Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 17. Terimakasih



Bab 17. Terimakasih


^^^" Sama-sama hidup, yang sama-sama menanti. Jadi, jangan sungkan. Ikuti sebagimana mestinya!"^^^


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


.


.


.


Pandu


Selain mengurangi isi kandung kemihnya, serta mencuci tangan bekas makannya , Pandu juga terlihat mencuci wajahnya. Ia bahkan belum istirahat seharian ini.


Agak lelah sebenarnya. Mencuci muka berharap bisa mengurangi rasa kantuk yang menderanya.


Ia menatap wajahnya di cermin besar itu, terbayang wajah Ayudya adiknya yang malang. Meski dalam hati ingin memiliki kekasih, namun semua itu terbantahkan dengan keadaan yang ada. Baginya, kesembuhan adiknya lebih penting daripada dirinya sendiri.


Ia sengaja berlama-lama di toilet karena jelas ia akan kikuk jika kembali ke meja yang diisi dua wanita kota itu. Dari tampilannya, teman Fina itu juga berasal dari kota dan jelas anak dari orang berada.


Getaran ponsel membuatnya merogoh kantung celananya. Ibunya menelpon rupanya.


" Halo Buk!" ia menjawab panggilan dari ibunya.


" Ndu kamu dimana? ini Aji nyariin kamu!"


" Astaga!" gumamnya, ia lupa jika ia telah janjian bersama sahabatnya untuk bertemu seorang dokter untuk menanyakan perihal mata adiknya.


" Emm, sebentar Buk. Pandu lagi dimintai tolong Bu Asmah buat jemput saudaranya di stasiun, ini sudah mau pulang kok!"


Ia benar-benar lupa.


.


.


" Fin kamu mau kemana?" tanya Dita yang melihat sahabatnya itu hendak masuk kembali.


" Mau bayar!" sahutnya cepat.


" Udah kok!" jawab Pandu informatif.


Sistem bayar di tempat itu di awal. Sama seperti mekanisme bayar di resto cepat saji terkenal.


Bayar dan langsung membawa makanan. Sejenak Fina malu, mengapa ia mendadak menjadi bodoh dan terlihat kampungan. Membuat Dita cekikikan.


" Biasa makan di warteg ya?" bisik Dita berkelakar.


" Sialan lu!" dengus Fina yang masih sangat malu.


Mereka bertiga berjalan keluar. Pandu di belakang terlihat sibuk membalas pesan seseorang. Sementara Dita dan Fina asik cekikikan. Entah apa yang mereka obrolkan.


" Emmm ...sini kopernya!" Pandu meminta koper besar milik Dita, dan memasukkannya kedalam bagasi mobil. Dita senang dengan sikap Pandu yang supel namun tak terlihat SKSD ( Sok Kenal Sok Deket).


Pandu terlihat lebih buru-buru saat pulang. Membuat Fina penasaran. Hal itu bisa ia simpulkan karena kecepatan yang dilajukan Pandu, berbeda saat mereka berangkat tadi.


" Aku tidur dulu ya Fin, masih lama kan. Ngantuk banget aku!" Dita sudah merebahkan dirinya di kursi belakang dengan berbantalkan neck pillow doll yang ia pakai di kereta tadi. Kantuk benar-benar tak bisa ia tahan. Sekujur tubuhnya juga teramat letih.


Lagi-lagi kenyamanan di sekitar memudar, karena kecanggungan kini kembali menyeruak. Pandu terlihat berwajah tegang dan sama sekali tak menyiratkan aura santai.


" Emmm kamu ada acara, maaf kok kita lebih terasa buru-buru sekarang!" ucap Fina agak ragu.


Pandu tertegun.


" Teman kamu kecapekan, kasihan. Aku cepat-cepat biar dia bisa istirahat dirumah kamu!" sahut Pandu dengan ekspresi datar. Ia tengah berlalibi.


Lagi-lagi sikap Pandu membuatnya takjub. Kini, agaknya tabir kejengkelan yang tempo hari menghinggapi Fina sudah tersingkap. Pandu memang orang yang berbeda.


Pandu sebenarnya juga sedikit berbohong. Ia memang terburu-buru karena ingin segera menemui dokter teman Aji itu.


" Oh, iya!" Fina mengangguk setuju.


" Tapi kalau kamu kurang nyaman, aku bisa.." jawab Pandu seraya hendak menarik gigi persneling.


" Oh, enggak-enggak. Lebih cepat lebih baik kok!" Fina tersenyum.


Pandu mengembuskan napasnya, " Sorry" batinnya berbicara. Ia harus berbohong, setidaknya itu tidak terlalu terlihat kan.


Kredibilitas pria akan menurun bila mereka kedapatan berbohong. Dan itu jelas bukan diri Pandu.


.


.


" Bu saya langsung pamit!" ucap Pandu kepada Bu Asmah.


Fina sedang mengantar Dita yang terkantuk-kantuk. Gadis itu jelas kelelahan karena telah berjam-jam berada di moda transportasi umum itu.


" Terimakasih banyak Pandu. Saya merepotkan kamu terus!" ucap Bu Asmah sungkan namun tersenyum.


" Sama-sama, mari Bu!" Pandu pamit dan langsung menuju ke tempat motornya berada. Pikirannya hanya tertuju kepada Aji.


Namun saat ia hendak menstarter motornya, sebuah suara terdengar memanggil namanya. Suara wanita yang kini mulai tak asing di telinganya.


" Pandu!" Fina setengah berlari memanggil pria yang sudah duduk diatas motornya itu, seraya membawa sebuah paper bag.


" Iya?" jawab Pandu dengan dahi bertaut.


Fina tersenyum kecil " Terimakasih sudah mau mengantar!" menjadi kalimat paling manis yang terlontar selama beberapa hari ini.


Membuat Pandu juga tersenyum simpul " Sama-sama!"


Fina terhipnotis dengan senyum yang terpancar dari bibir Pandu. Sejenak ia berpikir, seperti apa rasanya di kecup bibir pria ganteng itu. Lagi-lagi otaknya berkelana.


" Ya sudah, aku pulang dulu!" ucap Pandu karena merasa sudah tidak ada yang dibicarakan lagi.


" Emmmhhh tunggu dulu!" sergah Fina.


Pandu kembali mengernyitkan dahinya.


" Ini buatnkamu, tadi Dita pesan ke aku. Dia lagi tidur. Ngantuk banget katanya!" Fina menyerahkan sebuah paper bag berisikan oleh-oleh dari Dita.


" Itu oleh- oleh dari Dita!" imbuhnya.


Pandu menatap paper bag warna coklat muda itu, lalu kemudian mengulum senyum kembali " Terimakasih banyak, sampaikan ke Dita ya. Kalau begitu aku pulang dulu!" Pandu meraih paper bag itu, lalu menyalakan mesin motornya, ia tersenyum kepada Fina sebelum ia melajukan motornya yang bersuara garang itu.


Pria itu kini benar-benar menghilang dari pandangan Fina. Fina tersenyum- senyum sendiri. Entahlah, di merasa happy bahkan hanya dengan berbincang hal remeh temeh macam itu dengan Pandu.


Ahhh beginikah cinta.


Membuat hati berwarna, benarkah dia sejenak bisa melupakan luka yang di torehkan oleh Riko?


Hanya waktu yang bisa menjawab.


.


.


.


.