
Bab 8. A Tatto
.
.
.
^^^" Konsekuensi selalu berdampingan dengan tindakan"^^^
...πππ...
.
.
.
Pandu tertegun demi melihat sikap Fina. Ia hanya mengembuskan napasnya secara perlahan. " Ayo Sak, lebih cepat lebih baik!" Pandu sebenarnya hanya membantu Sakti, namun entah mengapa ia malah menjadi commander disana.
Mereka berdua bertindak dengan cepat dalam urusan pemasangan AC itu, peralatan yang di bawa Sakti cukup lengkap. Membuatnya lebih lancar dalam melakukan pekerjaannya itu.
Telah lebih dari tiga puluh lima menit mereka melakukan pemasangan. Kini mereka beralih ke luar untuk memasang Bracket Outdoor.
" Mas, ini minumnya. Saya taruh disini. Bu Asmah tadi mau keluar dulu, nanti sama saya aja urusannya!" tukas Yayuk kepada Pandu dan Sakti.
" Ngeh ( iya) Mbak!" sahut Sakti cepat.
Dan untuk step terakahir , mereka memasang selang Drain. Fungsi dari selang drain adalah untuk membuang air yang dihasilkan dari unit indoor AC. " Beres Ndu, rehat dulu deh. Itu kopi udah mau dingin aja. Cukup kopi aja yang dingin Ndu, jangan sikap sama hati kita!" kekeh Sakti seraya membereskan peralatan.
Pandu hanya tersenyum simpul pria itu berkacak pinggang seraya mengedarkan pandangan. Lumayan letih juga rupanya.
Pandu melepas kaosnya , kini ia hanya mengenakan kaos dalam warna hitam, yang menunjukkan badannya yang liat, lengan berotot yang menegaskan keperkasaan.
Pandu memiliki tato dengan gambar wanita yang menitikan air mata, di punggung sebelah kanan, dengan aksen sayap yang menutup sebelah wajah gadis dalam tato itu.
" Aku kesana dulu!" Pandu menunjukkan kardus bekas pakai yang harus di buang kepada Sakti.
" Lanjut!" ucap Sakti, pria itu nampaknya agak meneguk kopi buatan Yayuk.
Tak di nyana, Pandu mengehentikan langkanya saat melihat Fina yang menghisap batang sigaret seraya duduk di kursi kayu, dan nanar menatap langit.
" Gadis itu?"
" Dia merokok?" batin Pandu.
.
.
Serafina
Usai meluapkan kekesalannya, ia mandi di kamar mandi belakang. Malas untuk kembali ke kamarnya karena melihat dua pria menyebalkan.
" Ibuk keluar mbak, mungkin pulang sore. Mbak Fina kalau mau makan saya siapkan!" ucap Yayuk namun tak berniat apalagi berminat untuk ia jawab.
Usai mengenakan hotpants dan kaos ketat warna navy, Fina mengambil rokoknya. Ia menikmati hisapan batang tembakau itu dalam keheningan.
"Mumpung Oma gak ada!" batinnya bersorak-sorai. Ia kehilangan tujuan hidupnya, ia masih terbayang-bayang Riko. Jujur, Fina masih mengharap Riko saat ini. Bagaimanapun juga, keperawanan Fina telah di renggut oleh anak pengusaha itu.
Dan hidup di desa yang baginya membosankan itu, juga makin membuatnya frustasi. Apalagi ia tak mempunyai teman.
Bara api itu terlihat membakar lintingan tembakau, saat Fina menghisap sigaret itu dalam-dalam. Sedikit nikotin bolehlah, guna mengobati kepuyengan yang menerpa dirinya.
Ia merokok tanpa ada yang mengetahui.
" Merokok tidak baik untuk kesehatan!" ucap Pandu membuat Fina terlonjak. Ia lupa bila ada dua pria yang memasang AC di halaman belakang rumahnya.
" Kamu!"
.
.
Pandu
Ia bukanlah orang yang memandang wanita perokok sebagai hal tabu. Di era milenial seperti saat ini, merokok bukanlah hal aneh.
Hanya saja, jika di desa itu agaknya masih menjadi hal kontra untuk di lakukan. Entah mengapa, usai membuang kardus di tumpukan sampah itu, ia malah melangkahkan kakinya ke tempat Fina.
"Merokok tidak baik untuk kesehatan!" ucapnya seraya memasukkan kedua tangannya, ke saku celananya.
Gadis bernama Fina itu, hanya menatap Pandu jengah lalu membuang pandangannya ke depan. Cuping hidungnya sudah mekar karena kesal. Lagi-lagi interupsi membuatnya badmood.
" Kamu!"
Sejenak mereka saling memandang. Fina baru kali ini melihat Pandu secara dekat, wanita itu menelan ludahnya saat melihat tubuh atletis Pandu yang terlihat basah karena keringat.
Dan Pandu, ia menatap wajah Fina dengan tatapan datar.
" Banyak orang yang mati walau gak merokok!" sahut Fina ketus.
Pandu tersenyum penuh arti " Salah satu penyebab kematian adalah stres, dan wanita perokok kerap dekat dengan stres!" Pandu kini duduk di samping Fina.
" Bacot!" gumamanya kesal.
Wanita itu mendengus tak suka, " Siapa yang menyuruhmu duduk?"
Pandu menoleh kesana-kemari seperti mencari sesuatu, " Tidak ada tanda atau warning apapun kan?"
Membuat Fina mengernyitkan dahinya.
" Itu artinya aku bebas duduk dimanapun!" Pandu tersenyum penuh kemenangan. Membuat Fina makin kesal.
" Terserah!" ucap Fina lalu menghisap rokoknya lagi. Ia terlalu lelah untuk sekedar berbicara dengan orang lain.
" Nenekmu orang terpandang di desa ini. Dan kamu...!"
Fina tahu maksud dari pria ganteng di sampingnya itu, " Yang terhormat nenekku bukan aku!" sahutnya masih ketus.
Pandu menghela napas, ya whatever lah. Singa betina di sampingnya itu penuh misteri. Sikapnya dingin dan acuh, sangat kontra dengan Bu Asmah yang ramah dan sumrambah.
" Maaf membuatmu kesal kemaren lusa!" ucapnya sejurus kemudian. Ia tahu sikap acuh tak acuh Fina adalah manifestasi kekesalannya, saat kejadian bola voli yang nyasar kemaren.
" Kau pun sekarang juga membuatku kesal!" ucapnya sesaat setelah menghembuskan asap.
Pandu tersenyum " Benar-benar ceplas-ceplos!"
" Kalau begitu aku minta maaf untuk kekesalan yang saat ini terjadi!" Pandu menatap wajah Fina. Namun tidak dengan gadis itu.
" Terserah!" sahutnya ketus.
" Woy Ndu, yuk!" Sakti berteriak.
Pandu berdiri " Nikotin tidak baik untuk wanita, apalagi di usia produktif!" Ucapnya tanpa memandang ke arah Fina.
" Terserah!" ucapnya malas. Ia terlalu malas dengan semua yang terjadi, bahkan pria sok tahu yang tidak ia ketahui namanya namun sudah berani mencecarnya dengan siraman mengusik kalbu.
" Orang kota memang berbeda!" gumamanya sambil berlalu tanpa pamit kepada Fina.
Baru kali ini Pandu bertemu dengan wanita liar seperti Fina. Padahal, itu bukan sifat asli Fina.
Gadis itu sejurus kemudian menatap Pandu yang berlalu dari hadapannya, Ia nanar menatap tato bergambar wanita dengan tetesan air mata yang terpahat di punggung kekar Pandu. Sejenak Fina tertegun, kenapa pria itu memilih gambar abadi seperti itu.
...πππ...
" Nih buat mu!" Sakti menyerahkan dua lembar pecahan uang bergambar I Gusti Ngurah Rai berwarna biru.
" Banyak amat, habis donk buat aku!" sahut Pandu.
" Aman bro !! Bu Asmah kalau ngasih selalu double. Jangan lupa entar malam kita kumpul di rumahnya si Yudha!" sahut Sakti.
" Ya udah, makasih ya!"
Lumayan, sebentar saja ia sudah bisa mendapatkan seratus ribu. Pandu kini berjalan pulang dengan menaiki motor Kawasaki KLX miliknya. Satu-satunya kendaraan yang ia miliki, hasil dari jerih lelahnya bekerja di bengkel motor terkemuka beberapa tahun lalu.
" Nah itu Pandu!" tukas Ambarwati ibu Pandu kepada pria yang duduk di kursi dalam rumahnya.
" Ndu, di cari Lik Sarip itu!" ucap Bu Ambarwati sambil memutar nyiru untuk menampi beras.
" Mana Buk?" sahutnya seraya memasang sandaran motornya.
" Itu di dalam!"
Pandu memiliki bengkel kecil. Usai keluar dari bengkel resmi salah satu motor terkemuka beberapa bulan yang lalu, ia mengimplementasikan keahliannya secara mandiri. Ya, meski belum besar. Itu lebih baik karena ia bisa menjaga ibunya sekaligus seroang yang amat ia sayangi dirumah itu.
"Dari mana aja kamu Ndu, punya bengkel kok di tutup terus!" Lik Sarip adalah masih saudara Pandu dari pihak Ibu. Pria itu kerap menjadi langganan, karena motor tuanya yang rewel.
" Bantuin di Sakti itu, pasang AC!" ucapnya seraya membuka rolling dor kecil itu. Bersiap membuka bengkelnya karena ada pasien pagi itu.
" Kok kamu terus yang bantuin!" Ucap Lik Sarip seraya mencomot pisang goreng panas.
" Bantuin aja, jadi apanya yang rewel Lik?" Pandu melihat motor bebek keluaran lawas yang masih menjadi Jaka lara bagi Lik Sarip.
" Gak tau itu, rantainya kendor kali ya. Gerak grek pas di bawa!"
" Sama kanvas rem depannyanya Ndu. Rem udah kayak kopling kalau di tarik, gak ngefek sama sekali!" gerutu Lik Sarip.
" Lama gak ya Ndu?" tanya pria dengan rambut setengah botak itu.
Pandu terlihat berpikir, " Bentar aja lah, aku cek dulu ya?"
Namun saat baru saja ia hendak mengerjakan pekerjaannya, seroang wanita datang.
" Mas Pandu aku cari dari tadi kok gak ada!"
Wanita cantik itu tersenyum senang saat melihat Pandu, namun tidak dengan yang di sapa . Pandu mendengus demi melihat wanita yang hari itu datang ke bengkelnya.
" Dia lagi!"
.
.
.
.
.