
Bab 62. Penolongku
^^^" Kebohongan adalah ketenangan sesaat. Apabila tidak segera di selesaikan, akan menjadi kegelisahan seumur hidup!"^^^
.
.
.
...πππ...
Bayu
Ia merupakan Direktur Utama kantor penyedia jasa bodyguard yang lagalitsnya sudah tidak di ragukan lagi. Malam itu ia beserta dua anak buahnya tengah sibuk mencari beberapa persoalan yang melanda intern personalia di perusahaannya.
Ada dugaan kasus penggelapan dana dan juga beberapa anak buah yang berkhianat di perusahaannya. Mereka benar-benar dibuat sibuk dengan tingkah beberapa oknum pegawai disana.
Namun, saat tengah sibuk dengan dua anak buah terbaiknya ia benar-benar dibuat terkejut oleh kedatangan seorang pria dengan sorot mata elang yang begitu mengintimidasi.
Tajam dan begitu menelisik.
Ia bahkan menyaksikan sendiri bagaimana pria itu membuat anak buahnya tak berdaya. Cara berkelahi yang membuatnya mendecak kagum.
" Apa yang terjadi?" Kini Bayu mengintrogasi pria berkaos hijau botol yang telah sadar dari pingsannya. Pria yang sama yang tadi asik nongkrong bersama ke empat bodyguard yang tengah mengadakan selebrasi kecil- kecilan.
" Ta- tadi!" Pria berkaos hijau itu kini semakin ketakutan. Tugasnya harus menggantikan Mansur malam itu. Tapi ia malah ngacir ke perkumpulan pria tambeng ( bebal).
Bagai menelan simalakama. Jika ia tak bercerita mengenai kejadian tadi, tentu Bayu akan berang. Dan ia tak mau menjadi pengangguran dalam waktu dekat.
Namun bila ia bercerita, pasti Doni and the geng akan marah kepadanya. Ah sudahlah, lebih baik bercerita saja kepada bos. Ia tak mau jadi pengangguran.
" Cepat katakan atau.."
" Si-siap bos!" Ucap pria itu dengan ketakutan. Sangat ketakutan.
Pria itu akhirnya menceritakan yang terjadi. Mulai dari mereka yang minum di sebuah ruangan, hingga menceritakan bagaimana Pandu dengan badasnya membuat para bodyguard itu terkapar tak berdaya.
Membuat Bayu kini semakin memikirkan sesuatu.
" Rendy, tolong cek CCTC di ruangan sebelah. Aku ingin tahu apa yang mereka lakukan tadi!"
Titahnya kepada leader dari para anggota bodyguardnya. Membuat Pria berkaos hijau botol itu mendelik demi mendengar ucapan Bayu. Mereka pikir di ruangan itu tidak ada CCTV selama ini.
Ke empat bodyguard itu pasti akan habis jika begini ceritanya.
" Siap bos!" Jawab Rendy dengan mengangguk hormat.
...πππ...
Serafina
Ia membunuh kebosanan dengan keluyuran seorang diri malam itu. Ia terlalu pusing jika papa terus saja memintanya untuk dekat dengan Rizal. What the hell!
Saat mama kini ada di pihaknya, mengapa harus papa yang kini justru bersikap seperti mama? Mama yang dulu gencar mencarikan jodoh untuknya dari kalangan orang kaya dan terpandang.
Fina tak membutuhkan hal itu. Mengapa mereka begitu egois?
Wanita situ sedari dari terus berkeliling tak jelas. Berkendara tanpa tujuan. Kekesalannya juga bertambah kala Dita yang semakin sibuk dan jarang bisa berbalas pesan. Apalagi satu nama yang ia harapkan mau membalas pesannya, juga sama-sama tak menunjukkan pergerakan.
Benar-benar sial, apes, naas. Apalagi kata yang bisa menggambarkan keadaannya saat ini. Nestapa begitu?
Dengan seroang diri dan dengan tak terhibur, Fina keluyuran malam itu. Ia benar-benar merasa sendiri. Sangat sendiri.
Ia melihat banyak anak muda yang cekikikan di pinggir jalan. Banyak pria dengan gitar yang nongkrong di angkringan dengan bernyanyi riang bersama para teman-temannya.
Lihatlah, semua orang bahagia bukan?
Kecuali dirinya.
Very sadness!
Dan saat lamunan menghinggapi dirinya yang hamsyong itu, ia dibuat terkejut demi melihat seseorang yang mendadak lewat di di depan mobilnya.
Mendadak lewat atau dia yang tak becus untuk sekedar fokus di jalanan, ia sendiri tak bisa memastikan. Damned!
Ia bahkan langsung menginjak pedal rem dengan mendadak. Membuat mobilnya seketika terhuyung. Dengan gerakan cepat ia mencampakkan seatbelt dan langsung turun usia menarik tuas handbrake dan berniat menilik korban.
Hatinya dag dig dug ketakutan. Takut jika korbannya parah dan pasti akan menambah daftar panjang kenakalannya di mata papa.
Namun, dua netra jernihnya membulat kala melihat sosok yang selama ini meresahkan hati dan juga pikirannya tengah bersimpuh lemah di jalanan.
Dan demi apapun yang ada di jagat raya ini, ia benar-benar kaget dan tiada mengira. Jelas itu adalah pria yang beberapa hari ini menganggu pikirannya.
" Pandu!!" Ucapnya demi melihat sosok yang ia rindukan.
.
.
Ya, Fina saat ini membawa Pandu ke sebuah hotel berbintang. Selain di pastikan aman dari grebekan karena saat check-in mereka bukan pasutri, Fina tidak tahu lagi harus membawa Pandu kemana. Ia terlihat begitu khawatir.
Tidak mungkin juga ia membawa Pandu kerumahnya. Mustahil!
Fina langsung mengobati Pandu saat petugas hotel telah datang dan membawakan beberapa item yang ia minta.
Fina sudah ingin menangis. Bukan perkara ia yang selama ini tak mendapat balasan dari Pandu. Ataupun dirinya yang kesal karena tak bisa bertemu dengan Pandu saat ia hendak bertolak ke kota X.
Melainkan saat ia melihat kondisi Pandu yang kacau, dan tengah berada di kota tanpa sepengetahuannya.
Siapa yang tega melihat Pandu dengan wajah babak belur seperti itu. Oh astaga!
Pandu menatap wajah cantik Fina yang sedari tadi terus mengerutkan alisnya dengan tiada henti saat mengobati dirinya.
Terlihat semakin cantik walau dalam kecemasan.
" Sudahlah, aku tidak apa-apa!" Ucap Pandu sembari meringis. Badannya remuk redam. Tapi mulutnya masih bisa mengatakan hal itu. Penipu ulung!
" Diam!" Tukas Fina yang merasa mata dan hidungnya mulai memanas.
Fina khawatir, cemas dan takut. Pandu tahu gak sih?
Bagiamana bisa dan...apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Pandu bisa babak belur seperti itu.
Mata Fina mulai mengkristal. Ia sedari tadi benar-benar berusaha menahan laju air matanya. Ia tak kuasa melihat kondisi Pandu saat itu.
Sebulir cairan bening lolos begitu saja dari pelupuk matanya saat ia masih gencar membersihkan serta mengobati luka Pandu.
Pandu kini cemas kala melihat Fina yang menangis. " Kau menangis?" Pandu menelan ludahnya saat ini. Mengapa Fina tiba-tiba mengeluarkan air mata?
" Sudah kubilang diam!" Ucap Fina dengan suara yang kali ini bergetar, sembari terus mengobati bibir Pandu. Bibir yang pernah ia kecup dengan mesra bahkan tanpa sebuah status hubungan.
Fina terlihat menyusut matanya yang basah menggunakan punggung tangannya. Ia masih tekun mengoleskan salep ke bagian bibi dan wajah Pandu yang lebam.
Hatinya terlalu gondok. Kini ia yang awalnya tak mempermasalahkan perihal Pandu yang tak membalas pesannya, mendadak menarik ucapannya dalam hati. Ia kesal, sangat kesal.
Namun air matanya terus saja lolos. Tak mau berhenti. Pria itu sungguh menyebalkan. Mengapa tidak memberitahu jika mau ke kota. Dan untuk apa dia ke kota kalau hanya untuk bonyok begini?
Benar-benar tak habis pikir dibuat.
" Fina, kamu...!" Pandu kini beringsut bangun kala melihat air mata Fina semakin deras mengalir. Ada apa pikir Pandu.
Dua anak manusia itu sama-sama perang dengan diri mereka sendiri.
" Sudah kubilang di..."
" Kamu kenapa? Kenapa kamu menangis?"
" Apa terjadi sesuatu?" Tentu saja Pandu bingung, apa Fina baru mengalami kejadian tak menyenangkan.
Oh astaga, apa semua makhluk jantan di dunia ini selalu saja tidak peka? Mengapa mereka kadang terlihat bodoh?
Fina menarik napasnya dalam-dalam. Memejamkan matanya sejenak. Berusaha menetralkan diri.
" Fin?"
" Elu jahat banget Ndu. Pesan maupun WA gue gak satupun elu bales. Gue bahkan udah susah-susah minta ke Yudha tapi sama sekali gak elu respon!"
" Apa susahnya sih bales pesan gitu aja?"
" Elu sengaja banget sih bikin perasaan gue begini, terus elu main ilang gitu aja!"
" Elu itu...!"
CUP
Suara cerocosan Fina kini senyap seketika kala bibirnya di kecup oleh Pandu.
Meski terasa pedih dan berdenyut, namun Pandu menggunakan bibirnya untuk menyumpal bibir Fina yang terus nyerocos tiada henti.
Sungguh semua itu makin membuat kepalanya yang pusing tambah pusing berkali-kali lipat.
Pandu tersenyum simpul demi melihat wajah terkejut Fina yang nampak bloon, meski kepalanya masih sangat terasa sakit, namun ia harus menghentikan Fina bukan agar kepalanya tak bertambah sakit.
" Aku belum sanggup untuk mendebatmu. Kepalaku sakit sekali!"
Ucapnya dengan tanpa dosa lalu menidurkan kembali tubuhnya seraya memejamkan matanya. Membuat Fina makin dibuat kesal.
.
.
.