
Bab 123. Bertemu lagi
^^^" Cinta itu kerap rumit dan njelimet. Tapi orang-orang masih gak kapok dan jera untuk mencarinya!"^^^
.
.
.
...πππ...
Widaninggar
Sehari seutas benang , setahun sehelai kain. Wida percaya jika ia terus berusaha dan gigih, pasti keberuntungan akan menyertai dirinya suatu saat nanti.
" Sebenarnya Bapak gak usah keluar dari pabrik AF juga gak apa-apa loh pak, Wida bisa kok ngatur ini sendiri!"
Ucapnya sembari mengisi bensin pada botol-botol bekas minuman keras berukuran satu liter, yang ia salurkan dari jerigen besar melalui selang.
" Biar sudah Wid, nanti bapak kerja buruh lagi saja. Ini gak kira selesai selama seminggu!" Ucap Bapak sambil memaku rak untuk dia melakukan beberapa dagangannya.
" Besok Bapak juga mau lihat mesin jahit buat kamu!"
Wida tercenung, sungguh bapaknya itu merupakan manifestasi dari kebaikan yang nyata. Kapan dia bisa membalas segala kebaikan orang dengan sorot mata sendu itu.
Hari ini Damar minta di tinggal saja, bocah kecil itu tahu jika ibunya memiliki kerepotan dirumah. Ia berkata untuk dijemput saja nanti.
" Ibuk pulang aja dulu, nanti jemput pas pulang. Ibuk bisa bantu Kakung dulu buat beresin warung!"
Luar biasa, ia teramat bersyukur mempunyai bocah yang mau mengerti dan memiliki pemikiran lebih dewasa sebelum waktunya.
" Balik jam piro anakmu mengko Wid?"
( Pulang jam berapa anakmu nanti Wid?" Ucap Bapak sambil berpindah posisi ke sisi kanan.
" Nanti jam sepuluh Pak, aku udah bilang sama gurunya tadi. Damar seneng ada temen baru!"
Kini, mereka berdua sama-sama diam. Sibuk dengan urusan masing-masing. Ibu hari ini masih bantu-bantu di rumah tetangganya yang punya hajat, membuatnya masih harus menghabiskan waktu bersama Bapak saja untuk membereskan warung.
" Makasih ya Pak udah nutupin semuanya kemaren!" Tutur Wida yang kini telah selesai dengan tugasnya yang satu itu.
" Nutupin apa?" Ucap Bapak yang juga telah selesai memaku.
Ia kini berjalan ke belakang dan duduk diatas kursi plastik kotak tanpa sandaran. Berusaha mendekatkan diri pada sang Bapak. Sebelum hendak mengerjakan pekerjaan yang lainnya jelasnya.
" Ya..waktu juragan bapak kemaren kesini, mereka kan tanya itu. Untung Bapak jawabnya begitu, kalau enggak...!" Wida murung, ia sungguh malu dengan kondisinya saat ini.
" Bapak mu wes ngerti to nduk. Mana mungkin Bapakmu mengatakan yang sebenarnya. Orang lain gak tau yang sebenarnya terjadi?"
"Tapi kalau bisa, kita harus cepat buat gugatan ke pengadilan. Kamu harus punya surat, karena jika tidak mau gimanapun juga kamu sama si Pram masih berstatus suami istri!"
Wida tertegun. Bapak benar. Huft, jelas ia akan keluar uang banyak lagi setelah ini.
.
.
Damar
Ia merasa gagah sekali tiap mengenakan seragam biru itu. Seragam yang sama dengan TK yang berada di bawah naungan yayasan Darma Wanita.
" Nih Mar, aku kasih kamu oleh-oleh!" Haikal merupakan teman pertamanya yang sangat baik dan ramah. Meraka tengah beristirahat pagi ini.
" Apa ini Kal?"
Damar menerima sebuah kantong kertas ,yang ternyata berisi coklat berbentuk telur yang isinya terdapat mainan mungil, yang harganya hampir sama dengan harga satu liter bensin eceran yang dijual ibunya saat ini.
" Aku dibeliin banyak, itu yang dua buat kamu!"
Ikal memang selalu ramah dan baik. Ia tahu jika bocah dengan rambut jabrik dan selalu terlihat basah itu merupakan anak orang kaya.
" Memangnya Bapakmu dari mana?" Mereka kini menaiki jungkat-jungkit dan ngobrol berdua bak lelaki keren.
" Papa habis dari kota, kalau pulang pasti beliin aku Kiner Jos itu!"
Seketika hati Damar mengkerut, tak sekalipun bapaknya membelikan dia apapun. Yang ia ingat, bapaknya itu selalu marah-marah kepada Ibu dan pulang dengan keadaan kacau serta bau badannya mirip bau tape.
" Maaksih ya, jajan kamu ini mahal!" Ucapnya saat seolah melayang keudara karena hentakan Ikal dari sisi sebelah pada jungkat-jungkit itu.
Ikal mengangguk "Besok gantian kalau Bapakmu keluar kota bagi aku oleh-oleh juga ya?"
Ia tersenyum dan pura-pura mengangguk, meski ia tahu jika semuanya itu akan mustahil terjadi. Perlahan hati bocah itu telah tertutup untuk mengakui keberadaan sang Bapak. Ia sudah memantapkan hati untuk tidak menjadi anak nakal dan menurut pada ibu.
Saat jam sekolah sudah berkahir, ibu tak juga terlihat menjemput. Ia duduk resah di bangku depan.
" Loh Damar...Ibunya belum jemput?" Bu Erna yang telah keluar bersama seorang pria menanyainya. Ia terkejut saat melihat Om yang kapan hari mau menabraknya ada disitu.
" Ngapain om itu disini?"
" Belum Bu, mungkin sebentar lagi!" Ucapnya tersenyum, meski ia tidak bisa memastikan definisi dari sebentar lagi itu kapan.
" Biar saya antar Bu, rumah dia searah kok sama kebun saya yang satunya!" Om itu berucap dengan entengnya kepada Bu guru.
" Kebetulan saya mau ke kebun sekarang!"
" Hah? Nanti aku bisa dimarahi ibuk!" Batinnya dalam hati tapi ia takut untuk menyela pembicaraan dua orang dewasa itu.
" Baik Pak Aji, kalau begitu saya tinggal ya. Saya kebetulan harus rapat ke Diknas sekarang!"
.
.
Ajisaka
Ia hendak ke kebun buah naga varietas Putih yang berada sekitar satu kilometer dari kediaman Pak Atmo.
Ia mampir ke TK karena ingin menginformasikan perubahan jadwal terkait agenda TK tersebut untuk mengajak anak-anak berwisata edukasi. Ia lupa jika seminggu kedepan akan ada kunjungan dari dinas pertanian ke tempatnya. Jadwal yang berbenturan, jelas mengharuskan Ajisaka untuk mendatangi pihak sekolah.
" Saya harus nemenin Yasir kirim ini bos, atau biar saya suruh si Dino saja buat ke TK?"
Ia sebenarnya meminta Sukron untuk ke TK, tapi melihat semuanya sibuk, ia lantas mengambil keputusan untuk mendatangi sendiri saja guru di TK tersebut. Toh jalannya searah.
Sekalian saja kalau begitu.
" Kamu namanya siapa?" Ia mendudukkan dirinya ke sebelah bocah dengan wajah mirip ibunya.
" Damar!" Ia melihat ada rasa takut di wajah bocah Lima tahun itu.
Aji tersenyum " Kamu jangan takut, saya bukan orang jahat. Om antar ya...Om sekalian mau ke kebun Om yang waktu itu ketemu kamu!"
Damar terpekur menatap ujung sepatunya yang ia goyangan secara bergantian. Menandakan jika bocah itu tak percaya diri.
" Om ini wangi banget!"
" Tempatnya udah sepi, Bu guru juga udah pulang. Ayo, itu mobil om ada disana!" Ia mengusap punggung Damar sambil tersenyum. Ya meski ia sangat merasa jahat sekali karena seolah memanfaatkan bocah itu untuk satu niatnya.
" Naik Mobil bagus itu?" Damar menatap mobil hitam dengan tulisan kecil yang ia eja dalam hati. X P A N D E R.
.
.
" Ibuk kenapa gak jemput?" Menjadi kalimat pertama yang memecah benteng kesunyian yang ada saat ia baru saja membelokkan mobilnya keluar dari halaman TK.
" Mungkin masih sibuk beresin warung Om!"
Aji mengangguk, membuka warung berarti akan tinggal disini lama. Lalu suaminya?
Aji berpikir sejenak, mungkin bocah ini bisa menjadi sumber informasinya lagi. " Bapak gak bantuin?" Aji melirik bocah yang sepertinya mengangumi mobilnya itu.
" Bapak belum pulang!" Jawab Damar sambil menikmati semilir angin dari kaca yang Aji buka.
Hah, sepertinya ia memang telah keliru. Jelas+ jelas wanita itu merupakan wanita bersuami. Tak mungkin juga ia menanyai Damar mengapa suatu malam yang lalu wajah ibunya babak belur.
Sejenak Aji tertegun, mungkin ia telah salah selama ini. Jelas wanita itu merupakan istri dari orang lain. Berniat dalam hati ingin mengembalikan benda di dompetnya itu setelah ini saja. Ia juga takut tak memiliki kesempatan untuk bertemu lagi.
Saat membelokkan mobilnya, ia melihat Wida sudah menstarter motornya. Sepertinya hendak menjemput Damar.
" Ibuk!!!!"
.
.
Widaninggar
Ia sibuk sendirian di warung saat Bapak hendak membeli beberapa bahan yang kurang ke toko bangunan. Ia lupa jika jam telah lewat dari jam sepuluh.
Dengan tergesa-gesa ia menyalakan mesin motornya dan berniat menyusul anaknya. Walau ia yakin, ini sudah sangat terlambat.
Namun, teriakan yang terdengar bersamaan dengan sebuah mobil yang datang membuatnya terkejut.
" Damar sama siapa itu?"
Ia buru-buru menyandarkan motornya kembali dan menyambut anaknya.
"Apakah dengan salah satu gurunya?
" Tadi saya gak sengaja ketemu, dia sendirian jadi saya antar sekalian!" Ia membulatkan matanya saat suara seorang pria yang telah turun dari mobilnya datang menghampirinya.
DEG
" Pria itu lagi?"
" Ayo, turun!" Pria itu lewat di depannya saat hendak membukakan pintu untuk Damar.
" Ibuk..mobilnya enak, adem banget buk?" Damar memeluk kaki ibunya seraya berkata apa adanya. Ia juga masih bocah yang polos.
" Kamu masuk dulu ya nak, lepas bajunya terus ganti sama baju yang udah ibuk taruh di atas kasur!" Wida mengusap puncak kepala Damar.
" Om makasih ya sudah ngantar Damar. Mobilnya enak, dingin dan wangi!" Ucap bocah itu yang sejurus kemudian melesat masuk ke dalam.
Aji tersenyum sambil mengiringi punggung bocah yang semakin menjauh itu dengan tatapan senang.
Kini, dua manusia yang berdiri itu saling canggung.
" Terimakasih!" Ucap Wida yang sebenernya tak enak hati. Lebih tepatnya sungkan. Ia tahu jika pria itu merupakan mantan bos Bapaknya.
" Hmm!" Jawab Aji yang bingung, melihat wajah Wida saja ia langsung kehabisan perkataan.
Krik Krik Krik
Hening dan terasa sepi.
Aji memang tak jago dalam merangkai kata-kata seperti Sakti, ia juga tak bisa bersikap setenang Pandu, dan tak bisa juga cepat mendapat ide seperti Yudha, tapi ia berusaha sebisa mungkin untuk tidak terlihat grogi.
" Saya Aji.. Ajisaka!" Pria itu akhirnya mengulurkan tangannya sambil tersenyum. Wida menatap tangan Aji yang sudah menggantung di depannya dengan kaget.
Perkenalan yang payah!
" Wida... Widaninggar!" Ucapnya sambil meraih tangan pria itu.
" Gak nyangka kita ketemu lagi!" Aji berucap sesaat setelah tangan mereka tak bersentuhan.
Wanita itu terlihat terkejut. Lebih terkejut lagi saat melihat Aji yang merogoh sakunya, lalu mengambil sebuah dompet.
" Apa yang dia lukakan?" Wida sedikit heran, kenapa pria itu malah membuka dompetnya.
" Terminal Yaksowilangun di depan rumah makan!" Ajisaka menyodorkan sebuah giwang yang tinggal sebelah kepada dirinya.
Mata Widaninggar seketika membulat, kenapa barang itu bisa berada di tangan pria yang kini ada di depannya? Barang yang beberapa hari terakhir ia cari.
.
.
.
.
.
.