Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 127. Misunderstanding



Bab 127. Misunderstanding


^^^" Amboi! Kalau sudah jatuh cinta, tau kucing rasa coklat ya?"^^^


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Widaninggar


Ia tak mengira jika pria di depannya itu malah membuat dirinya kesal, sedih, marah, malu dan...merasa kerdil sekali malam itu.


" Saya bukan pria lembeng yang gak bisa filter ucapan. Tapi...jujur Wid, sejak pertama saya ketemu kamu entah kenapa wajah kamu yang babak belur itu mengganggu saya, saya juga enggak tahu kenapa!" Mas Aji terlihat penuh emosional kala berucap. Menggebu-gebu dan terlihat bernapas memburu.


Wida menunduk seraya menutup matanya menggunakan satu tangannya. Entah mengapa suasana berubah begitu cepat, bak rollercoaster yang membuat hatinya campur aduk.


" Maaf mas, saya gak bisa menceritakan hal pribadi kepada orang lain. Saya sangat berterimakasih kepada mas Aji karena mau menyimpan anting saya. Benda yang sangat berguna buat hidup saya saat ini. Tapi bukan berarti mas Aji boleh ikut campur urusan saya!"


Wida berucap dengan suara serak dan bergetar, ia bisa menatap wajah muram Aji yang terlihat gundah.


Wida menangis karena kesal sekali dengan Ajisaka.


" Oke ..oke...saya minta maaf!" Aji menghela nafasnya lalu mengalah. Oh astaga wanita ini!


" Mungkin terlalu cepat bagi saya. Sory...!"


"Sebaiknya kamu lanjutkan makan kamu, saya kedalam dulu!"


Ajisaka memilih untuk menyudahi perdebatan itu. Entah mengapa meski ia ingin menekan Wida untuk berterus terang, namun melihat wanita di depannya itu menangis membuatnya tak tega.


Jelas ada yang salah dengan dirinya.


.


.


Ajisaka


Ia menumpukan kedua tangannya di depan cermin kamar mandinya sembari berpikir. Sejurus kemudian ia menatap bayangan dirinya yang terpantul sempurna. Harusnya ia bisa lebih sabar agar bisa mencari tahu Wida.


Terselip rasa sesal karena membuat wanita itu menangis dirumahnya. Ia tidak bisa membohongi diri jika ia telah jatuh cinta kepada wanita yang "mungkin" masih menjadi istri orang itu.


Jatuh cinta pada pandangan pertama lebih tepatnya.


" Maafkan aku!" Lirihnya menyesali sikapnya yang tak mau bersabar. Cepat naik pitam dan terbiasa emosi.


Ia menuju kamar mandi, menggosok giginya lalu mencuci wajahnya agar lebih fresh. Entah bagaimana kini ia harus bersikap terhadap Wida.


Ia keluar kamar mandi dengan wajah dan otak yang lebih dingin. Harusnya dia tidak minum tadi. Ah sialan!


Ia meraih ponselnya yang berada di nakas tempat tidurnya. Menggulir layar dan mencari sebuah nomor.


" Din, besok tolong temui saya di rumah!" Ia menelpon Dino usai mengelap wajahnya menggunakan handuk kecil.


" Ada apa Pak? Kalau penting saya bisa kesana sekarang!"


" Enggak..enggak besok aja, jangan bawa temen. Sendirian aja!"


Ia memungkasi sambungan teleponnya secara sepihak. Pikirannya mumet dan entah mengapa rasa penasarannya akan mengapa wanita itu babak belur di malam itu kian menggebu.


.


.


Widaninggar


Ia tengah mencuci piring bekas pakai mereka. Selera makannya mendadak hilang karena perdebatan mendadak antara dirinya dan Ajisaka barusan.


Namun, dengan terpaksa dia menghabiskan sisa makanan di piringnya sambil berdiri di dapur. Tak boleh menyia-nyiakan sebulir nasi pun. Mengingat ia pernah susah.


Usai meniriskan piring yang baru saja ia cuci, Wida lantas kembali ke meja setrikaannya. Dengan gerakan khusyu dan cepat, ia ingin segera membereskan pekerjaannya.


Obrolan yang berujung perdebatan dengan Ajisaka, jelas mulai membuatnya resah. Ia sadar, ia hanya wanita berstatus tidak jelas saat ini. Dan kenapa pria itu keukeuh dan kepo dengan urusan pribadinya, ia juga tidak tahu. Ia risih dan tidak suka. Lagipula ia cukup tahu diri, baginya hidup adalah hari ini dan untuk Damar.


" Kemana pria itu? Baguslah dia tidak keluar. Akan sangat tidak enak sekali jika dia kembali"


Tiga puluh menit kemudian, tumpukan baju tadi tinggal menyisakan celana panjang yang belum tersetrika. Namun ia telah menguap berkali-kali.


Wida lelah.


CEKLEK


" CK!" Ia bahkan mendecak kala pintu itu terbuka kembali setelah sekian lama tertutup.


Ia menggunakan tangan kirinya untuk menutupi mulutnya yang tengah menguap. Ia lesu sekali, di tambah rasa kenyang jelas merupakan perpaduan yang pas untuk menambah rasa kantuknya.


" Lanjut besok saja kalau sudah lelah, jangan memaksakan diri!" Tukas pria itu dengan wajah seolah tak terjadi apa-apa. Berdiri di depan dirinya yang masih berjibaku dengan setrika panas.


" Besok? Ogah! Aku enggak mau kesini lagi!" Ia hanya berani berucap dalam hati. Sambil bermuka kusut. Merajuk.


Wida bergeming, terus tekun hendak mengambil celana panjang katun milik Ajisaka dari dalam keranjang.


" Kamu marah sama saya?" Tanya Ajisaka seraya bersidekap di depan Wida yang terus menggosok.


" Enggak!" Jawabannya asal. Acuh dan dingin.


Ya elah Ji, pakek nanya lagi.


" Saya minta maaf!"


" Saya enggak ada maksud buat bikin kamu kesal!"


Hening dan tak ada sahutan.


Wida kembali menutup mulutnya karena menguap lagi. Duh bisa gak sih sebentar lagi aja. Tinggal celana aja kok. Ia bahkan seperti memohon kepada dirinya sendiri untuk tidak mengantuk dulu.


" Kalau udah capek dilanjut besok aja, jangan memaksakan diri!" Kini suara pria itu terdengar lebih tinggi.


Namun Wida masih bergeming. Ia tak mau jika dia menyahut ucapan Aji, malah akan berujung perdebatan lagi.


Merasa di acuhkan, Ajisaka langsung mencabut colokan kabel setrika itu dari stopkontak. Membuat Wida seketika mendongak dan langsung berdiri.


" Saya besok sibuk, biar sekalian saja!" Sergah Wida yang kesal kepada Ajisaka. Kini mereka berdua berdiri dan saling melempar tatapan mendengus.


" Kamu ini kalau marah lucu ya? Saya gak suka kamu diemin begini. Udah.. besok aja sisanya. Dan ini! Ini upah kamu!" Ajisaka menyerah sebuah amplop coklat ke tangan Wida yang menatapnya sebal.


Wida menatap Ajisaka dengan kesal karena sikap pria itu. Huuhhh! Pria itu kenapa seenaknya sendiri sih. Udah nyuruh datang pakai acara maksa, sekarang minta pulang udah kayak ngusir.


" Saya gak ngusir kamu. Tapi saya gak mau jadi orang jahat karena gak tau kalau pekerjanya kelelahan. Udah, sini biar saya bawa ke kamar bajunya!"


Bahkan dia seperti tahu isi hati Wida. Oh ya ampun.


Saat hendak mengambil tumpukan baju yang rapih si meja sebelah Wida, tak sengaja Ajisaka tersandung kabel colokan setrika itu. Membuat Ajisaka terjatuh dan tanpa sengaja menimpa Wida yang berdiri tepat di depannya.


BRUK


" AAAAA!" Teriak Wida.


Dua manusia itu seketika tumpang tindih secara tidak sengaja. Wida yang berada di bawah tubuh Ajisaka sempat mematung selama beberapa detik. Pandangan mereka bertemu, terkunci satu sama lain.


Ajisaka menelan ludahnya saat melihat wajah cantik Wida dari dekat dan posisi yang kini membuatnya gelisah. Oh sial!


BRAK!


" Aji kita dat...!"


Mereka berdua terkejut bersamaan pula dengan Yudha dan Sakti yang sama - sama mendelik karena Wida dan Aji yang saling tumpang tindih di lantai.


Yudha dan Sakti bisa melihat hal itu, karena ruangan rumah Aji yang berdesain los hingga ke arah dapur.


" Hah, ngapain lu Ji?" Sakti tentu saja tak bisa menahan bibinya yang lamis. Ia benar-benar terkejut dengan yang ia lihat saat itu. Tidak!!!!


Kini Ajisaka benar-benar pusing, jelas kedua sahabatnya itu telah salah paham.


.


.


.


.