Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 208. Resmi milikku



Bab 208. Resmi milikku


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Guntoro yang sudah duduk diatas kursi roda kini terlihat di temani oleh istrinya, juga Bu Asmah, menyambut para tamu yang sudah hadir. Berpakaian sangat formal dan semakin memperlihatkan kesan terhormat bagi mereka.


Pun dengan Bayu dan juga Ambarwati, yang terlihat memancarkan senyum merekah saat menyalami satu persatu tamu yang hadir. Mereka berdua terlihat sangat serasi, dan banyak dari rekan Bayu yang terkejut dengan hal itu, lantaran tidak mengetahui jika Bayu telah melepas status dudanya.


" Lama gak dengar kabar, tahu-tahu udah beristri sama mantu lu!" Seru salah satu rekan Bayu yang nampak terkejut.


Atau para punggawa Kijang Kencana yang terpukau dengan penampilan Ibu suri KJ itu. Terlihat berbeda dari biasanya. Cantik luar dalam.


" Ren, gimana?" Bisik banyu kepada Rendy yang standby dengan kacamata hitamnya.


" Aman Bos, Tanjung sama Dyah udah saya minta ke kamarnya Mbak Fina!" Balas Rendy sedikit mencondongkan tubuhnya.


Over all must be safe and secure.


Di sela bisik-bisik tetangga antara Bayu dan Rendy, datang seorang pemuda yang mengenakan kemeja bertuliskan crew salah satu EO yang tengah mereka pakai.


" Pak, menurut daftar buku, seluruh tamu sudah hampir hadir semua, sebaiknya Bapak sama Ibuk pindah ke tempat yang sudah di sediakan, karena petugas dari catatan sipil sudah datang!" Ucap pegawai EO yang meminta para tetua untuk duduk di singgasana mereka.


Bayu menggenggam erat tangan istrinya, begitu juga dengan Guntoro yang saat ini di dorong oleh Markus. Anak buah Bayu yang sedikit longor.


Wida, Aji, Sukron, Dino, Yudha dan juga Damar duduk satu meja dan berada di sisi sebelah kiri, dekat dengan tempat Pandu dan Fina melaksanakan ijab kabul.


" Sini duduk dekat Om aja ya, kita foto bareng nanti!" Aji memindahkan Damar agar ia bisa menggenggam tangan Wida tanpa hambatan. Selain sorot mencubit dari duo jomblo pastinya.


Sementara para orangtua terlihat duduk di meja di belakang mereka ; Bapak dan mamak Yudha bersama Arju, Mbak Yayuk, juga Lik Sarip yang bersama anak istrinya.


Yudha mengedarkan pandangannya resah. " Beneran si Sakti enggak ada Ji, kemana dia sebenarnya?"


Aji turut celingak-celinguk, benar kata Yudha " Kenapa sih tu anak. Kemaren aku telpon juga enggak di angkat, tapi Ibunya bilang kalau mereka bakal datang!"


Mereka semua mencemaskan keberadaan Sakti. Masa iya pria itu tidak datang di acara pernikahan sahabatnya.


Wida yang mendengar percakapan Aji dengan Yudha kini turut penasaran. " Mas Sakti masih ngambul?" Tanya Wida menatap Ajisaka yang terlihat lebih keren dari biasanya.


" Sebenarnya udah enggak, tapi ..rasanya makin menjauh aja dari kita" Jawab Aji muram.


.


.


Petugas EO saling sahut menyahut menggunakan HT ( Handy Talky) guna mengkondisikan sesuatu dari jarak jauh. Kesibukan para pelayan hotel juga makin mewarnai gegap gempita yang terselenggara siang itu.


Seperti saat ini, Dita yang di bersamai oleh dua bodyguard wanita, terlihat menemani Fina bersama seorang MUA tengah bersiap menunggu info dari mempelai pria, yang kini sudah di temani oleh Rama.


" Santai aja!" Ucap Rama kepada Pandu yang terlihat tegang.


Pandu tersenyum kepada calon kakak iparnya, " Asli Bang, lebih menegangkan dari waktu aku ikut kerja Ayah dulu!" Pandu terkekeh mencoba menutupi kegelisahan yang menderanya.


" Teman-teman saya, udah pada datang kan Bang?" Tanya Pandu di sela-sela kegugupannya.


" Udah, tadi cuma satu orang yang belum... Sakti kalau enggak salah namanya!" Tukas Rama dan membuat Pandu tertegun. Jangan sampai apa yang di khawatirkan teman-temannya terjadi.


" Di copy mempelai turun, Roger!"


Suara Andhika dan Satya yang saling berkomunikasi juga terdengar semakin membuat Pandu grogi.


Mereka berdua mengangguk sebagai tanda jika mereka harus turun menuju meja akad.


Dari kejauhan, Pandu yang selama seminggu ini tidak boleh bertemu dengan Fina maupun berkomunikasi itu benar-benar merasa terharu. Fina cantik sekali dan membuatnya pangling.


Kedua manusia paling bahagia itu terlihat saling melempar senyum, saat mereka sudah semakin dekat.


Pandu sangat tampan dengan rambut yang tersurai rapih. Tubuh tinggi tegap yang mengenakan tuxedo blue night itu benar-benar membuat jantung Fina berdegup.


Benarkah semua ini kenyataan?


" Fin! Ah elah, malah melongo!" Ucap Dita yang ingin tertawa demi melihat Fina yang terpukau dengan calon suaminya sendiri.


" Calon suami gue ganteng banget Dit, oh ya ampun!" Fina benar-benar melting dibuatnya.


MC meminta kedua mempelai untuk duduk di tempat yang sudah disediakan. Dita masih setia mengurus bagian gaun yang menjuntai dan sedikit rempong itu, benar-benar riweh.


Rama batal menjadi wali nikah adiknya, sebab ia memberikan semangat kepada Papa untuk lebih percaya diri, meski kondisi beliau tidak lagi prima.


Pria tampan itu terlihat menunggui Guntoro dengan tekun, saat semua saksi juga sudah menempati posisi mereka masing-masing. Lik Sarip diminta pindah untuk menyaksikan acara sakral itu, dan kini duduk bersanding dengan Basuki.


Semua hadirin kini terlihat senyap, tekun dan terfokus ke arah depan ,dimana Pandu dengan gagahnya sudah terlihat menjabat tangan pria berkacamata yang siang itu bertugas menikahkan Fina dan Pandu.


Dalam hati, Pandu berharap Hartadi maupun Riko bisa berkesempatan hadir. Ia tak sempat memindai seluruh tamu yang hadir tadi, jelas terlalu banyak. Bahkan keberadaan Ajisaka dan lain-lain juga belum ia ketahui. Semua manut protokol dari EO.


" Saudara Pandu Dewananda...."


Pandu terlihat memasang wajah serius saat tangannya telah terjabat dengan kuatnya, oleh pria berkacamata itu. Degup jantung yang seakan-akan meledak, membuat Pandu menarik napasnya dalam-dalam.


" Saya terima nikah dan kawinnya Serafina Ekadanti Binti Guntoro dengan maskawin tersebut, dibayar tunai....!"


Suara 'sah' kini terdengar melantun indah dari para bibir tamu yang telah hadir. Menggema dan membawa kelegaan di hati para hadirin yang kini bahagia. Adalah Sukron, pria itu sampai melakukan standing applouse, membuatnya menjadi pusat perhatian.


Semua tangan menengadah mengaminkan semua doa yang terlantun indah dari bibir petugas itu. Dalam hati menyetujui setiap doa penuh makna kebaikan , serta mengaminkan setiap bait ucapan penuh kata kudus.


Para ibu terlihat menitikkan air matanya. Putra-putri mereka, kini telah resmi menjadi sepasang suami istri yang kedepannya, akan menjalani hidup bersama, berbagi kasih, berbagi duka, berbagi rasa, melewati naik turunnya kehidupan bersama-sama hingga ajal menjemput.


Usai menandatangani semua berkas, juga telah membubuhkan tanda tangan mereka diatas buku warna hijau dan merah bata dengan logo burung Garuda itu, kini Fina meraih tangan Pandu lalu menciumnya takzim.


" Istriku!"


" Suamiku!"


.


.


.


.


.


Mommy kabur kedepan dulu, udah mau acara resepsi nih. Ayo kita sikat dulu buat makam siang🀣🀣🀣🀣