
Bab 191. Different woman
.
.
.
...πππ...
Rarasati
Sebuah suara berat dari seorang pria itu sukses membuatnya menoleh. Ia terkejut demi melihat sosok Yudha yang berpenampilan parlente menatapnya sendu. Ngapain dia disini?
" Kamu ngapain disini?" Ucapnya penuh kebingungan. Sama sekali tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.
Pria itu terlihat berjalan dengan santainya kala mendekat, sama sekali tak menggubris keterkejutannya " Gimana keadaan bapak kamu?" Seru pria itu yang kini malah turut mendudukkan tubuhnya, tepat di samping Rara.
Yaopo wong Iki rek?
" Kamu udah makan? Nih aku bawain makan buat kamu!"
Rara masih melirik Yudha penuh tanda tanya, saat pria itu menunjukkan sebuah paket makanan merk terkenal untuk dirinya. Ada urusan apa pria itu mendatanginya malam-malam begini di rumah sakit.
" Gak tau kenapa... dari tadi aku kepikiran kamu. Kepikiran Bapakmu lebih tepatnya. Gimana keadaannya sekarang?" Tanya Yudha yang kini menatap Rara dengan lekat.
Kantong mata wanita itu sedikit kentara. Jelas menjadi penegas, jika wanita itu kurang beristirahat.
" Yakin kepikiran sama Bapaknya tukang copet? Elu enggak ada rencana aneh-aneh kan?"
Rara seketika menjauhkan wajahnya demi menjawab ucapan Yudha.
Yudha melebarkan cuping hidungnya demi mendengar jawab Rara yang menyindirnya itu. Bisa enggak sih enggak ngajakin gelud?
" Gitu banget jawabnya. Gue capek berdebat terus sama elu!" Ucap Yudha lelah. Karena jujur, ia juga lelah sekali hari ini. Hanya atas dasar rasa kemanusiaan saja, pria itu berani nekat melangkahkan kakinya kembali ke rumah sakit.
Rara hanya menyebikkan bibirnya. Ia juga lelah sebenarnya.
" Ya...gue kasihan aja lihat Bapakmu tadi kayak gitu keadaannya, sejenak gue mikir. Pasti elu nyopet buat bapakmu kan?"
Tebak Yudha tanpa merasa rikuh atau takut Rara akan tersinggung. Ia berbicara sambil melirik reaksi Rara yang malah bersikap B aja.
" Dia enggak marah aku bilang gitu? Berarti bener dong?"
Rara menarik napasnya panjang. Sejurus kemudian ia melirik sejenak Yudha yang terlihat santai. Pria itu mengeluarkan rokoknya.
" No smoking area!" Ucap Rara mengingatkan, saat ia tahu pria itu hendak mengeluarkan sebungkus cigaret bermerek ternama.
" Lupa, sory!" Yudha terkekeh. Entah mengapa, suasana menjadi tidak terlalu canggung usai ia keranjingan karena sebungkus rokok.
Rara juga merasakan hal yang sama. Wanita itu kina menurunkan tensi penilaiannya kepada pria harum di sampingnya itu. Mungkin karena Rara baru menyadari, jika Yudha rupanya pria yang tidak terlalu buruk.
Mereka berdua kini sama-sama terdiam. Posisi mereka terlihat duduk dengan kaki yang masih bisa mereka jejakkan secara bertekuk.
Dua manusia itu sama-sama membisu. Rara yang larut dalam pikirannya sendiri, sementara Yudha yang bingung harus menggunakan materi apa untuk memulai percakapan dengan gadis keras itu.
" Bapakmu udah lama sakit begitu?" Yudha akhirnya memberanikan dirinya memecah kesunyian yang mencekam itu.
" Lumayan!" Jawab Rara masih dengan tatapan menerawang jauh ke depan.
" Bapak stres karena bangkrut. Jadi darahnya tinggi....terus stroke!"
Rara akhirnya mau menjawab. Yes! Begitu batin Yudha bersorak. Ia sebenarnya penasaran dengan alasan Rara menjadi pencopet. Wanita itu selain jago bela diri, ia juga terlihat multitasking sekali. Harusnya tidak perlu mencopet jika untuk hidup saja.
"Bangkrut?" Yudha mengulang ucapan Rara. Sangat sangat semakin penasaran.
Wanita itu kini terlihat menarik napasnya panjang. Sejurus kemudian menghembuskannya perlahan. Tak apa sudah jika ia kini menceritakan kegetiran hidupnya, pada pria asing itu.
Walau ia tahu, ia tak akan mendapatkan solusi apapun dari pria menyebalkan di sampingnya itu. Tapi dengan bercerita, setidaknya ia akan merasa lega nanti.
" Elu ingat pria kurus yang gue gebukin di pasar kemaren?" Tanya Rara menatap wajah Yudha yang sedari tadi tegang.
Yudha mengangguk. Menjadi semakin tak sabar untuk mendengarkan cerita dari Rara.
" Dia orang yang nilep duit bapak gue!"
Yudha tertegun dan kini memasang telinganya baik-baik, demi mendengar sepenggal kisah yang sudah membuatnya penasaran sedari tadi.
" Dia enggak kerja sendiri, dia punya bos besar namanya Kemal. Gue enggak tahu orangnya kaya gimana!"
" Gue udah berusaha ngomong baik-baik ke Suwarno brengsek itu buat ngembaliin duit punya Bapak!"
Yudha meneguk ludahnya demi melihat Rara yang terlihat mengerikan saat ini.
" Tapi enggak ada tembus sama sekali, malah pria itu nantangin!" Senyum sumbang terbit dari bibir Rara yang benar-benar lelah.
" Ya udah, akhirnya gue pakai cara gue sendiri biar duit bapak gue balik!"
Yudha merasa kasihan sekali dengan Rara. Astaga, jelas ia telah salah sangka.
"Emang gue nyopet, tapi gue nyopet duit milik gue, yang di tilep ama begundal kayak dia!"
" Gue butuh duit buat biaya Bapak berobat! Elu tahu sendiri biaya dirumah sakit enggak ada yang murah!"
" Tapi elu kan kerja di tempat Ko Bian?" Tanya Yudha.
" Gaji jadi karyawan begitu berapa sih? Paling cukup buat makan. Aku enggak ada keinginan aneh-aneh, enggak pingin juga punya ini itu. Gue cuman pingin bapak gue sembuh, balik sehat kayak dulu lagi!" Ia kini terlihat menyusut air matanya menggunakan lengan atasnya.
Membaut dada Yudha sesak dan nyeri.
Yudha benar-benar terkejut demi mendengar fakta yang di kemukakan oleh wanita manis dengan rambut pendek itu. Astaga, itu berarti Yudha telah salah sangka selama ini.
" Kenapa lu kaget?" Tanya Rara dengan suara khas orang habis menangis, demi melihat wajah Yudha yang mendadak berubah murung.
" Enggak usah nyesel. Gue enggak peduli orang ngelihat gue gimana!" Rara tersenyum kecut di sela tangisnya sekali lagi. Ia tahu dunia ini memang kerap memandang sebelah mata dirinya.
Yudha benar-benar kena skakmat saat itu juga. Penilaiannya terhadap Rara kini benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat dari awal mereka berjumpa.
" Gue minta maaf!"
Ucap Yudha dengan suara pelan yang nyaris tak terdengar. Menatap wajah letih yang kini tengah menerawang ke depan.
" Buat?"
Seraut penuh keletihan itu seketika menatap Yudha dengan alis bertaut. Bahkan ia kini merasa Yudha telah menjadi orang lain.
" Gue enggak tahu kalau..."
" Gue udah bilang, enggak usah nyesel! Hidup ya emang begini. Enggak bisa ketebak gimana ceritanya kalau elu cuma lihat sampulnya doang tanpa mau baca isinya!"
Yudha lagi-lagi tertampar dengan ucapan Rara yang cess pleng itu. Entah mengapa, pria itu kini berubah kagum kepada Rara yang sangat tangguh untuk ukuran seorang wanita itu.
" Elu mau kemana?" Tanya Yudha yang melihat Rara kini tiba-tiba beranjak dari duduknya.
" Balik ke kamar Bapakku lah, mau kemana lagi!" Sahut Rara seketika. Ia tak mau terlalu mellow lagi. Apalagi di hadapan pria asing itu.
" Tunggu dulu!" Yudha kini bangkit seraya menyambar box berisi makan dan minuman yang tadi sengaja ia beli untuk Rara.
" Aku kan udah bilang aku bawain ini buat kamu!" Yudha menyerahkan kantong berisi box makanan itu kepada Rara.
" Sory, kebanyakan ngebacot tadi jadi lupa. Makasih ya..." Ia bingung harus menyebut Yudha dengan siapa. Karena sejatinya ia memang lupa dengan nama pria itu.
" Yudha, nama gue Yudha!" Yudha menjulurkan tangannya dengan wajah semringah. Perkenalan macam apa itu? Dasar payah!
Rara memicingkan kedua matanya, " Aku usah tahu namamu , tadi lupa aja. Aku udah pernah baca di pass kerjamu kemaren.
" Makasih Yud!" Ucap Rara dengan senyum sekilas dan langsung kembali ke dalam.
Yudha menatap punggung wanita luar biasa itu dengan hati yang tak bisa ia artikan rasanya.
Ia juga tak mengerti mengapa rasa di dirinya seketika berbeda. Rasa yang belum pernah ia jumpai manakala ia dekat dengan para ladies yang pernah menjadi friend with benefitnya.
Could it be if Yudha had fallen in love?
Ahay!!!
.
.
.
.
Tetap semangat membersamai empat sekawan ya buebooππ