
Bab 241. Bukti nyata cinta
.
.
.
...πππ...
Pieter
Ia sudah menyukai Anjana sejak dulu. Sejak ia dan Anjana bekerja sebagai satu tim, demi kemajuan perkebunan yang di kelola oleh duda tua yang tak memiliki handai taulan.
Selama ia bekerja di SO Vineyards, ia kerap melayangkan perhatian kecil kepada Anjana, sebagai clue jika ia memiliki ketertarikan kepada wanita itu. Namun, rupanya Anjana sama sekali tidak menunjukkan perasaan yang sama. Ia memahami, sikap Anjana itu merupakan manifestasi dari diri tegas, yang mungkin masih memerlukan sedikit kesabaran darinya.
Namun, kemunculan Sakti yang awalnya membuatnya senang karena membuat tuan Liem menemukan kebahagiaan, nyatanya tak berbanding lurus dengan apa yang ia harapkan kepada Anjana.
Ia bisa melihat dengan jelas bila wanita berambut panjang itu, memiliki perasaan lain yang lebih dari sekedar rasa khawatir kepada tuan mudanya.
Ia keluar dari SO Vineyards sebab tak kuat hati, manakala melihat Sakti saling berciuman bersama Anjana. Perasaannya seketika terbakar api kecemburuan, dan membuatnya sakit hati.
Ia beberapa hari ini mengikuti secara diam-diam kemana Anjana pergi, bahkan sampai ke Kalianyar. Ia bahkan turut menjadi tamu di hotel itu, sebab ingin melihat Anjana. Dan begitu melihat adanya kesempatan, ia tak mau menyia-nyiakan hal itu lebih lama lagi.
Ia ingin membawa paksa Anjana.
Ia yang rupanya sudah kong kalikong dengan anak buah Anjana, yang sama sekali tak memiliki harga diri , sebab telah menggadaikan kesetiaan mereka kepada tuan Liem dengan uang dari Pieter.
Uang benar-benar bisa membuat seseorang gelap mata.
Pieter dengan mudahnya membawa Anjana, sebab nyatanya duit selalu bisa bisa memangkas birokrasi rumit yang seringkali terasa menyebalkan.
Usai menapuk beberapa pekerja hotel dengan lembaran rupiah, ia kini membawa Anjana pergi melesat menggunakan mobilnya.
" Cepat!" Titah Pieter kepada pengkhianat itu. Entah akan kemana meraka setelah ini. Yang jelas, Pieter kini membelai wajah Anjana penuh cinta.
" Maafkan aku!"
.
.
Sakti
Tubuhnya mendadak tegang, dadanya juga panas. " Diculik?" Ucap Sakti dengan wajah yang terlihat serius.
Sementara Aji, Yudha dan Pandu kini saling menatap. Siapa Anjana? Mengapa membuat wajah Sakti seketika pias manakala mendengar jika wanita itu telah di culik.
" Aku melihatnya di kolam, tadi..." Arju menceritakan apa yang ia lihat tadi, secara detail dan gamblang, meski ia sebenarnya juga sangat ketakutan.
"Aku harus pergi!" Sakti berlari dan berniat menemui resepsionis untuk melihatkan CCTV yang ada disana, usai mendengar penuturan mata-matanya itu.
" Tunggu!" Sergah Yudha meminta Sakti untuk berhenti. Membuat pria sableng itu membalikkan badannya.
" Aku ikut!!" Ucap Yudha menatap Sakti serius. Sakti tengah membutuhkan mereka saat ini.
" Tapi kau..!" Sakti merasa ini malam pertama Yudha, jelas membuatnya tak setuju akan hal ini.
Sakti tidak tahu saja, jika tadi ia sudah kridit lebih dulu. Amanlah, itung-itung biar Rara bisa istirahat terlebih dahulu.
" Sahabat selalu ada dalam suka dan duka!" Ucap Aji menepuk pundak Sakti yang kini berwajah lesu.
" Benar, masalahmu masalah kamu juga!" Pun dengan Pandu yang dulu juga ada di posisi Sakti.
Rara kini maju dan mengusap lengan Sakti. " Pergilah, jangan sungkan. Kami belum tahu siapa Anjana, tapi kami yakin. Wanita itu pasti wanita beruntung yang bisa membuat kamu sekhawatir ini!"
" Yap, pergilah jangan khawatirkan Rara. Kami akan menemaninya!" Ucap Fina tersenyum seolah menegaskan jika mereka akan baik-baik saja.
" Semoga semua selamat, tapi seebaiknya jangan cuma berempat, takutnya..." Wida terlihat mencemaskan semua pria itu. Teringat akan apa yang menimpanya dulu.
Sakti merasa terharu manakala melihat kesungguhan para sahabat beserta istri mereka yang kini mau membersamai persoalannya.
" Mas!" Rara mendekat dan memeluk Yudha saat mereka sudah hendak berjalan. Bagiamanapun juga, mereka akan berjalan mengahadapi mala dan bahaya. " Aku tunggu, jadi kau harus selamat!" Rara memeluk Yudha yang belum dua puluh empat jam menjadi suaminya itu. Menghirup aroma tubuhnya dalam-dalam.
Fina dan Wida kini juga mendatangi para suaminya, yang kini juga merasakan haru.
"Sakti membutuhkanku, tunggu sebentar ya?" Aji mengusap pipi Wida lalu mencium keningnya dengan sangat lama. Menegaskan jika ia akan baik-baik saja.
" Jangan rewel, papa mau nemeni om sableng dulu ya. Jangan buat mama repot ya nak!" Pandu berjongkok dan mengusap perut Fina.
Membuat hati para wanita itu mengharu biru.
Sakti yang melihat semua hal itu menjadi ingin menangis. Tak menyangka jika persahabatan mereka kekal adanya.
.
.
" Buka!" Sakti terlihat marah manakala seorang resepsionis memasang wajah tidak kooperatif saat ia bertanya.
Ya, empat sekawan itu kini menyatroni keberadaan resepsionis yang mereka harapkan bisa menjadi cikal bakal ketemunya Anjana.
" Maaf tuan, tapi kami tidak bisa menunjukkan sesuatu pada orang asing?" Jawab wanita itu ketus.
" Di hotel ini telah terjadi kejahatan, dan kau malah seolah mempersulit. Siapa namamu, akan ku pastikan kau tidak akan bekerja lagi besok!" Sakti geram bahkan terlihat sangat marah melebihi Aji.
Namun, beberapa detik kemudian, datang seseorang yang mengenakan pakaian formal dan berjalan tergopoh-gopoh. Dia merupakan eksekutif manager yang bertugas malam itu.
" Tuan Sakti Buana, dari SO Vineyards?" Tanya pria dengan rambut yang sudah nyaris botak itu. Barusaja menerima telepon dari pemilik hotel tersebut, jika Tuan Liem Soebardjo telah marah berasa demi kekacauan yang menimpa cucunya.
Ya, Sakti memang tengah menggunakan nama besar kakeknya moyangnya untuk menghardik para manusia bedebah disana. Ia sudah menelpon tuan Liem sebelum mereka tiba di meja resepsionis.
" Ya saya!" Ucap Sakti tak kalah ketus dengan kemarahan yang luar biasa.
Membuat ketiga sahabatnya mengernyit heran. SO Vineyards?
" Sandra, apa yang kamu lakukan. Dia ini cucu pemilik SO Vineyards, apa kau tidak tahu?" Pria itu memarahi wanita yang menyebalkan yang sedari tadi bersikap menghalang-halangi mereka.
Kini Aji, Yudha dan Pandu membulatkan matanya. Tunggu dulu, apa tadi? Cucu pemilik SO Vineyards?
" Saya mau anda pecat dia sekarang juga atau anda yang saya buat kehilangan pekerjaan. Dan satu lagi, putar rekaman CCTV satu jam terkahir. Calon istri saya di culik oleh seseorang, bagaimana keamanan hotel ini? " Sakti marah besar, dan seumur-umur ketiga pria itu baru melihat Sakti marah ya saat ini.
DEG
Lagi-lagi, ketiga pria yang masih setia mengenakan jas itu terlihat terkejut demi melihat sikap Sakti yang jelas mendatangkan banyak pertanyaan di benak mereka.
" Apa yang tejadi selama Sakti pergi sebenarnya?" Batin Pandu menatap Sakti penuh selidik.
" Apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui?" Aji juga bermonolog dalam hatinya.
" SO Vineyards, seperti pernah mendengar." Yudha juga tertegun sembari berucap dalam hati.
Wajah Sandra seketika pucat dan pria itu gelagapan. Jelas ia telah melakukan sebuah kesalahan.
Sejurus kemudian pria itu terlihat menghubungi engineering dan juga tim IT yang berkompeten dalam hai yang diminta oleh Sakti itu, dengan tangan yang tremor sebab ketakutan.
" Tunggu sebentar pak, mereka sedang kemari!" Ucap pria setengah botak itu yang berwajah pucat sebab takut dengan pria-pria yang terlihat mengintimidasi itu.
Tak berselang lama, terlihat dua pria yang diketahui sebagai IT di hotel itu. Kini tekrihat mengajak Sakti dan yang lainnya untuk menuju keruang khusus pemantauan.
Mata Sakti mendelik saat melihat orang yang ia kenal, terlihat berjalan menuju koridor, di menit ke tujuh manakala jalan menuju kolam disana sedang sepi
" Dari semua CCTV, semuanya sepi. Kemana orang-orang?" Aji yang membaca apa yang tersaji menjadi heran . Hotel sebesar itu kenapa bisa sepi sekali.
" Putar yang ada di sisi kolam" Titah Sakti dengan wajah tegang.
Kedua pria itu terlihat menuruti, dan kini memperbesar objek wajah pria yang tertangkap kamera itu.
" Pieter?" Gumam Sakti.
" Kau mengenalnya?" Sahut Yudha.
Sakti mengangguk. " Dia anak buah kakekku!"
" Kakek?" Aji malah mengulang ucapan Sakti dengan wajah tidak mengerti. Pun dengan Pandu.
" Nanti aku ceritakan, sekarang aku mohon kita fokus dulu kepada Anjana!" Ucap Sakti yang tahu jika ketiga sahabatnya tertelan kebingungan.
Mereka bertiga mengangguk setuju bersamaan.
" Anjana!" Gumam Sakti saat kembali menatap ke arah layar monitor, yang membuat Pandu mendelik. Bukankah itu wanita yang tadi sempat membuatnya kesal?
" Percepat lagi!" Pinta Sakti kepada pria yang kini berada di bawah intimidasinya itu.
" Baik tuan!"
" Stop, perbesar!" ucap Yudha yang melihat sesuatu yang janggal saat dua orang saling berdekatan dan terlihat berbicara.
" Brengsek!" Sakti dengan kemarahan yang memuncak seketika melesat manakala melihat rekaman yang menunjukkan jika wanita itu di bawa pergi usai di buat pingsan oleh Pieter.
Sejurus kemudian Sakti merogoh sakunya, lalu men-dial sebuah nomor.
" Halo, Feng. Apa kita memiliki orang-orang yang ada di daerah dekat sini?"
.
.
Pengantin baru itu bertindak sebagai pengemudi yang berwajah tegang, Sakti yang berada di depan masih belum bisa bersikap tenang. Aji terlihat menghubungi Sukron dan Dino untuk mengirimkan orang-orangnya dalam mitigasi mendadak kali ini.
Pun dengan Pandu yang meminta anak buahnya yang baru ia rekrut sebagai bodyguard baru, yang kebetulan masih berada di Kalianyar untuk membantu mereka.
" Halo Ren, tolong kamu lacak nomor ponsel ini!" Pandu bahkan menghubungi Rendy, anak buahnya yang paling mahir dalam bidang persadapan.
Sakti membuang pandangannya ke luar, teringat akan saat mereka berciuman dan rasa cintanya yang tumbuh begitu dalamnya.
" Aku tidak akan mengampunimu Pieter jika sesuatu terjadi kepada Anjana!"
.
.
Anjana
Malam semakin mencekam, bersamaan dengan sosok wanita yang masih lelah hingga beberapa jam setelah ia dibuat pingsan secara sengaja oleh Pieter.
Ia merasa sesuatu yang berat menimpa dirinya, dan betapa terkejutnya kala ia melihat lengan Pieter yang melingkar di perutnya.
Ya, Pieter tidur dan ingin menikmati saat teduh bersama Anjana. Ia tak melakukan apapun, lebih tepatnya belum. Ia hanya ingin menikmati kebersamaan yang ia dambakan selama ini.
" Astaga, Pieter apa yang kau lakukan?" Anjana yang kesadarannya masih belum genap itu, kini merasa pusing bercampur takut saat menyadari jika ia telah berada di sebuah kamar asing, bersama mantan rekan kerjanya itu.
Dengan rasa marah, yang berkolaborasi dengan dada yang bergetar, wanita itu kini beringsut menjauh dari Pieter yang juga sepertinya baru saja terlelap.
" Kau kenapa bangun, kita bisa istirahat dulu!" Jawab Pieter yang bersuara parau, lantaran baru bangun, dan untung saja mereka masih mengenakan pakaian lengkap.
" Kau gila Pieter!" Anjana berjalan menuju ke arah pintu, dan membuat handle pintu itu dengan kasar.
Pieter menyeringai sambil menunjukkan sebuah kunci yang ia pegang. Membuat Anjana membulatkan matanya " Kau mau kemana, kita habiskan malam ini saja disini!" Jawab Pieter menyeringai.
Anjana mendelik, " Apa yang kau lakukan, cepat buka Pieter. Tuan muda akan membunuhmu jika mengetahui!" Jawab Anjana dengan tubuh gemetar.
" Aku tidak takut!" Teriak Pieter. " Bertahun-tahun aku setia kepada tua bangka itu dan berharap kau bisa melihat cintaku yang besar!" Pieter berkata dengan napas menggebu. " Aku yang selama ini bersabar, be rbuat sesuai yang mereka mau, tapi apa? Aku dapat apa? Kau bahkan menolakku!"
Anjana menggeleng tak percaya, mata wanita itu sudah berair. Tak mengira jika Pieter melakukan hal itu.
" Kau menyukainya kan?" Anjana, aku bahkan bisa lebih kaya darinya jika kau mau!" Pieter kini berjalan mendekat ke arah Anjana yang sudah berderai air mata.
" Pieter, Kuta berteman sejak kecil. Bagiamana bisa..."
" Jangan menolakku!" Teriak Pieter dengan mata yang sudah memerah.
" Pieter masih ada waktu, tolong jangan seperti ini!" Anjana beringsut mundur dan kini terlihat bingung. Bagiamana pun juga, Pieter tetaplah partner-nya yang ia hormati.
" Aku muak Anjana, aku muak dengan sebuah sikap mengalah, aku mencintaimu, tidakkah matamu melihatnya, hah?" Pieter kalap dan ia benar-benar ingin memiliki Anjana.
" Kau harus jadi milikku, apapun yang terjadi. Kemari kau!" Pieter memeluk tubuh Anjana dengan paksa, membuat wanita itu meronta-ronta.
" Lepas! Kau gila Pieter!" Terika Anja seraya meronta.
" Ya Anja, aku memang gila. Aku memang tergila-gila padamu, apa kau tidak tahu, hah?"
Pieter dengan buasnya kini menindih tubuh Anjana, selepas ia melempar tubuh wanita itu keatas ranjang. Pria itu dengan kasarnya berusaha memperkosa Anjana sebab ia telah kehilangan kesabarannya.
" Pieter!"
BUG
Anjana meninju wajah pria itu dengan sebisanya, berusaha melawan sejurus kemudian Anja bangun dengan wajah ketakutan.
" Pieter jangan main-main!" Ucap Anjana dengan wajah takut sebab ia juga tak ingin menyakiti rekannya itu.
" Pieter ja..." Anjana berteriak manakala Pieter kini lebih marah dan terkuat membaringkan tubuh Anjana dengan kasar, pria itu kini merobek pakaian yang di kenakan Anjana, dan membuat dada wanita itu tersibak.
" Pieter tolong jangan seperti ini!" Anjana menangis kala ia kini sudah tertindih kembali dan dengan kuatnya Pieter mengunci pergerakannya.
" Sakti!" Lirihnya dalam hati saat ia merasakan bibir Pieter telah mencumbu kulit lehernya. Pria itu menjilat serata menyesap lehernya. Membuatnya jijik dan kini menangis.
" Memangnya dia siapa bisa seenaknya membuatku terus mengalah, hah?" Pieter bergumam saat ia kini membetulkan posisi Anjana yang masih sekuat tenaga meronta.
BRAK
Suara pintu yang terjebak membuat kedua manusia itu tersentak.
" Kurang ajar!" Ucap Sakti dengan kemarahan yang memuncak kala melihat pakaian Anjana yang sudah terkoyak.
BUG
Sakti seketika melayangkan pukulan ke arah wajah Pieter dengan sangat keras, yang menggagahi tubuh wanita yang ia cintai itu. Membuat Anjana kini beringsut pergi seraya membetulkan pakaiannya yang berantakan.
Anjana berdiri dengan wajah ketakutan.Ia nyaris saja di perkosa oleh pria yang mejadi rekan kerjanya itu.
" Anjing!" Pieter membalas apa yang baru ia terima dengan menuju wajah Sakti. Membuat pria berkulit putih itu terjengkang ke belakang dan menabrak perkakas.
BRUAK
" Sini Lo, elo cuma pria yang enggak tahu apa-apa yang beruntung sebab menjadi cucu orang kaya!"
" Beraninya merebut Anajaku!"
" Bacot!" Sakti yang merasa terbakar oleh ucapan Pieter seketika merasa berang.
Ia memang tidak mahir beladiri, tapi sebagai pria yang saat ini harga dirinya terinjak, terlebih sakit hati manakala wanita yang ia cintai kini dilecehkan, membuat Sakti benar-benar kehilangan kesabarannya.
BUG
Sakti menendang perut Pieter dengan sangat keras dan membuat pria itu kini terjerembab ke lantai.
" Anjana!" Sakti yang melihat wanitanya ketakutan, seraya berdiri di pojok kamar, kini reflek memeluk wanita itu. Membuat Pieter semakin berang.
Pria itu terlihat mengambil sesuatu dari dalam sakunya. Sebuah pisau lipat.
SLURK
" Argggggghhh!" Sakti meringis manakala merasakan hujaman di bagian sisi perutnya.
" Sakti!" Ucap Aji, Pandu dan Yudha yang berteriak manakala melihat sahabatnya kini di tikam oleh Pieter.
Mereka bertiga baru datang sebab membereskan anak buah Pieter yang berjaga di depan dengan sangat banyaknya. Mereka bisa menyusul Sakti setelah para anak buah Aji dan Pandu telah datang .
" Arghh, Anjana!" Rintih Sakti yang kini berwajah merah demi menahan sakit yang teramat biasa.
Membuat tubuh Anjana kini menegang demi melihat simbahan darah yang banyak dari perut pria yang membuatnya jatuh hati itu.
.
.
.
.
.
.
.
.