Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 131. Satu cerita, dua manusia



Bab 131. Satu cerita, dua manusia


^^^" Bukan rumit, hanya terkadang kita yang tak mau mengikuti irama takdir Tuhan!"^^^


^^^.^^^


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Kota X


***


Kediaman Wijaya


PRYAAAANG!!!?


Rengganis tengah marah besar saat ini, suaminya tengah di tahan dan ia tak mendapat kesempatan sama sekali untuk menjenguk.


Hartadi secara Pidana dikenakan pasal berlapis. Namun Riko menjadi selamat karena kesemua usaha terselubung yang di miliki mereka merupakan perusahaan yang diatasnamakan Hartadi.


Raditya juga mengaku melakukan penusukan atas perintah Hartadi. Praktis, dari kesemua hal itu bisa membuat Riko bebas.


" Cepat cari cara untuk membebaskan papamu Riko!"


" Kamu harusnya beruntung karena papamu masih melindungi kamu!" Rengganis menjambak rambutnya frustasi.


Riko diam, ia sebenarnya marah dengan sang papa karena mengapa ia menyembunyikan rahasia sebesar ini darinya. Terlebih ia tak Sudi memiliki saudara seperti Pandu.


" Apa mama tidak takut jika papa kembali menemui wanita itu beserta anaknya jika papa bebas?" Riko berdiri di belakang punggung mamanya.


PLAK!


Pipi Riko seketika terasa kebas usai mendapat tamparan keras dari sang mama.


" Ngomong apa kamu!" Rengganis marah begitu mendengar ucapan Riko yang justru membuatnya makin gila.


" Seminggu yang lalu Riko datangi mereka ma, mereka masih ada di kota ini. Terakhir aku dapat informasi jika Pandu semakin dekat dengan Fina!" Riko kesal sekali, peluang untuk merebut Fina kembali jelas sangatlah kecil. Kini di tambah sang mama malah menuntut dirinya untuk membebaskan papanya dengan segala cara.


" Apa kamu tidak bisa lebih pintar sedikit? Apa otakmu hanya berisi wanita itu, hah?"


" Sadar Riko, kamu bisa mendapatkan yang jauh lebih cantik dan lebih segalanya dari Fina!" Rengganis benar-benar frustasi.


Kini, selain elektabilitas suaminya anjlok, semua usahanya terancam goyah karena Riko tak bisa berbuat apa-apa. Mereka tengah berada di ambang kehancuran.


.


.


Pandu


Ia resah. Seminggu ini ia memasrahkan sepenuhnya urusan pengadilan kepada pengacara yang telah di sewa oleh Bayu. Selain ia yang ogah dengan birokrasi rumit, ia juga ingi segera pulang.


" Oma datang kesini Ndu, ini aku lagi sama beliau!"


Pesan dari Fina ia baca tanpa berniat untuk membalasnya.


Ia kini bingung, di satu sisi ia sangat bahagia jika berada di samping Fina. Namun, ia menyadari kota bukanlah tempatnya. Belum lagi, ia ingat akan ucapan Bayu beberapa hari yang lalu.


...Flashback...


Kantor KJ


Beberapa hari yang lalu


Bayu memanggil Pandu karena selain ada hal penting yang ingin ia sampaikan, ia merasa Pandu harus menandatangani beberapa berkas sebagai bukti jika pria itu sudah bukan anggota KJ lagi.


" Ada apa?" Pandu menatap lekat wajah pria di depannya itu sesaat setelah ia mendaratkan tubuhnya ke atas kursi hitam yang nyaman itu.


" Apa ibumu tidak mengatakan sesuatu kepadamu?" Tanya Bayu serius.


Pandu menggelengkan kepalanya dengan wajah tidak mengerti. " Memangnya ada apa?"


Bayu terlihat menarik napasnya. Ambarwati benar-benar pribadi yang unik pikirnya.


" Mari kita bicara sebagai pria dewasa Ndu!"


Pandu terlihat makin beratensi menatap pria yang tegas itu. Ada apalagi? Apa ada masalah?


" Aku menyukai ibumu!"


DEG!


" Aku harus mengatakan kejujuran ini. Sebab aku bukan tipikal orang yang suka menunda-nunda!"


Membuat Pandu mendelik. Tapi ia masih bisa menyuguhkan sikap tenang. Hanya saja kini ia terlihat susah menelan ludahnya sendiri. Are you serious?


" Kau sangat mirip dengan anakku. Dan bertemu dengan ibumu, membuatku merasakan getaran lain!"


" Kurasa kau juga paham hal ini saat kau bersama Fina!"


" Rasa nyaman, senang, damai...!"


Pandu menatap Bayu yang tersenyum saat mengatakan hal itu. Tergambar jelas di wajahnya rona kebahagiaan yang menyertai tiap bait kata yang terucap.


" Ijinkan aku menjadi bagian dari kalian!"


Bayu melipat kedua tangannya lalu menumpukan lengannya diatas meja, sambil menatap Pandu lekat. Tunggu, apa dia sedang mengintimidasi?


Pandu seketika menjadi bingung. Sebenarnya ia sangat syok dengan hal ini. Cinta kala senja?


" Kami hanya orang biasa. Apa anda tidak merasa rikuh?" Bahkan kini pandu telah mengubah panggilannya terhadap Bayu. Benar-benar diluar ekspektasi. Cihuyy!


" Apa Fina juga mensyaratkan suatu hal saat ia memilihmu?" Bayu terlihat membalikkan pertanyaan. Dasar pria tua!


Pandu tertegun. Apa pria di depannya benar-benar serius?


"Kau bisa menjawabnya beberapa hari lagi. Tapi yang jelas, aku serius nak! Ijinkan aku menjadi bagian dari kalian!" Bayu menepuk pipi Pandu lalu pergi meninggalkan Pandu seorang diri.


Membiarkan pemuda itu untuk berpikir.


...Flashback end...


Pandu mengusap wajahnya kasar saat kilasan ingatannya kembali pada percakapan khas pejantan beberapa waktu lalu. Bagiamana ini?


Jujur, ia suka dengan pribadi Bayu. Tapi...apa Ibu mau membuka hati kembali?


Bahkan Fina sudah mengatakan kepadanya saat dia berada di cafe beberapa waktu lalu. Apa cuma dia yang tak menyadari hal ini?


Ia merogoh ponselnya lalu terlihat mengetik sesuatu. Sesuatu yang mendadak memenuhi otaknya.


" Kebahagiaan Ibu adalah kebahagiaan saya juga. Kalau anda sudah mengantongi restu dari saya, saya rasa anda pasti tahu apa yang harus anda lakukan. Saya tunggu di Kalianyar!"


Ia mengirimkan pesan itu kepada Bayu dengan tersenyum. Ia yang selama ini hanya bisa melihat ibunya bersedih, tentu berharap jika Bayu mau memuaskan dahaganya sebagi janda selama ini.


" Kabari aku jika kalian sudah di Kalianyar!"


Pandu tersenyum kala membaca balasan dari Bayu.


.


.


Seminggu pasca ia mendengar kalimat mengejutkan dari bibir Bayu, wanita itu mendadak gundah gulana saat ini. Selama itu pula ia bungkam dan tak mau membagi kepada Pandu.


" Apa-apaan pria itu?"


Selama seminggu ini , ia bersama Pandu menyewa sebuah rumah yang lumayan besar. Berurusan dengan pengadilan rupanya benar-benar membutuhkan waktu yang sangat lama.


"Buk!" Panggil Pandu kepada dirinya yang melamun.


" Ndu..kamu gak jadi ke tempat Fina?"


Pandu menggeleng. "Nanti aja, Bu Asmah ada disana!"


Ia tertegun.


" Kapan kita pulang?"


" Hari ini, tapi...kita kerumah Pak Guntoro dulu ya. Sekalian pamit!"


" Kamu enggak ada bilang sama Fina?"


Pandu menggeleng " Aku enggak tega Buk!" Pandu merasa lebih baik mengucapkan hal ini mendadak. Wanita nakalnya itu jelas akan rewel jika mengetahui bila dirinya akan kembali ke desa.


Ia mengangguk setuju.


Pandu rupanya tak menanyakan apapun kepada dirinya soal Bayu? Dua kali bepergian bersama pria asing agaknya cukup membuatnya takut jika Pandu berpikir yang tidak-tidak.


.


.


Kediaman Guntoro


" Oma kok cepet banget sih disini? Padahal di desa nggak ada yang di urus juga!" Fina berengut. Pasalnya baru saja beberapa hari neneknya itu ada di sana, lusa sudah hendak bertolak ke Kalianyar.


" Gak ada yang enggak di urus gimana? Papa kamu udah sehat, itu sawah Oma sama Ajiz dan yang lain kasihan kalau Oma enggak buru-buru pulang!"


" Jangan nakal Fin!"


" Nurut sama papa sama mama kamu, belajar dari kejadian ini!"


"Gun! Setalah ini mending sewa tenaga keamanan saja rutin. Biar kalian aman!"


Tuan Guntoro terlihat lebih sehat dan sudah bisa berjalan. Nyonya Lidia juga terlihat tekun merawat suaminya.


" Enggeh Buk, saya sudah koordinasi dengan Bayu!" Sahut Tuan Guntoro.


" Bagus kalau begitu!"


TING TONG!


TING TONG!


Bunyi bel terdengar menginterupsi obrolan hangat satu keluarga itu. Mbak Waroh terlihat berjalan setengah berlari untuk membukakan pintu.


Mbah Waroh terperanjat saat melihat pria yang tak asing itu.


" Mas Pandu!"


Membuat kesemua yang ada disana langsung mengarahkan pandangannya ke arah pintu.


" Pandu! "


" Bu Ambar!"


"Kok enggak bilang-bilang?" Fina seketika melesat dan langsung menabrak tubuh Pandu dengan manja. Membuat para orang tua itu geleng-geleng kepala melihat tingkah Fina yang bar-bar.


" Ya ampun Ambar, gk nyangka kita ketemu disini ya. Kamu apa kabar!" Bu Asmah langsung memeluk Ambarwati yang terlihat segan kepada orang tua itu.


" Ayo silahkan- silahkan, waduh kok Pandu enggak bilang kalau mau kesini!" Nyonya Lidia menjadi yang paling senang dengan kehadiran Pandu.


" Apa kabar Pak?" Sapa Ambarwati kepada Tuan Guntoro.


" Saya baik, terimakasih sudah datang!" Tuan Guntoro tersenyum senang.


" Waroh! Bawakan minum kedepan!" Titah Nyonya Lidia dengan senyum yang tak luntur.


Pandu dan Fina saling senyam-senyum saat para orang tua tengah heboh. Entahlah, dua sejoli itu benar-benar merasa bahagia kala bertemu.


.


.


" Apa?" Kok mendadak banget sih?" Fina berengut kala mendengar Pandu yang akan bertolak ke Kalianyar sore nanti menggunakan kereta.


" Tega banget sih kamu Ndu!" Mata dan hidung Fina sudah memanas. Ia benar-benar tak mau di tinggal Pandu.


Pandu meraih tangan Fina yang terlihat merajuk " Fin! Rumah aku memang disana. Kamu yang sabar kalau kita jauh-jauhan ya. Aku mau buka bengkel besar sama mau coba bisnis lain, Tuhan kasih aku rejeki lumayan dari KJ!"


Fina masih terlihat berengut. Ia kesal kenapa Pandu mendadak begini saat berpamitan. Padahal ia selalu merasa kurang saat bertemu dengan pria itu. Belaiannya, kasihnya, sikapnya, tubuhnya, semuanya membuat Fina menjadi kecanduan.


" Aku harap kamu mau ngerti kondisiku!"


"Aku juga berharap kamu mau sabar. Aku bakal berjuang buat ngumpulin duit, biar bisa ngelamar kamu!"


Pandu mencium tangan Fina yang ia genggam. Membuat Fina menitikan air mata. Sungguh, ia merasa beruntung memiliki Pandu yang begitu baik.


Mata Fina yang berkaca-kaca kini menatap Pandu dengan wajah muram. Benar-benar tak rela walau secuil pun.


" Janji kamu bakal jaga hati kamu buat aku?"


Entah mengapa, Pandu ingin sekali tertawa kala melihat Fina yang mewek dan terlihat lebay itu.


Pandu mengangguk seraya tersenyum. " Janji!"


" Janji bakal jaga ini buat aku?"


Fina mengarahkan tangannya kebagian kelelakian Pandu dan langsung meremas aset berharga pria itu dengan sekali rematan.


Membuat Pandu mendelik seketika kala Fina dengan entengnya malah meremas pusaka mandraguna-nya.


Oh sial!


Fina!


Kau benar-benar nakal!


.


.


.


.


.


.


Like nya jangan lupa yaπŸ€—πŸ€—