Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 153. Renjana di romansa Senja



Bab 153. Renjana di romansa Senja


..."...Pelangi di seberang renjana aku berdiri...


...Pelangi, rengkuh aku di relung hati...


...Pelangi, sentuh aku tinggalkan mimpi...


...Pelangi, buang gelisah jangan lepaskan aku oh pelangi..."...


...( Boomerang~ Pelangi)...


.......


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Bayu


Ia sudah sepekan terakhir menyelesaikan tugas pentingnya terkait banyaknya customer yang menggunakan jasa guard perusahaannya.


Keterlibatan KJ dalam pengungkapan bisnis terselubung yang menyeret keluarga Wijaya rupanya semakin meningkatkan elektabilitas jasa guard besutannya itu.


Kini, ia menunjuk Rendy untuk menggantikan monitoring perusahaannya. Ia berdalih kepada Rendy akan membereskan sebentar urusannya di kota lain. Urusan krusial yang menyangkut hati dan perasaannya jelasnya. Ahay!


Pandu yang ia gadang-gadang menjadi calon anaknya itu benar-benar bersikap kooperatif. Seperti quotes like father like son agaknya cocok ia sematkan pada hubungan mereka nanti.


Ia memang bukan anak muda lagi. Legalitas lebih penting dari sekedar perayaan yang mungkin malah membuat Ambar rikuh. Ia berniat akan segera menikahi wanita itu tanpa membuat perayaan. Itu lebih baik pikirnya.


Ia datang sejak kemarin sebenarnya. Sengaja menginap di hotel yang paling dekat dengan jarak menuju rumah Pandu.


Ambar tak mengetahui jika pagi itu, Pandu telah menuju hotel bersama Fina untuk menjemput dirinya. Mereka semua telah kong kalikong tanpa sepengetahuan Ambarwati.


" Aku nggak nyangka kalau Om Bayu sama Bu Ambar...." Mata Fina berkaca- kaca penuh keharuan. Sedikit banyak ia tahu rekam jejak perjalanan hidup Bu Ambar yang penuh batu sandungan itu.


" Doakan ya Fin. Semoga bulan ini adalah bulan terakhir dimana Om menjadi bujangan!" Bayu terkekeh dari kursi belakang tempat ia duduk saat menjawab ucapan Fina.


Fina tersenyum mengangguk. Pasti!


" Doakan aku juga ya Om, semoga urusanku sama Pandu juga lancar. Biar aku bisa manggil Om Bayu nanti Papa mertua!" Fina tergelak bahagia. Membuat Pandu menggelengkan kepalanya.


Dasar Fina!


" Pasti!" Sahut Bayu.


" Rumah saya tidak sebagus Kijang Kencana Pak. Jadi....!" Hal lumrah yang di utarakan seseorang tiap rumahnya akan di kunjungi okeh seseorang. Apalagi seseorang itu merupakan orang yang lebih berada.


" Jangan se kaku itu! Saya jauh-jauh datang dari kota bukan untuk rumah kamu, tapi...untuk kamu terlebih Ibu kamu!"


Bayu menatap mata Pandu dari pantulan kaca rear vission yang berada di depan kemudi Pandu. Terlihat dua pria itu saling memantapkan hati untuk menerima satu sama lain.


Yeah!


Pandu sengaja membelokkan mobilnya melalui jalan belakang yang tembus langsung ke hamparan sawah milik Bu Asmah. Mereka bertiga sudah menyusun mitigasi kecil terkait misi cinta Bayu.


Fina terlihat langsung memasuki dapur Pandu dan menata beberapa belanjaan yang tadi ia beli bersama Bayu dan juga Pandu. Berencana akan sarapan bersama.


" Good luck ya Om!" Fina mengepalkan tangannya memberi semangat saat pria itu menoleh ke belakang.


Bayu mengangguk, ia terlihat mencukupi kebutuhan paru- parunya dengan menarik napasnya dalam-dalam. Menetralisir kegugupan.


Ia berjalan maju meninggalkan Fina yang sibuk di dapur, dan Pandu yang memarkirkan mobilnya di halaman belakang.


Bayu terlihat mengingat petunjuk dari Pandu sesaat sebelum ia turun dari mobil tadi.


" Lurus aja kedepan, biasanya kalau pagi begini Ibu ada di depan!"


Ia memindai tampilan rumah sederhana Pandu namun terlihat sangat bersih. Jelas kerapihan yang tercipta itu merupakan hasil dari sentuhan tangan ajaib Ambar yang luwes.


Wanita cerdas dengan sikap lemah lembut yang mengusik hatinya.


Berkali-kali ia melakukan inhale dan exhale. Benar-benar lebih grogi daripada berhadapan dengan penjahat. Ia meraba kotak beludru hitam di saku celananya yang berisikan sebentuk cincin berlian. Memastikan sekali lagi benda yang akan menjadi amunisi misinya kali ini.


Bayu tersenyum demi melihat cincin indah bermata putih itu. Hah! Hatinya benar-benar melimpah dengan rasa bahagia.


" Nah, Mbar..tumben udah santai. Udah enggak ke pasar?"


Ia menyipitkan matanya dengan posisi masih berada di ruang tengah rumah Pandu, dari saluran yang ia tangkap ,sepertinya ibunya Pandu memang tengah berada di luar.


" Eh Yu, dari belanja? Enggak..saya udah enggak jualan. Sama Pandu disuruh dirumah aja!"


Hati Bayu berdesir bahkan hanya dengan mendengar suara Ambar. Ia sudah lama tak mendengar suara itu. Kini, ia makin penasaran seperti apa wajah wanita yang ia rindukan itu. Wajah seorang Ibu dari pria badas seperti Pandu.


" Bagus deh kalau begitu. Selamat ya Mbar habis kena musibah, kamu kayaknya bakal besanan sama anaknya Bu Asmah ya. Aku ikut seneng!"


Bayu berjalan semakin mendekat. Kini ia telah berada di depan kaca dan mengintip dua wanita yang tengah mengobrol ria pagi itu. Ia bisa melihat punggung Ambar dari sana. Tubuh yang masih sama saat perjumpaannya pertama kali.


Ambarwati masih saja terlihat berpenampilan bersahaja meski anak-nya kini sudah memiliki banyak tabungan hasil dari bekerja di KJ beberapa waktu yang lalu.


" Masih lama Yu, Si Pandu masih mau buka bengkelnya dulu. Ini lagi proses pengerjaan!"


" Wah...emang kalau rejeki enggak kemana ya Mbar. Ya udah aku balik dulu ya, jangan lupa undang kalau si Pandu kawin!"


Bayu tersenyum kala melihat keramahan para tetangga Ambar. Itu berarti, tak selamanya persoalan itu mendatangkan kerugian. Menyadari teman bicara Ambar telah pergi, ia kini berjalan dan berdiri di ambang pintu. Berniat membuat kejutan untuk wanita itu.


" Anaknya memang masih lama nikahnya, karena ibunya yang akan nikah lebih dulu!"


Ucapnya seraya melipat kedua tangannya ke dadanya. Membuat otot lengan pria itu mengencang.


" Mas Bayu?" Ucap Ambar sesaat setelah wanita itu membalikkan badannya. Terlihat sangat terkejut. Ya, kejutannya berhasil.


Yes, i won!


Wanita itu melongo dan mematung selama beberapa detik. Jelas masih gencar menelaah apa yang terjadi. Ambar betul-betul terkejut akan kemunculannya yang tiba-tiba itu.


Ihirrr!!!


.


.


Ambarwati


Kemunculan pria bernama Bayu pagi itu dirumahnya, jelas membuat ia kebingungan. Bagaimana bisa?


Ia lantas berjalan masuk, takut jika para tetangganya melihat. Ini di desa, bukan di kota.


" Mas Bayu bagaimana bisa...." Ia bahkan kesulitan dalam menyusun kata-kata. Terlalu bingung akan keadaan yang tersaji.


" Surprise!!!" Fina datang dengan wajah super ceria sembari merentangkan kedua tangannya, saat dirinya masuk dan berniat menanyai Bayu.


Belum juga ia mendapatkan jawaban dari kebingungannya akan kehadiran Bayu, kini kekasih putranya itu justru makin membuatnya terkejut dua kali lipat.


" Fina?"


Semenjak Fina resmi menjadi pacar Pandu, ia kini sudah tidak meletakkan embel-embel 'Mbak' saat memanggil Fina.


" Om, sepertinya kejutan kita berhasil. Tuh Bu Ambar terkejut banget!" Fina berjalan lalu mengusap punggung Ambarwati yang terlihat masih bingung.


Bayu tersenyum penuh arti, sejurus kemudian terdengar derap langkah seseorang terdengar datang mendekat.


" Sarip?" Ia terkejut demi melihat Pandu yang membawa adik sepupunya itu. Ada apa sebenarnya.


Fina kini memundurkan langkahnya dan terlihat senyam-senyum sendiri, pun dengan Pandu yang menatapnya dengan lekat dan sorot mata teduh.


Anak semata wayangnya itu terlihat mendekat dan kini berdiri di depannya. Berdiri diantara dirinya dan Bayu.


" Seperti yang pernah Pandu katakan sama Ibuk beberapa waktu yang lalu. Pandu akan sangat bahagia kalau Ibuk bahagia!"


Pandu meraih tangan ibunya dan mengusap lembut punggung tangan wanita yang melahirkannya itu. Membuat hati Bayu menghangat.


Tunggu dulu, apa maksud semua ini? Ambar memindai satu persatu wajah yang hadir di rumahnya secara mendadak pagi itu. Wajah yang penuh harapan dan antusiasme.


" Pandu iklhas dan rela, Jika Pak Bayu yang akan mengambil alih tugas Bapak Sulaksono selanjutnya Buk!"


Membuat Ambar makin tak mengerti dibuat anaknya.


" Ibuk berhak bahagia, Ibuk berhak seneng! Pandu enggak akan jadi anak egois lagi!"


Mata dan hidung Ambar memanas. Dadanya sesak mengharu biru. Apa anaknya itu barusaja mengatakan sebuah kerelaan? Tapi...?


Bayu terlihat mendekat, pria matang berparas rupawan itu terlihat membawa sebuah kotak beludru yang kini ia buka. Kini, Pandu sedikit bergeser dan membiarkan Bayu mengambil waktunya.


" Menikahlah denganku Mbar!"


DEG


Tubuh Ambarwati seketika menegang. Apa pria itu baru saja melamarnya?


"Aku ingin kamu yang menemani sisa usiaku!"


" Mari kita bersama-sama mengawal Pandu dalam membangun sebuah keluarga bersama Fina nanti!"


"Aku mencintai kamu Mbar!"


Bayu membuka sebuah kotak beludru hitam yang berisikan sebentuk cincin cantik. Rasa-rasanya ia tak pernah mendapatkan sentuhan romantis seperti ini. Ambar begitu tersentuh. Bagaimanapun juga, hati wanita pasti memiliki titik teduhnya.


" Lupakan masa lalu dan berjalanlah maju bersamaku. Kita mulai semuanya dari awal bersama-sama!" Ucap Bayu lagi dengan nada lembut.


Mata Fina bahkan sudah menganak sungai, Lik Sarip juga terlihat terharu. Apalagi Pandu. Pria itu belum pernah melihat pria sejantan Bayu.


Dalam hatinya berkata, Ibunya berhak bahagia di usianya yang menapaki renjana senja.


" Terima saja Mbar. Kamu masih pantas untuk bahagia!" Tutur Sarip dengan suara bergetar, satu-satunya saudara sepupunya yang masih tersisa itu terlihat begitu terharu.


Ambarwati dibuat bingung saat itu. Sungguh, ia sebenarnya tak bisa menafikkan begitu saja perlakuan Bayu kepada dirinya.


" Terima Buk!" Ucap Fina dengan mata yang sudah mengkristal saat Ambar menatap calon menantunya itu.


Terakhir, ia menatap Pandu meminta pendapat. Benarkah jika semua ini harus ia pilih? Apa tidak membuat Pandu malu?


Pandu tersenyum seraya mengangguk mantap, mewakili sebuah ucapan untuk menerima suntingan Bayu. Semua orang berhak dicintai dan mencintai. Jatuh cinta adalah hak segala insan.


Ambar menitikkan air matanya. Tak mengira jika Pandu memikirkan dirinya lebih seperti ini. Hati wanita mana yang tak luluh jika mendapatkan perlakuan baik seperti Bayu. Ia juga adalah wanita yang juga memiliki rasa , asa dan cinta.


" Ambarwati, maukah kamu menikah denganku?" Ucap Bayu yang sudah mengambil cincin itu dari tempatnya. Menatap wajah Ambar penuh cinta.


Ia sekali lagi menatap ketiga manusia di sampingnya itu demi menumpas kebimbangan hatinya.


Pandu yang berdiri bersama Fina terlihat mengangguk, Sarip yang menatapnya penuh haru juga mengangguk berkali- kali.


Sejurus kemudian, Ambar terlihat mengangguk sambil menangis haru, membuat diri Bayu seperti meletup-letup saat itu juga. Hati pria berbadan kekar itu , jelas di penuhi oleh kembang api yang meledak-ledak penuh warna.


Rasa bahagia yang tiada terkira.


Bayu menyematkan sebentuk cincin itu ke jari manis Ambar. Sejurus kemudian pria itu terlihat menarik tubuh Ambar kedalam pelukannya. Mengecup ubun-ubun wanita itu dengan mesra.


Bayu mengerlingkan matanya kepada Pandu.Thanks boys!


Pandu mengacungkan jempol saat pria itu masih tekun memeluk ibunya. Lik sarip bahkan terlihat menyusut sudut matanya yang berair, pun Fina yang kini memeluk Pandu juga makin tak bisa menahan lagi air matanya. Mereka semua terharu.


Air mata kebahagiaan yang tak bisa mereka tahan, jelas menjadi suatu bukti jika mereka semua menyayangi Ambarwati.


" Sayang, besok kamu kalau ngelamar aku jangan kalah romantis sama Om Bayu ya?"


Ucap Fina tiba-tiba yang seketika membuat Pandu mendelik.


Iri? Bilang bos!


.


.


.


.


Keterangan :


Renjana (bahasa Inggris: passion) adalah perasaan antusiasme yang kuat atau dorongan hasrat terhadap seseorang atau sesuatu. Renjana dapat berkisar dari keinginan yang bersemangat atau kekaguman terhadap sebuah ide, tujuan, atau kegiatan; hingga menikmati sebuah minat atau kegiatan yang antusias; untuk daya tarik yang kuat, kegembiraan, atau emosi terhadap seseorang. Kata ini khususnya digunakan dalam konteks romansa atau hasrat sek sual, meskipun secara umum menyiratkan emosi yang lebih dalam atau lebih luas daripada yang tersirat dalam istilah berahi.


Sumber : Wikipedia