
Bab 179. I want you tonight
.
.
.
...πππ...
Yudha
Detak jantungnya berdegup kencang karena keranjingan. Sial, ia baru saja mencium bibir wanita itu meski tanpa sengaja.
" Lu gila ya?" Rara tentu saja marah besar. Bagaimana bisa pria itu memanfaatkan situasi seperti ini. Begitu pikirnya.
Brengsek!!!
" Ra... sory aku nggak sengaja.. beneran!" Ia benar-benar gelagapan dan bingung harus berkata apa. Macan betina itu kini terlihat ingin menerkamnya.
Galak dan terlihat ingin menelannya hidup-hidup.
" Gak sengaja lu bilang?" Rara makin naik pitam demi mendengar alasan yang menurutnya tak bertanggungjawab itu.
" Dasar cabul, nyesel gue nolongin elu!" Rara sangat kesal dan kecewa dengan Yudha. Tanpa menunggu lagi, Rara kini beringsut bangun dan berjalan meninggalkan Yudha.
" Ra, mau kemana lu? Hujan ini?" Yudha bahkan turut bangun dan mengejar Rara yang terlihat marah. Pria itu bahkan tak mempedulikan rasa nyeri di lengannya.
Tubuh mereka berdua kini telah bermandikan hujan. Mirip bocah yang tengah berantem lantaran berebut es.
" Lepas, ngapain sih lo ngikutin gue!" Rara benar-benar marah. Pria itu baru saja menciumnya saat ia tidak terjaga. Dan itu jelas perbuatan yang sama sekali tak Rara suka.
" Ra sumpah, gue enggak sengaja!" Yudha masih tekun memberikan penjelasan meskipun wanita itu sama sekali tak menggubrisnya.
" Ojek bang, gak usah pakek mantel!" Ucap Rara kepada tukang ojek yang mangkal malam di sekitar pasar dan terlihat berteduh di pos ronda. Tak mempedulikannya Yudha yang masih menatapnya muram.
Tukang ojek itu bahkan sempat bingung demi melihat dua anak muda yang terlihat bertengkar. Dasar anak muda jaman sekarang.
" Buruan pak!" Rara benar-benar menaikkan intonasi suaranya. Membuat tukang ojek itu tergopoh-gopoh saat mengenakan mantel.
" Ra, tolong denger dulu. Sumpah! Tadi itu enggak seperti yang kamu kira!" Yudha bahkan terlihat bersusah payah demi membeberkan kebenarannya kepada Rara.
Rara bersikap acuh tak acuh. Kini Yudha menjadi tahu bagaimana rasanya di acuhkan. Bukankah selama ini ia suka mengacuhkan orang lain?
" Helmnya mbak!" Pria paruh baya itu mengangsurkan sebuah helm kepada Rara.
" Enggak usah, udah kedung basah semua. Udah cepat jalan!" Rara sudah menaikkan kakinya sebelah dan kini terlihat duduk diatas sadel motor bebek empat tak itu.
" Ra! Astaga, kok elu ninggalin gue sih!" Yudha memasang wajah memelas.
" Cepetan jalan Pak!" Rara menepuk pundak bapak-bapak ojek itu, tanpa mempedulikan Yudha yang merengek dengan wajah murung
Bapak ojek itu serba salah. Ia sebenarnya kasihan melihat Yudha yang terlihat berusaha menjelaskan, di bawah guyuran hujan itu. Namun, ia juga tentu cukup realistis demi melihat pundi rupiah yang sudah ada di depan mata.
Astaga!
...πΊπΊπΊ...
Kota X
***
Ambarwati
Hujan nampaknya rata mengguyur wilayah pulau Jawa malam itu. Di rumah besar milik direktur Kijang Kencana itu ia nampak berdiri di atas balkon. Menatap rintik hujan sehabis menelpon Pandu.
Baginya Pandu masih seperti seorang bocah untuknya. Dan ini adalah malam pertamanya berada di kota X dalam status sebagai istri seorang Bayu.
Terasa berbeda tanpa kehadiran sang putra.
Sepasang tangan kokoh kini melingkar di pinggangnya yang masih ramping meski di usia yang sudah sangat matang itu.
" Mas?" Ucapnya terperanjat saat Bayu menyandarkan dagunya ke bahu sebelah kanan Ambar.
" Kok kamu enggak istirahat, hm?" Bayu menciumi leher istrinya dan membuat sekujur tubuh wanita itu meremang.
Pria dan usia matang jelas merupakan perpaduan penyulut gelora terbaik.
" Aku baru nelfon Pandu" Ucapnya sembari menggigit bibir bawahnya demi menahan sulutan rasa aneh dalam dirinya akibat sentuhan Bayu .
" Kamu masih kepikiran Pandu, hm?" Bayu terus menciumi leher istrinya dan semakin membuat percikan gairah itu kian menuntut.
" Dia sudah dewasa!" Ucap Bayu menyesap kecil leher Ambarwati yang wangi.
" Mas!!" Ucap Ambar yang malu dengan perlakuan Bayu. Lebih tepatnya ia grogi.
" Kenapa, hm? Aku jamin tak akan ada lagi tragedi seperti kemarin!" Bayu membalikkan tubuh istrinya, dan sejurus kemudian mengecup mesra bibir Ambar.
" Aku mau malam ini!" Bisik Bayu dengan suara parau saat menangkup wajah manis istrinya.
.
.
.
.
.
Ayah Bayu π