Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 96. Menyelesaikan Misi ( 4)



Bab 96. Menyelesaikan Misi ( 4)


^^^" Taburlah benih kejahatan, maka kau akan menuai badai kehancuran!"^^^


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Pandu


Aplikasi penunjuk jalan tersebut membawa langkah Pandu ke sebuah rumah besar, dengan penjagaan ekstra ketat di luar. Rumah yang terletak di kawasan Selopati. Berkisar lima kilometer dari kawasan Cendrawasih.


Bangunan seluas tanah lapangan sepak bola itu, membuatnya berdecak kagum sekaligus tersenyum sumbang. Mengapa nasib orang jahat seperti keluarga Riko justru di beri keberuntungan macam ini. Cih!


Pandu menoleh ke kursi penumpang bagian belakang. Ia melihat ada beberapa atribut ekspedisi yang teronggok disana.


Kebetulan sekali.


Membuatnya bak mendapat Ilham dari lampu Albert Einstein. Sebuah ide.


Mobil milik ekspedisi itu kini ia parkirkan di bahu jalan, ia juga telah mengganti pakaiannya dengan atribut ekspedisi bertuliskan The Archipelago express .


Ya, atribut itu, kini ia jadikan sebagai tameng.


Pakaian berwarna merah lengkap dengan topi yang bertuliskan logo yang sama itu, kini membungkus tubuh tegap Pandu. Sepertinya Tuhan memang sedang menolongnya. Meski dengan cara berkamuflase.


" Ada apa?" Tanya satu orang penjaga di depan gerbang itu saat melihat Pandu berjalan dari arah timur.


" Aku diminta Tuan Riko untuk mengantarkan ini!" Pandu menunjukkan sebuah paket yang sebenarnya ia sendiri tidak tahu apa isinya itu.


Pria dengan pakaian rapih itu memindai tampilan Pandu dengan tatapan menguliti.


Dari jarak yang agak jauh, ia bisa melihat sebuah mobil yang kemarin di kendarai oleh Radit.


" Dia pasti ada disini!" Pandu bernapas lega meski ia sendiri belum yakin, apakah Radit ada di dalam atau mungkin mobil itu merupakan mobil lain yang sama.


Ia berharap, sikap pembangkangannya kepada Bayu tak sia-sia begitu saja. Yang jelas, ia ingin masuk ke kandang musuh.


" Tidak bisa!"


" Tinggalkan saja disini!"


Rasanya Pandu sudah tidak ingin ber basa-basi lagi. Ingin sekali dia meninju wajah pria itu. Tapi ia harus bisa berpikir cepat dan taktis saat itu, berusaha bermain cantik.


" Aku diminta untuk mengantarkan ini kedalam. Kau akan dapat masalah nanti jika tak mengijinkanku masuk!" Ucap Pandu masih sedikit menunduk.


" Kurang aj....!"


" Woy Bas, kalau ada paket suruh langsung masuk!" Ucap salah seorang pria dari dalam. Membuat Pandu menarik senyuman licik. Benar-benar kebetulan yang menguntungkan.


" Masuk!" Basuni mempersilahkan Pandu masuk walau dengan tatapan dingin dan menusuk.


Pandu tak ambil pusing soal itu. Yang jelas dia ingin masuk dan memastikan sendiri tentang keberadaan Radit saat itu juga.


Sembari berjalan, Pandu terlihat mengamati area rumah luas itu dengan saksama. Rumah yang dijaga ketat oleh banyak sekali keamanan. Sejenak ia merutuki dirinya yang tak mau mendengar saran dari Bayu. CK!


Apakah dia akan mati di kandang lawan?


Ia memasuki pintu yang sangat tinggi yang sudah terbuka sedari tadi. Saat Pandu masuk, ia di sambut oleh udara AC yang dingin dan ruangan yang harum.


Ia juga sempat melihat pajangan foto keluarga yang terdiri dari Riko, seorang wanita cantik dengan make up tebal namun terkesan mahal, juga pria yang mengenakan jas yang terlihat berwibawa. Jelas itu adalah Tuan Hartadi Wijaya.


Sejenak Pandu tertegun melihat foto itu. Hidup Riko benar-benar sempurna. Tak seperti dirinya yang yatim sejak kecil. Lagi-lagi Pandu tersenyum kecut demi mengingat warna kelam sisi hidupnya.


" Siapa itu?" Ucap salah seorang dari dalam. Membuat Pandu terkesiap dari lamunannya.


" Maaf Tuan, ini untuk Tuan Ri..." Mata Pandu membulat kala melihat Radit yang duduk menyilangkan kakinya seraya menghisap batang sigaret dengan santai.


" Ketemu kau!" Batin Pandu seraya menggertakkan giginya.


Hampir saja Pandu kehilangan kewarasannya dan ingin segera menyerang Radit yang tanpa berdosa tengah duduk rileks menikmati Bakaran tembakau itu. Biadab!


" Paket? Paket apa?" Radit kini mendatangi Pandu dengan tak menaruh curiga. Ekspedisi korporasi keluarga Hartadi itu memang sering berkirim sesuatu yang isinya entah apa. Pandu juga tak tahu akan hal itu.


" Kalau dia disini, lalu dimana Kadek dengan Willy?"


" Brengsek!" Umpatnya dalam hati yang jelas mengira jika rekannya itu tengah dalam bahaya. Setahu Pandu, Batu sedari tadi menunggu info dari mereka berdua. Oh sial!


Kini batinnya kian bergejolak. Ekor mata Pandu melirik ke arah samping, dimana Radit telah berjalan mendekat ke arahnya.


"Den, sama Tuan Riko diminta ke dalam!" Seorang wanita paruh baya yang Pandu tebak pasti merupakan salah satu ART disana. Membuatnya lagi-lagi seolah mendapatkan pertolongan. Thanks God!


Radit menatap Pandu yang masih sedikit menunduk " Tunggu disini sebentar !" Ucap pria itu lalu meninggalkan Pandu.


Melihat situasi yang sepi, Pandu berjalan ke arah lain. Benar-benar tak mengira jika Riko merupakan anak orang kaya seperti ini. Pandu tersenyum kecut. Sayang sekali mereka tak membarengi keindahan dan kemewahan ini dengan sikap yang baik pula.


Pandu mendengar gerbrakan pintu dari salah satu kamar. Ia melihat anak kunci yang masih menggantung disana. Dan entah mengapa, Pandu seperti terdorong untuk membukanya.


CEKLEK


Betapa terkejutnya Pandu tatkala melihat sosok yang ia kenal tengah di ikat bak sandera. Oh tidak!


.


.


Riko


Usai beradu mulut dengan mamanya, ia memesan sesuatu untuk dirinya. Sebuah paket rahasia yang beberapa bulan ini tengah ia nikmati agar bisa lebih kuat menghadapi kenyataan.


Riko terlihat makin berapi-api dan tak terkendali. Pria itu terlihat menghisap sesuatu yang membuat Fina terkejut. Tak menyangka jika pria yang dulu ia gilai itu merupakan budak barang terlarang.


" Riko!" Fina seketika menjadi takut kala melihat Riko yang menikmati sisa barang terlarang itu. Pantas saja sikap Riko kerap diluar kendali. Jelas pengaruh barang haram itulah sebab musababnya.


" Kenapa? Kaget?" Riko kini melepaskan kemejanya usai mencampakkan sebuah botol itu. Mencampakkan pakaiannya itu lalu membuangnya ke sembarang arah. Ia berjalan mendekati Fina yang kian ketakutan.


" Gue gak nyangka kalau elo bener-bener seburuk ini Ko!" Fina benar-benar menyesal telah salah dalam mengangumi orang.


" Nyesel?"


" Apa yang bikin kamu nyesel?"


" Gue kaya Fin, Gue satu-satunya anak pewaris keluarga Wijaya. Mengapa kamu menyesal, hah?" Lihatlah, bahkan pria itu sudah tak konsisten dalam berucap. Gue, kamu. Otaknya sudah bergeser.


Riko terlihat tidak baik-baik saja. Seperti menyimpan beban di dalam dirinya. Fina menjadi ketakutan sembari terus memundurkan langkahnya. Ya Tuhan!


" Gue butuh elo Fin. Menikahlah denganku!" Riko mencoba mengunci Fina saat wanita telah mentok ke dinding kamar Riko. Suaranya terdengar parau.


" Riko! Elu jangan gila!!!" Fina mendorong tubuh Riko sekuat tenaganya. Jelas Pria itu tengah tak waras.


TOK TOK TOK


" Brengsek!" Riko lagi-lagi mengumpat.


" Siapa?" Tanya Riko kesal.


" Saya...Radit. Anda memanggil saya?" Sahut Radit dari luar.


.


.


Pandu


Ia membuka tali serta penutup mulut yang tengah membelenggu Kadek dan Willy. Tak mengira jika Radit malah menyekap mereka di rumah Riko. Ia tidak tahu, bagiamana jadinya jika ia saat itu tidak nekat untuk datang dan mencari Radit dengan sikap impulsifnya.


" Apa yang terjadi?" Pandu benar-benar tak habis pikir. Bagaimana bisa mereka bisa tertangkap.


" Kami sudah mengerjarnya, tapi kamu lupa untuk membawa personel lain!"


Kedua anak buah Andhika itu menceritakan flashback beberapa jam yang lalu kala mereka yang kejar-kejaran dengan Radit dan juga Kalifi.


Naasnya, usai mereka melihat mobil Radit yang nyaris menabrak mobil pengendara lain, mereka yang kondisinya juga sama lelahnya tak senagaja nyaris menabrak tukang sampah di jalan raya itu.


Singkatnya, mereka terlibat laka tunggal sesaat setelah ia melewati mobil yang nyaris di tabrak oleh Radit. Kecelakaan itu terjadi saat jalanan masih sangat lengang.


Membuat mereka membanting setir lalu terpaksa menabrak pembatas jalan itu guna menghindari si tukang sampah itu.


" Saat kami keluar dari mobil, kami sudah di todong oleh beberapa rekan Radit. Mereka banyak dan ada di mana-mana!" Tukas Kadek sembari melepaskan ikatan di kakinya. Benar-benar pekerjaan yang beresiko tinggi.


Mereka salah telah meremehkan Radit dan persekutuannya.


" Tapi... kenapa kamu bisa ada disini? Dan...." Willy memindai tampilan Pandu yang menggelitik. Ya walau masih saja tampan sih.


Membuat Kadek terkekeh.


" Jagan menertawakan ku!"


" Aku akan menembak kepala Radit saat ini juga!" Dengan geram Pandu kini bangkit. Sudah cukup bagi pria itu untuk menghabiskan hidupnya dengan cara membuat orang lain menderita. Membuat Willy dan Kadek seketika terdiam seraya meneguk ludah mereka dengan ngeri.


Mereka bahkan masih ingat betul malam pertama saat para leader mereka di hajar habis-habisan oleh Pandu.


Dari arah lain, mereka bertiga mendengar derap langkah kaki yang kian mendekat. Sial!


.


.


.


.