Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 94. Menyelesaikan Misi ( 2)



Bab 94. Menyelesaikan Misi ( 2)


^^^" Ambisi memang kerap merenggut segalanya!"^^^


.


.


.


Sekitar pukul 02.17 Dini hari


" Semuanya tolong tenang!" Bayu mengambil alih perintah. Ia menyapukan pandangannya, menatap puluhan wanita dengan usia yang beragam. Bahkan matanya menangkap gadis belia yang menangis sesenggukan dengan pakaian kumal.


" All unit, tolong dua orang datang ke bangunan paling belakang secepatnya!" Bayu menekan earpiece sembari mengerutkan keningnya sewaktu memberikan komando itu.


Pandu terlihat memotret para wanita yang kini terlihat ketakutan itu. Entah mengapa ia yakin jika hal itu bisa berguna nanti


" Bagiamana ini? Mereka terlalu banyak. Kita harus melaporkannya kepada polisi!" Ucapnya usai memasukkan ponselnya ke saku celananya.


" Jangan gegabah! Kita tidak tahu oknum mana yang bekerjasama dengan keluarga Hartadi. Jangan sampai semua ini menjadi boomerang buat kita Ndu!"


Pandu lupa akan siapa Hartadi Wijaya. Membuatnya sangat penasaran, seperti apa pria itu. Mengapa semua birokrasi seakan ditelan olehnya.


KROMPYANG!!!


Terdengar suara pecahan meja kaca dari arah lorong di depan mereka, membuat Pandu dan Bayu bersiaga. Bersiap jika itu merupakan anak buah Radit


" Pak!" Tukas Aksa dan Satya kepada Bayu. Membuat Bayu dan Pandu bernapas lega. Rupanya mereka berdua baru saja membereskan satu anak buah Radit. Ok sip.


Aksa terlihat mengguncang tubuh pria yang baru saja ia hajar itu menggunakan kakinya. Memastikan apakah pria itu masih memiliki daya apa tidak.


" Aman Pak!" Tukasnya melaporkan kepastian.


" Kalau begitu kalian urus ini, ingat tolong kalian data dulu. Kamu hubungi Wira dulu Sat. Aku tidak yakin jika kita langsung lapor ke kantor polisi!" Ucap Bayu meminta Satya untuk menghubungi salah seorang polisi yang bisa mereka percayai.


" Killo Juliette ( KJ) satu monitor ( panggilan untuk Bayu)!"


"Killo Juliette satu monitor!"


" Gohet !( go Ahead/ lanjut)" Sahut Bayu dengan wajah tegang.


" Pak, Radit kabur bersama dua orang. Saya bersama Willy tengah mengejarnya!" Tukas Kadek yang berbicara dari seberang HT. Benar-benar kurang ajar.


" Brengsek!" Bayu kini mengumpat kesal. Mengapa pria itu licin sekali. Membuatnya benar-benar geram.


" Pastikan kalian mengikuti mereka. Kirim lokasi ke saya!"


Bayu benar-benar di ujung kemarahannya. Pria itu sangat licik sekali. Ia meminta Kadek untuk mengirim lokasi lantaran ia tahu, jika HT tersebut tak akan mampu menangkap gelombang suara dari radius tertentu.


.


.


Riko


" Sini kamu!" Ia memaksa Fina untuk masuk ke kamarnya. Pria situ mengunci kamarnya dengan cepat. Logikanya telah aus. Riko tak memiliki pilihan selain menyembunyikan Fina dirumahnya.


Fina menggeleng tak percaya, bisa-bisanya ia dulu tergila-gila dengan pria psyco macam Radit.


" Elu bener-bener udah gila ya... Gue yakin, Pandu pasti bakalan nemuin gue meski elo bawa gue ke tempat ini!" Fina memaki Riko. Menatap Riko dengan tatapan jijik.


PLAK!


Fina meraba pipinya yang terasa panas akibat tamparan tangan Riko. Tangan besar yang kekar itu tentu tak sepadan dengan pipi Fina yang lembut. Are you crazy?


" Sekali lagi kamu berani menyebut nama pria miskin itu, aku gak segan-segan buat nyakitin kamu Fin!" Riko benar-benar tak suka dengan Pandu. Sungguh mendengar namanya saja, sudah membuat hatinya seakan meledak.


" Kenapa elo gak bunuh gue sekalian aja hah?"


" Kenapa?" Fina muak akan semaunya. Ia bahkan kini tak mengetahui kondisi Papanya.


" Gue gak nyangka kalau elo seorang psikopat!" Maki Fina meski dengan rasa pipih yang berdenyut pedih.


" Argghhhh!" Riko mengacak rambutnya frustasi. Benar-benar seperti ada yang salah dalam diri lelaki itu.


.


.


Rengganis


Ia dan suami masih tertidur jelang subuh itu. Namun, suara ribut-ribut benar-benar menginterupsinya. Siapa juga yang ribut saat pagi buta begini? Mengganggu saja!


Ia menatap suaminya yang masih lelap. Sama sekali tak terganggu dengan suara ribut. Tetapi Rengganis benar-benar hendak ingin memastikan sesuatu diluar sana.


Tak bisa lagi menunda barang sejenak.


Dan betapa terkejutnya ia mendapati Joni yang berdiri saat ia membuat pintu kamar. Tak biasanya pria itu datang jika tidak diminta terlebih dahulu.


" Ngapain kamu disini? Mana Riko?" Tanyanya sembari membetulkan tali kimono pakaian tidurnya.


"Emmm...Bos ...!" Ucapan Joni menguap tatkala Riko kini keluar dari kamarnya bersama sesosok wanita.


" Aku disini ma!" Riko terlihat menggandeng tangan Fina yang berwajah geram. Membuat dua netra Rengganis membulat sempurna. Ia pasti tengah bermimpi, atau ia pasti hanya berhalusinasi.


" Ka...kamu..!"


" Riko!?" Masih dengan wajah tak percaya. Dan bagiamana bisa?


" Kamu gila Riko! Kamu sadar enggak kalau kamu begini bakal buat masalah baru ke keluarga kita, papa kamu sebentar lagi akan maj..!"


" Aku gak peduli ma! Aku cuma pingin dia. Kalau mama sayang sama Riko, lakuin apa saja biar orang-orang Kijang Kencana enggak bisa datang kemari!'


" Persetan dengan pemilihan kepala daerah itu ma!"


Rengganis menggelengkan kepalanya tak percaya, mengapa putranya benar-benar bertindak impulsif. Kini, reputasi keluarga mereka sama dengan dipertaruhkan.


Terlebih masa depan dan impiannya untuk menjadi penguasa.


Fina mendadak di landa kebingungan. Sebenarnya keluarga macam apa yang telah terbangun di keluarga Hartadi?


" Ada apa pagi buta begini ribut-ribut!" Tuan Hartadi Bangun dari tidurnya, kini ia tengah berdiri di ambang pintu menatap beberapa manusia yang adu mulut pagi itu.


.


.


Kini ia bingung harus kemana lagi, fajar sudah mulai mengintip di ufuk timur horizon pagi itu. Menandakan bila pergantian hari telah tiba.


" Bos, kita hampir kehabisan bahan bakar!" Tukas Kalifi yang benar-benar lelah karena hampir sedari tadi ia hanya kejar-kejaran dengan dua anak buah KJ, Willy dan Kadek.


" Kita kerumah Bos saja!" Radit tak bisa berpikir panjang. Tak mengira juga bila personel besutan Bayu itu kini lebih tangkas dan juga sigap. Apalagi ia mengingat bila tak satupun dari anak buahnya yang mampu melawan apalagi bertahan.


Kalifi langsung menginjak pedal gas mobilnya dengan yakin. Benar-benar sialan. Dari tadi kek bilang.


Sebenarnya mereka pasti akan kena damprat jika turut menyusul kesana. Tapi mereka juga memerlukan perlindungan saat ini. Sialan?


CIT!!!


KZZZTSSZTT


Baru saja ia menaikkan kecepatan laju kendaraannya. Ia kini berganti menginjak pedal remnya saat sebuah mobil Pajero hitam akan berbelok dari arah Argopuro menuju jalan cendrawasih.


Membuat cetakan ban itu terpahat tebal diatas aspal jalanan yang masih lengang itu.


" Brengsek! yang benar lu kalau bawa mobil!" Radit bahkan sampai menonyor kepala Kalifi, lantaran wajahnya baru saja terjaduk dasbor mobil.


" Itu bos!"


.


.


Yudha


Ia kini mengambil alih kemudi karena kasihan dengan Ajisaka yang terlihat kelelahan. Dan tentu saja ia tak mau menggadaikan keselamatannya bila melimpahkan kemudi itu kepada Sakti. No way, never ever!


Enam jam perjalanan sudah cukup bagi seorang Ajisaka untuk mengkudeta setir bundarnya itu sendiri.


Tak di sangka, ia yang sebenarnya sudah melihat ke spion pagi itu nyaris saja tertabrak oleh mobil yang tak kalah bagus dari arah barat saat ia hendak berbelok.


Mendadak mobil itu seakan melesat dari arah berlawanan. Nyaris saja terjadi laka lantas.


" Astaga!" Wajah Bu Ambar langsung pias seketika.


" Jangkrik!!!, gendeng we Yud ( gila kamu yud)!" Sakti bahkan kini mendengus kesal seraya menjengukkan kepalanya ke depan demi melihat apa yang terjadi.


Ajisaka yang semula tertidur, kini dengan terkaget l lekas mengerjapkan matanya seraya membenarkan letak duduknya. Apa yang terjadi?


Namun, pandangan mereka semua teralihkan saat mobil itu tak mempersoalkan kejadian ekstrim itu. Padahal Yudha sudah bersiap akan turun.


Turun dan siap menghadapi cecaran tuntutan. Ia siap.


Namun, tak di nyana mobil itu melesat dengan terburu-buru Dan tanpa menuntut apapun. Benar-benar aneh.


Sejurus kemudian , di menit ke dua mata Yudha terkejut demi melihat mobil dengan logo perusahaan yang pernah Pandu ceritakan. Perusahaan yang logonya persis tercetak di kalung yang sempat Pandu perlihatkan kepada mereka.


Kijang Kencana Safety Group.


" Aji, Yudha! Apa kalian tadi lihat?" Sakti berucap dengan yakin, seolah pemikiran mereka bertiga sama.


.


.


Hartadi Wijaya


" Semua ini gara-gara papa!" Rengganis bertengkar dengan Hartadi. Wanita yang kerap ber-make up tebal itu berang lantaran Riko yang keukeuh menyekap anak dari Guntoro dengan alasan kuno. Cinta mati.


" Berhenti nyalahin papa!" Elaknya.


" Karena mama, dari dulu anak kita menjadi pilih-pilih dalam berteman. Karena sikap mama yang seperti itu, membuat Riko memiliki kepribadian yang seperti itu!" Hartadi menggerakkan giginya. Kemarahan jelas terpancar di dua bola matanya.


" Jangan tanya kenapa dan kepada siapa, tetapi tanyakan kepada diri mama!" Hartadi benar-benar muak saat itu.


Rengganis mengeraskan rahangnya. Kenapa suaminya berani mengangkat suara kepadanya. Bukankah ia yang memiliki kekayaan itu dari dulu.


" Kamu bahkan dari dulu tidak pernah menurut apa kataku. Lantas apa fungsiku sebagai suami jika aku terus menerus menurutimu!"


" Aku bahkan tidak bisa membedakan mana suami, dan mana budakmu!" Hartadi berteriak tepat di wajah istrinya. Ia berada di ujung lelahnya.


Mereka benar-benar bertengkar hebat pagi itu.


" Kali ini aku akan berbuat demi Riko. Apapun demi Riko!" Hartadi berang.


" Terserah apa pendapatmu. Jika Riko bahagia dengan wanita itu, maka dengan segala cara aku juga akan mewujudkannya. Meski kehilangan reputasi!"


Berpuluh- puluh tahun mengarungi mahligai rumah tangga degan Rengganis hanya berisikan emosi dengan amarah, lantaran ambisi istrinya yang ingin mejadi orang nomor satu di kota itu.


Berpura-pura bahagia di depan publik.


Berniat menguasai segala lini birokrasi demi kemaslahatan hidup yang sebenarnya hanyalah sebuah fatamorgana.


" Kamu mau kemana mas?" Sergah Rengganis yang melihat Hartadi kini menarik laci dan mengambil senjata yang tersimpan didalamnya. Memasukkan ke balik punggungnya.


" Mas!" Rengganis berteriak.


" Kamu jangan gila ya, jaga tindakan kamu!" Rengganis benar-benar murka saat itu. Ini bisa menghancurkan semua rencananya.


Hartadi menatap wajah Rengganis dengan rahang yang mengeras. Menatap geram istrinya yang selalu saja mengaturnya ini itu. Tiada berubah dan tiada berganti.


" Aku hanya akan melakukan tugasku sebagai seorang bapak. Cukup bagiku selama ini tunduk kepadamu!"


Hartadi langsung melesat pergi meninggalkan Rengganis yang makin terbakar api kemarahan tanpa menoleh lagi.


" Mas!!"


" Mas!!!!"


BRAK


" Argghhhh!!!!"


.


.


.


.