
Bab 105. Sensasi masa lalu
^^^ " Oh Tuhan maafkan diriku ,telah melangkah lugu. Membwri bimbang di hatinya!"^^^
^^^~ Ruth Sahanaya, Keliru.^^^
.
.
.
...πππ...
Hartadi Wijaya
Tak terhitung sudah perasaan sesal yang kini merasuk kedalam diri Hartadi. Memporak-porandakan hati dan perasaan. Jiwanya seakan hancur, luluh lantak tak bersisa.
Saat ini hal terbaik yang bisa ia lakukan adalah segera meminta pengacaranya untuk mengawal dirinya menjalani semua proses yang jelas akan berbelit- belit itu. Ada banyak rentetan hal yang ingin ia lakukan, terutama menemui Wati dan berbicara serius perihal Pandu.
Rengganis lebih memilih menemani Riko dirumah sakit, entahlah. Hidupnya saat ini benar-benar berada di ujung tanduk. Dalam sekejap, keadaan benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat.
Ia saat ini tengah seorang diri, berada di sebuah ruangan dalam temaramnya lampu. Sesuai dengan suasana hatinya yang sendu. Menunggu hasil dari pengacaranya. Jelas ada banyak kepingan masa lalu yang perlu ia ketahui. Apalagi, ucapnya Wati yang mengatakan jika Rengganis lah dalang dari kepergiannya yang tanpa jejak bertahun-tahun yang lalu.
" Apa yang sebenarnya terjadi?" Ia bergumam seraya mengacak rambutnya frustasi.
Ambar tak mungkin bohong tentang Pandu. Pria yang tak sempat ia ketahui wajahnya saat lahir itu, nyaris saja meregang nyawa karenanya. Atau bahkan mungkin, ia yang akan mati di tangan anak kandungnya itu.
Perasaan bersalah, kecewa juga semakin menggelayuti jiwa Hartadi.
" Kenapa kau melakukan ini Wati?" Ia menangis dalam kesendirian. Dadanya diliputi kesesakan, dan otaknya tak bisa diajak berpikir normal.
.
.
Pandu
Ia bersama Fina tiba di kantor KJ ketika matahari sudah agak melorot ke barat. Dengan wajah letih, ia kini masuk dan di sambut dinginnya udara AC di ruangan besar itu. Terasa menyejukkan.
"Pandu!" Arimbi yang mengetahui kedatangan Pandu saat ini langsung berdiri. Wajahnya terlihat sumringah.
" Ya?" jawab Pandu datar, menatap wajah Arimbi yang terlihat bahagia seperti baru mendapatkan lotrean.
" Di tunggu sama Ibu kamu itu diatas!" Jawabnya riang.
" Ah Ndu, dari mana aja kamu?" Rendy yang baru menyembul dari balik pintu sebuah ruangan itu, kini terlihat menatap Pandu khawatir.
Pandu tak menjawab, ia masih saja bergeming.
" Kamu di tunggu di ruangan Pak Bayu. Biar Nona Fina saya yang antar!" Ucap Rendy kembali sembari membawa beberapa berkas. Pria itu selalu sibuk pikirnya.
Pandu menatap Fina yang sebenarnya juga terlihat sama lelahnya. Wanita dengan rambut bergelombang itu kini mengangguk seraya tersenyum.
" Pergilah, aku akan pulang dulu. Kita bisa bertemu lagi nanti, hm?" Fina mengusap lengan Pandu. Meyakinkan bila this time to talk with your mother!
Pandu memegang tangan Fina yang kini tengah mengusap lembut lengannya, meremasnya sembari tersenyum. Membuat Arimbi dan Rendy saling memandang. Oh lihatlah, jelas mereka bisa melihat percikan api cinta yang membara dari keduanya. Ihuuuyy!!
Ia berpisah saat itu juga dengan Fina, percaya jika Rendy akan mengantarkan Fina dengan selamat. Ia tak perlu ragu soal itu.
Dengan langkah pasti ,ia naik ke lantai dua tempat dimana ruangan Bayu berada. Saat tekun melangkahkan kakinya, ia sempat penasaran dengan pintu yang sedikit terbuka itu, dari celah yang ada ia menarik seulas senyuman kala melihat tiga sahabatnya bersama para rekan guardnya tengah tertidur siang itu.
Jelas mereka semua lelah. Pun dengan dirinya sebenarnya.
Yudha terlihat menutup matanya dengan lengan kiri yang berada di atas wajahnya, Ajisaka yang merem dengan wajah tenang sembari bersidekap, dan Sakti yang tidur dengan mulut setengah terbuka sembari memeluk tubuh Markus seperti sebuah guling. Entah sejak kapan rekannya itu bisa klop dengan sahabatnya yang sableng itu.
" Kau sudah datang?" Suara familiar dari balik pintu yang terayun sukses membuatnya mengakhiri kegiatan intip mengintipnya.
Ditatapnya wajah pria yang kini terlihat lebih segar dan pakaian yang sudah tergantikan dengan kaos serta celana panjang berwarna krem. Pandu menduga jika Bayu baru selesai mandi.
" Hmmm!" Ia mengangguk.
" Teman-temanmu lelah, biarkan mereka beristirahat!" Pria jantan di depannya itu benar-benar sangat mengayomi, tak mengira jika para teman-temannya di perlukan sebaik ini.
Tapi pertanyaannya, dimana Ibu sekarang?
" Ibumu baru saja makan, dia mencemaskanmu sedari tadi. Sebaiknya kamu mandi dulu, kalian perlu bicara setelah ini! Pria itu bahkan bisa membaca pikiranku. Begitu isi hati Pandu.
Pria itu semakin mendekati dirinya yang nampak tercenung, ia bisa menebak hal itu lantaran baru segar pria itu semakin mendekat.
Bayu harum.
" Berbicaralah sebagai seorang pria dewasa! Pikirkan perasaan ibumu juga! Dia juga sedang tidak baik-baik saja saat ini!" Bayu menepuk pundaknya lalu sejurus kemudian berlalu menuju lantai dasar.
Sungguh, pria itu masih saja bersikap baik kepadanya meski dirinya kerap acuh tak acuh terhadap Bayu.
Ia hanya menatap punggung lebar yang mulai menjauh darinya itu dengan menelan ludah. Berjanji dalam hati akan bersikap lebih baik setelah ini.
Bayu benar, dari sepenggal dialog yang ia tangkap saat bersama Hartadi dan Rengganis tadi, jelas ibunya juga pasti tersakiti. Oh Ibuku yang malang!
Ya Tuhan, susahnya hidup ini.
.
.
Ambarwati
Hamparan perkotaan itu nanar ia tatap. Tak mengira akan berada di kota ini setelah berpuluh-puluh tahun meninggalkannya. Ia masih ingat betul semua kejadian yang menjadi titik baliknya menjadi orang tua tunggal bagi Pandu.
Dua netranya kini meluncurkan cairan bening dengan tanpa jeda. Sesak, sedih, kecewa, ingin rasanya dia protes kepada sang pemilik kehidupan. Mengapa ia kerap berada di titik rendah kehidupan?
TOK TOK TOK
Ketukan yang berasal dari pintu yang tertutup itu membuatnya tangan Ambarwati dengan cepat menghapus matanya yang berair. Tak mau sampai orang memergoki dirinya saat ini.
" Sebentar!" Dengan suara parau khas orang menangis, ia berjalan tergopoh-gopoh menuju pintu.
CEKLEK!
Ia terkaget saat melihat putranya berdiri di ambang pintu dengan wajah lelah. Namun, pakaiannya sudah berganti dengan kaos abu-abu polos, dan celana hitam panjang yang membuat tampilan anaknya sangat tampan. Harus ia akui, Pandu memang kerap menebarkan pesona aroma jantan.
" Nak!" Ia langsung menubruk tubuh putranya. Memeluk erat harta satu-satunya yang ia miliki itu. Ibu dan anak itu terlihat saling menitikkan air matanya.
Dari kejauhan, Bayu yang hendak lewat terpaksa menghentikan langkahnya karena tak sengaja menyaksikan adegan mengharukan itu. Bayu lantas kembali dan membiarkan ibu dan anak itu untuk berbicara.
" Maafkan ibuk nak, maafkan ibuk!"
Hati seorang anak mana yang tega mendengar bibir ibunya berucap kata maaf sembari menangis kepada anaknya? Ibu yang bahkan tak pernah mengeluh atas semua kesulitan yang selama ini mendera mereka, ibu yang gigih berjuang demi menghidupi anak-anak mereka setelah Sulaksono gugur. Tidak, dia tak akan tega sang sanggup.
" Kita bicara di dalam Buk!" Pandu melepaskan pelukannya usai sesak di dadanya berkurang. Ia bisa melihat bila ibunya terlihat hancur. Berbicara dengan nada sendu.
.
.
Di dalam kamar.
Ambarwati duduk di tepi ranjang sementara Pandu bersimpuh di lantai sembari bersandarkan kaki ibunya yang menggantung. Dari usapan lembut yang diberikan ibunya ke atas kepalanya, ia menduga jika ibunya jelas merasa amat menyayangi dirinya.
" Apa Ibuk baik-baik saja?" Pandu berucap sembari terpekur menatap lantai bersih kamar itu. Belum berani menatap mata ibunya yang jelas pasti saat ini tengah menitikan air mata.
" Maafkan ibuk karena menutupi semua ini. Tapi...semua ini demi kebaikan kamu, demi kita!"
...Flashback...
Bertahun-tahun yang lalu.
****
Ambarwati
Ia adalah wanita perantau yang mencoba peruntungannya di kota. Sulitnya merubah nasib di desa menuntut langkahnya ke kota besar. Namun, siapa sangka kehidupan di kota rupanya lebih keras.
Ia bekerja di sebuah toko baju karena sulitnya mendapatkan pekerjaan di desa. Sebagai anak yatim piatu, ia harus bisa menolong dirinya sendiri agar tak tenggelam dalam gempuran zaman yang kian menuntut.
Singkat cerita di suatu waktu, ia pulang dari tempat kerja menuju kost. Malam hari dan seorang diri pula. Ia mengambil part time di sebuah cafe sebagai tukang cuci piring guna menambah pundi-pundi rupiah. Lumayan.
Ia merupakan wanita cantik dengan segala kesederhanaan alami yang telah di karuniakan oleh Tuhan. Sayang, hidup melemparkannya ke keadaan yang sulit.
Tak ayal, banyak sekali mata-mata nakal yang hendak memangsanya karena seringnya dia pulang malam.
" Kemana cantik?"
" Jalan sama abang yuk?"
" Abang kasih dobel deh!"
Suara-suara menjijikkan seperti itu sudah menjadi santapan sehari-hari. Mengira jika dirinya wanita murahan yang gampang tertarik.
Namun, tak di sangka seorang pemuda yang menaruh perhatian kepada dirinya itu melakukan hal diluar dugaan. Pria itu menarik tangan Wati tiba-tiba, dan hendak membawanya ke suatu tempat.
Berniat melampiaskan hasrat akan tubuh Wati yang menggiurkan.
" Tolong...Tolong!" Bahkan, hingga batang tenggorok nya serak, tak satupun orang yang menolong. Bukan karena tak ada orang, tapi karena tak berani dengan Ginanjar. Si ketua preman.
Apalagi malam itu sudah larut, bisa di pastikan segelintir pejalan kaki yang melintas tak mau cari penyakit dengan melawan Ginanjar.
Ia bahkan berpikir, habis sudah hidupnya sekarang. Melihat tak ada orang yang mau menolongnya.
" Lepas! Aku bukan wanita murahan, dasar bajingan!" Wati memberontak.
" Jangan sok kamu, ayo ikut!" Ginanjar bahkan menatap Wati dengan tatapan penuh selera. Otak cabulnya seolah tertantang.
Namun, ia selalu percaya bahwa Tuhan itu bagi siapa saja. Termasuk untuk dirinya yang sedari tadi melantunkan doa dalam hati, agar di tolong olehNya.
" Heh, lepaskan wanita itu!" Suara pria lain membuatnya menoleh. Seorang pria muda yang ia rasa pasti kuat karena tinggi badannya yang melebihi Ginanjar.
Syukurlah!
" Siapa lo, gak usah ikut campur!" Pria dengan tindik di kanan kiri itu terlihat berang kala seorang pria dengan kumis tipis itu datang menggangunya.
" Lepas sekarang juga!" Pinta pria itu menatap tajam Ginanjar.
" Bacot lo!" Ia sempat merasa lega karena cekalan tangan pria itu kini telah terlepas, namun ketakutannya menjadi dua kali lipat lantaran dua pria itu kini terlibat aksi saling serang. Aduh bagaimana ini?
Ia dengan wajah ketakutan dan tubuh yang bergetar mundur mepet ke samping dinding yang cat nya mengelupas malam itu. Menyaksikan betapa para jantan itu saling memukul.
Matanya semakin membulat tatkala ia melihat Pria dengan kemeja di gulung sebatas siku itu menjotos wajah Ginanjar hingga membuat pria itu terjerembab ke tanah. Membuat preman kelas teri itu lari tunggang langgang karena jelas kalah.
Dengan tubuh yang kedinginan dan gemetar, ia mendekati Hartadi yang mengibaskan kotoran yang menempel di kemejanya.
" Terimakasih banyak Tuan!" ucapnya yang merasa tertolong malam itu. Benar-benar berhutang budi.
" Jangan memanggilku Tuan, Aku Hartadi. Panggil saja Har, usia kita nampaknya sama!" Pria itu tersenyum dan membuatnya berdesir.
Usia sama tapi jelas nasib yang berbeda. Jika ia tilik penampilannya, pria yang baru saja memperkenalkan dirinya itu jelas merupakan orang gedongan.
Dan benar saja, belakang ia mengetahui bila pemuda gagah itu merupakan pengembang semua konsesi pertokoan yang ada di kawasan pasar itu. Dan dari pertemuan itulah mereka kerap bertemu dan saling dekat.
" Saya suka sama kamu Wat!" Kalimat mendayu yang membuatnya terbang ke angkasa, menjadi titik awal kejelasan hubungan mereka.
Sepertinya manusia muda pada umumnya yang pasti dilanda jatuh cinta, Har menaruh perasaannya kepada Wati, bahkan saat dirinya yang sudah akan dijodohkan dengan putri orang ternama di kota itu.
" Aku akan menceraikan Rengganis setelah tiga Bulan, lalu kita akan pergi bersama!" Cinta yang memabukkan nyatanya membuat pandangan rasional Wati menjadi buta.
Beberapa bulan menjalin kedekatan, mereka lantas menikah siri dengan di saksikan oleh Ibu kost dan juga teman dekat Wati kala itu. Tak mau sampai terjerumus pada hal yang tak diinginkan. Setidaknya, mereka sah secara agama.
Menurut penuturan Har, ia tidak mencintai Rengganis. Namun, circle keluarga mereka jelas selalu mempertemukan pengusaha antar pengusaha agar jalinan kekayaan tak terputus.
Dan Har, tak menampik bila ia perlu uang banyak agar bisa membawanya pergi jauh dan hidup bahagia. Singkat kata, Har akan menceraikan Rengganis saat ia sudah berhasil menjalankan bisnisnya dengan baik.
Selama itu pula, Har tak pernah absen memberinya nafkah. Bahkan jumlahnya besar. Ia dibelikan rumah di kawasan perumahan elite. Secara waktu, Wati dan Har menikah lebih dulu ketimbang Rengganis.
Dari pernikahan mereka, Wati mengandung buah cinta mereka pada bulan kedua usai menikah. Namun, belakang karena kesibukan Har ia harus legowo karena jarang di kunjungi.
" Maaf ya, papaku lagi gencar minta aku buat benahin usahanya. Semua karena aku menunda menikahi Rengganis!"
" Sekarang jadi jarang bisa ngunjungi kamu!" Ia menangkap guratan penyesalan di wajah Har.
Kegelisahan mulai menghantui pikirannya kala kehamilannya mulai membesar. Suaminya itu semakin jarang memberikan kabar. Ia percaya jika Har mencintai dirinya dan pasti sibuk dengan pekerjaannya.
Namun, ia semakin kecewa karena bahkan sampai ia baru saja melahirkan Pandu, sama sekali tak di tengok oleh Har. Dan lebih terkejutnya lagi, di saat petir menggelegar dan hujan turun dengan derasnya, seorang wanita cantik berdandan Hedon berdiri di ambang pintu rumahnya.
" Wanita sundal!" Pipinya berkedut kala tangan bercat kuku merah itu menamparnya.
" Pergi dari sini atau aku akan membunuh kalian!"
"Pergi dan jangan pernah menampakkan diri kalian lagi!" Api kemarahan menjilat dan membara dari sorot matanya, ia yang waktu itu hanya seorang diri dan ketakutan jelas tak memiliki pilihan.
Tak mau sampai Pandu kenapa-kenapa. Ia tahu, posisinya jelas tak kuat dimata hukum.
Dari situ ia tahu jika rupanya dia adalah Rengganis, wanita yang akan di jodohkan dengan suaminya. Membuatnya semakin dilanda kegundahan. Kebahagiaan yang selama ini ia rajut bersama Har, dalam sekejap berubah menjadi petaka serius.
Seorang pria yang ia ketahui merupakan pegawai Rengganis mengantarkannya hingga ke terminal, dan malam itu dengan keadaan Har yang belum sempat melihat wajah Pandu, ia pergi meninggalkan kota. Wanita miskin yang tak mungkin mampu melawan Rengganis yang kaya, jelas tak mungkin ia sangkal lagi.
Ia masih berharap Har akan menemukannya dan mau mencarinya meski telah setahun ia meninggalkan kota dan tak tahu kabar soal Har.
Namun, keteguhannya runtuh kala melihat sebuah berita yang menerangkan jika Rengganis baru saja melahirkan seorang putera dari pernikahannya bersama pria bernama Hartadi.
Bagaikan disambar petir di siang bolong, berita itu jelas membuat dirinya tak memiliki celah lagi. Ia sadar, pria kaya itu mungkin hanya mempermainkan dirinya saja. Dengan hancur dan dengan seorang diri, ia menangis meratapi nasibnya yang benar-benar malang.
Titik benci kala itu mulai menguasai dirinya, pertanyaan- pertanyaan yang kian mengusik, tentang mengapa pria itu tak menemuinya bahkan saat ia melahirkan Pandu mulai menutupi logikanya. Ia benci dengan Har.
Sejak saat itu ia berpikir, jika Hartadi hanyalah pria brengsek yang sama buruknya dengan Ginanjar. Pria yang hendak memperkosa dirinya malam itu.
...Flashback end...
.
.
.
.
.
Jangan lupa like and komennya yaπππ€