
Bab 23. Menatap macan betina
.
.
.
...πππ...
Sakti
Ia kembali dengan rasa kecewanya sebab bukannya mendapat nota kesepahaman dari pria tua yang murah hati karena memberinya pekerjaan keren itu, ia malah diminta untuk mengerti sikap aneh wanita itu. Sialan!
" Apa yang aki- aki itu pikirkan coba, bagaimana kalau Anjana khilaf dan memperkosaku? Haish, aku kan masih jalaang eh lajang!" Gumamnya masih belum terima.
Saat lewat dan hendak kembali ke kamarnya, ia yang melewati ruangan fitness dengan dinding kaca transparan , tak sengaja melihat Anjana yang lari diatas treadmill dengan tubuh yang telah berisimbah keringat.
Membuatnya tergiur karena sepertinya menyenangkan.
" Kalau hanya begitu aja ngapain enggak lari di kebun itu coba, cih! Kemayu sekali dia!" Cibir Sakti melihat Anjana yang nampak membara saat memproduksi keringat diatas pijakan bergerak itu.
Beberapa menit kemudian ia terlihat siap dengan pakaian olahraga lengkap, bersepatu dan menyandang sebuah handuk kecil.
" Hanya itu?" Cibir Sakti yang sengaja lewat di samping Anjana yang masih gencar berlari diatas mesin itu. Meliriknya dengan tatapan meledek.
Anjana nampak diam dan tak menyahut, ia malah terlihat menekan tombol indikator di depannya dan terlihat menambah kecepatan laju treadmill tersebut. Sama sekali tak terpengaruh bibir lemes Sakti.
Sakti menyebikkan bibirnya, Sejurus kemudian ia terlihat menyapa pengunjung lainnya disana. Seorang pria yang ia ketahui sebagai tukang bersih-bersih di tempat itu. Feng.
" Hey, apa kau tahu persamaan dia dengan manekin?" Tanya Sakti kepada pria kurus yang duduk seraya melipat beberapa disposal besar itu.
" Kenapa Tuan Muda eh Mas!" Ucap pria itu keceplosan dan membuat Sakti mengernyit, namun sejurus kemudian mengabaikannya.
Pria itu mendapat tatapan sengit dari Anjana karena baru saja menyebut Sakti dengan sebutan Tuan Muda.
" Sama-sama enggak bisa bicara dan kaku!" Sakti tergelak dengan kerasnya meski pria kurus itu diam tak menyahut, karena takut dengan Anjana.
Feng keceplosan dan nyaris saja membuat Sakti curiga.
"Padahal tidak lucu, tapi kenapa Tuan Sakti tertawa?" Batin Feng. Pria kurus dengan predikat bujang lapuk yang kini ketakutan di bawah gempuran tatapan mengerikan Anjana.
Sakti terlihat mulai mengambil beberapa barbel yang hendak ia gunakan. Dengan sok nya ia kini menggulung lengan kaosnya.
" Sebaiknya pemanasan dulu, ototmu bisa kejang kalau langsung..."
" Tidak pernah bicara tapi sekalinya berbicara langsung menggurui!" Ucap Sakti sebal. Memotong ucapan Anjana yang nampak khawatir.
.
.
Anjana
Ia yang sejak kecil hidup tanpa tahu siapa kedua orangtuanya, mendapat perhatian lebih dari tuan Liem saat beliau tahu jika dirinya yatim piatu.
Ia dipungut dari pantai asuhan oleh Tuan Liem, dengan harapan cucunya yang hilang entah dimana itu bisa juga mendapat kebaikan dari orang lain. Tuan Liem percaya, apa yang kita tanam itu juga berlaku pada hal yang kita petik nanti.
Anjana tumbuh menjadi wanita yang kuat dan berkarakter teguh. Wanita itu sangat menghormati Tuan Liem sebab karena dialah, ia bisa memiliki pendidikan dan kehidupan yang layak seperti orang lain.
Anjana yang memang memiliki ketangkasan diatas rata-rata itu, Tuan Liem asuh dan di tempa dengan baik. Perusahaan mereka sudah memang harus memiliki orang-orang yang tangkas seperti Anjana.
Cerdas dan multitasking.
Semua orang yang ada di dalam perkebunan besar itu sebenarnya sudah tahu jika Sakti merupakan cucu tuan Liem yang hilang selama puluhan tahun. Namun Tuan Liem meminta mereka untuk diam dan jangan membuat Sakti curiga dengan sikap mereka yang berlebihan.
Pria tua itu takut jika mengejutkan Sakti terlalu cepat, maka di takutkan Sakti akan pergi karena ketidakpercayaannya. Terlebih-lebih, mereka juga memerlukan waktu dan proses untuk menerima kenyataan yang ada.
" Pria itu cerewet sekali, hah, kalau kau bukan cucu Tuan Liem, sudah aku patahkan rusukmu!" Batin Anjana kesal sebab Sakti benar-benar berisik.
" AAAAAAA!"
BRAK
Ia seketika mematikan treadmill dan langsung berlari ke arah Sakti , begitu mendengar suara yang memekik keras, sebab pemiliknya kini meringis kesakitan karena otot lengannya kram.
" Feng cepat ambilkan kompres es!" Titahnya kepada pria kurus itu. Membuat Sakti menatap Anjana yang kini terlihat begitu panik dan cemas.
" Apa dia mencemaskan aku?" Batin Sakti yang bingung mengapa wanita itu mendadak sangat kuatir kepadanya.
Sesampainya Feng dengan es khusus itu, Anjana terlihat meluruskan tangan Sakti. " Aaarrhg, pelan- pelan dong Paijah! Ini sakit woy!!" Rengek Sakti yang merasa tangan Anjana terlalu kuat saat mencengkeram bagian yang sakit.
" Tahanlah sedikit, kau ini pria atau bukan?" Jawab Anjana yang kesal. Pria putih itu mengesalkan sekali jika sudah begini.
Sakti mendengus, bisa-bisanya wanita itu kini menabuh genderang kembali saat beberapa detik yang lalu, ia melihat jika Anjana sangat menghawatirkan dirinya.
" Justru kau ini yang aneh , kau ini wanita apa bukan? Kasar sekali!" Sahut Sakti dengan wajah yang bersungut-sungut. Kesal tiada Tara.
Anjana tak menyahuti, akan sangat panjang jika dia meladeni. Sakti benar-benar bar-bar.
" Jangan di paksa untuk olahraga, sudah aku katakan, pemanasan dulu!" Anjana kini tekun mengolesi krim anti inflamasi ke lengan besar Sakti.
Sentuhan lembut yang diberikan wanita itu membuat Sakti diam. Wajah Anjana sebenarnya cantik jika dari dekat begini. Bintik merah kecil di bawah mata cantik wanita itu benar-benar membuatnya kagum.
Sakti tertegun demi melihat wajah Anjana yang begitu cantik dari jarak mereka yang tak tertutup apapun. Macan betina itu cantik juga rupanya. Ihaaa!!
.
.
.
.
.