Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 193. Tak sengaja melukai



Bab 193. Tak sengaja melukai


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


.


.


.


Yudhasoka


Ia kesal bukan main manakala Buyung membuat masalah pagi itu. Pria itu semalam sebenarnya sudah di hubungi langsung oleh Ko Dendi, adik dari Ko Bian untuk meneruskan pesan ini pada pemangku kepentingan, dalam hal ini Yudha.


Yudha semalam tak bisa di hubungi oleh Ko Dendi. Sepertinya pria itu tidak tahu jika Yudha telah mengganti nomer barunya. Dan sialnya, Buyung juga lupa untuk memberitahu soal ini kepadanya.


" Siapa sih yang seenaknya begini? Ini jadi saya yang mumet. Siapa yang jamin kalau itu orang enggak meleset bayarnya?"


Ia memaki Buyung yang saat ini ada di kantor BI untuk setor Tunai. Pria itu benar-benar membuat moodnya berantakan dalam sekejap.


" Gila kamu! Harusnya bisa nolak dulu kan? Jangan main iya-iya aja. Jaman sekarang banyak banget peminjam yang senang waktu pinjam aja, ngangsurnya susah!"


" Ko Dendi udah empat kali kayak gini. Ujung-ujungnya saya juga yang susah, di tabraki sana sini!"


Ia benar-benar uring-uringan di waktu sepagi ini. Masalah satu belum selesai ini di tambah lagi masalah baru. Saat ia sedang mengetik sebuah pesan dengan sisa dada yang masih bergemuruh, ia melirik seseorang yang berdiri di depan ruangannya.


" Siapa disana?" Ia bahkan sudah hampir mendamprat orang itu. Apakah orang itu menguping?


Ia mengurungkan niatnya melampiaskan kemarahan kepada di empunya badan. Semua itu terjadi lantaran detik itu juga ,ia sangat terkejut demi melihat Rara yang berada di ruangannya di jam sepagi ini.


Oh no!!!


" Rara?"


" Kamu...?" Jantung Yudha dag dig dug.


Tunggu dulu...apa yang di maksud Buyung tadi adalah Rara? Oh sial! Apa wanita itu tadi mendengar semua ucapannya ya?


Yudha benar-benar belum bisa memetakan semua yang terjadi. Mendadak otaknya buntu demi melihat wajah Rara yang kembali tak ramah kepadanya. Oh Shiit that's my bad!


Mendengar derap langkah yang menuju ke ruangannya. Ia segera menarik tangan Rara dan meminta Rara untuk bersembunyi di bawah meja. Mengingat hal ini bersifat rahasia.


" Pagi Yud!"


Rupanya Raffi yang baru datang. Oh sial. Bagiamana ini?


" Kenapa wajahmu tegang begitu?" Tanya Rafi yang terlihat melepas jaketnya seperti biasa. Tak ada kecurigaan maupun sikap penasaran. Pria itu setiap hari nebeng dan meletakkan barang-barang pribadinya di ruangan Yudha.


Raffi menjadi karyawan biasa. Belum memiliki ruangan khusus seperti Yudha dan Buyung.


Rara yang saat ini berjongkok di bawah meja kerja Yudha, sungguh merasa kesal. Ia tak bisa bergerak dan sialnya, ia mengahadap tepat ke bagian kelelakian Yudha yang terlihat menonjol. Brengsek!


" Enggak ada! Gimana kakimu? Udah sembuh?" Sahutnya mencoba biasa saja.


" Ya lumayan lah. Oh iya...Buyung barusan nelpon gue. Elu katanya ngamuk- ngamuk ke dia ya?"


" Kenapa, Ko Dendi merekomendasikan orang lagi buat minjem kesini?"


Sial, Raffi malah nyerocos dan membuat Yudha gelagapan. Tentu ia tak enak hati kepada Rara. Dan jika ia tahu sedari awal jika peminjaman itu adalah Rara, tentu ia tak akan bertingkah seperti ini. Oh astaga.


" Nanti ruwet lagi kayak dulu. Enak minjem balikinnya ogah!" Tutur Raffi yang semakin membuat Yudha gelagapan. Aduh gimana ini?


Rara yang berada di bawah sana sudah mulai merasakan pegal di kakinya. Ia bahkan merasa ingin marah sewaktu Rafi mengucapkan kata-kata seperti itu. Ucapan pria itu seolah menyudutkannya.


" Siapa sih yang pinjem? Bukan gundiknya ko Dendi lagi kan?"


Gundik? Siapa yang di maksud gundik? Rara bahkan sudah hampir kehilangan kesabarannya. Apa maksud pria itu?


" Enak banget orang-orang yang bisa dekat sama bos ya Yud. Bebas mau ngelakuin apa aja. Nanti kalau ada mblesetnya. Pasti kita yang pusing buat Nyariin tu orang biar mau bayar!" Rafi berucap sembari membetulkan letak dasinya yang miring.


" Aaaargghhh!!"


Mata Rafi mendelik seketika tatkala ia melihat Yudha yang meringis kesakitan sembari memegang benda pusaka miliknya.


Apa yang terjadi?


" Siapa yang elu bilang gundik, hah?"


Demi jagat raya dan seluruh alam semesta besar ini, Raffi seketika terkejut dua kali lipat demi melihat seorang wanita , yang tiba-tiba muncul dari bawah kolong meja. Astaga, ada apa sebenarnya ini?


.


.


Tik tok tik tok tik tok


Keheningan mendominasi suasana disana. Dimana tiga orang manusia kini duduk dan tak ada yang berniat untuk angkat bicara, usia terlibat aksi gila


Yudha masih merasakan telornya nyeri akibat tendangan Rara. Ya... wanita itu menendang benda pusaka Yudha lantaran sempitnya ruang gerak yang dimiliki Rara , sehingga membuat benda keras tak bertulang itu nyaris saja menempel di wajahnya. Benar-benar brengsek!


Pintu itu sudah tertutup. Raffi duduk di kursi kosong sisi barat, menatap Rara dengan wajah penuh sesal. Yudha yang duduk di kursi singgasananya juga tak kalah belingsatan, saat Rara menatapnya dengan wajah datar.


" Gue kesini udah dapat ACC dari Ko Bian. Tapi kalau kalian emang enggak percaya ke gue juga enggak apa-apa!"


" Tapi perlu kalian ingat. Jangan pukul sama rata orang-orang licik yang mempersulit kerjaan kalian, dengan orang-orang yang benar-benar butuh karena terdesak keadaan!"


" Karena sampai saat ini, posisi gue sama kayak kalian. Nagih duit sendiri tapi kesannya kayak kita yang ngemis untuk diberi!"


" Oh ya dan satu lagi. Jangan elu pikir semua orang yang di bantu bos itu merupakan gundik atau peliharaan mereka. Bisa jadi orang itu udah enggak mikir rasa malunya lagi karena keterpaksaan!"


Membuat dua pria itu kini bak seorang pesakitan yang tengah di sidang.


Yudha tak menjawab. Rara telah salah paham. Tapi dia memang salah.


Rafi melirik dua manusia itu secara bergantian. Jelas ia harus pergi saja. Haduh bagaimana bisa ia berada di situasi mencekam kayak gini sih?


" Yud, gue musti jemput si Buyung dulu. Elu handle ya...emmm mbak saya permisi!" Raffi meringis saat berpamitan. Ia melirik Yudha yang menatapnya tajam.


" Emang asu lu! Selesai bikin onar langsung cabut lu brengsek?" Batin Yudha kesal kepada Raffi.


Suara pintu yang tertutup kini semakin membuat Yudha susah bahkan untuk sekedar menelan ludah.


" Sory Ra..gue enggak tahu kalau elu yang bakal minjem duit. Kalau..gue tahu, gue pasti bantu tanpa elu harus datang kesini!"


Rara diam. Ia kini menjadi ragu untuk meminjam. Rupanya menjadi peminjam melalui referensi Bos, tak kalah hinanya dari peminjam yang lecet ( tukang tipu).


Sebuah getaran membuat Rara tersentak. Jelas menandakan jika sebuah panggilan telah masuk ke ponselnya.


Yudha turut mengikuti gerak Rara yang mengambil ponsel dari Sling bag hitam wanita itu.


" Ya mbak?"


Yudha turut menatap lekat wajah Rara yang seketika tegang dan terlihat pias dalam waktu bersamaan.


Apa semua baik-baik saja?


.


.


.


.


.