Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 210. Di balik layar



Bab 210. Di balik layar


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Yudhasoka


Kupu-kupu dengan berbagai jenis dan spesies kini banyak terbang memenuhi perutnya. Membuatnya terus saja tertawa sebab ia bahagia demi mendengar Rara yang berkata ' kangen banget sama kamu'. Hihihi.


Ratna yang di dapuk sebagai manager Rara, bahkan terlihat terkekeh demi melihat temannya yang kini menjadi salah tingkah. " Sepuluh menit, buruan!" Ratna memberikan waktu sepuluh menit bagi dua sejoli itu untuk saling berbincang, selagi Pak Bayu masih memberikan sambutan.


" Aku!"


" Aku!"


Baik Yudha maupun Rara kini terlihat terdiam lalu sejurus kemudian tertawa bersama. Mereka berucap bersamaan dan membuat keduanya keki.


" Kamu dulu!" Ucap Yudha tersenyum. Menahan tawa yang begitu menggodanya.


"Baiklah, Aku...cuma mau bilang makasih banget sama kamu Yud. Obat herbal yang setiap lima hari sekali kamu kirim, ternyata beneran bikin Bapakku bisa jalan lagi!" Ucap Rara yang saat ini merasa belum pernah mendapatkan orang yang tulus menolongnya.


Meski sebulan terakhir mereka hanya berbalas pesan lewat ponsel, tapi Rara merasa tersanjung atas kebaikan pria itu. Tak jarang, setiap malam mereka mengobrol melalui sambungan telepon untuk sekedar membahas obat untuk penyakit Pak Hari.


" Itu resep dari Bapak. Dulu mbahku jago banget buat ramuan begitu, banyak lah jenisnya. Mulai dari Pasek bumi, terus adas, kayu bajakah yang dari Kalimantan itu, itu bagus buat orang yang sakit keras. Kata Bapak sih...aku ikut-ikutan aja!" Yudha kini berbicara lebih santai dan tidak terlalu kaku, bahkan terlihat sangat berbeda.


" Sekali lagi, aku... terimakasih banget sama kamu Yud. Sory tadi meluk elu tiba-tiba soalnya aku seneng banget sebab Bapak saat ini lebih sehat!" Ucap Rara mengklarifikasi perbuatannya tadi.


" Oh ya... kayaknya emang rejeki elu Yud, entar habis dari sini kayaknya aku bisa bayar separuh hutangku ke elu!"


Membuat Yudha tersenyum sesaat dengan hati nyeri. Padahal ia sama sekali tidak mengharapkan hal itu.


" Santai aja, aku belum perlu kok!" Kilah Yudha yang sebetulnya tidak mengharap sama sekali uang yang telah di pakai Rara.


" Oh iya, kok elu bisa ada disini?" Rara hampir melupakan pertanyaan yang sedari tadi bersarang di otaknya.


Yudha terkekeh ,sepertinya Rara perlu dikenakan kepada sahabat-sahabatnya. " Tahu pengantin prianya?" Tanya Yudha.


Rara mengangguk. " Tahu!"


" Itu sohib gue, namanya Pandu. Kami empat sekawan. Nanti deh aku kenalin ya?"


" Ra! Rara?" Preparation!" Ucap Ratna yang terlihat berkomunikasi menggunakan HT dengan salah satu crew EO yang berada di stage utama.


" Aku pergi dulu ya...!"


Yudha mengangguk seraya tersenyum senang dengan perubahan yang membahagiakan ini. Sama sekali tak menyangka, jika wanita yang dulu bermusuhan dengannya itu, kini menjadi orang yang mulai mengusik hatinya. Cihaaaa!


.


.


Rara membawakan banyak sekali lagu karena Sukron dan Dino request secara bergantian, hingga acara makan-makan kini berlangsung, Rara kini bisa bebas datang menyapa meja Yudha yang riweh karena Damar salah di suapi oleh Ajisaka.


" Kenapa ini?" Tanya Rara yang melihat Damar menangis. Bocah itu bahkan sudah tidak mau di pakaikan dasi kupu- kupu yang telah ia lepas tadi.


" Ini si bos, udah tahu bocah eh di kasih makanan pedes, ya nangis anak orang!" Tukas Sukron yang mengipasi Damar yang sesegukan dengan wajah mencibir.


" Enak aja anak orang, anak gue ini!" Sahut Aji ta terima, membuat Rara tergelak. Teman-temannya Yudha rupanya heboh.


" Oh ya, kenalin. Ini sahabat gue yang paling mudah marah. Namanya Ajisaka!"


" Ji, kenalin ini Ra...!"


" Udah kenal, kan kita udah pernah ke La Amor bareng!" Membuat Yudha mendengus.


" Rara!"


" Aji!"


Mereka berdua saling berjabat tangan.


" Nah kalau yang ini...!"


Membuat Sukron mendapat tatapan sengit dari Ajisaka. Matamu Kron!


" Wid, kenalin ini Rara...dia temannya Yudha!" Aji menepuk pundak Wida pelan dan membuat ia menoleh.


" Astaga, maaf...maaf . Kenalkan...Saya Widaninggar. Maaf ya mbak, ini putra saya kalau nangis lama. Capek juga mungkin dari kemaren kan perjalanan jauh!"


" Aduh kasihannya...enggak apa-apa mbak, Salam kenal mbak, saya Rara!"


Mereka semua akhirnya saling berjabat tangan satu sama lain, pun dengan Dino dan Sukron yang membuat Yudha mendengus sebab dua bujangan itu gencar menggoda Rara.


Ya, mereka terlihat saling mengobrol dan menikmati sajian dengan menikmati lagu dari beberapa sanak saudara Fina yang menyumbang lagi namun suaranya cukup membuat mereka mumet.


" Weitss!!! ini dia mantennya. Selamat bro...!" Ajisaka menyongsong kedatangan Pandu dan Fina yang kini mengunjungi para sahabatnya itu.


" Makasih ya, kalian semua udah datang!" Pandu memeluk Aji erat, pun dengan Yudha dan yang lain.


" Fina.. selamat ya. Doa terbaik buat kamu sama mas Pandu!" Widaninggar memeluk Fina dengan posisi masih mengendong Damar yang masih merajuk kepada Aji.


" Makasih banyak mbak Inggar. Kelihatannya, bentar lagi ada yang nyusul nih!" Ucap Fina sembari menyenggol suaminya dan melirik ke arah Aji.


" Gak lolos uji, anaknya di kasih sambel sampai nangis begitu. Batal..batal!!" Ucap Sukron dengan gerakan menggorok leher.


Selorohan Sukron yang membuat Aji kalah telak makin membuat mereka sakit perut karena tertawa.


" Eh ini... Rara kan?" Sapa Fina yang kini menatap Rara yang duduk di sebelah Yudha.


" Halo mbak, selamat atas pernikahannya ya semoga bahagia!" Rara menjulurkan tangannya berniat menjabat tangan Fina.


" Ehem..ehem...Yud, yang ini the last kan?" Pandu mengerlingkan matanya. Membuat Yudha mendelik.


Sialan si Pandu. Mau membuat nasibnya apes macam Aji saja.


Sukron dan Dino tergelak demi melihat Yudha yang sudah tersipu malu.


" Udah, pokoknya habis ini aku doakan semua lancar-lancar deh buat semua yang mau direncanakan!" Ucap Fina memungkasi cibiran maut satu sama lain.


" Loh di Sakti mana?" Tanya Pandu yang baru menyadari jika Sakti tidak ada diantara mereka. Membuat Rara turut menoleh.


" Empat sekawan yang kamu maksud tadi, sama Sakti juga?" Tanya Rara yang kini ingin menarik benang merah.


Yudha mengangguk, " Tadi..aku udah sempet melihat Sakti di belakang, tapi..."


" Ada yang ribut, ada yang ribut!" Suara riuh para pengunjung lain di belakang membuat ucapan Yudha menguap.


Mereka semua saling memanjangkan leher, untuk mengetahui siapa yang terlibat perkelahian.


" Mohon tenang, dan kembali ke tempat duduk masing-masing, sedikit kesalahpahaman telah diatasi petugas yang berjaga. Harap tenang dan silahkan kembali menikmati hidangan yang sudah di sediakan!"


Suara MC kini membuat khalayak ramai itu seketika diam dan kembali ke suasana syahdu.


" Biar aku cek dulu, kalian disini!" Ucap Yudha menatap Rara dan Widaninggar serta Fina secara bergantian. Membuat hati Fina yang saat ini tengah mengadakan acara itu harap-harap cemas.


Siapa yang terlibat perkelahian di acaranya yang sepenting ini? Meskipun hal itu terjadi di luar, tapi tetap saja membuat dirinya merasa resah.


Diluar,


Yudha yang rupanya tak sendiri, melainkan Aji, Dino dan Sukron turut seru menuju luar, terlihat membulatkan matanya demi melihat orang yang ia kenali kini babak belur. Pun dengan seorang pria yang masih terlihat tidak terima, sekalipun para bodyguard telah memisahkan mereka.


" Apa yang terjadi?" Ucap Ajisaka dengan tatapan terkejut dan tubuh yang seketika mematung.


.


.


.


.


.


Jika sesuai deadline, awal bulan depan novel ini akan Tamat gaes. Malam ini satu bab dulu, sebab lagi-lagi serangan maut kantuk tak bisa mommy tahan, akibat terseret Raka kerumah sakit tadi. Hehehe


See you tomorrow morning ya!😘😘😘