
Bab 163. Asmara insan dewasa
.
.
.
...πππ...
...Akhirnya ku menemukanmu...
...Saat hati ini mulai merapuh...
...Akhirnya ku menemukanmu...
...Saat raga ini ingin berlabuh...
...Ku berharap engkau lah...
...Jawaban sgala risau hatiku...
...Dan biarkan diriku...
...Mencintaimu hingga ujung usiaku...
...Jika nanti ku sanding dirimu...
...Miliki aku dengan segala kelemahanku...
...Dan bila nanti engkau di sampingku...
...Jangan pernah letih tuk mencintaiku...
...( Naff~ Akhirnya ku menemukanmu)...
.
.
Pandu
Tiga pekan berlalu, semua perputaran lini kehidupan masih berjalan sesuai porosnya. Aji yang masih di satru ( didiamkan) oleh kang Darman namun semakin dekat dengan Damar juga calon mertuanya.
Buk Arninggara yang harus mendekam di hotel prodeo tanpa ada yang menjamin. Artinya, mau tidak mau wanita itu harus menjalani hukumannya untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatannya.
Juga Fina yang belakangan ini sibuk dengan pembukaan Pelangi Sari di sana, Yudha yang kerap bertengkar dengan Hesti perihal kesimpangsiuran keterlambatan haid wanita itu, hingga Sakti yang diujung dilemanya karena dipaksa untuk membuka usaha baru atas perintah keluarganya.
Semua berperang melawan ujiannya masing-masing.
Yang berbeda adalah geliat di kediaman Ambarwati. Pandu sibuk membenahi rumahnya belakangan ini. Pria itu mulai dari awal pembukaan bengkelnya yang baru, sudah berhasil menyerap enam karyawan di bengkel, dan enam orang di toko onderdil miliknya.
Tak menyangka jika Tuhan memberikan kelancaran Rizki, usai ia dirundung berbagai permasalahan hidup. Walau ia hanya bisa menggaji para pegawainya dengan standar upah yang di tentukan oleh pemerintah region disana.
Rencananya Minggu depan Bayu akan melangsungkan ijab kabul sederhana di kediaman Pandu. Semua menurut pada Ambarwati. Mereka maklum, ini merupakan kali ketiga Ibu Pandu akan menikah.
Bagi wanita berwajah teduh itu, selebrasi tidaklah penting. Lagipula, ia takut menjadi buah bibir. Padahal, semua yang di sana turut senang saat mendengar kabar Ambarwati yang akan menyudahi masa jandanya.
" Rezeki mu Mbar, kamu masih pantas buat nikah lagi!"
" Calon suamimu, ganteng banget. Cocok kalau jadi bapaknya Pandu. Wajahnya hampir mirip!"
" Calon mu yang kapan hari datang kemari itu kan? Aku lihat waktu dia dari rumah si Sarip!"
" Suamiku besok tak suruh cukur kayak calonmu lah Mbar. Biar kelihatan ngganteng!"
Tapi ia tetaplah seorang Ambarwati. Yang seringnya mudah merasa tak enak hati, kepada orang lain.
Definisi dari tipe pemikir.
" Pandu temenin ya Buk?" Tawar Pandu kepada Ibunya yang akan menuju ke pemakaman Ayudya. Mengingat ini sudah sore.
Ibu menggeleng " Kamu lanjut aja yang ini!"
" Biar cepet selesai. Kamu udah tiga hari enggak ke bengkel!" Ia menunjuk beberapa furniture baru yang belum selesai di tempatkan ke tempat yang semestinya.
Ya, selain sudah bisa merenovasi sebagian rumahnya dari hasil bekerja di KJ, kini Pandu bisa melengkapi furniture rumah ibunya sedikit demi sedikit.
" Ibu mau jalan kaki aja! Udah lama Ibuk enggak jalan-jalan sore!" Ibu tersenyum meyakinkan, membuat ia mengalah. Mungkin Ibu ingin sendiri saat ini.
Ia memandang nanar punggung ibunya yang berjalan semakin menjauh. Pandu menarik senyuman tulus.
" Berbahagialah Ibu!
.
.
Ambarwati
Ia sudah memantapkan hati untuk pergi seorang diri ke pemakaman. Perasaan seorang Ibu yang tak bisa dijelaskan itu menuntun langkahnya dengan pasti.
Ia rindu Ayu.
Gundukan tanah yang nyaris sama sejauh mata memandang itu membuat dadanya sesak. Masih belum lepas dari ingatannya, saat wajah pucat anaknya yang meninggalkan dirinya beberapa waktu silam.
Ia mengusap batu nisan yang terpahatkan nama almarhumah putrinya itu dengan lembut. Sejurus kemudian ia terlihat mencabut rumput liar yang tumbuh diatas pusara anaknya.
Ambar benar-benar merindukan putrinya.
" Ini Ibuk Nduk!" Ucapnya seolah mengobrol dengan seseorang sesaat setelah ia telah selesai mencabut beberapa rumput liar yang tumbuh disana.
Ia membuka bungkusan berisikan kembang setaman, daun puring dan irisan pandan yang sudah diberi wewangian. Menaburkannya diatas tanah makan Ayudya.
Sejurus kemudian ia terlihat membacakan doa-doa dengan teriring nama putrinya. Membuat Ambarwati menitikkan air matanya.
" Beri terang jalan anak hamba!".
Namun, semakin larut ia dalam doa, semakin terasa sesak dadanya. Ambar selalu menangis tiap datang ke pusara anaknya itu. Tak pernah mengira jika anaknya berangkat terlebih dahulu menemui sang khalik.
" Semoga diberikan tempat terbaik Nduk!" Ia masih bermonolog sambil sesekali menyusut air matanya menggunakan punggung tangannya. Doa yang sama yang selalu ia panjatkan kala mengunjungi makam anaknya.
" Ibuk mau ngasih kabar kamu!" Ia tersenyum sambil mengusap batu nisan yang mulai memudar itu.
" Ada seorang pria baik yang mau menolongnya Ibu!" Ucapnya tersenyum di sela tangisnya. Benar-benar ironi.
" Semoga kamu juga memberikan restu seperti Masmu pada Ibuk!" Ia semakin terisak demi meresapi kebaikan Tuhan yang kini memberikan pelangi setelah badai hidup yang menghantamnya.
" Namanya..."
" Ambar!"
Suara bass seorang pria seketika membuatnya terperanjat. Apakah yang ia lihat itu benar adanya?
.
.
Bayu
Seminggu jelang hari yang akan mengubah seluruh hidupnya itu , makin membuatnya tak sabar. Ia bersama Rendy bertolak ke Kalianyar dan ingin memastikan segala sesuatunya.
Bayu sengaja meminta Rendy untuk mengantarkannya ke Kalianyar. Dan meminta pemuda yang tengah terlibat amuk asmara dengan sesama bodyguard wanita di KJ itu, untuk kembali ke kota menggunakan kereta.
Benar-benar pria diktator.
Kini ia tahu rasanya LDR. Dan rasanya amat berat dan cukup menyiksa. Haishh, hasratnya bahkan melebihi kobaran asmara kawula muda.
" Parkir dimana Pak?" Tanya Rendy yang belum familiar dengan jalan menuju rumah Pandu. Terlihat mencari lokasi.
" Pekarangan rumah Pandu luas, kamu bisa parkir disana nanti!" Tutur Bayu menjawab dengan santai.
" Nah rumah yang ada pohon mangganya itu!" Tutur Bayu menunjuk ke salah satu rumah bergaya klasik namun terlihat bersih.
Dan benar saja, Rendy terpukau dengan model rumah pedesaan yang menyejukkan mata itu. Rumahnya lega dan kesemuanya memiliki pekarangan seraya beberapa tanaman.
" Adem banget Pak disini!" Rendy tersenyum seraya menarik napas lega. Pasalnya udara di desa benar-benar segar.
" Udara yang cocok buat pengantin baru yang begini ini Ren. Kamu kalau jadi nikah sama Dyah ayu nanti honeymoonnya ke pegunungan aja Ren!" Bayu tergelak kencang sekali. Menegaskan jika suasananya pemilik KJ itu tengah diliputi kegembiraan.
Mendengar suara mobil yang berhenti di depan rumahnya, Pandu turut keluar dan hendak mencari tahu siapakah tamu yang datang sore itu.
Pandu terkejut cenderung tak percaya demi melihat mantan rekannya dulu, kini berada di depan rumahnya.
" Rendy?" Sapa Pandu yang kini menyongsong kedatangan Rendy dan Bayu.
" Pak Bayu? Kenapa tidak info kalau..."
Bayu tersenyum demi melihat Pandu yang speechless.Terlihat benar-benar kebingungan.
" Mau kasih kejutan, dan sepertinya aku berhasil. Itu kamu terkejut beneran!" Ucap Bayu menepuk pundak kokoh Pandu yang masih tak percaya.
Sebab Bayu sendiri yang bilang jika ia memasrahkan urusannya pada Pandu dan Fina. Tapi rupanya, pria itu sengaja mengerjainya. Dasar ABG tua!
" Ya bener, entar pas hari H baru all team aku ajak kemari!" Rendy terkekeh, ia sangat bahagia karena bos-nya akan mendapatkan istri baru.
Pandu mengangguk dengan senyum yang merekah. Tak mengira jika kebahagiaan yang berlapis- lapis datang menerpa hidupnya.
" Ibumu mana?" Tanpa berbasa-basi, pria tegap itu langsung menanyakan keberadaan targetnya. Membuat Pandu menyebik. Baiklah, i know!
" Ibu ke makam!" Sahut Pandu dengan wajah menye.
" Hah? Sama siapa?" Ucap Bayu terkejut, ke makam siapa? Di jam se sore ini?
" Sendiri, Ibu jalan kaki. Enggak jauh kok dari sini, nanti lurus terus be..."
" Motormu mana? Biar aku susul!" Sahut Bayu yang membuat ucapan Pandu menguap.
Membuat Rendy menggelengkan kepalanya demi melihat sikap Bayu yang tak sabar.
Dasar pria tua!
Usai mengingat segala petunjuk dari Pandu yang menjadi bekalnya menuju pemakaman, ia kini memarkirkan KLX milik Pandu di sebuah tempat yang dekat dengan peletakan keranda mayat.
Pria itu membuka kacamata hitamnya, melipatnya lalu menggantungkan di kerah kemejanya. Terlihat maskulin sekali.
Dan benar saja, pria itu dengan mudah menemukan pujaan hatinya yang terlihat berjongkok di depan sebuah makam. Ia berjalan mendekati ke arah Ambarwati yang terlihat menaburkan bunga.
...Ayudya...
...Binti Sulaksono...
Ia tertegun saat melihat nama yang ada di batu nisan itu. Rupanya Ambar mengunjungi anak bungsunya yang telah meninggal.
Ia menarik bibirnya tersenyum haru. Ambar ruoano tak menyadari kedatangannya. Terbukti dari sikap wanita itu yang tak terganggu sama sekali.
Bayu berdiri seraya melipat kedua tangannya di belakang Ambarwati. Menatap punggung wanita yang kini terlihat bergetar. Jelas Ambarwati menangis.
" Semoga diberikan tempat terbaik Nduk!"
Ia menelan ludah saat Ambarwati mengatakan hal itu. Dadanya sesak. Teringat akan mendiang anak-nya yang juga sudah melesat ke nirwana.
" Ibuk mau ngasih kabar kamu!"
"Ada seorang pria baik yang mau menolongnya Ibu!"
Dadanya berdebar saat Ambar mengatakan hal itu. Entah mengapa, ia merasa seperti tengah di perkenalkan dengan jasad yang terkubur di dalam gundukan tanah itu.
Bayu merasa terharu.
" Semoga kamu juga memberikan restu seperti Masmu pada Ibuk!"
Jakun Bayu sudah berulang kali naik turun. Pria itu benar-benar hanyut dalam suasana yang mengharu biru. Begitu menyesakkan dadanya.
" Namanya..."
" Ambar!" Ia tak tahan lagi. Ia memanggil Ambarwati saat itu juga.
" Mas Bayu?" Ia bisa menangkap kilatan keterkejutan dari netra wanita ayu yang merebut hatinya itu.
.
.
Dua manusia dewasa itu kini sama-sama tertunduk di depan liang lahat Ayudya. Mata sembab Ambar menatap nanar nama di batu nisan putrinya.
" Ini makam anakku mas. Adiknya Pandu yang..."
Bayu lekat menatap wajah sendu Ambarwati yang sesekali membetulkan letak pasminanya yang tersapu angin.
" Hey, jangan bersedih terus. Ayu disana pasti ikut bahagia kalau hati ibunya bahagia, hm?
Semburat jingga di ufuk barat menjadi saksi kegiatan mereka. Bayu merasa sangat beruntung karena hidupnya sebentar lagi akan dilengkapi oleh wanita yang sangat luar biasa.
" Ayu.. kenalkan saya Bayu!" Ia berucap dengan nada penuh keseriusan sembari menatap pusara yang telah mengering itu. Membuat hati Ambar menahan sedu sedan.
" Saya mencintai ibumu. Lahir dan batin!"
" Tolong restui dan iringi doa untuk kami dari sana nak!"
Suara lirih Bayu membuat Ambarwati kembali meluncurkan cairan bening dari keduanya matanya.
" Saya berjanji untuk terus mencintai ibumu, dan memperlakukannya dengan baik hingga akhir nyawa saya!"
" Ini janji saya sama kamu!"
Ucapan Bayu di kalimatnya yang terkahir membuat Ambarwati kembali menitikkan air matanya. Wanita itu benar-benar tersentuh akan bukti nyata kesungguhan Bayu.
Oh astaga.
" Semoga yang kuasa memberimu ketenangan dan tempat terbaik di sisinya nak. Doa kami selalu teriring untukmu!"
Bayu mengusap punggung Ambarwati yang bergetar karena tangisan. Sungguh, mulai saat ini ia akan mengambil penuh tanggungjawab untuk melindungi Ambar dan Pandu.
Selamanya.
.
.
" Mas Bisa?" Tanya Ambarwati yang melihat Bayu sudah naik diatas motor hitam putranya. Terlihat meragukan.
" Ya ampun Mbar, kamu ngeraguin aku?" Bayu tak terima akan sikap ketidakpercayaan Ambar terhadap dirinya.
Pria itu memajukan tubuhnya. Pria tinggi tegap itu harus memberikan sadel yang lebih lega kepada calon istrinya itu bukan.
" Naiklah, pasti muat!" Ucap Bayu yang masih melihat keraguan di mata Ambar. Berniat akan membelikan sebuah motor lain yang lebih relevan untuk digunakan oleh pasangan matang seperti mereka.
Dan perlahan namun pasti, Ambar mulai menaikkan kakinya dan kini duduk di belakang Bayu. Wanita itu seketika merinding demi mencium aroma maskulin dari tubuh Bayu.
Bayu wangi.
" Pegangan!" Bayu menarik tangan Ambar degan cepat dan melingkarkannya ke perutnya yang rata. Tanpa sengaja, punggung liat pria itu berbenturan dengan dia benda kenyal milik Ambari. Membuat Bayu turut merinding.
Kini mereka berdua sama-sama merinding.
Wajah Ambar memerah. Ini merupakan kali pertama bagi mereka berada dalam posisi sedekat ini. Untung saja hari hampir malam. Membuat mereka tak takut akan menjadi suguhan bagi beberapa orang.
Bayu tersenyum senang. Ia melajukan motornya itu perlahan. Sengaja mengulur waktu agar menjadi lebih lama. Ia bahkan berharap, jalan menuju rumah Pandu bisa di lewati melalui jalan lain saja. Bayu ingin berlama-lama dengan Ambar.
" Mas buruan, udah mau surup nih!" Ucap Ambar yang merasa Bayu sangat lelet.
Pria itu tersenyum licik. Tiba-tiba motornya berhenti. Lebih tepatnya sengaja ia berhentikan. Benar-benar licik. Ihaaaa!
" Aduh Mbar, kok macet ya motornya!" Dalih Bayu yang tersenyum licik dan terkekeh dalam hati.
" Hah? La gimana to mas? Mas Bayu gak biasa naik motor soalnya ya?" Wajah panik Ambarwati tak bisa disembunyikan lagi. Wanita itu jelas mengira jika pria sekelas Bayu pasti lebih paham mobil ketimbang motor.
Mana hari sudah mau gelap.
" Mas gak bawa ponsel lagi Mbar. Gimana ini?"
Sial betul. Ambar benar-benar kebingungan. Hati bahkan sudah mau gelap, pasti tidak akan ada orang lewat yang bisa ia mintai pertolongan.
Oh ya ampun.
Namun, sejurus kemudian tangan berotot dengan urat kentara itu merengkuh pinggang Ambarwati dengan sekali tarikan. Menekan tengkuk wanita bersuara lembut itu lalu mencium bibir Ambarwati dengan perlahan.
CUP
Mata Ambar membulat seketika, jantungnya terasa berdegup lebih cepat dari biasanya, keringat dingin tiba-tiba keluar melalui pori-pori keningnya yang terasa anyep. Ambarwati merasa gelenyar aneh seketika melingkupi tubuhnya.
Oh sial, pria licik itu kini tengah menikmati hasil dari menipunya.
Bayu makin gencar melu*mat dan sesekali menyapukan lidah pada bibir pasif itu. Bayu menyeringai demi melihat kekakuan Ambarwati dalam berciuman.
" Makasih ya?" Ucap Bayu mengusap pipi Ambarwati dengan tersenyum. Cenderung terkekeh.
Ambarwati mendongak, wajah wanita itu bahkan kini sudah memerah. Ia sudah sangat lama sekali tak mendapatkan sentuhan manis dan lembut seperti itu. Bahkan ia nyaris melupakan bagaimana rasanya dicintai oleh pria.
" Ayo kita pulang, aku lapar. Kamu masak apa tadi?" Ucap Bayu yang kini menstarter motornya tanpa merasa bersalah.
Ambar mendelik demi melihat motor yang tadi tersendat bahkan mendadak macet, namun kini seketika menjadi waras- wiris seperti tidak terdapat masalah apapun.
Apa dia hanya di kerjai? Kurang ajar!
.
.
.
.
.