Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 79. Hari pertama duty



Bab 79. Hari pertama duty


^^^" Seperti ilmu padi. Makin tua, makin berisi!"^^^


^^^( Seseorang yang makin berilmu, hendaknya makin tak sombong!"^^^


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Serafina


Dengan tersenyum penuh arti, Fina langsung berjalan menuju meja kerja papa. Ia terlihat mengambil beberapa berkas yang sudah diberitahu papanya, untuk segera ia cek dan di serahkan kepada pengacara papa. Ya, mall Galaxy yang terbakar beberapa hari yang lalu masih memerlukan pengurusan ini itu sebelum di recovery.


Meski keadaan asmaranya makin tidak jelas, namun ia berusaha bersikap santai. Ogah mau ambil pusing. Toh sekarang setidaknya Fina bisa bersama Pandu dalam kesehariannya kan? Ahay!


Sejurus kemudian ia berjalan cepat menuju garasi mobilnya. Tak mau menyia-nyiakan waktu yang ada. Cinta memang membuat siapa saja menjadi gila.


Tau kucing rasa coklat! Terkikik geli dalam hati.


" Pak Bud, aku bawa mobil sendiri aja. Pak Budi dirumah saja, takut kalau mama nanti butuh sesuatu!"


Pandu masih terlihat diam sembari menumpuk kedua tangannya persis di depan kancing celananya. Bersikap profesional.


Pandu dan Budi rupanya akrab. Selain karena Pandu yang pernah bertemu dengan Budi sewaktu di desa, Budi juga merupakan orang baik yang memiliki sikap ramah.


" Baik Mbak!" Saatnya singkat.


Kini dengan senyum licik, Fina memanfaatkan kesewenangannya sebagai bos Pandu saat itu. Benar-benar gadis nakal.


" Apa?" Jawab Pandu dengan dahi berlipat, saat melihat Fina menyerahkan kunci mobil kepadanya.


What the hell?


" Kau bekerja untukku kan. Jadi..." Fina menyeringai.


" Aku bekerja untuk mengawal mu! Bukan untuk menjadi supir mu!" Jawab Pandu dengan intonasi biasa. Namun terlihat sadis.


" Oh ya udah, biar aku aja kalau gitu!"


" Jangan sampai Om Bayu nyalahin anak buahnya di hari pertamanya bekerja!" Ucapnya nyinyir.


Usai mengatakan hal itu, sejurus kemudian Fina ngeloyor, namun dengan cepat di hadang oleh Pandu.


Dasar wanita!


" Duduk!' Pandu menunjuk ke arah kursi belakang mobil Range Rover sport itu dengan menggunakan dagunya. Menatap Fina sebal.


" Dengan senang hati!" Ia berucap tepat di depan wajah Pandu. Harum napas Fina mengusik diri Pandu. Membuat debaran aneh itu, kini muncul kembali. Sialan- sialan!


GRAK


Fina dengan pelan menutup pintu mobil bagian depan sisi kiri itu, dengan wajah penuh kemenangan. Ogahlah menjadi seperti penumpang. Ngapain duduk di belakang, kalau di depan bisa duduk dengan seorang pangeran. Hohoho!


Dasar Fina!


Pandu mengembuskan napasnya seraya menggeleng tak percaya. Apa maunya wanita itu coba? Maunya menang terus.


" Sabar Mas Pandu. Semoga harimu menyenangkan ya!" Budi menepuk pundak Pandu dengan terkekeh. Jelas Pandu akan terlalui dengan banyak sekali kejutan.


Pandu tersenyum seraya menggaruk kepalanya kikuk. Budi sedikit banyak tahu akan persolan dirinya. Apalagi, Budi juga kurang menyukai pribadi Rizal dan Kemal yang menurutnya sedikit sombong.


" Cabut dulu pak Bud!" Jawabnya dengan menaikkan tangannya.


" Lanjooot mas!!"


.


.


" Kamu ganteng banget kalau begini!" Fina terus saja tersenyum menatap Pandu yang fokus mengemudi. Sungguh, jika boleh ia ingin menerkam Pandu saat itu juga.


Benar-benar wanita agresif.


" Sebaiknya kamu hati-hati kalau bicara di depan umum, apalagi menyangkut kita. Aku hanya bekerja selama beberapa waktu sampai..."


" Aku tidak perduli!" Sahut Fina cepat. Membuat Pandu melirik Fina dengan tak mengerti.


" Aku tidak menyukai Rizal! Persetan dengan dia!"


" Tapi kamu menerima perjodohan ini!" Sahut Pandu tak mau kalah.


" Aku cuma pingin papa sehat dulu!"


Pandu menggeleng tak percaya " Sama aja kamu nyakitin hati Rizal Fin!"


" Ya biarin, salah dia sendiri. Aku udah bilang gak suka dari awal. Dianya aja yang begitu!"


Membuat keduanya saling terdiam. Oh astaga, apakah mereka akan bertengkar kembali?


Kini suasana menjadi hening. Pandu larut dalam pikirannya yang kini terpecah belah. Perempuan di sampingnya itu memang menarik hatinya, tapi sikap penuh kecerobohannya itu agaknya sedikit mengkhawatirkan.


Pandu masih memiliki misi yang wajib ia tuntaskan. Dan untuk Fina, jujur ia belum memiliki mitigasi apapun soal cintanya itu.


" Kita kabur!" Jawab Fina asal. Membuat lamunan mereka berdua buyar.


" Apa?" Jawab Pandu dengan mata membulat. Benar-benar nih orang!


Pandu langsung menghentikan mobilnya, saat ia melihat bahu jalan tah strategis untuk dijadikan parkiran. Terlalu berbahaya jika harus mengobrolkan hak krusial di jalanan.


" Aku serius Ndu. Aku sayang sama kamu, aku...!" Fina mulai mengeluarkan apa yang ia rasa. Ia benar-benar telah jatuh cinta kepada Pandu.


Dua netra jernih Fina menatap Pandu lekat. Tak ada kebohongan apalagi tipu daya yang tersirat di sorot matanya. Mata itu berbicara tentang kejujuran.


Membuat keduanya larut dalam tatapan teduh penuh kasih. Terbuai alunan cinta. Menciptakan rasa keinginan untuk saling memiliki.


" Kamu jangan bikin hidup kita makin banyak masalah Fin. Kamu tahu alasan aku kesini karena sesuatu yang bahkan belum bisa aku beresin. Dan seka...."


" Kalau begitu kita harus berjuang bersama!" Potong Fina cepat. Membuat Pandu menatap Fina dengan makin lekat.


" Kenapa diam? Atau jangan-jangan kamu gak suka sama aku?"


Pandu langsung menatap tajam Fina. Jika dia tidak suka, mustahil dia kerap memperlakukan Fina dengan sedemikian rupa. Mulut wanita kalau bicara. Haduh...tiada duanya!


" Kamu tahu sendiri, siapa aku siapa kamu...aku gak akan bisa bantu papa kam..."


" Stop bicara itu Pandu. Aku gak peduli. Aku gak butuh itu semua!"


" Yang aku mau kamu jangan cemburu atau apa saat aku sama Rizal itu aja. Aku ngelakuin itu biar kondisi papa sehat dan stabil dulu. Setelah itu aku akan bicara pelan-pelan sama papa!"


" Aku ingin bahagia bareng kamu Ndu!"


Kini Pandu tertegun menatap wajah murung Fina tak tega. Bukan hanya Fina saja yang tersiksa. Namun dirinya juga merasakan hal yang sama.


Oh susahnya hidup!


" Kita bisa backstreet dulu!" Ucap Fina dengan wajah muram.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Riko


Keluarga Hartadi Wijaya pagi ini tengah melakukan konferensi pers perihal mereka yang baru saja membuka sekolah anak terlantar.


Jiwa sosial yang tinggi benar-benar membuat citra mereka kian di segani. Peduli dengan kaum fakir, benar-benar membuat keluarga mereka kian terpandang.


Konon katanya tapi.


Jilatan kilat kamera, juga kerumunan wartawan memaksa Riko untuk tersenyum. Sungguh ini membuatnya menjadi orang lain.


Meski ia familiar dengan kamera dan sejenisnya, tapi berpura- pura ramah di depan publik jelas bukan dirinya.


" Tersenyumlah Riko!" Hardik Rengganis seraya mencubit kecil lengan anaknya. Memperingati Riko untuk menjaga sikap.


" CK!" Riko hanya mendecak.


" Jadi apa tanggapan Ibu Rengganis terkait mobil anak anda yang sempat dilihat oleh warga sipil, tengah adu tembak dengan mobil berlogo salah satu perusahaan bodyguard terkenal di kota ini?"


DEG


Mata Riko langsung menatap tajam ke arah wartawan pria, yang kini sibuk memberondong mam dengan pertanyaan sialan itu. Ingin sekali ia menonyor mulut wartawan sialan saat itu juga.


Bagiamana mereka bisa tahu? Sialan!


" Mungkin kalian salah lihat. Saat ini mobil yang dikendarai oleh putra saya tidak hanya memproduksi satu buah saja. Artinya banyak juga orang diluaran sana, orag yang memiliki mobil seperti itu. Jadi mungkin kalian salah lihat!"


Riko yang tak tahan langsung angkat kaki dari tempat itu. Ia terlalu muak dengan segala birokrasi rumit kehidupannya. Kekuasaan? Bersikap bohong di depan publik?


Taik lah!


" Jon! Antar aku menemui Fina!"


.


.


Pekerjaan Pandu yang musti memastikan keselamatan Fina itu, rupanya bukan hanya sekedar tugas penjagaan. Ia justru malah kini sibuk di kerubungi anak buah Fina yang kebanyakan berusia lebih muda dari mereka.


Dasar bocah-bocah.


Membuat Fina terkikik geli.


" Oalah mbak Fin. Kalau yang ngawal ganteng begini...aku juga mau!" Ucap Jenita dengan gaya centilnya.


" Udah gak ada Jen. Kalau mau, itu ada si Rojak. Mau?" Jawab Fina sembari menyibukkan dirinya di laptopnya.


Membuat Melati turut tergelak kencang.


" Ah mbak Fina. Ya kali si Rojak!" Dengus Jenita demi mengingat wajah pria jadul yang biasa mengenakan celana gombrong, rambut kelimis dan berprofesi sebagai tukang cukur di samping toko besar Fina.


Pria komprang.


Benar-benar Hamsyong!


Baik Fina, Melati dan Pandu kini terkekeh demi melihat wajah Jenita yang merajuk. Ya intermezo ringan seperti itu sejenak bisa membuat Pandu lebih rileks karena tawa.


" Mbak! Mbak Fina!" Mendadak Rahel datang dengan wajah pias seraya tergopoh-gopoh.


Membuat Pandu kini memindahkan atensinya kepada anak buah Fina yang memiliki rambut ikal itu.


" Kenapa Hel? Tanya Fina menghentikan kegiatannya.


" Ada....mantan pacarnya Mbak Fina!" Karyawati Fina itu takut saat berbicara.


Kini Pandu langsung menoleh ke arah luar. Kaca bening lebar yang menjadi dinding bangunan itu memperlihatkan sosok dengan wajah dingin, tengah menuju Pelangi Sari.


Rahangnya seketika mengeras.


" Riko!"


.


.


.