Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 137. Mengutarakan



Bab 137. Mengutarakan


^^^" Cerminan isi hati, ada pada sikap!"^^^


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Pandu


Ia rupanya bertolak ke Kalianyar bersamaan dengan Bu Asmah. Kebetulan yang benar-benar betul sekali. Ia bersama Lik Ajiz pagi itu. Bergantian mengemudikan mobil milik Bu Asmah.


Ia dan Bayu memiliki sebuah rahasia yang tak ia kemukakan kepada sang Ibu. Berharap sebagai anak, ia telah benar dalam mengambil keputusan.


Lampu hijau dari keluarga Tuan Guntoro benar-benar menjadi saku tak kasat mata, yang membuatnya sumringah sepanjang perjalanan dari Kota X menuju Kalianyar. Meski ia masih memiliki keresahan, sebab keluarga Kemal tidak terima dengan keputusan Tuan Guntoro.


" Gak mampir dulu? Yayuk ada bikin teh itu di dalam Mbar!" Bu Asmah menawari mereka untuk singgah dulu. Namun Pandu yang merasa lelah menatap ibunya penuh maksud.


Pandu tak memberikan kabar kepada ketiga sahabatnya, karena ingin memberi kejutan. Pandu jelas merindukan kebersamaan bersama, Ajisaka, Yudha dan Sakti.


" Matur nuwun Bu, kami langsung pulang saja. Saya terimakasih sekali karena di tumpangi!" Jawab Bu Ambar yang tahu jika putranya lelah.


" Jangan bilang begitu, kalau semuanya lancar sebentar lagi Pandu juga jadi cucu saya!"


Pandu tersipu. Bayangan wajah Fina yang menangis kala ia tinggal tadi jelas merupakan hal yang tak bisa ia anggap biasa. Pandu juga enggan berpisah sebenarnya. Belum juga 24 jam berlalu, ia sudah rindu.


Berada di depan Selasar rumah Bu Asmah, mereka di kejutkan dengan banyak warga yang berlarian.


" Mas, enek opo kok podo mlayu- mlayu?( Mas, ada apa kok pada berlarian?" Tanya Lik Ajiz yang terlihat menaruh atensi.


" Wonten geger geden Kang, teng RT sebelah wonten tiang setri di seret bojone ning alas arepe di beleh! ( Ada kejadian menggemparkan mas, di RT sebelah ada seorang istri yang di seret suaminya mau di gorok!)" Tutur pria yang terlihat iku berlari guna mengetahui kejadian heboh itu.


Pandu tertegun, sepagi ini sudah ada kejadian ngeri seperti ini?


.


.


Sakti


Ia diguyur air seember oleh emaknya. Diluar sedang gempar dan heboh terkait berita Wida yang tengah di seret suaminya dan di bawa kabur. Tapi pria sableng itu masih tekun tengkurap dengan keadaan kasur yang berantakan.


BYUR!!!


Sakti seketika gelagapan karena air yang digunakan oleh emaknya untuk mengguyur tubuhnya, merupakan air sisa bunga es yang mencair dari kulkasnya, yang jelas menusuk kulit rapuh dan lembut milik Sakti. Ceiileee!


" Emak! Emak ini gimana sih?" Selain kaget, kini Sakti jadi pusing karena terbangun sebelum waktunya.


" Bocah dino- dino micek ae! Wes bedug Iki loh. Tanggane enek gegeran malah turu ae! ( Anak kok sehari-hari tidur terus! Udah siang ia ni loh. Tetangganya ada kejadian heboh malah tidur terus!)"


Ia berengut sambil memunguti bad cover yang saat ini jelas sudah kuyup akibat perbuatan emak. Kesal karena terkejut.


" Geger opo?( Kejadian apa?)" Ucapnya malas sambil duduk di tepian ranjang pegasnya.


" Anake kang Atmo sing tas teko ko kuto di parani bojone, geger arepe di beleh kae! ( Anaknya Pak Atmo yang baru datang dari kota itu di datangi suaminya, bertengkar besar itu, mau di gorok!)"


Ia menyebik saat emak berbicara. Sungguh, ia ngantuk sekali akibat semalam begadang bersama Aji dan Yudha di kedai Cak Juned. Menemani pria galau yang nestapa. Ajisaka.


Namun, mendengar nama orang yang tak asing, membuat dia menatap emaknya dengan mata membulat.


" Siapa Mak, Pak Atmo?" Sakti seketika teringat akan wanita yang tak sengaja di tindih oleh Aji, kala ia sama Yudha bertandang ke rumah sahabatnya beberapa waktu yang lalu.


Di desanya itu hanya ada satu nama Atmo. Yakni pria yang pernah bekerja di pabrik sahabatnya itu.


" Pak Atmojo maksudnya yang kerja di pabriknya si Aji?" Lagi, ia mencari klarifikasi dan seolah tak percaya.


" Sopo maneh ( Siapa lagi?)" Dengus Emak dengan wajah ingin menerkam.


Sejurus kemudian, ia hendak mengabari Aji perihal berita penting ini. Namun, ia begitu terkejut kala mendapati puluhan panggilan dan beberapa pesan dari Yudha.


" Jancok arek Iki, turu opo mati koe Sak? Di telpon sampek lencret gak di jawab!( Brengsek anak ini, kamu tidur apa mati Sak? Di telpon sampai berkali-kali gak di jawab!)"


Sakti menepikan umpatan dan kemarahan yang tergambar di pesan Yudha itu. Jelas itu salahnya.


Detik itu juga, ia menggulir pesan kedua dari Yudha dengan tak sabar.


" Aku di Antaboga, cepetan kesini. Aji masuk ke hutan sendiri nyari Wida. Kalau bisa ajak teman Sak!


" Wida di seret paksa sama suaminya!"


Oh sial, jelas ia benar-benar ketinggalan info sepenting ini. Mengutuk dirinya sendiri yang bisa-bisanya malah molor di saat matahari sudah meninggi.


" Arep mandi koe Sak? ( Mau kemana kamu Sak?" Sergah Emak yang melihat Sakti hendak keluar.


" Mau lihat itu lah!" Sahutnya cepat.


" Mandi dulu sana, iler udah ngerembes kemana-mana mau pergi-pergi aja!" Sahut Bapak tak kalah kesal yang rupanya muncul dari dapur sambil membawa sepiring nasi sambal dengan Pete yang bertengger di atasnya.


Membuat Sakti reflek meraba bibirnya. Iler? Oh no!!!


.


.


Ajisaka


Ia sebenarnya bisa mendengar semua suara dan bunyi apapun sekalipun matanya tiada terjaga, tapi tubuhnya sangat sulit di gerakan dan tidak bisa berbicara dalam beberapa saat.


Kata orang sih pingsan yang sebenernya adalah seperti itu. Berada diantara batas alam sadar dan tidak sadar.


Ia bahkan mendengar kala Wida dengan suaranya yang begitu cemas tengah memanggil namanya berkali-kali.


Namun yang lebih membuatnya terkejut adalah, ia merasakan sesuatu yang dingin dan kenyal menyentuh bibirnya. Jelas ini merupakan hal yang diluar dugaannya.


Wida menciumnya?


Ia masih berdiam kala wanita itu menempelkan bibirnya kembali ke bibirnya. Terasa hangat, bahkan jalaran gelenyar aneh mulai berimprovisasi. Seperti hendak membangunkan kehidupan lain di dalam celananya.


Anaconda!


Sial!


"Hah!" Ia juga terkejut sebenarnya kala Wida tiba-tiba melakukan gerakan mendorong dadanya kala wanita itu menyadari jika dirinya telah siuman.


Yuhuu! Menang banyak gaes!


ia juga melihat Wida yang mendengus dengan wajah yang telah memerah. Tapi ia benar-benar suka.


" Sejak kapan Mas Aji sadar?" Sungguh wajah wanita itu benar-benar terlihat lucu sekali saat ini. Wajah yang mirip orang terciduk.


" Sejak kamu...!" Aji mengerlingkan matanya. seraya menggoda. Membuat Wida lagi- lagi mendengus.


" Mas Aji menipuku ya!" Wida memukul perut Aji dengan kesal. Ia memang tengah lemah saat ini, ia tak mengada-ada.


" Auhw!!! Rintih Aji sungguhan. Sakit sekali rasanya.


"Setelah menciumku seenaknya, sekarang kau mau berbuat sama dengan pria tadi? Menyakiti perutku yang kosong ini?" Ucapnya sambil meringis menahan nyeri.


Raut wajah Wida seketika penuh penyesalan. Perutnya memang sangat sakit saat ini.


Aji masih tersenyum penuh arti dengan posisi tidur berbantalkan kedua tangannya. Kepalanya pusing, sekujur tubuhnya juga remuk dan sakit.


"Auwhhh!" Ia mencoba bangun dan mendudukkan tubuhnya di hadapan Wida.


" Jangan bangun kalau masih sakit!" Wida terlihat mencemaskan dirinya padahal wanita itu juga tengah terluka saat ini.


Aji menatap wajah Wida dengan tersenyum. Ia bahagia meski tengah dalam keadaan kurang menguntungkan, namun jika tidak begini jelas Wida akan menghindarinya.


" Tadi itu suami kamu?" Aji malah tak tahan untuk tak bertanya walau dengan wajah meringis menahan nyeri.


" Hemm!" Jawab Wida sambil membersihkan daun kering di sebelahnya. Tak berani menatap Aji karena malu saat teringat beberapa saat yang lalu bibir mereka saling menempel.


" Ganteng ya! Tapi...!"


Wida langsung menatap tajam Aji yang memang sengaja menggoda. Membuatnya lagi-lagi tersenyum demi melihat ekspresi wajah Wida yang menggemaskan.


" Mas Aji ngapain di hutan sih? " Bertanya kesal.


Wida kini merasa dan perlu sekali menanyakan hal itu.


" Mau nolong kamu!" Sahut Aji mantap dengan wajah menatap lekat.


Wida seketika tertegun, tangannya yang sedari tadi sibuk membersihkan tanah tempatnya duduk kini terhenti kala mendengar ucapan Aji.


" Saat ini pasti orang-orang sedang sibuk nyari kamu. Tadi aku di kabari Yudha kalau...!"


" Mas harusnya gak perlu begini!" Raut wajah Wida terlihat tak biasa. Terlihat murung.


" Mas jadi celaka begini karena aku. Aku lagi ada masalah sama suamiku, dan sekarang?"


" Aku enggak peduli Wid!" Sahut Aji cepat.


"Aku enggak peduli sama omongan orang-orang. Aku suka sama kamu sejak kita pertama kali bertemu, aku tertarik sama dengan segala yang ada sama kamu. Pun dengan Damar!"


"Udah itu aja!" Wajah Aji muram kala menatap Wida. Ia hanya ingin Wida mau tahu dan mau menerimanya suatu saat nanti.


Wida terlihat menggeleng tak setuju. Wanita itu terlihat frustasi. Ini gila, jelas gila.


" Ini kesalahan mas!" Wida terlihat tertunduk lemas!"


Sekuat tenaga menahan nyeri di perutnya, Aji beringsut mendekat ke arah Wida yang bersimpuh di tanah.


Aji mengangkat dagu Wida yang tertuduk, wanita itu menangis rupanya.


" Apa yang membuatmu tidak percaya kepadaku, hm? Karenamu lah aku saat ini berada di sini Wid!" Aji menangkup wajah Wida yang terluka di sana sini.


" Kalau suami kamu kayak gitu, tolong jangan kamu geboyok uyah podo asine ( menyamaratakan garam sama asinnya/ ibarat)"


" Jangan kamu samakan tiap - tiap pria memiliki sikap seperti bintang kayak suamimu tadi. Aku bahkan ingin memukul wajahnya saat tahu dialah yang menjualmu tadi?" Aji berapi-api saat mengatakan hal itu.


Aji menelan ludahnya sembari mengusap wajah Wida menggunakan ibu jarinya dengan lembut. Wanita itu terlihat rapuh sekali.


" Kamu gak perlu jawab sekarang, yang penting kamu mau tahu dan enggak menghindar. Itu aja!"


Aji merasa plong dan lega usia mengutarakan isi hatinya. Berharap Wida mau memikirkan ketulusan perasaannya itu dan tidak menghindari dirinya lagi.


" Aku wanita yang begini keadaannya mas. Apa mas gak takut reputasi mas turun? Aku juga masih belum memiliki surat cerai. Mas akan dapat saksi sosial dari masyarakat nanti!"


Wida mencoba memberi pengertian kepada Aji. Jika Aji nekat mendekatinya, resikonya bukan main-main. Selain di tuduh atas rusaknya rumah tangga mereka, ia juga berpotensi akan di jadikan bahan omongan.


Dan jujur Wida benar-benar ingin beristirahat dulu dari luka hatinya yang di torehkan Pram.


" Aku kenal kamu pas kamu udah begini. Artinya, rumah tangga kamu memang sudah enggak baik-baik saja kan walaupun belum kenal aku ?"


Wida tertegun. Ya itu benar adanya. Ia bahkan sudah ingin menggugat cerai suaminya sejak dulu. Apalagi, sejak Pram berani mengangkat tangannya kepada istrinya itu.


" Aku enggak peduli jika saat aku berjalan lurus, namun bayanganku terlihat bengkok di mata orang Wid. Tuhan pasti melindungi orang yang menjaga benar prilakunya!"


" Jadi aku enggak pernah takut dengan anggapan orang!"


Wida terlihat terdiam. Jujur, ia senang dengan sikap mengayomi seperti yang di tunjukkan Ajisaka kepadanya. Sikap yang bahkan tak pernah ditunjukkan oleh Mas Pram selama mereka menikah.


Aji pria nekat dan susah di tebak moodnya. Tapi aksinya kali ini benar-benar menguji dirinya. Aji begitu peduli kepada dirinya?


Oh Tuhan, mengapa dirinya harus dihadapkan dengan hal rumit semacam ini?


.


.


.


.