Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 46. Disappointment



Bab 46. Disappointment


^^^" Negatif thinking dapat menyebabkan penyesalan seumur hidup!"^^^


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Ucapan yang mengandung kadar pertanyaan agaknya tidak bisa Pandu nafikkan begitu saja. Apa maksud ucapan Fina itu?


Hujan mulai turun, namun dua anak manusia itu masih bersikeras saling berbicara dalam emosi lirih yang membuncah.


" Aku terpaksa melakukan hal itu kamu tempo hari karena biar Riko berhenti ngejar aku lagi, tapi aku nggak nyangka kalau dia bakal senekat ini Ndu!" Derasnya intensitas hujan berbanding lurus dengan tangis Fina yang kian pecah.


Pandu menatap nanar Fina dibawah guyuran hujan. Ia bukan marah kepada Fina, tapi ia kecewa dengan sikap Fina yang sembrono.


" Riko yang bikin keluarga kamu kayak gini karena aku!" Fina memukuli dadanya sendiri seraya terus menangis di hadapan Pandu.


Pandu menitikan air matanya. Pria itu menahan geram. Tak seharusnya ia mengenal wanita dengan julangan kasta yang amat dalam itu.


" Maafkan ak...!" Langkah Fina terjeda karena Pandu menahan langkah Fina dengan menaikkan tangannya.


" Cukup!" Pandu menatap lesu wajah Fina dibawah guyuran hujan.


Awalnya Pandu tak mempermasalahkan sikap impulsif Fina tempo hari. Namun, akiba yang timbul jelas bukanlah hal biasa dan wajar. Ini sudah menyangkut nyawa adiknya.


"Pergilah!" Dengan badan kuyup, Pandu seolah merasa lelah. Adiknya baru saja meninggal, dan berita dari Fina seolah membuat dirinya merasa berada di titik nadir.


Entah mengapa hati Pandu serasa teriris. Ia merasa hanya di manfaatkan oleh Fina.


" Pandu, tolong maafin aku!" Fina semakin mendekati pria itu.


" Pergi!!!!" Pandu berteriak hingga tenggorokannya serak. Ia tak mau lagi mendengar apapun dari bibir gadis itu. Ia hanya pria miskin yang ingin hidup tenang.


Sudah cukup dengan semua ini.


Tubuh Fina bergetar, hatinya sakit. Ia tahu Pandu marah dan kecewa kepadanya. Tapi mengapa Fina justru merasakan nyeri di hatinya tatkala melihat kobaran kekecewaan di mata Pandu?


Dengan menahan sesak sembari menggigit bibirnya, Fina berlari meninggalkan Pandu yang merasa hancur.


Tak memiliki pilihan selain menuruti perintah Pandu agar dirinya tidak semakin dibenci.


" Argggggghhh!" Pandu berteriak sembari berlutut dan menutup wajahnya di bawah guyuran hujan yang kian deras.


Ia seolah-olah protes kepada takdir. Mengapa hidupnya menjadi kian sulit dan teramat pahit.


Sungguh, seharusnya keadaan tidak seperti ini.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Tuan Guntoro tiba bersama Budi jelang pukul tujuh malam, usai mendapatkan kabar dari ibunya. Hujan yang mengguyur kawasan Kalianyar rupanya masih awet. Sengaja tak menemui Fina dulu saat ia mendengar cerita Bu Asmah dan istrinya.


" Pulang melayat kehujanan sambil nangis. Gak tahu kenapa!"


"Sebaiknya kamu bicara jangan pakai emosi Gun!" Bu Asmah memperingati anaknya untuk lebih bijak .


Tuan Guntoro memijat keningnya yang terasa pusing.


.


.


Dikamar.


Fina menatap nanar ke arah luar jendela. Netranya sempat melirik lukisan wajah Pandu yang belum sempurna. Hanya bagian mata dan separuh hidung yang masih jadi. Hatinya sedih demi mengingat kemarahan Pandu.


Ia tahu, ia telah jatuh cinta kepada sosok Pandu. Sikap bersahaja dan pribadi yang membuatnya berkali- kali mendecak kagum, serta keluarga hangat meski hidup dalam kesederhanaan.


Kini, bentangan jarak kesalahpahaman kian mempersulit keadaan.


" Maafkan aku Ndu!" lirihnya sesak dalam hati.


Tok Tok Tok


Fina mengusap cepat sisa air matanya kala ia mendengar pintu yang mulai dibuka dari luar.


" Bisa papa bicara sebentar?"


Fina terperanjat saat mendengar suara familiar seorang pria. Papanya rupanya sudah datang malam itu.


" Papa?" Fina menatap wajah papanya dengan muram.


Seketika keadaan menjadi senyap. Fina bahkan tidak tahu jika Oma dan mamanya telah menghubungi papanya.


" Papa bisa bantu teman Fina buat dapat keadilan gak Pa? Fina janji bakal nurut sama Papa setelah ini!" Fina menatap wajah papanya penuh harap.


Pandu Pandu dan Pandu. Rasa bersalahnya benar-benar mendoktrin dirinya untuk mencari bala bantuan.


Tuan Guntoro mengembuskan napasnya kasar. " Fin, itulah sebabnya papa tidak suka melihat kamu jalan sama Riko sedari dulu. Papa kenal betul siapa orang tua Riko!"


Fina tertegun mendengar ucapan papanya.


" Sebisa mungkin kami para pebisnis menghindari berhubungan apa lagi punya persoalan dengan keluarga mereka. Mereka bisa melakukan apapun. Termasuk membuat usaha Papa hancur!"


Fina tak percaya dengan apa yang ia dengar. Apalagi ia ingat bila dirinya pernah tidur dengan Riko. Sungguh penyesalan seringkali tiada berguna.


Kini rasa takut menyelinap di hati Fina. Bagaimana jika Riko membeberkan keadaan sebenarnya, jika mereka pernah bercumbu.


" Terus sekarang gimana Pa? Riko pasti gak berhenti ganggu Fina?" wajah Fina masih muram menatap papanya. Menepikan persoalan rumit bagai bom yang sewaktu-waktu bisa saja meledak. Menghancurkan Fina dan masa depannya.


" Papa juga bingung. Andai kamu dulu nurut kata papa, mungkin semua gak akan seperti ini!"


Fina benar-benar merasa bersalah. Rupa dan ketenaran telah membutakan mata hatinya. Rasa bersalahnya kepada Pandu benar-benar mengusiknya.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Pukul 23.17


Kediaman Ambarwati


Pandu mengunci pintunya yang kini telah sepi. Tamu terkahir yang pulang ialah ketiga sahabatnya.


Pandu Dkk terpaksa mangkir dari tugasnya menjadi panitia turnamen Voli yang terselenggara mulai malam ini. Ketua panitia sangat maklum akan hal itu.


Keluarga Pandu berduka.


" Ibuk belum tidur?" Ucapnya saat melihat ibunya tengah duduk mendekap sebuah buku catatan sembari mengahadap ke arah jendela yang masih terbuka.


Pandu menutup jendela kamar ibunya yang entah mengapa masih dibiarkan terbuka saat waktu sudah selarut itu.


Kening Pandu berlipat kala ia membalikkan badannya menatap sang ibu " Buku apa itu Buk?"


Ambarwati menatap putranya dengan mata sembab dan wajah muram.


" Ibuk barusan menemukannya di lemari bawah kamar adikmu!" Ucapnya lalu menyerahkan buku dengan gambar hati itu.


Pandu menerima sebuah buku diary Pink. Tanpa ragu ia membukanya.


Kalianyar 10 Februari 20xx


Lelah menjemukan, kadang juga mengecewakan. Hidup macam apa ini?


Lembaran pertama di tulis di tanggal dimana Ayudya masih duduk di bangku kelas satu SMA. Disana adiknya itu menggoreskan kerinduan kepada sosok ayah yang sudah lama meninggalkannya.


Ayah..dalam hening sepi kurindu...


Adiknya juga menuliskan penggalangan bait lagu milik penyanyi legendaris tanah air. Membuat hati Pandu sesak dan nyeri bersamaan.


Pandu terus menyibak lembar demi lembar catatan harian milik adiknya itu. Isinya kebanyakan curahan hati, dan beberapa puisi cinta. Dadanya kian sesak kala membaca sebuah tulisan yang menohok hatinya. Tanggal yang tertera persis ia tulis sebelum kecelakaan menimpa adiknya itu.


18 Desember 20xx


Aku tak berani menyapa, hanya berani menyebutmu dalam doaku....


❀️ Y


Inisial yang membuatnya penasaran. 'Y' siapa pikirnya.


Tuhan, bisakah Engkau sampaikan rasaku ini kepadanya. Aku tak berani bahkan hanya untuk sekedar menyapanya....


❀️ Y


Jika Engkau memberikan aku kesempatan, aku ingin menjadi yang terkahir menemaninya meski yang lebih cantik sudah lebih dulu bersamanya silih berganti....


Apakah jatuh cinta segila ini? dia berada satu atap dengan ku lebih dari lima jam. Namun aku sama sekali tak berani menatap matanya. Tapi aku sangat bahagia kala mendengar suaranya.


Yudhasoka ❀️


Mata Pandu membulat sempurna. Apakah itu artinya selama ini adiknya telah menyukai sahabatnya?


.


.