
Bab 234. You are my grandson
.
.
.
...πππ...
Sakti
Usai menutup panggilan dari Arju, ia menatap Anjana menyeringai dan berhasil membuat wanita itu mengerutkan keningnya. Pria sableng itu terlihat benar-benar mengerikan jika tersenyum smirk seperti itu.
" Kau berani sekali ya?" Sakti kini mengunci Anjana saat ia berhasil memasukkan ponselnya kedalam saku Jeansnya. Membuat isi dada Anjana berdegup lebih.
" Oh tidak, apa yang dia lakukan!" Batin Anjana dengan keringat dingin yang mulai keluar.
" Kau yang memulai!" Ucap Anjana memberanikan diri dengan suara tegasnya. Mencoba mengatur dirinya agar tak terlihat grogi. Sialan si Sakti!
Anjana benar-benar merasa tak bisa berkutik manakala tubuh Sakti telah menghimpitnya ke dinding yang berada di sebelah pintu. Membuat pergerakannya terkunci.
Sakti menatap lekat-lekat wajah wanita itu, dengan tatapan sendu. Penuh minat dan maksud yang terselubung.
" Apa yang kau lakukan?" Tanya Anjana takut.
" Kenapa takut? Kau bahkan sudah meremasnya dan membuatnya bangun. Jadi...kau harus bertanggungjawab!" Ucap Sakti menyeringai licik.
Anjana mendelik. "Tanggung jawab apa ini maksudnya?"
Sejurus kemudian mereka berdua terlihat berdiam, dengan suasana senyap yang terasa. Namun wajah Sakti yang senyam-senyum penuh arti makin membuat Anjana ngeri.
Anjana menutup matanya saat ia tahu Sakti akan menciumnya. Oh tidak! Wanita itu sangat ketakutan sebenarnya. Begitulah seseorang, bisa jadi di sini lain unggul, dan di sisi lain menjadi amatir.
Saat posisi wajah Sakti sudah sebegitu dekatnya, bahkan harum napas segar mereka bisa terhirup satu sama lain,
TOK TOK TOK
" Anjana!"
Suara cempreng Feng menggagalkan moment aduhai dua manusia di dalamnya.
"Sialan!" Sakti seketika tersentak dan kaget. Namun sejurus kemudian,
CUP
Ia mencium sekilas Anjana yang kini juga sama tersentaknya. Tak mau rugi dong. " Kau masih punya hutang tanggung jawab padaku!" Ucap Sakti cepat seraya mengusap lembut pipi Anjana yang masih deg-degan.
TOK TOk TOK
" Anjana!"
Gedoran membabi buta dari Feng membuat Sakti segera ambil sikap.
CEKLEK
" Ada apa?" Tanya Sakti dengan kepala yang menyembul dari balik pintu itu. Membuat Feng terkejut demi kemunculan Sakti yang tiba-tiba itu.
" Em...Tuan Muda, eh mak- maksud saya mas Sakti..." Feng bahkan sampai keceplosan lagi. Astaga bagaimana ini?
" Ada apa Feng, cepat katakan!" Anjana yang juga muncul dengan wajah penuh kecurigaan, di belakang Sakti itu terlihat mengejutkan Feng dua kali lipat. Astaga!
" Tuan Besar pingsan!"
.
.
Di lantai dasar
Tuan Liem tahu dan menyadari, jika Sakti sebenarnya belum menerima apa yang ucapkan. Andai ia mau menahan dirinya sedikit lagi, mungkin ia bisa lebih elegan lagi dalam menyampaikan kenyataan itu. Tapi hatinya yang terlalu menggebu seakan tak tahan.
Selepas kepergian Sakti pria itu merasa napasnya sesak dan dadanya sakit di waktu bersamaan, karena sepertinya tekanan darah yang sepertinya naik. Usianya yang sudah lanjut terang saja mudah terserang penyakit hipertensi.
Feng yang malam itu selalu memastikan kondisi lampu juga beberapa pintu konektor tertutup , benar-benar terkejut manakala melihat ruangan kerja orang nomer satu di SO Vineyards itu, terjeblak dan menampilkan pemiliknya yang terkulai tak berdaya.
" Tuan besar!" Feng berteriak karena terkejut.
Usai memanggil rekannya yang lain demi memindahkan Tuan Liem, ia meminta rekannya Jecko untuk memanggil dokter yang ada di perkebunan itu.
Namun, guna menghindari sesuatu yang tidak ia inginkan, ia berniat berlari memanggil Anjana sebab ia mencari Pieter hingga ke seluruh penjuru tempat itu, namun ia tiada menemukan.
Entah kemana hilangnya Pieter.
TOK TOK TOK
Ia bahkan meluapkan jika kamar itu juga berisikan tuan mudanya. Membuatnya terus gencar menggedor tanpa tahu apa yang terjadi di dalamnya.
TOK TOK TOK
CEKLEK
" Ada apa?"
Demi Tuhan. Feng mendelik saat melihat wajah tuan mudanya yang rupanya membuka pintu.
" Em...Tuan Muda, eh mak- maksud saya mas Sakti..." Ia bahkan gagap di moment yang tidak tepat. Astaga bagaimana jika ia terkena masala karena ucapannya yang keceplosan baru saja?
" Ada apa Feng, cepat katakan!" Anjana yang muncul dengan wajah penuh kecurigaan itu terlihat mengejutkan Feng dua kali lipat.
" Tuan Besar pingsan!"
DEG
Anjana langsung berlari dan meninggalkan Sakti yang tubuhnya mendadak membatu. Menerobos dua manusia yang kini sama-sama mematung itu.
"Pingsan?" Tanya Sakti tertegun
Sejurus kemudian, ia yang tersadar seketika berlari mengejar Feng dan juga Anjana. Pikiran yang tidak-tidak seketika menghantui dirinya.
" Kenapa dengan pria itu?"
" Tuan!"
Sakti bisa melihat kekhawatiran yang kentara dari wajah Anjana yang saat ini beraut pias, manakala memanggil tuan Liem.
" Bagiamana keadaannya?" Tanya Anjana kepada Ve, dokter wanita yang ada di perkebunan itu. Wanita muda yang usianya sama dengan Anjana itu, memang bekerja disana untuk menanggulangi kesehatan para petani juga pekerja di perkebunan itu.
" Aku pasang infus agar tensinya turun. Tidak biasanya tuan besar seperti ini. Sudah sangat lama sejak beberapa tahun lalu. Apa yang tejadi Feng ?" Tanya Ve menatap Feng namun terkejut demi melihat Sakti yang berwajah syok.
" Siap dia?" Ve terkaget, ia yang jarang berada di lini satu tempat dimana para petinggi Vineyards itu berkumpul, tak mengetahui jika tuan muda telah ada di sana, meski statusnya belum sepenuhnya diketahui.
" Anjana!" Ucap tuan Liem dengan mata terpejam. Tak mengetahui jika Sakti turut berada di sana.
" Ya tuan!" Anjana dengan wajah tegasnya kini mendekat ke arah pria tua yang sedang berbaring lemah itu.
" Aku sudah mengatakan yang sebenarnya. Tapi..." Sakti membatu saat mendengar pria itu mulai berbicara.
Jelas kini ia tahu, jika benar dirinyalah yang menjadi sebab musabab sakitnya pria itu.
Anjana melirik Sakti sekilas. Wajah pria sableng itu terlihat intens mendengar dan tak mempedulikan tatapan Ve dan Feng yang kini sama-sama penuh rasa ingin tahu.
" Andai aku bisa menahan diri sedikit lagi Ja!" Tuan Liem menangis dalam keadaan masih memejamkan matanya. Pria itu berpikir jika mungkin Sakti telah pergi karena marah.
" Aku ini sudah semakin tua. Hanya kepada Sakti aku berharap. Tapi...."
Anjana kini menatap Sakti sebal. Sorot mata yang saling beradu itu membuat Ve penasaran.
" Kenapa dia tidak tahu soal ini. Apa dia cucu tuan muda yang hilang? Sial, enak banget Anjana bisa kenal dulu sama pria itu. Ah... tapi, pasti tuan muda tidak akan suka dengan wanita jadi-jadian macam Anjana. Wanita itu bahkan tak bisa mengenakan make up!" Batin Ve penuh kemenangan.
" Tuan muda !" Ucap Anjana keras dan berhasil membuat Sakti tersentak. Pun dengan Feng dan juga Ve, bahkan tuan Liem.
" Jangan sampai sesalmu sudah tidak berguna. Dia kakekmu, dan demi apapun aku bersumpah jika pria ini jujur!"
" Terimalah keadaannya yang seperti ini adanya!" Ucap Anjana dengan suara bergetar menahan tangis.
Sakti menelan ludahnya manakala melihat sorot mata kemarahan dari mata wanita yang beberapa menit lalu meremas kejantanannya.
" Apa?" Tuan Liem yang mendengar Anjana berbicara kini perlahan membuka matanya.
" Sakti!" Mata pria itu kini penuh dengan air. Tuan Liem menangis detik itu juga. Membuat Sakti mendekati pria itu dengan dada yang sesak, serta mata dan hidung yang lekas memanas.
Haruskah ia berdamai dengan keadaan yang benar-benar membutuhkannya bingung ini?Sakti tak mengucapkan apapun. Ia kini mulai meraih tangan pria tua itu. Mencoba menepikan rasa kecewa dan kemarahan atas hidupnya.
" Maafkan kakek yang baru bisa menemukanmu nak!" Tangis Tuan Liem pecah, pria itu benar-benar terlihat lemah saat ini . " Namun kau harus percaya. Bahwa aku memanglah kakekmu. Dan kamu adalah anak Fenn! Percayalah nak!"
Mata Sakti mendadak mengeluarkan air mata saat tangan lemah tuan Liem mengusap kepalanya dengan perlahan. Ada rasa tak terdefinisikan yang tiba-tiba menelusup ke relung hatinya.
Membuat Anjana turut mengeluarkan air mata, demi larut dalam suasana haru biru di sana.
" Percayalah tuan muda. Hidup memang penuh misteri. Jangan siksa diri kalian dengan ego. Belum terlambat untuk memperbaiki segala sesuatunya!" Ucap Anjana dengan suara bergetar.
Membuat Feng dan Ve terkejut karena baru kali ini melihat Anjana menangis.
" Kakek!"
Sakti memeluk tubuh pria kurus itu dan sukses membuat Tuan Liem menangis bahagia, karena akhirnya ia bisa mendengar panggilan itu untuk dirinya.
" Coba katakan sekali lagi nak?" Ucap tuan Liem dengan suara bergetar. Rasanya tak percaya manakala Sakti membuat pengakuannya.
" Kakek!" Ucap Sakti menangis dengan tubuh bergetar. Membuat tuan Liem makin terisak. Thanks God!
"Yes, you are my grandson!"
.
.