
Bab 107 . Sebuah Modus
^^^"Siapa yang dapat menolak pesona cinta? Tidak aku, tidak juga kamu! Kita semua adalah budak cinta!"^^^
.
.
.
...πππ...
Cafe dengan nama The Paradise itu kini menjadi titik awal mereka menggodok persolan seputar Bapak biologis Pandu. Kaget, terkejut dan seperti tak percaya. Semua rasa itu kini bersarang di hati ketiga sahabat Pandu itu.
Sakti kini menjadi orang yang paling syok disana. Hidup benar-benar seolah melempar mereka pada ketidakpercayaan. Bagaimana bisa?
" Terus kamu...?" Sakti menatap muram Pandu. Menebak apakah Pandu akan melakukan sesuatu setelah ini.
Pandu menghela napasnya dengan berat. " Aku mungkin akan tinggal disini dulu beberapa waktu!"
" Dendam ku sudah terbayar. Raditya setelah ini pasti akan membusuk di penjara!"
Ucapnya membuat Yudha kini tertegun. Bagiamanapun juga permasalahan Pandu ini sangat-sangat berat.
" Tapi bukan karena Hartadi!" Pandu menatap ke arah Yudha dengan tersenyum, ia macam tahu pikiran yang bersarang di otak sahabatnya itu.
" Aku cuma mau bantu Bayu! Mungkin dalam waktu dekat kami akan keluar masuk kantor polisi!"
Ajisaka menganggukkan kepalanya mengerti. Ia memahami birokrasi penyelidikan yang mungkin akan melibatkan Pandu. Apalagi, jelas ia ingin keadilan bagi Ayudya.
.
.
Ambarwati
Ia tengah dirundung kecemasan lantaran anak-anak pergi dan tak kunjung kembali. Ia bahkan bolak-balik dengan perasaan resah dan gelisah. Padahal empat sekawan itu tengah asyik menikmati waktu bersama. Tak ada yang perlu di khawatirkan.
" Loh, kenapa masih disini? Maksudku...kenapa belum bersama anak-anak makan di bawah?" Bayu yang baru keluar dari ruangannya terkejut kala melihat Ambar yang resah seorang diri.
" Kenapa Pandu dan yang lainnya belum kembali?" Ia langsung menyahuti pertanyaan Bayu dengan pertanyaan.
Bayu tersenyum simpul, demi apapun di dunia ini ia merasa Ambar terlalu lucu karena mengkhawatirkan pria yang bahkan bisa meremukkan tulang orang lain.
Bayu menyeringai " Kalau tidak keberatan, aku bisa mengantarmu mencarinya"
Modus, atau tidak tapi Bayu berucap dengan kesungguhan. Entahlah, ia hanya merasa tenang jika melihat sikap sederhana Ambarwati.
Ambar mendesis resah. Tentu saja itu bukan ide yang baik. Tak mau membuat orang lain berpikiran buruk, terhadap dirinya. Apalagi ia adalah seorang janda.
'" Kau jangan khawatir, aku kebetulan akan kerumahku dulu. Jadi kalau kamu mau kita bisa sekalian!"
" Kamu bisa kembali kemari bersih Pandu nanti!"
.
.
Bayu
Agaknya ia telah berhasil meyakinkan Ambarwati untuk turut serta dengannya. Ya meski Rendy, Satya juga Andreas serta beberapa anak buahnya yang lain, yang kebetulan ada di ruang makan kantor KJ tak hentinya menggoda dirinya.
" Amankan Pak!" Tukas Andreas.
" Jangan kasih kendor ya Pak!" Kini, Dyah ayu yang telah kembali ke kantor KJ terlihat turut terkikik geli.
" Ren, ingat gajimu bulan ini bisa aku po...!"
" Siap salah pak!" Dengan meletakkan tangannya dengan posisi hormat, Rendy justru berkelakar saat Bayu hendak mengintimidasi dirinya. Membuat kesemua yang disana tergelak.
Bos lagi jatuh cintrong gaes!
Oh astaga, gelagat penuh rona bahagia itu jelas tak bisa Bayu tutupi bahkan dengan sikap tegas dan berwibawanya sekalipun. Asooyyy!
Dan benar saja, kini Ambar telah duduk manis di kursi penumpang samping Bayu. Bersikap normal dan terlihat segan kepada Bayu.
Membuat Bayu menyunggingkan senyum yang tiada pernah luntur. Merekah sepanjang perjalanan.
" Pak Bayu kita...?"
" Psssttt jangan se formal itu lah panggil saya! Usia kita pasti hanya beda satu tahun dua tahun. Panggil...mas Bayu saja lah!" Ucapnya kini dengan nada lebih friendly.
Ambarwati mendelik, bagaimana bisa pria dengan rambut yang selalu rapih itu berkata yang membuat dirinya merasa kikuk.
Mas?
Yang benar saja!
" Kalau kamu manggil saya Pak, saya jadi berasa tua banget!"
" Maksud anda?" Alis nanggal sepisan milik Ambarwati itu ,kini saling bertaut demi merasa tak mengerti apa maksud dari Bayu.
Entah mengapa Bayu sempat menarik senyuman kala Ambar mau bertanya perihal kehidupannya. Apakah dia kini menaruh atensi pikirnya?
Perkenalan secara tak sengaja yang sangat singkat itu, nyatanya membawa pemahaman tersendiri untuk Bayu.
"Kamu masih beruntung karena memiliki Pandu sebagai alasan untuk kamu hidup. Tapi aku....!" Lagi-lagi Bayu tersenyum kecut.
" Aku sudah tak memiliki satu diantara keduanya!" Bayu tersenyum sumbang kala mata mereka saling bertemu. Inilah dirinya dengan segala kenyataan pahit yang mengikutinya.
" Anak dan istriku sudah lama meninggal!"
Ambarwati merasa tak enak hati saat ini. " Maaf saya tidak tahu!" Ia menundukkan kepalanya merasa bersalah.
"Saat aku melihat Pandu, aku merasa sangat terkejut. Anakmu memiliki wajah yang mirip dengan anakku!"
Ia melihat Ambarwati yang terlihat kaget, tapi entah mengapa obrolan wajar ini begitu berarti untuk Bayu. Setelah sekian lama menduda dan dalam usia yang telah kelewat matang, ia merasakan kembali buncahan rasa yang membahagiakan di dalam hatinya. Rasa yang memaksanya ingin bertemu dengan wanita itu. Lagi dan lagi.
Meski belum terlalu lama mengenal, tapi yang jelas ia harus mengakui jika dia adalah korban cinta pada pandangan pertama. Telak dan nyata.
Seringkali tak mengenal usia, gender, bahkan suku bangsa. Bila cinta telah bertahta, maka semua akan dibuat menggila. Pun dengan dirinya.
.
.
Bayu tak membawa Ambarwati mencari Pandu terlebih dahulu, ia beralasan jika rumahnya lebih dekat dan ia harus mengambil sesuatu di rumahnya.
Lebih tepatnya, ia berdalih.
Ambar yang memang jarang berpikiran negatif kepada orang lain tentu saja dengan wajar meng-iyakan permintaan Bayu untuk singgah sebentar dirumah pria itu.
Rumah besar yang hampir sama bagusnya dengan rumah Hartadi. Hanya saja, di pekarangan rumah Bayu terdapat banyak sekali tanaman hias.
Ambar minder. Rupanya pria yang menolong putranya itu orang kaya. Oh ya ampun.
" Saya tunggu disini saja Pak...emm maksud saya mas!"
Ia sampai meralat ucapnya demi melihat tatapan protes dari mata Bayu. Sangat menggelitik bukan?
" Masuklah sebentar. Ada pembantuku di dalam . Jangan khawatir!" Bayu paham, wanita itu benar-benar wanita baik. Mungkin Ambar sungkan jika bertandang ke rumah orang hanya berdua saja.
Apalagi status duda dan janda yang seolah menjadi hal tabu.
Tapi dugaan Bayu itu memang benar adanya. Jika bukan karena ingin mencari Pandu, pastilah Ambarwati juga tak akan mau untuk diajak Bayu keluar.
" Sampun wangsul Pak? ( sudah pulang Pak?)" Seorang wanita yang usianya berkisar 70 tahun itu nampak tergopoh-gopoh saat Bayu dan Ambar datang.
Dia adalah mbok Rasto. Wanita tua yang bekerja kepada Bayu sejak keluarganya masih utuh hingga menjadi tak utuh.
" Sudah mbok, mbok apa kabar?" Ia berucap seperti itu lantaran Bayu lebih banyak menghabiskan waktu di kantor KJ ketimbang di kediamannya sendiri.
Untuk itulah juga, ia menyulap beberapa ruangan di kantornya menjadi seperti hunian yang layak di tinggali. Ia merasa, jika hidupnya tak terlalu sepi jika ia bersama para anak buahnya itu.
Ambar hanya diam di belakang tubuh tegap itu seraya mengedarkan pandangannya ke segala penjuru rumah Bayu yang benar-benar bagus itu. Lampu kristal yang menggantung di ruang tengah itu, jelas menampilkan kesan mewah yang kentara.
" Niki sinten Pak ( ini siapa Pak?)" Mbok tua itu bertanya seraya tersenyum menatap Bayu yang terlihat senang.
Ambarwati bahkan terkejut saat merasa ia kini menjadi bahan pertanyaan mbok itu.
" Oh ini...calon majikan mbok yang baru!" Bayu berucap seraya berjalan masuk. Menyisakan Ambarwati yang terperanjat saat dengan entengnya Bayu mengucapkan hal yang justru membuat Ambar merasa sangat kesal. Apa maksudnya coba?
"Mboten mbok... mboten...Kulo ( Enggak mbok, enggak ....saya)" Ambarwati kesal dan ingin marah kepada Bayu yang justru tergelak saat itu juga. Ia dengan cepat segera menyahut agar jiwa polos mbok Rasto tidak terkontaminasi. Dasar Bayu!
Mbok tua itu malah tertawa " Mboten usah isin Bu. Kulo remen sanget malah, bilih bapak mpun saged mlampah maju Malih ( Gak usah malu Bu, saya justru malah senang karena bapak mau melangkah maju lagi)"
Ada guratan rona kebahagiaan di wajah keriput wanita tua itu kala menjawab. Membuat Ambarwati makin dibuat tak nyaman.
Oh tidak, kini ia harus bagiamana. Pria itu kenapa membual dengan entengnya. Bahkan tanpa dia merasa bersalah kepada wanita tua di depannya itu.
Oh astaga.
Bayu!!!!
.
.
.
.
.
Kisah falling in Love the series sebentar lagi akan bergulir ke side story nya Om Ajisaka π€£π€£.
Gimana jadinya ya, pria mudah marah yang jarang dekat dengan wanita itu, malah terjerat cinta dengan seorang wanita yang telah berputra?