
Bab 204. Ngunduh wohing Pakarti
.
.
.
...πππ...
Sakti
" Tadi si Yudha nyariin kesini tapi kamu belum pulang. Si Pandu jadi nikah sama cucunya Bu Asmah Sak ternyata. Emak ikut seneng!" Tukas emak yang kini sibuk belajar berpromosi di laptop yang baru ia beli.
" Nikah? Tahu dari mana Mak?" Tanyanya dengan wajah serius. Berjalan menuju tempat emaknya duduk menekini layar tipis berlogo buah apel yang kroak.
Astaga, ia rupanya telah banyak melewatkan banyak hal soal sahabatnya selama sebulan ini. Bahkan ia tidak tahu progres kisah asmara para sahabatnya, sebab ia sendiri agaknya tengah mendapat problematika.
" Tuh, undangannya di atas lemari. Emak ke kota sama siapa Sak kalau gitu. Emak kan juga ingin ikut!"
" Pingin lah menyaksikan pernikahan si Pandu Sak!"
Sakti tertegun, ia bukan orang super kaya ataupun crazy rich dan juga bukan dari golongan fakir miskin, ataupun kaum duafa.
Tapi, melihat kenyataan jika hanya dirinya yang tak memiliki mobil seperti ketiga sahabatnya, membuatnya tersenyum kecut.
Setelah sekian lama, Sakti menjadi minder.
.
.
Kota X
***
Pandu
Ibu sudah tidak marah sejak Ayah Bayu memberikan pengertian yang cukup. Terlepas dari bagaimanapun buruknya masa lalu, masa sekarang jauh lebih penting dari apapun, agar di masa depan kita bisa mendapatkan sesuatu yang baik.
Beberapa hari ini ia sengaja berkirim pesan kepada Riko. Kegelisahan yang mengusik pikirannya, membuat Pandu intens untuk menanyakan kabar Hartadi dan kondisinya kepada pria yang mau tidak mau harus ia akui sebagai adiknya itu.
"Papa sudah lebih baik!"
" Dia nanyain elu terus!"
Ia berlega hati, dengan segenap kerendahan hati ia mengirimkan undangan virtual kepada adiknya itu.
" Datanglah jika berkenan!" Tulisan ini ia jadikan caption di bawah undangan yang ia kirim kepada Riko. Tak maksud apa-apa, hanya saja, Pandu kini sudah menganggap Riko bagian dari keluarganya, meski tak di nafikkan jika mereka berdua masih sama canggungnya.
Ia mengundang adiknya atas inisiatifnya sendiri. Ia merasa, sudah saatnya memaafkan kepingan masa lalu yang buruk, dan melangkah dengan sikap dan pemikiran yang baru.
"Astaga!!!Fina cantik sekali!" Pandu terpukau. Padahal masih fitting baju, tapi jantung Pandu sudah b'rasa dag dig dug.
" Kenapa... aku enggak cantik?" Tanya Fina memanyunkan bibirnya, ia cemas sebab Pandu malah memicingkan matanya.
Pandu terlihat memasukkan ponselnya dan sejurus kemudian berjalan mendekati Fina. Pria itu kini berbisik ke telinga Fina.
" Kamu cantik banget, aku jadi enggak sabar...!" Pandu meraba punggung Fina yang terbuka. Menampilkan lekuk tubuh indah wanita berkulit bersih itu.
Membuat tubuh Fina bagai tersengat arus aneh, saat tangan kekar Pandu meraba kulitnya. Oh astaga!
" Dasar!" Fina mencubit Pandu yang kini mengerlingkan matanya.
.
.
Riko
Ia menyuapi Hartadi dengan tekun. Harta kekayaan mereka sebagian besar di sita oleh bank. Apa yang di raihnya dengan jalan halal pun, turut lenyap tak bersisa.
Hanya sebuah mobil serta beberapa uang yang masih tersimpan di bank, serta sebuah rumah ukuran sedang yang masih ia miliki.
Nama yang sudah telanjur tercoreng, turut membuat dirinya kesulitan mencari pekerjaan usai di rehabilitasi. Pengadilan memutuskan untuk membiarkan Hartadi menjalani perawatan terlebih dahulu.
Pria itu kini bahkan sulit untuk bisa berjalan. Hartadi nekat ingin mengakhiri hidupnya, saat ia tanpa sengaja mendengar kabar jika Bayu menikahi Ambarwati.
Dalamnya lautan bisa diukur, tapi dalamnya hati...hanya orang itu sendiri yang mengerti.
" Jangan biarkan darah Mas Pandu yang sudah mengalir di tubuh papa menjadi sia-sia Pah!"
" Papa harus semangat. Riko bakal cari kerja biar bisa sewa pengacara biar papa bisa dapat pengurangan hukuman!"
Ucap Riko demi tengah kesunyian aktivitasnya menyuapi sang Papa. Hartadi menitikkan air matanya. Pun dengan Riko yang sesekali mengusap matanya, menggunakan lengan atasnya.
" Kita jalani karma kita Pah. Semoga di kehidupan yang akan datang, kita bisa bersama dengan keadaan yang lebih baik!"
Hartadi hanya bisa menangis dengan suara yang tertahan, sejatinya manusia memang harus ingat akan hukum tabur tuai.
Manungso bakal ngunduh wohing Pakarti.
( Manusia akan memetik hasil dari segala yang ia lakukan).
.
.
.
.