Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 202. Dunia pasti berputar



Bab 220. Dunia pasti berputar


.


.


.


Yudhasoka


Ia bagai tiba di persimpangan pilihan, manakala menyaksikan interaksi dua manusia yang masing-masing memiliki arti tersendiri dalam hidupnya itu.


Sakti terlihat berbeda sekali saat berbicara dengan Rara. Pria itu nampak sedikit beraut serius tiap melayangkan kata demi kata dari ucapan. Begitu juga dengan Rara, wanita itu lebih terlihat wajar saat bertutur kepada Sakti.


Sangat berbeda sekali saat menjawab setiap pertanyaan dengan dirinya. Membuatnya tersenyum kecut. Lebih baik ia menyendiri saja lah dulu. Ada banyak hal yang perlu ia damaikan saat ini, termasuk perasaannya.


Saat hendak membalikkan tubuhnya, sebuah suara membuat niatnya urung.


" Yudha?"


Rara rupanya melihatnya saat ia hendak berjalan. Wanita itu baru saja berbalik, seusai membetulkan posisi kepala bapaknya yang masih terbaring di ranjang. Membuat Sakti menoleh.


Dari tatapan yang ada, jelas menyiratkan jika dua pria itu telah memiliki jawaban dalam diri mereka masing-masing.


.


.


Kota X


***


Pandu


Ia tiba disebuah rumah sakit tempat dimana Hartadi di rawat. Ia sudah berkonspirasi dengan Riko melalui pesan singkat. Ia tiba di tempat itu, tepat saat matahari sudah sedikit melorot ke sisi barat.


Hingga detik ini, pria itu sama sekali tak memberikan kabar kepada Ibu dan Ayahnya. So... tindakan ini pure muncul, atas kemauan dan kerelaan hatinya.


Benar- benar tak bisa menipu dirinya sendiri, untuk tidak perduli.


Disela kegelisahan yang kini mulai menyerangnya, tangan lentik Fina tak hentinya mengusap lengan kokoh milik Pandu. Berupaya memberikan ketenangan melalui sentuhan lembutnya.


" Everything gonna be alright, hm?" Fina tersenyum sembari terus menggamit lengan pria itu. Ia tahu jika kekasihnya itu kini sedang perang batin.


Sejurus kemudian, sosok Riko terlihat muncul dari dalam ruangan dan terlihat berjalan dengan seorang dokter senior.


Fina seketika mengalihkan pandangannya ke arah lain, kala Riko dengan tekunnya meneliti tampilan Fina yang menurutnya semakin cantik. Membuat pria itu tersenyum senang.


" Kau bisa menemuinya dulu di dalam!" Ucap Riko kepada Pandu yang langsung di balas anggukan oleh pria bertato itu.


" Kau tidak apa-apa sendiri?" Tanya Pandu memastikan jika Fina tidak akan rikuh. Ia paham akan situasi yang tercipta.


Fina menggeleng," Enggak, kamu masuk aja!" Jawab Fina seraya melirik Riko yang tanpa ekspresi. Pria itu sudah banyak berubah sepertinya.


Pandu beranjak lalu mulai menyeret langkahnya menuju ruangan tempat dimana pria itu berbaring. Seraut pucat tak berdaya kini menjadi pemandangan yang tengah ia tatap.


Tubuh tegap penuh arogansi, maupun pria gagah dengan segala kejayaan yang melekat kini sudah tiada lagi tersaji. Menyisakan sebujur tubuh yang bernapas dengan muka pucat dan bibir kering.


Membuat hati Pandu merasa nyeri.


Pria itu berperang melawan naluri dan logikanya. Ada rasa haru yang menelusup ke relung hatinya yang paling dalam. Ia mulai mendekat dan menyentuh kening Hartadi yang masih memejamkan mata.


Tak ada orang lain pikirnya. Hanya dia dan Hartadi.


Disentuhnya dahi dengan warna kulit kuning pucat itu. Suhunya mirip dengan orang demam. Dan ia bisa melihat uban yang tidak tersemir tumbuh subur di atas kepala pria itu.


" Kau datang nak?" Ucap Hartadi dengan suara lemah yang nyaris tak terdengar. Membuat Pandu tersentak.


Dia sadar rupanya!


Hartadi terlihat sangat lemah, namun ia masih bisa melihat dengan jelas jika pria itu terlihat senang akan kehadirannya.


Pandu tertegun seraya menelan ludahnya kala sorot mata mereka bertemu. Pria yang beberapa waktu lalu sempat terlibat aksi hajar menghajar dengan dirinya, pria yang menjadi sumber malapetaka Ayudya adiknya, kini terlihat tiada berdaya.


" Maafkan papa nak...!"


.


.


.


Serafina


Fina sebenarnya terkejut bukan main demi melihat perubahan pada diri Riko. Tubuh yang sedikit lebih berisi, juga sorot mata redup yang semakin membuat pria itu mirip seperti seorang pesakitan.


Pria yang pernah ia gilai itu, kini terlihat sangat berbeda. Seperti sosok lain. Bukan Riko yang ia kenal dulu.


Ia diam seribu bahasa saat Riko turut mendudukkan dirinya ke sampingnya. Suasana yang tercipta mendadak canggung dan tak nyaman sama sekali.


" Apa kabar?" Tanya Riko dengan wajah kuyu.


" Baik!" Fina melipat kedua tangannya ke dada." Seperti yang kamu lihat!" Sahutnya ketus.


Fina mendengus, ia sama sekali tak suka berbasa-basi dengan Riko. Pria yang pernah menculiknya itu benar-benar tak memiliki tempat lagi dalam diri Fina. Sama sekali tidak.


Namun entah mengapa, melihat kondisi Riko yang memprihatinkan itu, membuat rasa manusiawinya tergugah.


Fina merasa kasihan.


" Maafkan semua kesilapanku di hari-hari yang lalu Fin!" Riko mendadak tercekat saat akan mengatakan permohonan maaf kepada mantan kekasihnya itu. " Meski aku tahu, semua kesalahanku tiada terhitung lagi!"


Kini Fina mendadak menundukkan kepalanya. Matanya memanas dan lidahnya juga kelu. Merasa makin tidak tahu harus bersikap bagaimana.


" Melihatmu bersama Pandu...aku merasa lega!"


Membuat dada Fina seketika merasa penuh dan sesak. Astaga, bagaimana ini?


" Setidaknya aku bisa memastikan sendiri jika kau sudah bersama dengan orang yang tepat!"


.


.


Pandu


Ia berpapasan dengan Riko sesaat setelah ia selesai melakukan pengambilan darah untuk di transfusi kepada Hartadi.


Mulut Pandu terkunci, namun tangannya terlihat sibuk bergerak mengenakan jaket hitam miliknya.


" Aku sudah selesai!" Ucap Pandu tanpa menatap adiknya. Masih menyuguhkan raut tak terbaca. Cenderung datar.


" Hmm, terimakasih!" Sahut Riko.


Pandu mengangguk meski ia tak menatap wajah layu Riko yang telah kehilangan harapan akan banyak hal dalam hidupnya. Cinta, kesehatan, kehormatan, kepercayaan.


" Kami tidak akan mengganggumu lagi.... Kau bisa pergi dengan bebas sekarang!"


Dan ucapan Riko barusan, sukses membuat mata Pandu berkaca-kaca, dengan rahang yang mendadak ia tahan.


Ia tahu, dalam diri Riko mengalir darah yang sama dengan darah yang ada di tubuhnya. Namun jurang nasib yang berbeda, jelas membuat kecanggungan masih menyertai mereka hingga saat ini.


" Hmmm!" Gumam Pandu yang kini sudah selesai dengan dirinya. Bersiap untuk pergi menuju rumah Bayu. Sama sekali tak bisa menyusun kata-kata yang bagus sebagi sajian perpisahan.


Riko menatap Pandu yang kini sudah meraih tas ranselnya. Pria itu melempar tatapan kosong kepada Pandu. Tatapan yang menyiratkan arti kekalahan.


" Aku pergi!" Ucap Pandu membalikkan badannya. Menguatkan diri untuk tidak merasa bersalah maupun merasa sedih dengan semua yang telah terjadi.


" Tunggu!" Ucap Riko memberanikan diri.


Ucapan yang sukses membuat langkahnya terhenti. Riko berjalan sambil menahan sesak di dadanya. Pria itu sejurus kemudian meraih tubuh tegap Pandu lalu memeluknya erat. Tak bisa lagi menahan diri untuk terkalahkan dengan ego.


Riko membutuhkan figur seorang saudara.


Air mata yang selama ini tertahankan seolah-olah tertumpahkan detik itu juga. Raga yang di gadang-gadang kuat nyatanya memiliki titik rapuh juga. Semua manusia memang manusiawi.


Pandu mematung sambil meneguk ludahnya demi mendengar isak tangis dari adiknya itu. Benarkah jika waktu telah merubah segalanya?


.


.


...🌺🌺🌺...


Ambarwati


Malam itu Ambarwati sibuk membereskan beberapa piring dan juga peralatan makan malam yang baru saja mereka gunakan. Wanita itu setiap hari tak bisa mendiamkan dirinya untuk berleha-leha, meski Bayu sudah memintanya untuk tidak berlelah-lelah.


" Biar saya saja Bu!" Ucap si mbok yang selama ini bekerja dengan Bayu. Abdi dalem setia sepanjang masa.


" Enggak usah mbok. Udah... mbok bagian simpan lauk aja ya... Ini biar saja yang nyuci!" Sahutnya tersenyum ramah kepada si mbok.


Wanita tua itu bahkan kerap merasa sungkan saat majikannya jutsru lebih banyak bekerja.


TING TONG


Dentang bel membuat dua wanita beda usia itu menoleh ke arah pintu." Mbok, bukain pintu ya... mungkin tamu Bapak!" Ujarnya sembari membilas buih yang menempel di piring lebar putih itu.


" Nggeh Buk!" Si mbok mengangguk dan berjalan sedikit tergesa menuju pintu.


CEKLEK!


" Selamat malam!"


.


.


.


.


Yang dua bab masih review