Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 76. Have no choice



Bab 76. Have no choice


^^^" Tangan merentang, bahu memikul. Berani berbuat, berani bertanggungjawab!"^^^


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


...Flashback...


Serafina


Saat Fina mengetahui jika papa tengah di rawat di rumah sakit, tanpa menunda lagi ia langsung melesatkan kendaraannya menuju RS. Bhakti Sehat. Papa memang memiliki riwayat hipertensi. Namun biasanya tidak sampai parah.


Pola makan yang tak terkontrol kerap menjadi pemicu. Belum lagi papa yang kerap begadang. Lebih tepatnya lembur. Semua itu karena dirinya yang ogah mau belajar soal bisnis.


Sempat merasa bersalah demi mengingat ia yang bangun kesiangan , lantaran tubuhnya yang begitu lelah usai percintaan panasnya bersama Pandu.


But i like it!


Ia langsung menuju ke ruang perawatan papanya yang ia ketahui dari pesan sang mama.


" Ruang VIP lantai lima!"


Mendadak dirinya diliputi segala macam kecemasan. Semua perasaan negatif bercampur. Bergabung setangkup. Menyudutkan dirinya.


" Papa!" Ucapnya dengan wajah muram saat berhasil mendorong pintu berat dari kaca itu.


.


.


Fina tercenung menatap nanar sebuah foto polaroid. Foto memalukan. Foto yang menjadi sumber malapetaka Papanya terserang hipertensi.


Tubuh Nyonya Lidia terlihat terus bergetar lantaran tangis. Menyesalkan anak perempuannya yang bertindak impulsif. Sehingga sesuatu yang teramat berharga itu, telah terenggut dengan konyolnya oleh pria bernama Riko.


Sebulir cairan bening itu nampak meluncur. Melintasi pipi mulusnya tanpa permisi. Lidia sedari tadi hanya bisa menangis. Meratapi semua kerumitan yang kini terjadi.


Ini salahnya. Jelas salahnya!


" Papa kecewa sama kamu Fin!" Dengan rahang mengeras, Tuan Guntoro menahan kemarahannya. Memejamkan matanya seraya menarik napas dalam-dalam.


" Kamu ini benar-benar gak punya aturan. Liar!"


" Kamu ini benar-benar sudah....!" Kepala Tuan Guntoro mendadak sakit sekali.


" Pah! Sudah Pah!" Nyonya Lidia dengan menangis mencoba memperingati suaminya agar tak terlalu banyak bicara apalagi meluapkan kekesalannya terlebih dahulu.


Takut jika akan semakin memperburuk keadaan.


Ia tertegun mendengar ucapan Papanya yang terlihat marah. Ya, jelas dialah biang kerok dari semua persolan ini. Tapi, bukankah semua manusia pernah muda?


Ia sangat merasa bersalah. Malu, merasa tak memiliki harga diri. Dan itu benar adanya.


Oh sh it!!


Apa yang harus dia lakukan jika sudah begini? Papa sudah mengetahui bila dirinya telah berbuat jauh bersama Riko. Dan kini, mereka tengah memanen hasil kecerobohannya itu.


Belum sempat ia menelaah yang terjadi, papanya kembali melontarkan kata-kata yang membuatnya syok.


" Riko berkata jika kamu baru bersama seorang pria semalam! Siapa dia!"


" Kamu tahu Fin, Riko sempat ngancem Papa. Dan....!"


" Udah Pah! Udah!" Nyonya Lidia dengan air mata yang masih berderai mencoba menengahi suaminya ya g terlihat mengeluarkan kekesalan yang bersarang di hatinya.


Terlihat menggebu-gebu dan napasnya mulai memburu.


Semua keruwetan ini memang berasal dari Fina. Oh astaga, bisakah dia menenggelamkan diri ke dasar bumi saja?


Atau...ah sudahlah. Nasi sudah menjadi bubur.


" Cuma temen pa, lagipula ngapain juga sih si Riko mata-matain aku segala?" Fina mendengus demi mendengar cerita dari sang papa.


Guntoro benar-benar tidak tahu lagi harus apa. Anaknya benar-benar telah melangkah jauh tanpa berpikir panjang. Masalahnya, kenapa harus dengan pria semacam Riko. Pria yang sangat berbahaya.


Ya, Tuan Guntoro memang tidak tahu menahu soal Pandu. Selain belum pernah mendapatkan kesempatan berjumpa, Tuan Guntoro memang kadang tidak terlalu concern kepada teman pria Fina.


" Kamu ini memang!" Ucapnya terjeda lantaran ia mendadak seperti kejang. Tubuh Tuan Guntoro menegang dan wajahnya benar-benar memerah. Jelas jika pria tengah berada di puncak emosi.


Tuan Guntoro sejurus kemudian tak sadarkan diri.


" Papa!!!!"


.


.


Satu hari kemudian


Guntoro


Berita tentang dirinya yang masuk rumah sakit rupanya sampai juga ke telinga Rizal. Dan sudah bisa di tebak, pria itu keesokan harinya datang mengunjungi dirinya. Bersama papanya tentu saja.


Ia divonis terkena stroke. Kaki dan tubuh bagian bawah tak bisa di gerakkan karena bengkak. Beruntung ia masih bisa berbicara walau tidak selancar sebelumnya.


Berbicara banyak hal bersama Kemal dan putranya agaknya bisa sedikit mengalihkan kerumitan di otaknya.


So far mereka berdua sebenarnya bertabiat baik. Hanya saja, mereka memiliki masa lalu yang kurang baik dengan keluarga Pandu.


Singkat cerita, keesokan harinya ia mendengar salah satu usahanya mengalami persoalan. Mall yang ia miliki mengalami kebakaran saat tengah malam.


Sudah jatuh tertimpa tangga. Ia yang masih belum sepenuhnya bisa menerima kelakuan abnormal Riko, kini malah juga harus tersiksa otak dan batin lantaran kerugiannya terbilang fantastis.


" Pak, mall Galaxy kebakaran!" Suara Budi yang masih belum hilang dari ingatannya. Menjadi titik balik dirinya yang harus dirawat intensif lantaran terserang struk.


" Merembet ke bangunan dan gedung-gedung di sebelah!"


Lidia menjadi orang yang paling bingung disana. Suaminya terkena penyakit yang cukup mengkhawatirkan. Dan kini, musibah itu jelas menjadi hal yang bisa memperparah keadaan suaminya.


Rizal rupanya merupakan seseorang yang memiliki kekayaan yang diluar dugaan. Entah bisnis apa yang di geluti oleh pria itu, sehingga membuat dirinya dengan mudah membantu Guntoro.


" Jangan khawatir Om!"


" Om tenang saja, saya akan bantu recovery nanti. Saya barusan sudah mendatangi beberapa korban!"


Korban yang di maksud adalah beberapa karyawan yang biasa menginap disana. Beberapa security-nya dan petugas gudang di lantai dasar, turut menjadi korban.


Rizal benar-benar idaman baginya. Selain dia merupakan anak dari teman lamanya, Rizal benar-benar pria yang ia nilai berpikiran taktis dan terarah.


Menjadi penolong kala persoalan datang menderu.


.


.


Serafina


Ponselnya jatuh dan hilang entah kemana. Praktis, ia tak bisa menghubungi Pandu. Ia sudah berusaha mencari namun belum membuahkan hasil.


Disinyalir, ponselnya itu belum ada yang menemukan. Sebab sewaktu dihubungi, benda penting miliknya itu masih aktif.


Selain itu, ia juga harus riwa-riwi ke kantor polisi, juga stakeholder terkait guna mempermudah urusanya dalam penyelesaian musibah tersebut.


Menunggu polisi yang masih mencari tahu sebab musabab terjadinya kebakaran itu. Meski ia tahu jika Rizal tengah cari muka kepada papa, tapi ia kini lebih memilih untuk diam.


" Papa sudah putuskan, kamu akan papa jodohkan dengan Rizal?" Ucap papa seraya menatapnya dengan tatapan penuh kekecewaan.


" Papa?" Ia menggelengkan kepalanya tak percaya. Dunianya mendadak menjadi runtuh.


Rizal dan Om kemal yang berada disana bahkan saling menatap. Mama yang duduk sembari memijat kaki papa cuma bisa diam. Kiamatnya telah tiba.


" Papa, Fina tahu Fina berbuat salah. Tapi jangan tambahin beban Fina dong pa?" Protes keras darinya.


" Kalau kamu masih pingin lihat papa hidup, turuti kata papa. Rizal orang baik, dan dia juga sudah tahu kondisi kamu!" Ucap papa mengalihkan pandangannya sewaktu menyatakan kalimat terakhir.


Apa? Oh astaga, tidak!! Ini tidak boleh terjadi.


Bagai di sambar kilat halilintar, Fina merasa dirinya tercabik-cabik. Malu, tak memiliki harga diri, kosong. Entahlah...mengapa semua kian merumit seperti ini.


Dan mengapa papa membuat hidupnya justru menjadi semakin runyam saja. Damned!


" Saya akan menunggu Om. Biar kami saling mengenal dan dekat satu sama lain dulu. Sambil menunggu Om pulih. Masalah mall dan kerugiannya, sudah jangan dipikirkan dulu. Yang penting kesehatan Om!"


Rizal yang menangkap raut kemarahan pada wajah Fina, seketika ambil bahagian disana. Jelas ia tak ingin membuat kesan buruk kepada Fina.


Dunianya sedang runtuh. Dan mendengar Rizal berkata seperti itu akan membuat kiamat di hidupnya makin menjadi kenyataan.


Brengsek!


...Flashback End...


Tuan Guntoro, Bayu juga Rizal saling menatap bingung kala dua manusia itu berucap dengan tempo, nada dan juga kata yang sama.


Bayu tersenyum demi membuat suasananya mesjid lebih mencair. Sedikit banyak ia bisa menangkap keganjalan pada diri Pandu.


" Papa senagaja sewa bodyguard biar kamu tetap safe selama Rizal pergi beberapa Minggu kedepan!" Tukas Tuan Guntoro.


" Wah jadi...!" Ucapan Rizal menguap ke udara.


Fina mencengkeram punggung Rizal saat ia tahu bila pria di sampingnya itu akan memberitahu Tuan Guntoro soal Pandu.


" Jangan katakan apapun. Aku tidak ingin tensi papa kembali naik!" ucap Fina dengan gerakan mulut yang nyaris tak terbuka. Mengintimidasi Rizal agar tutup mulut perihal dia yang mengenal Pandu.


Membuat Rizal tersenyum ke arah Fina dengan mengangguk.


" Kenapa Zal?" Tuan Guntoro kini menatap mereka berdua yang terlihat ingin mengatakan sesuatu.


" Oh ga ada Om, saya senang karena Fina akan terjaga dengan baik selama saya tinggal nanti!" Rizal merengkuh pinggang ramping Fina seraya tersenyum menutupi kegelisahan hatinya.


Membuat darah Pandu seolah mendidih. Apa-apaan mereka!


Bayu bahkan dengan mudah bisa melihat bahkan membaca raut wajah Pandu yang kini terlihat naik pitam. Apa yang sebenarnya terjadi.


.


.


Pandu


Usai membahas hal ngalor ngidul mengenai seluk-beluk keluarga Tuan Guntoro meski dengan hati gundah, ia yang paham namun dengan hati mencelos itu, seketika ingin pergi dari sana lantaran merasa sudah tak ada lagi yang perlu di bahas.


Apalagi, Rizal yang seolah ingin menunjukkan kemenangannya itu membuatnya muak. Ia tahu Fina merasa tak nyaman, tapi kemana dia selama beberapa hari ini?


Tak satupun pesan maupun telepon darinya yang terjawab. Bahkan niatnya ingin menemuinya wanita itu kini musnah dalam sekejap.


Pandu undur diri terlebih dahulu kepada Bayu. Bayu yang memahami situasi itu mengiyakan izin dari anak buah barunya itu. Lagipula, Pandu masih akan bertugas besok.


Baik Rizal maupun Tuan Guntoro juga terlihat tak keberatan. Bayu masih tinggal di sana lantaran masih ada beberapa hal yang akan ia bahas. Terutama mengenai mekanisme pekerjaan juga pembayaran jasa mereka.


.


.


Serafina


Ia tahu sorot mata Pandu menampilkan tatapan kemarahan. Seolah menyiratkan untuk menjelaskan apa yang terjadi.


Oh ya ampun riwehnya!


Ia menatap Pandu yang kini telah keluar dari ruangannya. Bahkan tanpa menoleh kepadanya. Astaga, mengapa jadi rumit begini sih?


Hatinya sesak. Berniat akan menemui pria itu setelah ini. Sungguh, seminggu ini waktunya benar-benar habis untuk menangani persolaan galaxy.


Belum lagi kesehatan papa yang kini menjadi bahan pertimbangannya dalam mengambil sikap dan keputihan.


Tapi, sungguh. Ia yang saat ini tak memiliki pilihan akan keputusan prerogatif papa, malah semakin dibuat merasa tak sanggup untuk sekedar melanjutkan hidup.


Pikirnya terus tertuju pada Pandu. Pandu yang terlihat kecewa, kesal, marah. Aduh!!!


Ponselnya berdering.


" Aku angkat telepon dulu!" Ia berpamitan kepada tiga orang pria yang salah satunya merupakan atasan Pandu.


Ketiga pria itu hanya menjawab lewat sebuah a anggukan, karena ia keburu beranjak dari sofa.


" Ya Mel...." Ucapnya sembari berlalu yang masih bisa di dengar oleh ketiga pria itu.


.


.


Fina terlihat memungkasi panggilannya dengan Melati. Supervisi di Pelangi Sari. Kini, tanpa terasa Fina tahu akan tanggungjawab dalam pengelolaan beberapa usaha papanya.


Dan saat masih sibuk menggulir ponselnya karena tengah sibuk berkirim pesan, sebuah tangan kekar menarik pergelangan tangannya, lalu menarik serta memasukkan dirinya ke sebuah ruangan.


BRAK!


Pria itu itu terlihat mengunci ruangan itu. Membuat Fina terperanjat.


Sepasang mata elang itu kini menatapnya tajam. Tatapan yang menuntut sebuah penjelasan.


.


.


.


.