Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 239. Memecah kerinduan



Bab 239. Memecah kerinduan


Menikmati pedihnya cinta, pria kesepian....


Menikmati dinginnya hati, pria kesepian....


( Diambil dari lirik lagu Pria kesepian)


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Terik embun sejuta sentuhan kesunyian, rasa hati nan gersang, tandus dan gelap, kini sirna oleh cahaya kasih dari wanita kaku yang merebut hatinya. Terlepas dari siapa dia saat ini, Sakti masihlah menjadi pria sederhana yang bahagia , karena menemukan wanita luar biasa yang mau menerima dirinya, meski dengan caranya sendiri.


Pria sableng itu menyelinap masuk, lalu membelah kerumunan para tamu yang sudah campur aduk mengeluarkan suara riuh rendah dalam ballroom itu. Ia sudah meminta Anjana untuk bersikap biasa, meski ia tahu banyak pengawal diluar yang berjaga, atas perintah tuan Liem.


Tak lupa, malam itu ia meminta Anjana untuk menemui sekutunya. Walau dari hal itu, justru membuat Anjana mendelik demi mengetahui bila orang yang dikatakan 'sekutu' oleh Sakti, tak lain adalah bocah cimpil bertuxedo dan dengan percaya dirinya menggunakan dasi kupu-kupu.


" Perkenalkan, Aku Arjuna Bimasakti!" Ucap bocah itu mengulurkan tangannya kepada Anjana yang masih terbengong-bengong. Jika di tilik, wajah bocah itu dua kali lipat lebih kaku darinya.


What? Jadi masih bocah?


" Kau dan kakakmu sama-sama memiliki nama belakang sebuah galaxy ya?" Tanya Anjana serius demi mengingat nama yang terpajang di depan hall tadi.


" Ternyata kau perempuan cerdas. Apa kau tidak keliru menjadi pacarnya bang Sakti?" Ucap Arju melipat kedua tangannya ke dada. Membuat Anjana membulatkan matanya" Dia sangat bodoh, dan kau...!" Memindai tampilan Anjana dari atas hingga ke bawah. " Kau begitu cantik dan pintar. Benar-benar apes!"


Anjana menggaruk kepala dengan wajah kikuk. Anak ini bermulut tajam sekali. Membuatnya terkikik dalam hati.


" Kau tunggu disini, itu bang Yudha sedang ke tempat bang Aji. Nanti aku biar ke tempat operator!"


Anjana mengangguk, rupanya bocah yang matanya mirip dengan Yudha itu sangat taktis. Bocah itu kini berjalan menjauh darinya, lalu terlihat berbincang dengan seorang operator yang duduk di depan laptop dan sebuah ampli dengan tumpukan tombol-tombol rumit yang tak ia ketahui.


Arju terlihat membisikan seseorang kepada pria dengan kalung name tag, dan membuat pria muda berambut ikal itu mengangguk-angguk, dan sesekali menatap ke arah Anjana.


Sejurus kemudian, Arju mengangkat jempolnya sebagai isyarat jika sebentar lagi Sakti bisa maju ke stage, karena operator itu telah berbincang dengan WO yang standby di depan. Berkolaborasi dengan MC, dan meminta mereka untuk tak mengumumkan siapa yang menyanyi.


Ya, Arju telah menunaikan tugasnya dengan sangat baik.


Anjana langsung berjalan menuju salah satu anggota dari wedding organizer yang ada disana, menunjukkan sebuah kartu nama dan maksud mengapa ia dan Sakti berada di sana, serta menunjukkan siapa Sakti yang kini telah berdiri serius beberapa meter dari tempat mereka berdiri.


Membuat mereka semua terkejut, manakala Anjana membuka ID card yang menerangkan jika mereka merupakan seseorang dari jauh,yang memiliki nama besar di jajaran perusahaan besar.


" Astaga, jadi anda dan pria itu...."


Anjana mengangguk dengan tatapan datar seperti biasanya.


" Oke baik, Sandi tolong bilang yang lain jika...!" Pria dengan pakaian rapih itu kini terlihat gupuh, sebab Anjana turut menyeretnya untuk memuluskan niat Sakti dalam memberikan kejutan perihal kemunculannya.


Pria kocak itu terlihat menunduk manakala telah memegang MIC, yang baru saja diberikan oleh pria bencong yang sedari tadi menatapnya penuh minta. Membuatnya merinding.


Sedot bang! Auwww!


Dari kejauhan ia bisa melihat jika para sahabatnya beserta istri mereka tengah sibuk berbincang, dan terlihat asyik sekali. Membuat hati Sakti menghangat.


Ia sebenarnya sangat rindu dan ingin rasanya memeluk tubuh para pria yang kini sudah memiliki bini itu. " Tenang Sakti, kamu harus membuat mereka terkejut!"


Mensugesti diri sendiri agar stay calm.


Dan saat semua orang tengah sibuk, ia kini terlihat membuka mulutnya untuk mengeluarkan sebuah lagu yang dulu sering mereka nyanyikan, selepas latihan voli bersama.


Lagu yang jelas pasti akan menjadi kenangan empat sekawan itu.


🎢🎢


Di saat kita bersama


Di waktu kita tertawa, menangis, merenung


Oleh cinta


Saat ia menghaturkan lirik di bait pertama itu, ia bisa melihat dengan jelas wajah- wajah terkejut dari para sahabatnya, yang justru membuatnya terharu bukan main.


Kau coba hapuskan rasa


Rasa di mana kau melayang jauh dari jiwaku


Juga mimpiku


Suaranya tidak bagus namun tidak juga buruk-buruk amat untuk di dengar. Ia terus dan terus menyanyikan lagu, yang kini nampak mulai menarik atensi semua khalayak.


Hariku dan harimu


Terbelenggu satu


Oleh ucapan manismu


Dan kau bisikkan kata cinta


Kau t'lah percikkan rasa sayang


Pastikan kita seirama


Walau terikat rasa hina


Ia kini melihat Aji, Yudha dan Pandu yang berjalan ke arahnya. Membuat dirinya semakin bergetar demi menahan air mata yg sudah berjejal di pelupuk matanya. Jm


Sekilas kau tampak layu


Jika kau rindukan gelak tawa yang warnai


Lembar jalan kita


Reguk dan teguklah


Mimpiku dan mimpimu


Terbelenggu satu


Oleh ucapan janjimu


Suaranya kini bergetar campur tangis manakala Yudha lebih dulu menubruknya yang terlihat mengeluarkan air matanya, sambil terus berusaha menyelesaikan tiap bait lagu yang ia bawakan, ia kini merasakan eratnya pelukan hangat dari pria-pria yang selama ini ia rindukan.


Sejurus kemudian ia juga melihat Pandu dan Aji turut melingkupinya, membuatnya makin terisak dan nada suaranya mulai berubah tidak jelas. Membuat semua yang ada di sana, turut merasakan haru.


Sejurus kemudian mereka berempat membantu Sakti melanjutkan lagu itu dengan wajah yang basah karena air mata. Persahabatan mereka ini murni, walau mereka menyadari ujian yang datang yang selalu membuat keteguhan hati mereka lurus akan hal itu.


Dan kau bisikkan kata cinta


Kau t'lah percikkan rasa sayang


Pastikan kita seirama


Walau terikat rasa hina


Dan kau bisikkan kata cinta


Kau t'lah percikkan rasa sayang


Pastikan kita seirama


Walau terikat rasa hina


Sheila on 7 - Kita


" Whuuu!" Riuh tepuk tangan semua yang hadir kini menjadi semangat untuknya. Sakti lega karena bisa berada di tengah-tengah mereka, meski lewat jalan seperti ini.


Setelah musik berhenti, kini menyisakan empat pria yang saling memeluk dan larut dalam tangis bahagia, sama sekali tak mengira jika Sakti mau kembali.


Mereka bahkan tak peduli jika semua mata tertuju kepada mereka yang menangis. Terkait sesak untuk di tahan, empat sekawan itu, bagai terlahir kembali.


Membuat Anjana yang berada di belakang stage , kini menyusut air matanya seraya menarik napas panjang. Pun dengan Fina yang kini duduk seraya di usap punggungnya oleh Wida dan juga Rara yang sama terharunya melihat pria-pria itu.


Bahkan Sukron sudah menghabiskan tissue yang di sodorkan oleh Damar sedari tadi.


" Brengsek Lo Sak!" Maki Yudha dengan perasaan campur aduk ; Marah, senang, sedih, semua bergabung setangkup senada, dengan posisi masih memeluk Sakti seraya menangis memecah kerinduan. Membuat tangis Sakti makin pecah.


" Stop dong jangan nangis terus, ini ingus gue gimana?" Ucap Sakti mendongak dan langsung membuat tiga pria itu mendorong tubuh Sakti dengan jijik.


" Sialan, umbelmu Sak!"


.


.


.


.


.