
Bab 83. Attack
^^^" Bagai bergantung di ujung rambut!"^^^
^^^( Seseorang yang senantiasa berada dalam kecemasan)^^^
.
.
.
...πππ...
Serafina
Berbaring sembari berusaha memejamkan mata dalam suasana was-was dan mencekam pasti sangat sulit dilakukan. Dengan harap-harap cemas, ia terlihat berguling kesana kemari sembari menanti kabar dari para bodyguard.
TRING
Bunyi dari ponselnya membuat Fina kini menyambar benda pipih itu lalu menggulirnya penuh atensi.
" Istirahatlah, Dhika sudah mensterilkan area. Aman!"
Pesan dari Pandu rupanya. Membuat dirinya senyam-senyum sendiri. Bukan karena isi pesannya yang membuat dia seperti itu, tapi dari yang berkirim pesan.
Jelaslah Pandu alasannya.
" Baiklah, see you π"
Ia menekan tombol send dengan perasaan bahagia. Terkikik- kikik sendiri bagai orang gila saking bahagianya.
" Udah jangan dibalas cepat tidur!" Balas Pandu beberapa detik kemudian. Membuat Fina makin keranjingan.
" Kapan tidur di peluk sama kamuπ€"
.
.
Pandu
Ia menjadi belingsatan sendiri kala berbalas chat dengan wanita yang benar-benar nakal seperti Fina. Bagiamana tidak. Bukannya cepat tidur, Fina malah terus berkirim pesan kepada Pandu.
Dengan beberapa kali menguap karena lelah, Pandu juga masih tekun membalas chat dari perempuan nakalnya. Benar-benar nakal dan manja.
"Kapan tidur di peluk sama kamuπ€"
Ia mendecak tak percaya saat membaca balasan dari Fina. Bagiamana bisa ia memiliki kedekatan dengan wanita seperti Fina yang benar-benar. Ah.. entahlah. Terlalu runyam untuk di definisikan.
Menantang sisi jantannya sebagai pria normal.
Ia memilih tak membalas agar Fina bisa segera istirahat. Namun, bukannya harapannya itu menjadi sebuah kenyataan. Ia malah mendapat interupsi dari suara ponsel yang bergetar.
Naughty Girls calling...
Lihatlah! Ia bahkan menamai Fina dengan sebutan anti-mainstream. Dasar Pandu!
" Kok malah telepon?" Sahutnya cepat usai menggulir tombol hijau pada ponselnya.
" Kamu sih gak bales. Kangen tau!"
Dasar gila. Wanita yang sebenarnya sudah menyandang status sebagai calon istri orang itu malah mengatakan kalimat mendayu kepadanya. Kampret- kampret!
" Fin, sudah aku bilang. Hati-hati berucap kalau dirumah, aku cuma gak pingin kamu dalam masalah!" Ia menuturi Fina dengan pelan dan telaten. Bisa runyam jika saat ini hubungan mereka terbongkar.
Kesehatan Tuan Guntoro- lah yang akan menjadi taruhannya.
" Duh kamu ini udah kayak bapakku aja deh. Kamu emang gak kangen sama aku?"
Lihatlah wanita itu! Ya ampun Fina.
Pandu memijat keningnya. Bisa-bisanya Fina tanpa tedeng aling- aling mengucapkan hal itu.
" Iya- iya aku juga kangen. Makanya buruan tidur, biar bisa cepet ketemu!" Dalih yang sebenarnya adalah karena ia sebenarnya sudah sangat mengantuk. Ngantuk pol Fin!
"Jawab video call aku!" Ucap Fina dari ujung telepon.
Astaga Fina. Apalagi ini!
Pandu terpaksa menggeser tombol indikator di layar ponselnya sebagai penanda jika ia menerima panggilan video dari Fina.
Menampilkan wajah Fina yang cantik, tengah menghadap miring menatapnya. Cantik dan menawan.
" Udah tidur sana!" Ucapnya sembari menatap Fina dengan seksama. Ada rasa yang tak terdefinisikan sewaktu kedua mata mereka bertemu.
" Iya, tapi jangan di matiin ya. Awas kalau di matiin!" Fina langsung memejamkan matanya sesaat setelah mengatakan hal itu.
" Iya" Jawabnya pura-pura memejamkan mata.
" Love you!" Ucap Fina yang sebenarnya membuat jantung Pandu serasa meledak saat itu juga.
"Ndu!" Suara Fina terdengar kesal.
" Emmmm!" Jawabnya pura-pura tidur. Ia begitu agar Fina juga bisa segera istirahat.
"CK, ham hem ham hem. Kamu ini balas kek kalau lagu aku sun begitu. Pasif banget!"
Lihatlah wanita dengan julukan naughty Girls itu. Kini mencecarnya dengan omelan yang seperti sebuah siraman roh halus.
" Iya, Love you too!"
Ia melirik Fina yang rupanya tersenyum dari layar kaca ponselnya. Sungguh, ini benar-benar menggelitik.
" Ingat jangan di matiin!"
Astaga, ia belum tidur juga? " Udah cepat tidur, kalau enggak aku matiin ini!" Ancam Pandu karena jam sudah terlampau larut. Jelas Fina akan kekurangan jam istirahatnya nanti.
" Iya- iya!" Meski memeberengut, namun agaknya kali ini Fina menurut.
Di tatapnya wajah teduh Fina yang kini telah memejamkan matanya. Wajah ayu nan menenangkan itu benar-benar membuat Pandu mengembuskan napas lega . Pandu menyukai Fina. Lebih tepatnya rasa sayang mulai hadir dalam sanubarinya.
Ia mengusap layar ponselnya tepat di wajah Fina. Perempuan nekat, perempuan nakal, keras kepala, ah entahlah. Tapi Pandu sangat suka dengan kesemuanya itu.
Otak kotornya mendadak mengembara kala ia mengingat dirinya yang dengan brengseknya bercumbu berdua bersama Fina dalam kondisi sadar. Yihaaaa!
Ia menghela napas. Entah harus bagiamana kini ia menjalani semuanya. Urusannya masih begitu abstrak. Ditambah, secara tak langsung ia kini tengah bermain api. Api yang sewaktu-waktu bisa saja membakarnya. Api cinta yang bergulir antara ia, Rizal juga Riko.
Hah!
Terlanjur hidup!
.
.
...πππ...
" Cuih!" Seorang wanita muda meludah tepat di muka salah seorang anak buah Riko.
" Perempuan sundal!"
PLAK!
Joni menampar wanita itu dengan sangat keras. Pipi wanita itu terasa berdenyut dan pedih.
Joni menjambak rambut wanita itu, hingga membuat wajah wanita itu mendongak. Wanita itu mengeluarkan air mata namun masih diam. Benar- benar merasakan kepedihan yang teramat dalam.
" Aku bersumpah, jika aku bisa kabur dari tempat ini, aku akan membongkar kebusukan kalian!" Wanita itu berteriak.
" Wanita sun..." Aksi Joni seketika terjeda lantaran detik itu juga pintu di sampingnya terjeblak dengan kerasnya.
BRAK!!
Hartadi bersama Riko rupanya terlihat memasuki sebuah tempat tersembunyi yang di kepalaku oleh Joni. Berjalan dengan wajah datar menuju ke tempat Joni.
" Ada apalagi Jon?" Tanya Riko dengan wajah datar. Ia memindai wajah Joni yang nampak di kuasai amarah.
" Wanita ini mencoba kabur lagi bos!" Terang Joni sembari terus mencekal tangan wanita muda itu.
" Kembalikan anakku!" Teriak wanita itu.
" Kembalikan!!!!!" Tenggorokannya pasti saat ini sudah sangat serak, lantaran ia telah berteriak dengan suara maksimal.
Membuat Hartadi geram.
" Kapan mereka dibawa?" Tanya Hartadi kepada Joni.
"Jika wanita ini terus begini, mereka tidak akan mau membawa bos. Wanita ini bahkan bisa memprovokasi yang lainnya!"
" Mereka tidak mau rugi!"
Riko menatap wajah wanita itu sekilas. Wanita yang seusia dengannya. Menatap sengit ke arah Riko.
" Bawa anaknya kemari!"
.
.
" Damar! Kamu enggak apa-apa nak!" Widaninggar mengusap lembut puncak kepala anaknya yang berusia 4,5 tahun itu.
Mereka telah berpisah selama beberapa hari disana. Tentu saja menunggu giliran untuk dijual.
Wanita itu menjadi tawanan Hartadi lantaran dijual mantan suaminya kepada Joni karena mantan suaminya yang tak sanggup membayar hutang yang sudah menggunung.
Riko menjadi sedikit iba kala melihat gadis seusianya menjadi salah satu daftar nama human traffic yang di prakarsai oleh Joni. Rupanya sisi manusiawi masih bersemayam di hati pria brengsek itu.
Ya, keluarga Hartadi merupakan pemilik bisnis terselubung yang nyaris tak pernah terbongkar itu. Benar-benar licik.
Bisnis human traffic
" Ibuk Damar takut!" Bocah laki-laki yang mengenakan pakaian lusuh itu kini mendekap erat ibunya. Ia sangat ketakutan. Dengan suara lirih, bocah itu menenggelamkan wajahnya ke pelukan induknya.
" Ada ibu nak, kamu jangan takut ya!"
.
.
" Kenapa wanita itu bisa ada disini?" Riko menatap tajam Joni. Mengintimidasi lewat sorot matanya.
" Suaminya menjualnya karena di punya hutang banyak ke kita bos!" Ucap Joni terus terang.
" Kenapa Riko?" Hartadi membaca raut muka anaknya yang sedikit bimbang.
" Jangan pisahkan anak itu dengan ibunya. Beri dia makan!" Ucap Riko, membuat Hartadi diam namun Jono mengernyit heran. Kenapa dengan bos-nya itu.
" Apa kau tuli? Jangan pisahkan mereka dan beri mereka makan dulu!"
...πππ...
Seperti yang sudah di rencanakan. Pandu pagi ini telah lepas dinas bersama Andhika, Kadek dan Willy. Menjadi titik awal obrolan normal sesama anggota Kijang Kencana.
" Aku sudah meminta Yusuf dan Markus untuk membantumu berjaga. Mereka akan standby disini selama kamu..."
" Terimakasih!'' Pandu menepuk pelan lengan leadernya itu. Andhika menatap tangan Pandu yang kini menempel di lengan atasnya. Tepukan persahabatan?
" Hati-hati. Aku merasa, mereka akan membuat perhitungan dengan kita. Apalagi Satya bilang jika beberapa waktu yang lalu ia sempat mendapat info jika Raditya berkeliaran di bandara kota ini. Itu artinya, besar kemungkinan pria itu ada disini!"
Pandu tertegun mendengar penuturan Andhika. Jika itu benar, maka ini bisa menjadi kesempatan untuknya. Dendam harus terbalaskan.
" Terimakasih Dhik!"
Pandu kini terlihat duduk di sofa ruang tamu keluarga Fina. Ia terlihat berbincang dengan Yusuf dan Markus yang rupanya datang lebih cepat.
Benar-benar definisi pria ontime.
" Baiknya sa panggil situ abang saja ya, lebih bagus toh?'' Pria manis berkulit gelap itu berbicara dengan logat ketimuran yang khas.
" Sak kareomu ( terserahmu) Kus!"
" Iyo ra mas? ( Iya enggak mas?)" Yusuf tersenyum menatap Pandu yang juga tersenyum kepadanya.
" Tapi kalian lebih senior ketimbang aku!" Pandu terkekeh demi melihat dua sosok dengan suku berbeda yang membuatnya bak digelitik.
" Sa senior dari segi lamanya bergabung. Tapi Sa punya umur masih muda ee. Lebih muda dari situ!" Ucap Markus yang terus memberi nota pembelaan.
" Umur muda, muka tua!" Sahut Yusuf asal nyeblak. Membuat Pandu semakin tergelak.
" Aduh mama, kamu ini Yusuf! Coba kasih bicara baik-baik e... Jangan paksa sa buat kasih tinju ini ke muka kamu ya!" Markus sudah memiting leher Yusuf yang selalu ceplas-ceplos itu.
Membuat Yusuf juga Pandu makin sakit perut demi melihat Markus yang kian meradang. Mereka benar-benar berkelakar.
DOR
DOR
" Tolong!!!"
Guyonan pria lintas suku itu seketika terhenti dan buyar, lantaran mendengar suara berondongan senapan dan teriakan minta tolong. Benar-benar membuat suasana jenaka yang ciamik itu, kini berubah menjadi mencekam.
" Fina!!!"
.
.
.