat langkah kaki Riko terhenti.


Dua bersaudara itu saling mengeraskan rahangnya sembari menahan gejolak murka di hati masing-masing. Riko terlihat mengangkat sebelah alisnya sembari berdiri menunggu suara langkah kaki yang lekas mendekat.


" Pandu ada ap...." Ia juga mendengar suara Ibu yang pasti saat ini terkejut demi melihat kehadiran Riko.


Pandu membalikkan badannya dan masuk mengikuti Riko yang terlihat diam mematung dengan tatapan kosong. Ia menatap wajah Riko dari samping, menepikan keterkejutan ibunya yang berada di ambang pintu kamar mandi.


" Apa kau tidak lelah mengganggu hidup kami, huh?" Pandu mencengkeram kerah baju Riko.


Riko tersenyum menarik sudut bibirnya dengan sombong.


" Pandu!!!!" Ibu berteriak saat melihat dua saudara yang saling menatap sengit itu.


" Pandu jangan nak!" Ia bisa merasakan aura kekhawatiran ibu.


Riko menggenggam tangan Pandu dan melepaskan tangan kakak dari lain ibu itu degan kasar. Membuat Pandu mati-matian menahan emosi dengan napas memburu.


Keduanya saling menatap bengis dengan sorot mata sengit.


" Aku cuma mau mengatakan sesuatu...."


Pandu menahan napasnya yang kian memburu, seiring dengan emosinya yang kian membuncah.


" Kau tidak akan pernah mendapatkan secuil pun harta milik Papa. Meski kau memang terlahir dari benih Papa!" Riko menatap tajam Pandu, membuat Ibu kini menangis dengan tubuh bergetar.


" Kau terlahir tanpa legalitas. Jadi kau tidak akan bisa menuntut apapun !" Riko tersenyum licik.


Lihatlah! Betapa picik dan dangkalnya pemikiran Riko. Ia bahkan tak mengharap sedikitpun harta dari pria yang bahkan tak memikirkan nasib mereka selama ini.


Padahal, dalam pikiran Pandu tidak pernah terbesit untuk mengurus hal itu. Ia sudah mati rasa kepada pria bernama Hartadi.


" Aku tida butuh apapun dari kalian!" Pandu menatap lekat dua netra Riko dengan kilatan api kemarahan di bola matanya.


" Oh ya?" Riko melipat kedua tangannya ke dada.


" Dengar Riko! Kau sudah salah besar jika mengira aku akan meminta warisan atau apapun dari Bapak yang tidak berguna macam Hartadi!"


"Aku tidak tertarik!"


Riko sempat melepas lipatan tangannya dan menatap geram Pandu yang menyebut papanya dengan sebutan Bapak tidak berguna.


" Makan saja harta kalian itu sampai perut kalian meledak! Aku tidak peduli!" Pandu menekan perkataan di akhir kalimat. Ia terlalu muak.


Ibu hanya bisa menangis kala menyaksikan kejadian menyayat hati itu. Sungguh, jika ia boleh memilih , ia ingin terlahir dari benih orang lain, bukan dari Hartadi.


Riko lalu enyah dari hadapan Pandu tanpa basa-basi lagi. Namun saat berada di ambang pintu ia berhenti dan berbalik. Seperti teringat sesuatu.


" Sampai jumpa Ibu ..!" Riko menyeringai menatap Ibu yang masih tekun menyusut air matanya. Ia hanya bisa menahan geram saat Riko melenggang pergi dengan tersenyum licik.


Bajingan!


.


.


Ia berniat menemui Pandu pagi itu ke hotel lantaran ia ingin menyerahkan berkas penting. Namun, saat ia melihat pintu kamar yan terjeblak dan suara ribut dari dalam, ia menghentikan langkahnya.


"Aku cuma mau mengatakan. Kau tidak akan pernah mendapatkan secuil pun harta milik Papa. Meski kau memang terlahir dari benih Papa!"


" Kau terlahir tanpa legalitas. Jadi kau tidak akan bisa menuntut apapun !"


Ia merasa geram saat mendengar suara seseorang yang terdengar familiar di telinganya. Kenapa pria itu tidak mati saja?


" Aku tida butuh apapun dari kalian!"


Ia menarik nafasnya kala mendengar suara Pandu yang emosional. Sungguh ia kasihan dengan pemuda itu.


"*Dengar Riko! Kau salah besar jika mengira aku akan meminta warisan atau apapun!"


" Aku sama tidak tertarik !"


"Makan saja harta kalian itu sampai perut kalian meledak! Aku tidak peduli*!"


Tangan Bayu terkepal, entah mengapa ia menjadi ingin melindungi Pandu. Meski mereka baru mengenal, tapi jujur dari relung hatinya yang terdalam ia merasa Pandu seperti anaknya.


Tatapannya kini beralih saat Riko keluar dengan setengah terkejut kala melihat dirinya. Pria itu terlihat membetulkan kerja bajunya, lalu melenggang pergi tanpa menyapa Bayu.


Pria sialan!


.


.


Ambarwati


Kata-kata Riko yang telak memukul harga dirinya sebagai wanita benar-benar membuatnya sedih. Riko benar, Pandu yang malang memang terlahir tanpa legalitas. Untung saja Pandu terlahir sebagai pria, jika sebagai wanita tentu akan makin mempersulit kehidupannya kelak.


Ia merasa dirinya begitu kotor saat ini.


" Ibuk gak usah nangis, Pandu gak apa-apa!" Pandu mengusap air matanya menggunakan ibu jarinya.


" Mau Riko mengatai Pandu seperti apapun, Pandu enggak akan tumbang buk. Udah...yang penting setelah ini setelah urusan kita beres, kita pulang!"


Luar biasa!


Sosok yang harusnya ia hibur, kini malah justru menghibur dirinya. Ia bersyukur memiliki putra seperti Pandu. Pria tegar yang penuh rasa tanggung jawab.


" Pandu!" Ucap Bayu yang membuatnya menoleh ke depan, pun dengan Pandu. Sejak kapan pria itu datang pikirnya.


" Pak Bayu!" Pandu berdiri dan menyambut kedatangan pria dengan kumis tipis itu.


Ia makin terisak kala melihat Bayu berada di tempatnya dengan keadaan seperti ini. Malu sekali.


" Kalian tidak apa-apa?" Oh astaga, pasti Bayu telah mendengar semuanya. Ia sangat merasa kerdil saat ini.


" Aku kemari ingin mengantar ini, nomermu susah aku hubungi!" Ia mempercepat gerakan tangannya saat mengusap sisa air mata itu.


" Astaga, terimakasih banyak Pak!" Pandu meriah sebuah map coklat.


Suasana canggung mendadak tercipta, ia malu saat Bayu kini melihat dirinya yang kacau usai di satroni oleh Riko.


.


.


" Kamu mau pergi kemana Ndu?" Bayu melihat Pandu yang sudah rapi seperti hendak mau pergi.


" Oh astaga!" Pandu memijat keningnya, ia bahkan lupa jika telah berjanji untuk menemui Fina.


" Pak, saya nitip ibu saya sebentar bisa tidak? Saya ada janji sama.."


" Fina?" Tebak Bayu cepat seraya tersenyum penuh arti.


Pandu mengangguk.


" Laksanakan tugasmu nak!" Ia menepuk pundak kokoh Pandu dengan penuh keyakinan. Membuat Pandu tersenyum lega.


" Biar aku juga melaksanakan tugasku!" Ucapnya dalam hati penuh rasa syukur.


Cihaaaa!