
Bab 30. Kiss You
^^^" Kekal mencintaimu, inginnya terus begitu. Jadi, maukah kamu bersamaku?^^^
^^^Meski isi dompet kerap menipu!"^^^
...☘️☘️☘️...
.
.
.
Pandu
Ia tak pernah menunda semua pekerjaan yang datang untuk ia garap. Persoalan motor Yudha sudah beres. Ia sengaja melemburnya semalam suntuk. Pagi itu ia terlihat berjalan kaki usai dari mengantar motor Yudha.
Hal itu terjadi karena Yudha sudah melesat pergi mengantar mamak Mariana. Dirumah hanya ada Arju. Praktis ia tak memiliki pilihan selain jalan kaki. Tak masalah, Pandu sudah terbiasa akan hal itu.
" Mamak pergi sama Bang Yudha, Bapak belum pulang dari ngambil kedelai!" tukas Arju yang terus saja menjadi generasi menunduk karena HP.
Sebenarnya ada beberapa pegawai di Pabrik tahu sederhana itu, namun Pandu tentu saja tak mau melibatkan orang-orang yang tengah sibuk membanting tulang itu.
Ia berjalan santai. Dan saat dekat dengan kediaman Bu Asmah, ia melihat hal yang membuat emosinya terpantik.
Ia melihat Fina yang meronta dari cekalan tangan seorang pria. Pria yang belum pernah ia temui sebelumnya.
"Heh, jangan kasar sama wanita!" tentu saja Pandu tak segan mengucapkan hal itu.
Ia juga bisa melihat wajah Fina dan Dita yang ketakutan.
.
.
" Siapa lo, gak usah ikut campur. Ini urusan gue sama cewek gue!" ucap Riko dengan wajah sombong saat Pandu kini berjalan mendekat ke arah mereka.
Pandu menolong karena sebagai lelaki ia tergerak hatinya, mana mungkin membiarkan seorang wanita yang tengah di sakiti oleh pria yang jelas bukanlah tandingan mereka.
Fina Menggeleng saat Riko mengatakan hal itu, sembari terus menatap wajah datar Pandu.
" Riko!" bentak Fina yang muak. Namun wajah Pandu masih datar tanpa ekspresi.
" Anda menyakiti wanita, apa saya harus diam?" Pandu menatap tajam Riko.
" Anjing!" umpat Riko.
" Elo budek ya? Ini urusan gue sama cewek gue! Gue gak ada urusan sama elo, pergi!" Riko telah kehilangan kesabarannya.
"Sini Fin ikut gue!" Riko menarik paksa Fina untuk masuk ke dalam mobil.
" Lepasin gue Riko, lepas!" Fina meronta-ronta seraya berusaha melepaskan cekalan tangan Riko. Membuat Pandu menghela napas untuk bisa menahan dirinya.
" Fin.. Fina!" Dita panik.
" Lepasin dia!" Dengan suara meradang Pandu menarik jaket yang di kenakan Riko. Membuat pria itu terhuyung ke belakang, dan di saat Pandu dan Riko saling bersitegang, Fina menarik tangannya dan lari ke arah Dita.
Mereka saling berpelukan seraya ketakutan.
" Mau sok jagoan elo ya. Anjing kampung!" Riko melayangkan pukulan namun berhasil Pandu hindari.
" Mas tolong, jangan seperti ini. Mas bisa bicara baik-baik!"
" Tolong jaga sikap anda, ini di desa!" Pandu mencoba berdiplomasi dengan Riko yang sudah terlihat meradang.
Pandu tidak mengenal Riko, begitu juga sebaliknya. Pandu tak mau sepagi itu terlibat perkelahian, apalagi di rumah orang. Jelas itu bukan dirinya.
" Bacot lo ya!"
Bug
Terasa panas dan berdenyut.
Pandu terlihat memegangi pipinya yang terasa menebal detik itu juga. Ia bukan tak berani melawan, ia hanya menjaga keadaan. Ia tak mau mengotori tangan apalagi namanya.
" Riko!!!!!" Fina langsung berlari ke depan Pandu dan seolah menjadi benteng untuk pria itu.
Mata Riko membulat demi melihat Fina yang yang membela Pandu. Apa yang di lakukan wanita itu pikirnya.
" Minggir Fin!" Riko belum puas. Ia ingin menghajar Pandu.
" Enggak, elu yang minggir dan pergi dari sini!"
" Kamu gak apa-apa Ndu?" Fina terlihat meraba sudut bibir Pandu yang kini memar dan bengkak. Mata Riko membulat demi melihat Fina yang panik karena melihat Pandu terluka.
" Tunggu, dia siapa?" Riko kini menunjuk Pandu karena ia merasa Fina mengenal pria itu. Riko terbakar api kecemburuan.
" Dia pacar gue kenapa?" Fina mengatakan kebohongan agar Riko segera enyah dari sana. Fina menatap Riko dengan wajah sinis.
Namun bukannya percaya, Riko justru tertawa.
" Kamu? Kamu..sama dia?" Riko tersenyum ironi seraya menggelengkan kepalanya.
" Kamu itu cuma cinta sama aku Fin, kamu gak ingat kita udah..."
Cup
Fina menangkup wajah Pandu lalu mengecup bibir pria itu tepat di hadapan Riko, yang tengah berbicara dan kedengarannya seperti akan membongkar rahasia mereka berdua selama ini .
Dita yang melihat hal itu sontak sangat terkejut, dan langsung menutup mulut dengan kedua tangannya, sementara Pandu yang dicium tentu saja terperanjat dan mendadak tubuhnya menegang.
" Oh sial, Fina!" ucapan dalam hati.
Riko yang melihat hal itu sontak tidak terima, " Brengsek!" ia mendorong Fina ke pinggir, lalu mencengkram kerah baju Pandu dengan murka.
" Anj...!" Riko sudah akan melayangkan tinjunya kembali, namun sejurus kemudian..
" Hey ada apa ini?" suara Lik Ajiz datang menginterupsi perkelahian yang kian memanas itu. Membuat ke empat orang disana menoleh ke sumber suara.
Riko menjadi ciut nyali karena melihat Lik Ajiz yang datang bersama para kuli panggul yang tubuhnya berotot.
" Brengsek!" ruko mengumpat lalu melepaskan cengkraman tangannya dan mendorong Pandu yang juga berwajah berang.
Ia menatap bengis ke wajah Pandu, sejurus kemudian ia pergi dengan penuh amarah. Hatinya pedih dengan dendam dan ketidakterimaan.
" Gue sama elu belum selesai Fin, ingat itu!" Riko menunjuk wajah Fina yang terlihat mengeraskan rahangnya. Menatap tajam Riko dengan hati berdebar.
Riko pergi karena ia pasti akan kalah jika terus melawan Pandu di desa yang tanpa bala. Apalagi, pria yang baru saja membentaknya itu terlihat membawa pria yang mungkin bisa membuatnya babak belur.
Sejurus kemudian Riko melesat pergi menuju mobilnya dengan dada bergemuruh.
Brak
Pintu mobil itu di banting dengan kerasnya. Riko juga terlihat bermanuver kasar, lalu pergi dengan kecepatan tinggi tanpa menatap ke arah orang-orang itu lagi.
Kecanggungan mendadak menguar.
Kini Fina dengan susah payah meneguk ludahnya karena gugup. Dan sekarang, apa yang harus ia lakukan usai mencium bibir Pandu tanpa izin?
Oh no!
.
.
.
.