Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 115. Keresahan Damar



Bab 115. Keresahan Damar


^^^" Hari selalu berjalan berjalan lengkap dengan sial dan keberuntungan!"^^^


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Ajisaka


Jika diibaratkan elemen alam semesta. Aji bagaikan api yang berkobar. Pria itu mudah sekali tersulut emosi. Apalagi jika mengenai hal-hal pribadi.


Seperti siang ini contohnya, hatinya dibuat mencelos kala melihat sosok bibi Arning yang telah menunggunya di depan rumahnya. Duduk memangku sebelah kakinya sambil bermain ponsel.


Mau apa lagi dia?


Dengan terus mendecak kesal, ia menarik tuas handbrake itu lalu diam sejenak. Terlalu malas jika harus meladeni wanita itu saat ia sibuk seperti ini. Dari dalam mobil, ia bisa melihat jika bibinya itu kini menyambut kedatangannya.


Bibi Arning merupakan anak dari adik kakeknya dari pihak ibu. Apa sebutannya jika begitu? Ibunya dan bibinya itu merupakan saudara sepupu begitu?


Haish, mau tidak mau ia harus turun juga.


" Aji! Kamu dari mana saja sih? Sudah hampir empat hari bibi kemari kamu nggak ada!"


Sambutan bercampur berondongan pertanyaan itu kian membuat Ajisaka tak senang. Aji memang tak pernah suka dengan bibinya itu.


" Aku ada urusan!" Ketus Aji.


"Ada apa bik?" Ia melepas kemeja flanelnya lalu mencampakkannya, sejurus kemudian ia duduk di sebuah kursi yang ada di depan. Persis di samping bibinya. Tak mau mengajak wanita itu masuk ke dalam. No way!


" Kamu ini...Ini bibi bawakan kamu kare ayam!" Wanita itu mengangkat sebuah rantang dan menaikkannya ke atas meja yang berada diantara keduanya.


Cih, jelas itu upeti.


Aji diam tak menjawab. Ia bisa makan dimana saja sebenarnya. Tak perlu repot-repot seperti ini jika ujung-ujungnya pasti akan meminta sesuatu. Lagu lama!


" Ji, kamu ini pria sibuk. Sudah waktunya kamu ini punya istri biar ada yang mengurus ka...!"


" Kalau bibi kesini cuma mau bahas itu dan itu lagi, mending bibi pulang!" Ia tak bisa lagi menahan kejengkelannya atas sikap memaksa bibinya itu. Aji tak pernah takut disebut pria kurang ajar. Ia memiliki prinsip sendiri.


Dari dulu, ia sudah terbiasa hidup fight sendiri.


" Deng....!"


" Aji bisa ngurus diri Aji sendiri kok bik. Oh ya... terimakasih untuk makanannya. Maaf Aji masih banyak banget gawean!" Pria itu berdiri dan meninggalkan bibinya begitu saja.


Lagi-lagi ia harus memotong ucapan bibinya itu. Meski tak jarang, ia merasa jika dirinya tengah menjadi anak kurang ajar karena dua kali menyela ucapan wanita itu, namun agaknya hal itu memang perlu dilakukan.


Bibinya sering memaksa dirinya untuk mengenal wanita-wanita yang menurutnya berkelas.


" Aji dengar bibi dul..."


BRAK!!


Ia menutup pintu itu dengan kasar dan keras. Membuat Arning tersentak dari tempat duduknya.


Aji memang emosional.


.


.


Widaninggar


Ia sampai di rumahnya bersama Bapak. Kaget karena melihat ibunya yang keluar dengan raut cemas. Jelas ada masalah.


" Ibuk kenapa? Ia bertanya sambil melepaskan helmnya.


" Damar gak ada dirumah Wid!" Seru Ibu dengan wajah panik.


" La dimana kok kamu bisa gak tahu, kamu ketiduran pasti!" Kini suara Bapak terdengar menyalahkan Ibu.


Anak itu. Dimana Damar?


" Kakung udah pulang?"


Saat semua orang tengah membicarakan Damar, bocah itu nongol dengan wajah nyengir.


" Damar kamu dari mana aja?" Biji matanya bahkan telah membulat demi melihat Damar yang entah dari mana.


" Kamu itu...!"


" Wida!" Bapak menahan dirinya untuk tidak memarahi Damar. Bapak menggelengkan kepalanya sebagai tanda peringatan.


.


.


Damar


Langkah kecilnya ia paksa untuk berjalan lebih cepat. Takut jika ibunya tiba lebih dulu dirumah. Jelas akan membuat semuanya makin runyam.


Jari manis kakinya agak lecet terkena tanah dan kerikil tadi. Tapi tidak apa lah, toh nanti juga kering sendiri.


" Aduh, apa itu Ibu?" Ia bergumam sambil berjalan dengan langkah yang makin cepat saat melihat dua orang yang berhenti di depan rumah Kakung. Dan benar saja, dari kejauhan, ia melihat Ibu telah turun dari boncengan Kakung.


Habislah dia.


Ia melihat ketiga orang dewasa itu berbincang degan raut wajah serius. Tapi, pandangannya kini bertumbuk Pada Kakung. Pria itu jelas akan menjadi dewa penolong untuknya.


" Kakung udah pulang?" Ia mencoba membuat suara se-riang mungkin. Dari suara yang terdengar sayup-sayup, ia bisa menyimpulkan jika semua orang tengah mencarinya.


Namun, ia justru menangkap kilatan emosi yang bercampur kekhawatiran dari bola mata Ibu. Mati aku!


"Damar kamu dari mana aja?" Suara ibu meninggi. Jelas ini salahnya.


" Jangan pergi-pergi dulu. Dirumah sama Uti dulu ya. Besok kalau ibuk udah dapat uang ibuk bawa pergi beli baju sama mainan!"


Kata-kata peringatan ibunya yang mendadak melintas itu, kini seolah makin membuatnya menyesal. Ia tahu ibu mungkin akan memarahinya. Ia memang nakal, tak mau menurut.


" Wida!" Ia bahkan bisa melihat Kakung yang berusaha melindunginya. Ia menunduk menatap muram wajah ibu yang bersungut-sungut dan kesal. Ia tak tahu mengapa ia tak boleh kemana-mana.


" Sudah-sudah! Damar ayo masuk le!" Uti merengkuh punggungnya dan mengajaknya berjalan masuk. Sesak di hatinya menelusup. Kini, tanpa sengaja ia telah membuat Ibu kesal.


Maaf Ibu!


.


.


Dua hari berlalu. Setelah Jum'at lalu ia menyerahkan berkas, kini ia telah mendapat panggilan untuk survei. Prosesnya lumayan cepat ternyata.


Keesokan harinya, ia bersama Bapak diminta untuk datang kembali ke kantor BPR. Harus bersama Bapak karena pengajuan tersebut atas nama bapaknya. Praktis, penandatanganan dana pencairan itu juga harus dilakukan oleh bapak. Ia hanya sebagai pemohon.


" Tenor tiga tahun dengan besaran pinjam 25 juta, dengan jumlah setoran perbulan tujuh ratus lima belas ribu rupiah ya Pak!" Ucap seorang petugas wanita dengan ramah.


" Mohon untuk tidak terlambat ya Pak!"


Wida duduk di samping bapaknya. Setelah ini, selain ia harus bekerja untuk hidup Damar, ia juga harus mengikat pinggangnya demi kejar setoran.


Beres, uang pinjaman telah cair dan rencananya ia akan mulai membelanjakan untuk usahanya. Semoga ini jalan untuk dirinya bisa menghidupi Damar.


"Kamu jadi daftarin Damar dimana Wid?" Suara bapak yang tersapu angin saat mereka mengendarai motor itu terdengar keras.


" Udah kok Pak. Di TK Kasih Ibu. Yang deket aja Pak, yang penting bisa sekolah!"


.


.


Pagi ini Wida mengajak Damar untuk membeli peralatan tulis juga sepatu di pertokoan yang ada di pasar Kalianyar. Sebab lusa adalah hari perdananya masuk ke pendidikan awal anak-anak itu.


" Buk, aku mau baju Ultraman itu!" Damar menunjuk baju dengan tokoh kegemaran anak-anak itu. Tokoh yang selalu bisa menumpas para monster dan pastinya membuat anak-anak ingin menjadi seperti mereka. Ingin menjadi Hero.


" Boleh, nanti ibu belikan ya!" Wida mengusap lembut rambut anaknya.


Wida meminta Damar untuk mencoba sepatu dengan berbagai model. Entah sudah sepatu ke berapa ini yang ia jajal.


" Yang lebih murah ada pak? Atau yang model begini tapi yang nomer 25?" Wida harus berhemat dan menekan pengeluaran sekecil mungkin. Uang yang ia dapat dari pinjaman bank tak boleh serta merta ia habiskan untuk berbelanja. Uang itu untuk modal usaha, bukan untuk foya-foya.


Damar diam seraya mengerucutkan bibirnya. Ia lelah karena bolak balik menjajal sepatu, tapi ibunya masih saja belum mendapatkan harga yang cocok.


Damar lebih memilih untuk duduk agak menjauh dari tempat ibunya berdiri. Ia capek. Dan saat ia masih sibuk dengan kekesalannya, ia dikejutkan oleh suara seseorang.


" Loh kamu kan yang kemaren hampir saya tabrak, kamu sedang apa disini? Kamu sendiri?"


Suara pria itu membuat Damar membulatkan matanya. Bukan karena apa-apa. Ia takut jika pria itu akan mengatakan kepada Ibu kalau dia hampir saja celaka pagi jelang siang tempo hari.


Oh tidak. Please om jangan bilang-bilang ya om?


.


.


.


.