
Bab 25. Terasa bahagia saat jumpa dengan dirinya
^^^" Cinta memang unik, membuat yang sedang dalam keadaan sepi bereuforia. Dan membuat yang dalam keramaian, merasa terasingkan!"^^^
...☘️☘️☘️...
.
.
.
Mendung yang menutupi hati Fina seolah tersuluh oleh cahaya kejujuran dari ucapan Pandu. Sekilas, Pandu rupanya merupakan pria yang sarat dengan bahasa baik, pria itu juga kaya akan serapan kata-kata bijak.
" Sudah malam, sebaiknya aku antar!"
Fina menatap pria itu keki. " Dekat kok, gak usah. Aku berani!" Fina benar-benar tak percaya diri. Ia meringis saat mengucapkan hal itu.
" Baiklah, cepatlah tidur. Jangan sampai Bu Asmah mengguyurmu dengan air di teko lagi!" Pandu terkekeh, membuat Fina makin malu.
" Terimakasih sudah mau jadi teman bicara!" Fina pamit kepada Pandu. Sejenak mereka saling pandang. Kecanggungan memudar saat Pandu menganggukkan kepalanya, tanda menyetujui ucapan Fina
Jarak rumahnya memang hanya berkisar empat rumah dari para tetangga neneknya. Membuat Fina menolak tawaran Pandu. Akan sangat aneh lagipula.
Pandu langsung membereskan beberapa peralatan seperti kabel oler, dan sisa papan yang harus ia bawa pulang kembali, saat ia sudah melihat Fina yang lekas berjalan.
Fina sempat menoleh sebentar, sebelum ia melangkahkan kakinya menuju rumah neneknya.
Jaket Pandu yang ia kenakan kini ia genggam dengan erat. Fina menyukai wangi jaket itu
" Ah Pandu, kurasa aku suka sama kamu!" ucapnya dalam hati sembari tersenyum senang. Kini, ia pasti tak bisa tidur lagi. Bukan karena hati yang dongkol. Tapi karena perasaan lain.
Jatuh cinta mungkin.
...☘️☘️☘️...
" Fin..Fina!" Dita menepuk pipi sahabatnya itu.
" Fina!!!"
" Emmmm!" Fina melenguh sambil terus memejamkan matanya. Kantuk masih menyerangnya. Lantaran gadis itu baru bisa memejamkan matanya saat pukul 3 dinihari.
Ia sibuk mencicil lukisan wajah Pandu yang agak sulit ia torehkan.
" Ih anak ini, buruan bangun. Antar aku, udah mau jam tujuh ini!" Dita mendengus kesal. Sahabatnya itu tidur seperti kebo.
" Apa?" Fina langsung membuang selimutnya karena terkejut.
Dita hanya mendengus kesal. Benar-benar TuTi ( Tukang Tidur), " Makanya pasang alarm Fin. Gak lucu kau telat di hati pertama.
" Bentar- bentar, lima menit aja. Gak lama kok beneran!" Fina dengan terburu-buru langsung masuk ke kamar mandinya.
Dita hanya menggelengkan kepalanya, sahabatnya itu benar-benar belum berubah sama sekali.
.
.
" Oma pikir kamu tinggal disini Dit. Gak taunya malah pergi!" Bu Asmah bermuram durja, demi melepas Dita yang akan bertugas di Puskesmas Karanganyar mulai hari ini.
" Iya Oma, maaf ya. Nanti Dita kalau libur bakal sering-sering kesini kok!"
Dita tentu merasa tak enak jika harus tinggal disana. Belum lagi, sebagai gadis muda tentu ia memiliki privasi lain.
Jarak Puskesmas Karanganyar dengan rumah Bu Asmah berkisar lima sampai enam kilometer. Masih di kecamatan yang sama, namun letaknya agak menuju kota.
Usai saling melepas pelukan, kini Dita bersama Fina tengah dalam perjalanan. " Gue gak bisa nungguin elu Dit, hari ini gue musti nungguin orang nimbang padi di sawah!" ucap Fina sembari fokus di kemudi bundarnya.
" Iya, gapapa. Gue seneng Fin, elu mau bantu nenek elu. Gue heran tapi, papa elu kan kaya, kenapa nenek elu gak mau ikut ke kota aja ya?"
Fina terdiam, akankah bila dia suatu saat nanti menikah ,orang tuanya juga mau ikut dengannya?
" Semua orang punya alasan khusus dalam bersikap Dit. Oma lebih bahagia jika di desa mungkin, so far sih aku juga makin lebih baik disini!"
" Soal Riko?" Dita langsung menyahuti. Ia menebak bila Fina sudah bisa move on.
" Gak cuma itu aja, gue udah mulai bisa maafin Papa sama Mama Dit. Gak semestinya juga gue bertindak bodoh. Si Riko gak pantes juga gue tangisin!"
" Hidup gue terlalu berharga buat nangisin cowok macam dia!"
Fina berkata seperti itu, lantaran ia teringat dengan ucapan Pandu semalam. Hati Fina saat ini benar-benar dalam keadaan baik.
" Bagus deh, tapi..kayaknya dia lagi gencar nyariin elu deh. Bertengkar dia sama di Shila kayaknya!" Tukas Dita menatap Fina.
.
.
" Baik- baik ya Dit. Besok gue bakal main ke rumah dinas elu. Tenang, kita hanya berjarak lima kilometer aja!" Fina memeluk Dita dengan kaki yang ia buka lebar. Mengingat Dita memang tidak terlalu tinggi.
" Iya, tenang aja. Mudah-mudahan kinerja gue baik disini. Biar cepat naik terus pindah ke kota lagi!" Dita berucap dengan mata penuh binaran harapan tulus.
" Amin, ya udah ya. Gue pergi. See you!" Fina mencium pipi Dita. Sejurus kemudian mereka saling melambai.
Dita mengiringi kepergian Fina dengan senyum dan lambaian yang tulus. " Baik- baik elu Fin, semoga elu dapat kebahagiaan setelah ini!" gumam Dita. Sebagai sahabat sejati, ia merasa Fina kerap salah jalan.
.
.
Fina
Hati dan moodnya cukup bagus pagi itu. Entah mengapa terbesit ingin mengunjungi Ayu, adik Pandu.
" Tapi apa alasan gue kesana ya?" ia bergumam sembari menyetir seorang diri.
" Jaket Pandu masih belum gue cuci. Masa ia gue balikin gitu aja, ah enggak ah!" ia bermonolog dalam mobilnya.
Sejurus kemudian ia langsung tancap gas dan berniat mencari Oma-nya. Apa dia ada tugas mengambil lontong lagi?
" Udah di bawa Yayuk Fin. Kamu buruan ke sawah, tungguin orang yang nimbang itu. Ini bawa uangnya, kamu kasih upah buruh panggulnya!"
Mendadak Fina lemas. Pupus sudah harapannya bertemu dengan Pandu. Ia akhirnya ke sawah seorang diri dengan menggunakan motor matic yang biasa di pakai Yayuk ke pasar.
Sawah milik Bu Asmah luas. Wanita tua itu mempekerjakan orang di desa itu, untuk menggarap lahan sawahnya. Tanpa di nyana, ia bertemu dengan Ambarwati, ibunya Pandu.
Wanita itu terlihat membawa tas anting, yang berisikan sesuatu. Sepertinya makanan.
" Bu Ambar?" Fina menyalami tangan wanita itu takzim. Membuat Ambar sungkan, karena cucu orang kaya itu mencium tangannya.
" Eh mbak Fina!" Ambarwati merasa kikuk.
" Bu Ambar disini juga?" Fina tersenyum sembari membenarkan rambutnya ke telinga, karena tersapu angin.
" Iya, ngantar ini. Tadi si Yayuk kelupaan!" ucapnya menunjukkan sebuah sambal kacang, dan beberapa sayur rebusan. Sepertinya untuk menu makan siang nanti pecel.
" Mbak Yayuk yang pesen Buk"
"Iya mbak, katanya buatsnnya dari kurang, saya ada kacang tadi dirumah. Jadi saya gak ke pasar hari ini, tapi buat sambal!"
Ambarwati lebih memilih membuat sambal, dan meliburkan diri ke pasar karena upah yang dia dari Bu Asmah dapat lebih banyak.
" Oh begitu, terus ini mau kemana lagi?"
" Saya mau ke mbak Mega di depan sana. Mau tak suruh motong rambut si Ayu. Kemaren dia minta potong. Saya gak bisa ternyata, minta potong pendek. Tapi gak tau mau apa enggak mbak, Ayu malu kalau musti jalan jauh!" Tukas Bu Ambar sungkan.
" Potong rambut?" Fina mengulang ucapan ibu Pandu itu.
" Iya Mbak!"
" Aku bisa kok, tapi aku masih harus nunggu orang- orang selesai itu Buk. Gratis deh gak usah bayar!" Fina nampak antusias seraya terkekeh.
" Wah apa tidak merepotkan?, nanti mbak Fina sibuk!"
" Enggak sibuk Buk, nanti siang Fina ke tempat ibuk ya!"
Tentu saja Fina ngotot ingin kerumah Pandu. Hatinya meronta-ronta ingin melihat wajah pria tampan yang agaknya makin membuat jiwanya gelisah itu.
Entahlah, Fina sendiri belum bisa memastikan. Perasaan aneh apa yang kini membuat dirinya mendadak menjadi orang yang kembali tidak punya malu.
Sebuah perasaan cinta, atau semua itu hanya euforia sesaat yang tak akan bertahan lama?
.
.
.
.
.
.